
Malam ini terlihat keluarga Surya Permana sedang menikmati makan malam dengan lahap, mereka terlihat tenang menikmati semua makanan yang telah disiapkan bi Iyem, melihat hubungan harmonis keluarga mereka, membuat hati tenang dan tentram bagi siapa saja yang melihatnya.
''Bagaimana persiapan event untuk pembukaan cabang perusahaan kamu yang baru nak?'' Tanya Surya, setelah ia menghabiskan makan malamnya dengan tenang dan mengajak semua anggota keluarganya untuk duduk di ruang keluarga.
Tampak Putri dan Ningrum sedang membantu bi Iyem untuk membereskan meja makan, setelah itu mereka juga bergabung dengan kedua lelaki itu.
''Persiapannya sudah lebih 50% yah,'' jawab Putra dengan santai.
''Alhamdulillah semoga acara itu berjalan dengan lancar ya, nak.'' Ujarnya lagi.
''Aamiiin..!'' Ujar mereka bersamaan.
Setelah beberapa lama terdiam, Surya kembali membuka suaranya.
''Putra..! Apa kamu sudah berubah pikiran?'' Pertanyaan itu berhasil terlontar dari mulutnya.
''Maksud ayah?''
''Nak..!'' Surya menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
''Ayah sudah semakin tua, sampai kapan kamu akan bekerja di perusahaan lain, sedangkan ayah membutuhkan kamu di perusahaan ayah, siapa yang akan memegang perusahaan ayah kalau tidak kamu nak? Kamu adalah anak lelaki satu-satunya ayah dan ibu.''
''Ayah, maafkan Putra yang masih mengecewakan ayah, tetapi Putra belum bisa menuruti semua yang ayah inginkan, karena Putra masih harus banyak belajar yah, dan Putra merasa masih belum pantas untuk memegang perusahaan ayah,'' Putra menggenggam tangan ayahnya dengan sayang, berharap ayahnya bisa mengerti dengan posisinya saat ini.
''Nak, dengan jabatan yang kamu pegang di perusahaan lain saat ini, itu sudah membuktikan kalau kamu sudah pantas menjadi direktur di perusahaan Permana Group, ayah akan memberikan semua ilmu ayah kepada kamu, dan ayah akan selalu membantu kamu, jadi ayah mohon tolong dipikirkan lagi ya nak, sungguh ayah berharap kamu bisa berubah pikiran secepatnya, nak..!''
''Ayah..!'' Putra menarik nafasnya dengan kasar dan menghembuskan secara perlahan untuk merilekskan suasana hatinya dan memikirkan bagaimana memberi pengertian kepada ayahnya, agar ayahnya tidak tersinggung dengan ucapan dan pendapatnya saat ini.
''Aku tau kalau ayah akan selalu membantu aku, walaupun aku bekerja di perusahaan lain, ayah selalu memberikan ilmu ayah, menuntun, memberi ide, saran serta ayah menyempatkan waktu untuk menemani aku meeting dengan klien penting.''
__ADS_1
''Itu sudah membuktikan kalau ayah memang menginginkan aku juga bisa sepintar ayah, dan aku akan membuktikan semua itu kepada ayah dan semua orang, hingga waktu itu tiba, dengan yakin dan senang hati aku akan memegang perusahaan ayah dengan baik dan sangat antusias.''
''Jadi, aku mohon ayah bersabar ya, biarkan seperti ini dulu, kalau nantinya aku sudah siap, aku pasti akan membicarakan ini lagi kepada ayah.''
Surya mendengarkan semua penjelasan Putra dengan seksama, ia hanya mengangguk saja walaupun di dalam hatinya masih tidak terima dengan keputusan anaknya itu, tetapi ia berusaha untuk memahami situasi saat ini.
''Mas..! Sudah jangan berdebat, Putra kan sudah besar, biarlah ia menentukan pilihan hidupnya sendiri, kita sebagai orang tua hanya memberi nasehat dan mengarahkannya saja, jangn terlalu memaksakan kehendak kita, Putra juga tau apa yang terbaik untuknya,'' Ningrum mencoba memberikan pengertian kepada suaminya itu, hingga suaminya terlihat sedikit lebih tenang.
Sedangkan Putri terlihat bingung dengan sikap ayah nya yang sedari tadi dingin kepadanya, biasanya ayahnya akan menanyakan aktifitas ia hari ini di sekolah, tetapi malam ini tidak, ayahnya terlihat acuh kepadanya, hingga ia bertanya-tanya di dalam hatinya.
