
''Vic...! Victoor..! buka pintunya nak..!'' perintah Heru yang berusaha menggedor pintu kamar anaknya, setelah ia berdebat dengan papanya tadi, membuat hati Victor kecewa dan penuh emosi, hingga ia mengurung diri di kamarnya.
Victor tidak mengindahkan semua permintaan papanya, ia hanya terdiam di sudut kasurnya, sambil menatap foto ia bersama Putri pada saat bersama-sama dulu, di layar ponselnya.
''Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan kamu Put, walaupun papa tidak menyetujuinya, aku akan tetap berjuang. Tapi aku mohon berikan aku kesempatan satu kali lagi, tidak akan pernah aku sia-siakan kamu lagi!"
Setetes air mata membasahi pipinya, ia sungguh hilang akal untuk kali ini, baru kali ini ia mencintai wanita sampai seperti ini.
Air matanya menetes lagi, dikala mengingat bagaimana perjuangannya dari awal untuk mendapatkan Putri, hingga ia bisa menyelamatkan Putri, sampai ia mengecewakan Putri, dan ia berusaha mengejarnya lagi, tetapi di saat ia berusaha mengejar dan ingin mendapatkan hati Putri kembali, cobaan tak terduga datang kepadanya, dari permasalahan kedua orang tuanya hingga papanya tidak menyetujui hubungannya dengan Putri.
Apakah ini ujian cinta? harus seperti inikah perjalanan cintanya? baru pertama ia merasakan jatuh cinta, cinta sudah serumit ini menghampirinya, ia tidak tau harus bagaimana lagi bertindak, ia hanya menangis di dalam diam.
Mungkin sebagian orang mengira ia adalah lelaki yang lemah, tapi dengan cara inilah ia bisa meluapkan isi hatinya, karena ia hanyalah manusia biasa yang terkadang tidak kuat dengan segala cobaan dan keterpurukan yang menghampiri dirinya.
Setelah beberapa lama memikirkan semua hal yang sudah terjadi, ia dikejutkan dengan panggilan lembut dari mamanya.
Ia tertegun, dan kemudian membuka pintu kamarnya dengan pelan. Tampak berdiri wanita yang sangat ia hormati dan ia sayangi, ia memeluk mamanya dengan sangat erat, meluahkan semua isi hati dan rasa sesak di dadanya, serasa hilang dikala mamanya memeluk dan mengelus punggungnya dengan pelan dan sayang.
''Sayang..! sudah..! kamu jangan menangis nak, ayo kita ke ruang tamu, semua sudah menunggu mu..!''
''Nggak ma..! aku malu sama tante Ningrum, aku malu melihat tingkah papa seperti itu mah, aku tidak menyangka papa akan seperti itu,'' ucap Victor dengan sendu.
''Nak..!'' suara itu mengagetkan Victor.
Ya, itu adalah papanya, pak Heru sengaja bersembunyi di belakang tembok, agar Victor mau membuka pintu kamarnya.
''Maafkan papa..!'' pak Heru memeluk anaknya dengan erat.
''Maafkan papa yang hanya mementingkan keegoisan papa, sekarang papa akan berusaha berdamai dengan keadaan, dan papa siap mendengarkan semua penjelasan tante Ningrum demi kamu nak..!''
''Papa serius?'' tanya Victor antusias.
Papanya mengangguk, ia tak habis pikir dengan ekspresi anaknya yang begitu senang mendengarnya.
__ADS_1
''Ya sudah, ayo kita ke ruang tamu.! pasti mereka sudah menunggu,'' ujar pak Heru.
......................
''Mas..! kamu sudah puas sekarang..?''
''Hanya karena masalah itu, kamu berani membentak suami mu?''
''Mas, aku bukan mau membentak, tetapi aku hanya mengingatkan suami ku, apakah salah seorang istri mengingatkan suaminya ketika berbuat salah?''
''Mas, kita ini sudah tua, kita tidak tau kapan akan dipanggil oleh yang maha kuasa, apa kamu mau membawa dendam itu sampai mati mas? mau??'' ujar Sukma yang sudah mengejar suaminya pada saat pak Heru berusaha membujuk Victor.
Pak Heru terduduk mendengar semua pernyataan istrinya, ia tersadar dengan semua dendam yang setiap hari bahkan setiap waktu selalu ia ingat, yang membuat hidupnya menjadi tidak tenang.
Ia menghampiri istrinya yang sudah menangis menahan emosi.
''Maafkan papa ma..! terima kasih karena mama selalu mengingatkan papa, ayo bujuk anak kita keluar kamar ma.! agar ia tau kalau papa mau mendengarkan semuanya dan berlapang hati menerima apapun itu.!'' ujar pak Heru yang membuat istrinya seketika tersenyum bahagia, dengan semangat Sukma pun membujuk anaknya dengan lembut.
......................
'''Silahkan..! kamu ingin menjelaskan apa, akan saya dengarkan.'' ucap pak Heru dengan tampang datarnya.
Bu Ningrum menatap pak Heru dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ''Akhirnya Heru mau mendengarkan semua penjelasan tentang kesalahpahaman ini,'' gumamnya.
"Terima kasih, kamu telah bersedia memberikan waktu untuk aku menjelaskan semuanya."
"Terlepas dari semua ini nantinya, aku akan kembalikan lagi semuanya kepada kamu Heru, percaya atau tidak, paham atau tidak, setelah aku menjelaskannya, ku harap kamu mengerti dan menerimanya." ucap bu Ningrum serius.
Pak Heru pun hanya mengangguk.
Bu Ningrum menceritakan semua kisah masa lalunya dari awal sampai terjadi kesalahpahaman antara mereka, mulutnya berkomat-kamit menceritakan semua yang terjadi, hingga setelah berbicara panjang lebar, ia mengeluarkan semua bukti yang ada dan memperlihatkannya kepada Heru, agar Heru yakin dengan semua yang ia ucapkan.
Pak Heru begitu termenung mendengar semua penjelasan bu Ningrum, ia mencerna semua yang terjadi di masa lalu hingga akhirnya ia menemukan titik terangnya.
__ADS_1
Semua terdiam, setelah bu Ningrum mengakhiri semua pembicaraannya, pak Heru menatap Ningrum dengan tatapan datar, di sana terlihat tidak ada tanda-tanda kebohongan setiap perkataan yang Ningrum ucapkan.
Kenapa ia begitu bodoh selama ini, tidak mau mendengarkan penjelasan sahabatnya dulu, hingga selalu berasumsi yang buruk terhadap sahabatnya, apalagi dengan Surya, ia merasa sangat bersalah kepada Surya, secepatnya ia harus meminta maaf, pikirnya.
"Ningrum.!"
"Terima kasih kau telah sabar menjelaskan semuanya kepada ku, maafkan aku yang terlalu bodoh, maafkan aku..!"ucap pak Heru sambil menunduk menahan malu.
"Heru..! benar kau memaafkan aku dan mas Surya? kau percaya?" tanya Ningrum antusias.
Pak Heru mengangguk, "Seharusnya aku yang meminta maaf kepada kalian, maafkan segala keegoisan ku, segala ucapan yang tidak berkenan, atau umpatan terdahulu yang membuat kalian terluka, aku merasa orang paling bodoh di dunia ini, tanpa mencari tau yang sebenarnya dan malah berasumsi yang jelek-jelek tentang kalian, sekali lagi maafkan aku Ningrum..!" ujar pak Heru dengan sungguh.
"Apakah Surya mau memaafkan aku yang terlanjur membuatnya terluka?"
"Ya, pasti mas Surya akan memaafkan mu Heru, karena ia selalu berucap rindu tentang mu, rindu akan canda tawa kita bersama seperti dulu lagi, aku yakin mas Surya akan senang dengan semua ini, aku yakin itu."
Semua yang ada di sana begitu senang mendengarkan semua pengakuan Heru, Victor yang melihat sikap papanya seperti itu, langsung memeluk papanya dengan erat dan tidak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada papa tercintanya, begitupun Sukma.
"Pah, berarti papa menyetujui aku bersama dengan Putri?"
"Iya nak, papa sangat setuju, secepatnya papa akan menikahkan kamu dengan Putri, setelah semua masalah ini selesai, papa janji akan mengurus semuanya!" janji Heru kepada anaknya.
"Terima kasih papa..! aku sayang papa, aku janji akan menuruti semua keinginan papa..!'' balas Victor yang tidak kalah antusiasnya.
Pak Heru pun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya. Setelah membicarakan masalah serius tadi, mereka pun sudah tidak merasa canggung lagi untuk bercanda dan bergurau.
Apalagi antara Sukma dan Ningrum, mereka akan sangat heboh menceritakan tentang anak ataupun suami mereka, sehingga para lelaki yang ada di sana hanya terheran menatap kedekatan mereka yang selalu membuat suasana menjadi heboh.
.
.
.
__ADS_1
bersambung