
Waktu yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, Victor yang diperintahkan oleh sang WO menjemput Putri ke atas panggung untuk duduk di kursi pelaminan yang telah disediakan, seketika jantungnya bergemuruh mengingat sekarang ia telah resmi menjadi suami sang pujaan hatinya, ada rasa takut akan Putri menolaknya atau memarahinya dengan semua rencana keluarganya ini.
''Acara selanjutnya kita akan mempersilahkan sang mempelai pria untuk menjemput sang kekasih hati yang telah sah menjadi istrinya untuk di duduk di kursi panas...!'' teriak sang WO yang sangat antusias dengan diiringi sorakan semua tamu undangan.
Victor berjalan dengan santai walaupun terlihat gugup, ia berusaha menetralkan jantungnya yang sedari tadi terus berpacu dengan kuat.
Ia didampingi oleh kedua orang tuanya, tidak lupa dengan kedua sahabat yang selalu ada disaat suka ataupun duka.
Semua orang terlihat riuh melihat ketampanan seorang Victor, sedangkan mempelai wanita menekuk wajahnya tanpa melihat lelaki yang telah sah menjadi suaminya, ia tidak menyadari bahwa lelaki yang menghampirinya adalah Victor sang pujaan hatinya, ia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.
''Bagaimana kalau orang itu pria tua seperti di film-film, atau lelaki yang tampangnya sangat menakutkan? apa aku sanggup menjadi istrinya?'' batin Putri yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa menyadari Victor yang semakin mendekat.
''Tetapi tidak mungkin ayah dan ibu setega itu, menjodohkan gadis cantiknya dengan lelaki seperti itu,'' batinnya lagi yang seakan ingin menjerit.
''Ayo sayang...!'' perintah Victor yang sudah mengulurkan tangan berharap Putri menerima uluran tangannya.
''Hah...!'' ujar Putri yang terlihat shock menatap pria yang ada di depannya.
''A..abang..!'' gumamnya lagi.
''Nggak..! nggak mungkin! ini karena gue kepikiran dia terus nih, sampe halu gini,'' lirih Putri yang sudah memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya, untuk menetralkan pikiran yang ia kira sedang berhalusinasi.
Victor pun tersenyum mendengar pengakuan Putri yang terlihat tulus, sekarang ia baru bisa mendengar pengakuan Putri.
''Sayang..!'' ujarnya lagi dan menggenggam tangan Putri yang masih memejamkan mata.
''Kamu tidak sedang berhalusinasi, ini adalah aku, aku yang selalu menari-nari dipikiran mu,'' ujar Victor dengan senyuman terukir.
Putri menatap Victor dengan seksama, ia takut kalau ini hanya mimpi.
''Ibu..! Jangan cubit aku, aku tidak mau kalau ini ternyata hanya mimpi,'' lirih Putri yang sudah tidak bisa membendung air mata yang telah menganak sungai di kelopak mata.
''Auh...!'' Teriak Putri yang merasa lengannya dicubit oleh ibunya.
''Mendengarkan suara mu yang sensual, membuat aku sudah tidak bisa menahan gejolak ini,'' batin Victor yang mencoba mengatur nafas dan menetralkan pikiran kotornya.
''Tidak sayang, ini tidak mimpi, ini beneran Victor nak,'' jelas Ningrum yang sudah merangkul anaknya dan membawa kepelukan hangatnya.
Air mata itupun berhasil jatuh membasahi pipi chubynya. Ia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini, ternyata ia dijodohkan dengan orang yang selama ini selalu menetap dalam hati dan pikirannya.
__ADS_1
Tetapi disisi lain ia juga sedikit kecewa dan kesal, karena Victor telah menyembunyikan semua ini darinya, Victor tidak berusaha jujur kepadanya, kenapa Victor menyembunyikan hal sebesar ini darinya.
“Untung sayang,” batinnya.
''Ibu, aku tidak tau bagaimana mengungkapkannya, tapi jujur aku senang banget.''
''Terima kasih ayah, ibu..!''
Putri pun melepaskan pelukan ibunya, kemudian ia merangkul dan memeluk ayahnya, ia benar bangga terlahir dari keluarga ini, ayah dan ibu yang selalu mementingkan kepentingan dan kebahagiaan anak-anaknya, walaupun jalan yang harus ditempuh untuk menuju hari bahagia ini diiringi dengan cobaan yang tak pernah terpikirkan oleh Putri sebelumnya.
Surya memeluk anak gadisnya dengan sayang, tanpa terasa air mata itupun menetes, ia tidak menyangka secepat ini melepaskan anak gadis yang sangat ia sayangi. Tetapi inilah jalan terbaik menurutnya.
''Abang tidak dipeluk?'' Ujar Putra yang pura-pura ngambek karena ia tidak ikut dipeluk seperti ayah dan ibunya.
Putri pun tersenyum walaupun air mata haru itu masih terus mengalir dan membasahi pipinya.
