
Terlihat Cantika dan Putri sedang menikmati semua jajanan yang mereka beli di pasar malam.
Mereka begitu menikmati semua makanan itu, Cantika yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, memakan seblak itu dengan sangat lahap, seblak memang makanan yang banyak diminati para wanita, seperti gadis ini yang memang menyukai seblak yang sangat pedas.
Setelah mereka menyantap semua jajanan itu, mereka disibukkan dengan novel mereka masing-masing. Cantika yang memang ingin mengejar targetnya menulis novel dengan serius tanpa ingin ada yang mengganggunya.
Berbeda dengan Putri yang masih tampak gelisah, hingga ia tidak fokus untuk melanjutkan menulis novel onlinenya. Putri menjadi uring-uringan disaat Victor tidak mengabarinya, ia benar-benar kesal dengan dirinya saat ini karena merasa tidak fokus dan selalu mengumpat di dalam hati mengingat bayangan Victor melintas di benaknya.
Cantika yang seketika terganggu dengan kegelisahan Putri, menatapnya dengan intens, ia yakin saat ini Putri sedang tidak baik-baik saja.
''Dek..! ada apa? kenapa gelisah seperti itu?'' tanya Cantika dengan hangat.
''Maaf kak, kakak terganggu ya? maaf kak aku tidak akan berisik lagi,'' balas Putri dengan tatapan sendu.
Cantika yang sudah menyelesaikan novel untuk beberapa bab, berniat untuk tidur lebih cepat, mengingat tubuhnya yang seharian ini mau diajak berjuang, hingga ia ingin beristirahat lebih awal, karena sesibuk apapun, sebisa mungkin ia akan tidur tepat waktu.
Setelah mengklik tombol turn off, Cantika menutup laptopnya dengan sigap, kemudian ia menghampiri Putri.
''Kamu tidak perlu minta maaf dek,'' Cantika merangkul Putri dari samping, ia sudah merasa mempunyai adik saja.
''Kalau kamu tidak keberatan, ayo ceritakan kepada kakak, kamu ada masalah apa?'' ucap Cantika.
''Kakak..!'' Putri memeluk Cantika dengan erat, tanpa terasa air matanya jatuh tanpa permisi. Cantika pun membalas pelukan itu.
Bukan, ia menangis bukan karena masalahnya, tetapi ia menangis karena terharu dengan Cantika yang memperlakukannya dengan tulus, sudah seperti kakaknya sendiri, ia terharu karena tanpa Putri berbicara apapun, Cantika tau kalau Putri sedang tidak baik-baik saja.
''Kenapa menangis?'' Cantika mengusap air mata yang membasahi pipi chuby adik bosnya itu.
''Aku terharu, aku merasakan kasih sayang seorang kakak perempuan, terima kasih kak,'' ujar Putri yang masih berada di dekapan Cantika.
Sedangkan di depan pintu, seseorang merasa adem dan tenang melihat drama mereka, siapa lagi kalau bukan Putra, ia berniat menghampiri adiknya karena mendapat telfon dari ibunya, karena ibunya ingin berbicara dengan Putri, ia terhenti begitu saja di depan pintu kamar adiknya yang kebetulan tidak tertutup rapat, sehingga ia bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana tanpa sepengetahuan Putri dan Cantika.
Tanpa berpikir panjang, Putra memutar balik badannya dan melangkah kembali menuju kamarnya, di sana ia terdiam mengingat kejadian yang barusan ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
''Kau memang orang baik, sampai adikku merasakan kenyamanan berada di dekap mu, aku memang tidak salah mengagumi wanita seperti mu,'' ujar Putra, tanpa terasa ia memuji sekretarisnya itu dalam diam.
__ADS_1
"Ckk...! kenapa aku selalu memujinya dan memikirkannya? apa aku mencintainya?"
"Jangan bodoh Putra, kenapa kau memikirkan wanita yang menyebalkan itu, ia menyukai Hary, buktinya ia lebih nyaman dan sering bercanda berdua dengan Hary dari pada denganku," kesal Putra yang menjadi salah tingkah.
Setelah melepaskan pelukan itu, Putri menatap Cantika.
"Kakak pernah mencintai seseorang?" Putri berhasil melontarkan pertanyaan itu dari mulutnya.
