Pacar Galak

Pacar Galak
Tukang Tidur


__ADS_3

Cantika dan Putri sedang sibuk membahas novel mereka masing-masing, Cantika yang begitu senang dengan adik kesayangan bosnya itu. Mengajari Putri berbagai macam cara, bagaimana memulai berkecimpung di dunia novel yang berdedikasi online, bahkan ia merevisi beberapa novel yang di ketik oleh Putri.


''Sepertinya ia mempunyai basic di bidang menulis novel, kata-katanya yang begitu halus dan mudah dipahami membuat para pembaca akan senang membacanya." gumamnya di dalam hati.


Selama sibuk membahas novel, membuat mereka lupa waktu, hingga Ningrum menyusul anak gadisnya itu ke kamar, karena sejak pertama memasuki kamar bersama Cantika tadi, mereka tidak menampakkan batang hidungnya lagi.


Hingga Ningrum begitu penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Ningrum pun tersenyum menatap kedua gadis yang sudah tertidur dengan posisi yang tak tentu arah, bahkan buku dan novel-novel mereka bertebaran dimana-mana.


Putra yang kebetulan berniat ingin ke dapur untuk mengambil minum, tidak sengaja melihat ibunya yang berdiri di depan kamar adiknya, ia pun menyusul ibunya karena ia penasaran kenapa ibunya hanya berdiri di sana.


''Ibu ngapain di sini? kok nggak langsung masuk ke kamar adek?'' tanya Putra yang sudah melangkah mendekati ibunya.


''Tuh..! liat adek kamu sama sekretaris kamu, bisa-bisanya mereka ketiduran di jam segini.''


''Sepertinya adek mu butuh kakak perempuan, kapan kamu mau kasih kakak buat adek mu?'' goda bu Ningrum kepada anak sulungnya itu.


''Ibuu..!'' kesal Putra kepada ibunya yang selalu berhasil menggodanya.


''Kapan kamu menikah nak? ibu sudah tidak sabar ingin punya mantu, kayaknya sekretaris kamu boleh juga tuh..! Putri aja yang jarang dekat dengan semua teman perempuan mu, sekarang begitu dekat dengannya, sepertinya ia juga wanita baik-baik.!'' ucap bu Ningrum menatap anak sulungnya itu.


''Gimana mereka nggak cocok, dia juga pecicilan seperti adek, cerewetnya juga seperti adek, dan selalu bikin aku kesal!'' ketus Putra menatap Cantika yang terlelap dengan sinisnya.


''Tapi kan kamu suka..!'' goda bu Ningrum lagi.


''Ibu apaan sih..!'' ucap Putra mengerutkan keningnya menahan malu.


Ningrum hanya tertawa melihat Putra yang terlihat malu-malu.


''Udah sono, kamu tunggu ibu di meja makan, biar ibu bangunin mereka sekalian mengajak makan malam!'' ucap bu Ningrum yang sudah meninggalkan Putra dan melangkahkan kakinya memasuki kamar Putri.


Sedangkan Putra berlalu menuju meja makan, yang ternyata ayahnya sudah duluan berada di sana, sambil menunggu yang lain datang, Putra dan pak Surya saling berbagi cerita tentang perusahaan mereka masing-masing.


Pak Surya yang selalu membujuk anaknya untuk mengendalikan perusahaan yang ia pegang saat ini, selalu tidak berhasil menaklukkan anak sulungnya yang selalu beralasan ingin belajar lebih dalam dulu untuk memegang perusahaan papanya yang terbilang cukup besar, dari pada perusahaan tempat ia bekerja pada saat sekarang ini.


Tidak berapa lama, Ningrum dan kedua anak gadis yang ditunggu-tunggu pun menuju meja makan, Cantika yang sebelumnya menolak untuk makan bersama dan ingin pamit pulang, dipaksa oleh Putri untuk makan terlebih dahulu bersama keluarganya. Sehingga Cantika tidak enak untuk menolak ajakan Putri yang sangat antusias kepadanya.


Putra menatap Cantika dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, ia begitu terpesona melihat kecantikan Cantika yang begitu natural, seperti adiknya. Sungguh, ia menyukainya, tetapi ia tak ingin siapapun tau dengan perasaannya saat ini.


Cantik yang merasa tatapan bosnya mengarah kepadanya menjadi gugup tertahan, tidak tau kenapa hatinya begitu dag dig dug, ditatap lama oleh pria dihadapannya ini.


''Ooh, ini pacar Putra yang ibu bicarakan tadi?'' tanya pak Surya tanpa dosa.

__ADS_1


Putra membulatkan matanya penuh mendengar ucapan ayahnya.


''Bukan ayah..! dia sekretaris Putra.'' Ketus Putra dengan wajah datarnya. Ia benar-benar malu diledek ayahnya di depan Cantika.


''Lah..! orang yang bilang ibu kok, kalau pacar kamu lagi main di kamar Putri, jadi benar gak dek? kalau kakak ini pacar abang kamu?''


''Hehehe, maunya sih gitu yah, biar Putri ada temannya, biar abang cepat nikah kasih cucu yang lucu buat ayah sama ibu.!'' goda Putri sambil menatap abangnya yang sudah menahan malu.


Sedangkan Cantika berusaha terlihat tenang dan masih memberikan senyuman tersopannya.


"Ternyata kalau di rumah, beruang kutub terlihat begitu hangat ya.! beda banget sama di kantor, bikin gemes aja sih batu es!'' gumam Cantika di dalam hati.


"Sudah lah dek, ayah, ibu ayo kita makan..! aku sudah lapar..!" ucap Putra mengalihkan pembicaraan anggota keluarganya itu.


Mereka semua pun makan dengan lahap, setelah puas menggoda Putra yang mukanya terlihat sudah memerah seperti udang rebus berusaha menahan malu di depan sekretarisnya.


Setelah semua selesai makan, seperti biasa Putri membantu bi Inem untuk membereskan meja makan, Cantika yang memang sudah terbiasa dengan hal itu, tidak keberatan untuk melakukannya.


''Sudah berapa lama kamu menjadi sekretaris Putra, nak?'' tanya pak Surya mendekatkan diri agar tidak canggung.


''Lebih kurang sudah empat bulanan om!'' balas Cantika dengan sopan sambil memperlihatkan senyuman khasnya.


Membuat bu Ningrum dan Putri juga ikut tertawa melihat wajah abangnya yang mulai kesal, sedangkan Cantika hanya tersenyum malu-malu.


Sudah agak lama mereka berbincang, Cantika izin pamit kepada keluarga Putra untuk pulang karena hari sudah mulai larut malam.


''Kapan-kapan kakak main ke sini lagi ya kak, aku boleh minta nomor ponsel kakak?'' tanya Putri dengan sopan.


''Boleh..!'' Cantika mengambil ponsel Putri dan menyimpan nomornya di sana.


''Putra, kamu antarkan Cantika nak, ini sudah larut malam, tidak baik perempuan pulang malam sendiri,'' ujar bu Ningrum kepada anak sulungnya itu.


''Tidak usah tante, saya bisa pulang sendiri, maaf sudah merepotkan, dan terima kasih atas jamuan makan malamnya tante,'' ucap Cantika dengan sopan, kemudian ia menyalami orang tua Putra bergantian dan memeluk Putri yang sudah ia nobatkan sebagai sahabatnya mulai hari ini.


''Permisi pak!'' ucapnya menunduk dan berlalu dari sana.


''Tunggu..!'' teriak Putra dengan tampang dinginnya.


''Apakah kamu sekeras kepala itu, hingga membantah nasihat orang tua..!''


''Tunggu saya sebentar, saya akan mengantarkan kamu pulang!'' perintah Putra.

__ADS_1


Putra berlalu dari sana menuju kamarnya, ia mengambil kunci mobilnya dan tidak lupa ia mengambil sweater kesayangannya untuk menutup tubuhnya yang nantinya akan kedinginan di dalam mobil.


Putra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah ia pamit kepada kedua orang tuanya untuk mengantarkan Cantika pulang.


Di dalam mobil, hanya terdengar alunan musik sendu yang menemani mereka sampai tujuan, tanpa ada yang memulai pembicaraan hingga terciptanya suasana kaku dan canggung, membuat Cantika yang merasa masih mengantuk melanjutkan tidurnya kembali tanpa mempedulikan bosnya yang selalu mencuri-curi pandang menatap Cantika.


Setelah sampai di depan rumah Cantika, Putra memberhentikan laju mobilnya. Putra yang sudah beberapa kali mengantarkan wanita itu pulang ke rumahnya, tidak terlalu sulit untuk dirinya menemukan rumah Cantika.


Putra menoleh ke samping setelah di rasa ia benar-benar memberhentikan mobilnya dengan posisi mantap. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Cantika yang pulas tertidur, ia tidak habis pikir dengan sekretarisnya itu.


''Dasar tukang tidur..!'' sinis Putra masih dengan menatap wajah Cantika dengan intens. Melihat Cantika yang tertidur dengan pulas, ia tidak tega untuk membangunkannya, hingga ia berniat untuk menunggu Cantika terbangun sendiri.


Ia melepaskan sweaternya dan menutupi tubuh Cantika yang kedinginan. Ia menatap wajah Cantika yang begitu menggemaskan ketika tertidur seperti itu.


Lebih 15 menit Cantika tertidur di mobil itu, ia membuka matanya dengan sangat pelan, sontak ia terkejut mengetahui dirinya masih di dalam mobil bosnya.


Putra yang tidak henti-henti menatap Cantika sedari tadi, berusaha menutupi senyuman yang mengembang dikala melihat Cantika yang begitu kaget.


''Sudah puas tidurnya?'' tanya Putra dengan sinisnya.


Cantika menunduk malu, ''Maaf pak.!!'' serunya.


''Dasar tukang tidur..!'' umpatnya.


''Yasudah, kamu turun sana..! tidurnya bisa dilanjutin lagi, besok jangan sampai telat, kita akan meeting dengan klien dari perusahaan xx!'' jelas Putra.


''Baik pak, sekali lagi saya minta maaf, dan terima kasih telah mengantarkan saya pulang dengan selamat!'' ucap Cantika dan buru-buru berlalu dari sana. Putra yang melihat kegugupan Cantika tersenyum lucu menatap punggung gadis itu hingga menjauh.


"Dasar es balok, bikin kesal saja, tapi kenapa gue bisa tertidur di mobilnya sih, bikin malu diri sendiri saja kau Cantika,'' umpatnya di dalam hati.


Cantika pun kembali kaget, setelah menyadari sweater bosnya melekat pada tubuhnya.


"Apa pak Putra yang memasangkan sweater ini ke tubuh gue? aduuh.! ternyata ia juga bisa se sosweet pria-pria idaman di cerita novel yang selalu gue tulis." Gumam Cantika yang kemudian memeluk sweater itu dengan erat, tercium bau maskulin pria itu yang selalu mengganggu pikirannya beberapa waktu ini.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2