''Abang jahat..! Kenapa ikut-ikutan sembunyiin ini dari aku,'' Putri memukul pelan lengan abangnya.
''Lah..! abangkan cuma ikutin intruksi dari pak bos!'' Balas Putra menunjuk dengan bibir siapa yang sedang mereka bicarakan, siapa lagi kalau bukan Surya Permana yang sekarang ini menjadi bos Permana Group
Putri pun memeluk Putra dengan sayang dan berbisik, ''Awas aja abang ngerjain aku lagi, nanti aku bilang kak Cantika kalau abang diam-diam menyimpan fotonya di kamar abang.''
''Blush..!''
Setelah selesai dengan acara berpelukan harunya, Putri pun menatap Victor dengan malu-malu.
Victor yang mengetahui itu, menatap Putri dengan senyuman kehangatan.
''Menggemaskan sekali istri ku,’’ batinnya.
''Sudah..! jangan menangis lagi, ini hari bahagia kita bukan? Ayo kita duduk di sana..!” Ujar Victor yang sudah memberikan lengannya kepada Putri agar wanita itu bisa menggandengnya.
Putri pun mengangguk, mereka berjalan pelan menuju kursi pelaminan yang telah disediakan, didampingi dengan kedua orang tua mereka masing-masing.
Suasana begitu meriah diiringi dengan alunan musik, membuat semua tamu undangan semangat. Begitupun dengan WO yang terdengar riuh membawa semua acara yang tersusun dengan rapi.
Dengan hati-hati Victor menuntun sang istri untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Begitupun dengan para orang tua yang sudah duduk di kursi kebesaran mereka masing-masing.
Suasana tampak bahagia dengan senyuman sumringah yang terukir di wajah keluarga ini.
__ADS_1
Sedangkan Raysa yang sedari tadi sudah tidak sabar memeluk sahabatnya itu, tidak bisa mengontrol dirinya yang terlihat senang melihat suami dari sahabatnya sendiri adalah Victor.
Ia berjalan dengan cepat tanpa memperdulikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
''Puut...!'' Teriak Raysa antusias, ia memeluk Putri sangat erat.
''Sumpah..! Gue terharu banget dengan kisah lu Put, berasa kaya di film-film gue,'' oceh Raysa.
''Btw, selamat ya..! Gue ngga nyangka jodoh lu ternyata kak Victor, berapa menit yang lalu masih lu tangisin,'' ejek Raysa.
''Apaan sih lu, ga jelas.'' Balas Putri malu-malu, ia malu mengakui perasaannya di depan Victor saat ini.
''Nggak usah malu-malu gitu, udah jadi suami juga.''
''Eh kak Victor, jagain Putri ya..! Anaknya emang suka gitu, malu-malu ga jelas, tapi dia baik kok.!'' Oceh Raysa lagi, yang membuat Victor pusing karena suara cemprengnya.
Sedangkan yang ada di sana, hanya geleng kepala melihat tingkah Raysa yang kekanak-kanakan itu.
Acara demi acara mereka lalui dengan senang hati tanpa ada beban sedikitpun. Semua tamu undangan maupun semua kerabat dari kedua mempelai satu persatu sudah meninggalkan pesta sederhana yang sudah terlihat sepi.
Terlihat hanya keluarga dan pelayan yang sedang bersih-bersih.
Wiliam dan Doni pun ikut pamit, karena mereka sudah sangat lelah karena juga ikut berpartisipasi dalam acara sakral sahabatnya itu.
''Vic, gue sama Doni mau balik dulu yak, udah gerah banget gue, badan lengket semua,'' ujar Wiliam dengan kegerahannya.
Victor pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada kedua sahabatnya yang sudah membantunya sedari subuh tadi.
Mereka pun saling berpelukan satu sama lain membuat semua mata yang memandang merasa iri dengan kekompakan pertemanan mereka.
''Terima kasih ya kak, sudah membantu acara ini berjalan dengan lancar,'' ujar Putri dengan senyuman manis mengembang di bibir ranumnya itu, membuat siapa saja yang melihatnya ingin rasanya ******* bibir ranum itu, apalagi Victor yang sedari tadi sudah menahan gejolak rasa yang ia tidak tau sedari kapan datangnya.
''Sama-sama, Put!'' Balas Doni dan Wiliam bersamaan.
Doni pun berniat ingin bersalaman dengan Putri, tetapi tangannya langsung ditepis oleh Victor.
''Jangan macem-macem lu..!'' Bentak Victor.
''Yaelah bos posesif amat, mau ngasih selamat doang.!'' Balas Doni.
__ADS_1
''Yaudah deh kita pulang dulu, baek-baek malam pertamanya ya Put, hati-hati ada singa lavar,'' bisik Doni ke telinga Putri membuat mereka yang mendengar tersenyum geli.
Sedangkan Victor hanya terlihat cuek dengan tampang datarnya.