''Ayah kenapa ya? Dari tadi aku di cuekin dan malah sama sekali tidak menatap ku, ada apa sih.'' Gumamnya di dalam hati.
Sedang asyik melalang buana dengan pikirannya sendiri, ia dikagetkan dengan suara ayahnya yang menggelegar memanggil namanya.
''Putri.!'' Ujar Surya dengan menatap tajam ke arah anak gadisnya itu.
''Sudah puas kamu mempermalukan ayah dan ibu Hah? Iya? Sudah puas?'' Tanya Surya sedikit membentak. Membuat semua yang ada di sana terlihat kaget.
''M-maksud ayah?'' Tanya Putri dengan gugup, sungguh ia sangat takut melihat ayahnya ketika sedang marah seperti sekarang ini.
''Jangan berpura-pura bodoh, ayah sudah tau semuanya, ayah benar-benar kecewa dengan sikapmu kali ini, dan kamu sudah berani berbohong, sejak kapan ibu dan ayah mengajarkan kamu untuk berbohong?'' Bentak Surya dengan kasar, sungguh ia tidak bisa menahan emosinya.
''Ayah, maafin Putri, tetapi tolong dengarkan penjelasan Putri dulu yah, Putri tidak berniat untuk bolos di pelajaran itu, tetapi ada salah satu teman Putri yang menarik Putri ke taman hingga Putri melewatkan jam pelajaran itu ayah, sekali lagi aku minta maaf ayah.''
''Teman..? Di taman..? Kamu pikir ayah bisa kamu bodoh-bodohin, siapa dia? sepenting itu dia bagi kamu hingga meninggalkan 1 mata pelajaran? Pacar kamu? Iya?'' Tanya Surya dengan penuh selidik.
''B-bukan ayah, d-dia...!''
''Aah sudahlah..! Jangan membuat alasan..! Ayah benar-benar kecewa dengan mu.''
__ADS_1
''Besok kamu tidak usah sekolah lagi, kalau sampai kamu masuk sekolah, ayah akan merobek semua buku kamu,''
''Ayah..!'' Putri menggenggam tangan ayahnya sambil menangis tersedu-sedu. ''Maafkan aku ayah, aku janji tidak akan mengulanginya lagi, aku janji tidak mengecewakan ayah dan ibu lagi, tolong beri aku kesempatan sekali lagi ayah, aku tidak mau berhenti sekolah,'' ujarnya masih dengan terisak dan air matanya masih menganak sungai di sekitar kelopak matanya.
''Kesempatan apa? Tidak ada kesempatan buat anak seperti kamu.'' Bentak Surya dan melepaskan tangan Putri dengan kasar hingga Putri terhuyung ke belakang, untung saja Putra dengan sigap meraih tubuh Putri agar tidak terjatuh.
Dengan kemarahannya, Surya melangkahkan kaki meninggalkan ruang keluarga, dengan sedikit berlari Putri mengejar ayahnya itu dan menghentikan langkah ayahnya.
''Ayaaah..!'' Teriak Putri dan ia berhasil menarik tangan ayahnya kemudian memeluk ayahnya dengan erat, ia benar-benar takut melihat ayahnya semarah ini.
''Maafin Putri ayah, Putri berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Putri janji..'' Putri menangis dengan sangat kuat membuat orang yang melihat menjadi tidak tega.
Seketika Surya terdiam menatap anak gadisnya yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluknya, sebenarnya ia tidak tega, tetapi mau bagaimana lagi, dengan cara ini ia bisa menjalankan rencananya.
Surya melepaskan pelukan itu dengan sedikit kasar, ''Sudah ayah jelaskan, tidak ada kesempatan buat kamu..! dan sebagai hukumannya, kamu akan ayah jodohkan dengan anak sahabat ayah, dan kalian akan menikah minggu depan, dan jangan lupa kamu putuskan hubungan kamu dengan dia yang sudah membuat kamu lupa untuk kewajiban kamu sebagai seorang anak.''
''Dan satu lagi, ayah tidak menerima penolakan, jangan pernah membantah semua ucapan ayah, kamu mengerti..!'' Bentak Surya lagi, kemudian ia benar-benar meninggalkan ruangan keluarga dan semua orang yang ada di sana.
Putri terduduk lemah dan tak berdaya di lantai, ia menangis sejadi-jadinya, ia tidak menyangka hidupnya akan menjadi seperti ini.
Ningrum yang sungguh iba melihat anak gadisnya itu memeluknya dengan erat dan berusaha menenangkannya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1