Pacar Galak

Pacar Galak
Terlalu Egois


__ADS_3

''Ningrum..! untuk apa kau kemari..!'' bentak pak Heru yang begitu kaget melihat wajah Ningrum setelah ia berhasil membukakan pintu rumahnya, kebetulan istrinya sedang mandi, jadi ia berinisiatif sendiri untuk membukakan pintu ketika suara tamu datang mengetuk pintu rumahnya.


Ya, Ningrum dan Putra telah tiba di depan rumah mewah Heru lima menit yang lalu, setelah pulang dari kantor ia menjemput ibunya terlebih dahulu. Bu Ningrum yang sudah mendapat kabar dari Victor, kalau kedua orang tuanya telah berada di rumah, bergegas untuk menyiapkan diri dan tidak lupa ia meminta izin kepada suami tersayang yang beralasan untuk mengantarkan anak sulungnya membeli sesuatu.


"Ada tamu ya pa? siapa?" tanya Victor yang berpura-pura tidak tau atas kedatangan bu Ningrum dan Putra. Ia pun berjalan ke arah papanya.


''Tante Ningrum..!'' seru Victor.


''Ayo silahkan masuk tante, bang..!'' ucapnya lagi.


''Victor..!'' sela pak Heru dengan tampang datarnya.


''Kenapa pah? bukannya tante Ningrum ini sahabat papa? kenapa papa biarkan ia hanya berdiri diluar?'' ketus Victor.


''Ayo tante, silahkan duduk.! aku akan panggilkan mama sebentar,'' Victor berlalu dari sana.


Pak Heru yang masih berdiri, berusaha menenangkan dirinya, ia menjadi salah tingkah ditatap Ningrum dengan intens seperti itu.


''Bagaimana kabar mu Heru? sudah lama kita tidak berbincang, apa kau tidak rindu saat kita bersama-sama dahulu? seegois itu kah kau mengedepankan gengsi mu tanpa mendengar sesuatu yang benar?'' ucap Ningrum dengan mata berkaca-kaca.


Heru menatap Ningrum dengan datar, ia sungguh ingin meluapkan kemarahannya saat ini juga, karena dengan beraninya Ningrum menampakkan dirinya dihadapannya sekarang.


Tapi ia berusaha menahannya karena ia tidak ingin terlihat bodoh di depan anak-anak yang ia kira tidak tau permasalahannya.


Ningrum dan Heru saling menatap, tatapan yang tidak bisa diartikan diantara mereka. Lama mereka terdiam seperti itu, hingga Ningrum membuka pembicaraan lagi.


''Kenapa kau diam? apa sekarang kau merasa bersalah? atau kau merasa bersalah tetapi kau gengsi untuk mengakuinya?''


Heru masih terdiam mencerna semua perkataan Ningrum.


''Jawab..!! apa kau tidak punya mulut..? atau bahkan kau tidak punya otak..?'' bentak Ningrum yang sudah tidak bisa menahan emosinya, ia sungguh geram melihat Heru terdiam dan tidak bisa menjelaskan apa-apa.


''Ningrum...!''


''Beraninya kau membentak ku?'' pak Heru mengepalkan tangannya dengan kuat untuk menahan emosi, mungkin kalau lelaki yang berbicara seperti itu sudah ia habisi dengan tangannya sendiri. Beruntunglah Ningrum, karena ia terlahir sebagai wanita, hingga ia masih ada batasannya untuk marah walau dicaci sekalipun. Dari dulu ia berjanji kepada dirinya sendiri, kalau ia tidak akan pernah mengotori tangannya dengan berbuat kasar kepada wanita.


''Sudah lama aku tidak mendengar suara khas mu ketika sedang marah seperti itu Heru, sungguh aku sangat rindu dengan sahabat gila ku yang satu ini, dan aku tidak pernah gengsi untuk menyatakannya hingga aku memberanikan diri untuk menemui dan meluruskan kesalahpahaman ini.''

__ADS_1


''Tolong beri aku satu kesempatan untuk menjelaskan semuanya,'' pinta bu Ningrum dengan raut sendunya.


''Tidak..!'' tidak ada kesempatan untuk penghianat seperti mu Ningrum, sekarang keluarlah..! sebelum kesabaran ku habis..!''


''Aku mohon..!'' balas bu Ningrum.


''Tidak..! keluarlah..!'' bentak pak Heru yang sudah tersulut emosi.


''Maaas..!'' teriak bu Sukma menghampiri suaminya dan berusaha menenangkan suaminya itu.


''Ayo duduk dulu mas, tenangkan dirimu.'' ujar bu Sukma lagi.


Setelah lama terdiam, Sukma berhasil menenangkan suaminya.


''Mas, apa salahnya kita mendengar penjelasan Ningrum terlebih dahulu.''


''Kamu ingat perempuan yang dibawa anak kita kemaren ke rumah? kamu berpikiran ia mirip sekali dengan Ningrum bukan?''


''Paah, dugaan kamu memanglah benar, dia adalah anak Ningrum dan Surya, ia berkenalan tanpa sepengetahuan kita loh pa, bukankah itu yang dinamakan jodoh pa?'' ucap Sukma dengan menggenggam tangan suaminya dengan lembut.


Heru menatap istri kesayangannya itu menuntut untuk meminta penjelasan.


Sukma mengangguk tersenyum, ''Ayo kita dengarkan penjelasan Ningrum, bukankah papa menginginkan anak perempuan itu menjadi menantu papa? setelah masalah ini selesai kita harus menjodohkan mereka ya pah.'' Bu Sukma yang terlihat antusias, selalu mencoba untuk membujuk suaminya.


Pak Heru melepaskan genggaman istrinya dengan kasar.


''Lupakan gadis itu.!! saya tidak sudi mempunyai besan penghianat seperti dia, anak saya bisa mencari yang lebih dari gadis itu.'' Pak Heru berlalu dari sana.


''Papa...!'' Victor menarik tangan papanya.


''Aku mencintai gadis itu. Papa, aku akan melakukan semua kemauan papa, aku akan lebih serius belajar tentang perusahaan papa, dan jika lulus nanti, aku akan berusaha ikut andil dalam perusahaan papa, untuk kali ini aku memohon kepada papa, dengarkan semua kesalahpahaman ini.''


''Aku tidak ingin hubungan ku terhalang karena kesalahpahaman ini pa, sungguh aku mencintainya pah, aku mohon!'' pinta Victor dengan sendunya.


Pak Heru begitu terkesiap dengan apa yang diucapkan putra semata wayangnya itu. Tidak pernah ia melihat putranya sesungguh itu memohon kepadanya, bahkan ia rela menuruti kemauannya demi gadis itu.


Pak Heru hanya terdiam, ia menatap satu persatu mereka yang ada di sana.

__ADS_1


Rasa gengsi masih mengarungi dirinya, ia tidak mengindahkan permohonan anaknya itu, ia melepaskan tangan anaknya dan ingin berlalu meninggalkan semua yang ada di sana.


''Papa..!'' teriak Victor yang sudah berlutut dan menahan kaki papa yang ia sayangi itu.


Melihat tingkah Victor yang terlalu berlebihan, membuat hatinya bergemuruh, ia tidak terima dengan semua yang anaknya lakukan, ia tidak terima anaknya akan selemah itu apabila berkaitan dengan wanitanya, apakah sebegitu cintanya anak semata wayangnya kepada gadis itu.


''Nak...! berdirilah.!'' pak Heru menggenggam lengan anaknya dengan kuat dan menyuruhnya untuk berdiri.


''Jangan seperti ini nak, kamu putra papa, kamu kuat.! jangan menangisi wanita yang bukan menjadi istri mu.''


''Kamu anak papa yang gagah, kamu anak papa yang pintar, kamu bisa mencari wanita yang lebih dari gadis itu, kamu jangan lemah hanya karena cinta. Tenang, papa akan mencarikan calon yang lebih baik untuk mu.''


''Tidak...! aku tidak butuh itu.''


''Benar, papa terlalu egois, papa hanya mementingkan diri papa sendiri, mementingkan rasa gengsi papa, dan keras kepala papa, aku kecewa sama papa.''


''Ingat pa..! sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskannya, kalau papa mengedepankan keras kepala, akan aku kedepankan pula keras kepala ku seperti papa.!''


''Victor..! kamu berani menantang papa..?'' bentak pak Heru geram.


''Maafkan aku pa, untuk masalah ini kita tidak bisa sejalan, aku tidak bisa sejalan dengan keegoisan dan rasa gengsi papa, karena aku tidak mau mengikuti jalan yang salah.


''Bukankah didalam agama kita diajarkan saling memaafkan pah?''


''Sedangkan Tuhan maha pengampun pah, kenapa kita yang hanya makhluk ciptaannya, merasa lebih tinggi darinya, hingga tiada pintu maaf untuk sesama kita.''


''Sungguh, aku sangat kecewa dengan papa, papa yang aku kenal dengan kewibawaannya, ternyata menyimpan rasa dendam yang terdalam. Aku tidak habis pikir.''


Victor melangkahkan kakinya meninggalkan papa dan semua yang ada di sana menuju ke kamarnya setelah berbicara panjang lebar.


Sesak di dada sungguh ia rasakan, ketika papanya tidak merestui hubungannya dengan Putri dan ia tidak terima ketika papanya ingin mencarikan calon untuknya hanya karena rasa dendamnya terdahulu.


''Sungguh papa terlalu egois..!''


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2