Cantika tersenyum mendengar pertanyaan itu, "Oooh...! jadi kamu lagi galau masalah cinta?'' Cantika mencubit kecil hidung Putri berniat ingin menggoda Putri yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Tidak tau kenapa, aku memikirkannya kak, apa kakak mau mendengar cerita ku?" tanya Putri berharap.
Cantika mengangguk pertanda ia setuju, "Ayo ceritakan..! akan kakak dengarkan," ujarnya.
Dengan antusias Putri menceritakan dari awal kedekatannya dengan Victor hingga ia menjadi uring-uringan seperti ini.
Tidak sampai 15 menit mulut Putri berkomat-kamit menceritakan awal kisahnya dengan Victor.
Cantika mendengarkan dengan ekspresi begitu takjub, karena mengagumi bosnya yang ikut andil dalam menyelamatkan adik kesayangannya itu.
''Apa kamu masih menyimpan rasa untuknya?'' pertanyaan itu membuat Putri menatapnya dengan ragu.
''Tidak usah berbohong, dari sorot mata mu, kakak yakin kalau kamu masih menyimpan rasa itu. Kalau tidak, kamu tidak akan mungkin uring-uringan seperti ini di saat ia tidak memberi kabar kepadamu hari ini.''
Putri menunduk malas, ''Benar kak.!'' ujarnya.
''Tapi aku takut kecewa untuk yang kedua kalinya, makanya aku tidak ingin terlalu berharap kepadanya kak,'' ucap Putri.
Cantika mengusap kepala Putri dengan sayang, ''Ikuti kata hatimu, jangan pernah berbohong kepada dirimu sendiri, kuatkan hatimu, apabila sudah mengenal cinta harus siap untuk nantinya tersakiti, karena apa yang kita harapkan terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya, disitu lah kecewa itu datang menyakiti diri kita secara perlahan.''
''Jadi aku harus bagaimana kak?''
''Sudah kakak bilang, ikuti kata hatimu,'' jelas Cantika lagi.
Putri terdiam, ia mencerna semua perkataan Cantika dengan tenang. Ia merasa lega dengan ucapan Cantika yang membuat dirinya menjadi tenang, karena memang seharusnya ia mengikuti kata hatinya saat ini.
__ADS_1
Ia kembali memeluk Cantika dengan erat, ''Terima kasih ya kak, kakak sudah mau mendengarkan cerita aku.'' Cantika hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa membalas dengan jawaban.
Setelah drama itu selesai, mereka pun bersiap untuk tidur karena Putri tidak ingin bangun kesiangan untuk berangkat ke sekolah, begitupun Cantika yang memang tidak suka begadang, memilih untuk tidur dan melanjutkan novelnya besok pagi.
Di tengah malam, tepat pukul 2 malam, Cantika terbangun dari tidurnya, karena merasa tenggorokannya kering, ia menatap Putri yang sedang tertidur pulas, ia pun tidak enak untuk membangunkan Putri. Alhasil, ia memberanikan diri untuk ke dapur sendirian.
Dengan pelan ia melangkahkan kakinya membuka pintu kamar, kemudian dengan sedikit rasa takut ia berjalan ke tangga menuju dapur.
Setelah sampai di dapur, dengan sigap ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air.
Dengan langkah terburu-buru ia membawa gelas itu menuju kamar.
''Brugh..!''
''Aaw..!'' teriak Cantika yang menabrak seseorang, hingga gelas itu jatuh mengenai kakinya.
"Kamu punya mata nggak sih..?" teriak lelaki itu, yang ternyata adalah Putra. Putra yang memang tidak bisa memejamkan mata sejak tadi berniat untuk mengambil cemilan di dapur karena ia merasa perutnya sangat lapar.
"Maaf pak," ujar Cantika dengan rasa takut karena dibentak, ingin rasanya ia menangis karena menahan sakit di kakinya, ditambah lagi dengan di bentak seperti itu.
"Kakimu berdarah..?" tanya Putra sangat kaget.
Ia memapah Cantika ke kursi terdekat yang ada di sana.
"Tunggu sebentar..!" ujarnya. Putra berlari ke kamarnya untuk mengambil kotak P3K.
"Mari saya obati lukamu," ujar Putra yang sudah kembali dari kamarnya. ia mengangkat kaki Cantika ke pangkuannya.
Sedangkan Cantika hanya meringis kesakitan tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Putra.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung