
Di dalam perjalan menuju ke kantor, Putra dan Cantika hanya diam tanpa ada yang memulai pembicaraan satu sama lain, mereka sibuk mengarungi pikiran mereka masing-masing, sesekali Cantika melirik ke arah Putra.
''Ternyata kalau di liat-liat kulkas tiga pintu ini ganteng juga,'' gumam Cantika.
''Nggak usah melihat saya seperti itu, kamu naksir saya, saya yang ribet,'' ucap Putra dengan percaya diri sambil menatap ke depan tanpa menoleh kearah Cantika.
''Deg,'' jantung Cantika berdegup kencang, ia sangat malu karena ketahuan mencuri pandang ke arah bosnya.
''Kenapa ia bisa tau sih, gue kan jadi malu,'' gumamnya.
''Maaf pak!'' hanya itu yang bisa dijawab oleh Cantika, karena faktanya ia memang sedari tadi memperhatikan Putra, jadi tidak ada alasan untuknya mengelak dari tuduhan Putra.
''Kenapa kamu tadi berada di jalan itu? Bukannya rumah kamu berlawanan arah?'' tanya Putra.
''Kok pak Putra bisa tau rumah gue yah?'' gumam Cantika, ia hanya bisa bergumam di dalam hati karena ia takut untuk menanyakan langsung kepada beruang kutub itu.
''Ia, tadi saya ke rumah tante saya sebentar pak, ada keperluan, terus saya nunggu angkutan umum malah ga datang-datang, jadi saya berniat untuk jalan kaki aja sampai ada angkot yang lewat, eh tau-taunya bapak yang lewat, terima kasih ya pak udah bersedia memberi saya tumpangan,'' ucap Cantika panjang lebar sambil menebarkan senyum cantiknya.
Melihat senyum Cantika seperti itu, wajah Putra langsung berubah datar, entah apa yang ada didalam pikirannya saat ini.
''Saya cuma bertanya, kenapa kamu lewat jalan itu, bukan menanyakan keperluan atau masalah kamu, jadi jangan curhat dan terlalu banyak omong, banyak omong akan memperbanyak masalahmu, PAHAM?'' ucap Putra menatap tajam ke arah Cantika.
''Ya bukan maksud saya buat curhat juga sih pak, saya kan berbicara sesuai kenyataan yang saya hadapi sepagi ini,'' balas Cantika dengan muka kesal.
''Sudah diam....!! Saya ingatkan, banyak omong akan memperbanyak masalahmu, sekali lagi PAHAM?'' tanya Putra dengan nada sedikit di tekankan.
''Iya pak,'' balas Cantika dengan kesal, sudah pasti ia mendongkol di dalam hati.
''Pagi-pagi udah bikin gue kesel aja nih, dasaaar beruang kutub, ia gue banyak omong mau apa lo? Banyak masalah pun kan masalahnya masalah gue, kok lu yang sewot sih,'' celoteh Cantika di dalam hati.
__ADS_1
Tidak berapa lama mereka pun telah sampai di kantor, semua mata menatap kearah Cantika dan Putra, karena melihat dua insan itu seperti orang berpacaran yang turun dari satu mobil, dan tanpa mereka sadari, mereka telah berjalan berdampingan, membuat banyak wanita menjadi iri terhadap Cantika.
Harry yang juga baru datang begitu kaget melihat Putra bersama dengan Cantika,
''*A*pa yang terjadi dengan mereka, kok gue ketinggalan cerita sih, apa mereka jadian? tidak biasanya pak bos mau berduaan di mobil dengan wanita, tapi kok pak bos nggak cerita sama gue? parah nih pak bos, nggak cerita-cerita sama gue, secara kan gue asistennya, jadi gue dulu dong yang harus tau,'' gumam Hary dengan sedikit kesal.
Setelah Putra dan Cantika menaiki lift, beberapa karyawan wanita langsung menggosipkan yang tidak-tidak tentang Putra dan Cantika, ada yang tidak suka ada pula yang setuju melihat hubungan bos dengan sekretarisnya itu, padahal mereka tidak tau apa sebenarnya yang terjadi, tanpa menelaah terlebih dahulu dan mementingkan asumsi-asumsi mereka sendiri.
''Kok pak Putra mau yah sama Cantika, cantikan juga gue kemana-mana, ucap salah satu karyawan wanita yang tak lain bernama Lisa, ia banyak disukai oleh laki-laki di kantor itu, tapi ia ingin mendapatkan cintanya Putra, semakin berusaha ia mengejar, Putra malah tambah cuek kepadanya, membuat ia sangat kesal.
Bahkan dengan ide gilanya, Lisa pernah memakai baju yang sangat minim sekali, memperlihatkan tubuhnya yang memang sangatlah indah itu dan berlenggak-lenggok memasuki ruangan Putra dengan alasan mengantarkan makanan untuk menarik perhatian Putra.
Tetapi Putra malah mempermalukannya dengan melemparkan jasnya ke arah Lisa untuk menutupi tubuhnya yang terbuka. Membuat Lisa malu dan kapok untuk mendekati Putra.
Tidak sengaja Hary mendengar ucapan Lisa, ia sangat kesal melihat tingkah Lisa yang tidak tau malu itu.
''Kalian ngapain pada ngumpul disini?? pagi-pagi sudah menggosip saja, kerja sana...!!" Bentak Hary dengan tatapan dinginnya, semua yang ada di sana langsung bubar karena takut melihat Hary sang asisten bosnya mengamuk. Pasalnya Hary lebih menakutkan dari pada Putra apabila sedang marah.
Ketika sedang asyik melamun dengan pikirannya, Putra dikejutkan dengan ketukan pintu yang tak lain adalah Hary sang asistennya, ia pun langsung mempersilahkan Hary masuk.
Harry pun menyebutkan satu persatu jadwal tugas Putra hari ini. Setelah itu ia pun memberanikan diri membahas perihal kejadian tadi pada bosnya.
''Pak kalau sudah jadian ngomong dong sama saya, masak bos nya jadian saya asistennya malah gak tau, pajak jadiannya mana pak?" tanya Hary polos.
Putra pun bingung dengan apa yang dibicarakan Hary. ''Maksud kamu apaan? Saya jadian? jadian sama siapa? Sama tembok?'' balas Putra sinis.
''Lah, kan emang iya, bapak kan juga tembok, canda tembok,'' ucap Hary cengengesan.
Mendengar ucapan Hary, wajah Putra langsung berubah datar.
__ADS_1
''Banyak omong akan memperbanyak masalah mu,'' balas Putra sambil menatap tajam ke arah Hary.
''Heheh... Maaf pak, tapi apa benar dengan gosip yang beredar, kalau bapak sudah jadian sama Cantika?'' Tanya Hary tanpa rasa takut.
''Siapa yang sudah menyebarkan gosip murahan seperti itu?'' Bentak Putra.
''Teman-teman di bawah pak,'' balas Hary.
Putra pun hanya menarik nafas panjang, kenapa jadi seheboh ini pikirnya.
''Tapi bapak serasi kok sama Cantika, dan saya setuju loh pak," ucap Hary menggoda Putra.
''Saya tidak meminta pendapat mu Hary, sekarang kamu beresin masalah ini, saya tidak mau apabila Cantika mendengar gosip ini, iya malah tidak nyaman bekerja disini," ucap Putra.
''Sepertinya pak Bos sudah mulai ada rasa nih sama Cantika, sampai mikir yang nggak nyaman segala lagi, kok gue jadi geli sendiri yak,'' gumam Hary sambil tersenyum.
''Sepertinya pak Bos sudah mulai ada rasa nih sama Cantika, sampai perhatian sebegitunya, dan gak biasanya pak bos mau berdua-duaan dengan wanita di dalam mobil, saya siap sedia membantu kok pak Bos kalau pak Bos butuh bantuan,'' ucap Hary tanpa berdosa.
Mendengarkan ucapan asistennya yang sudah mulai kemana-kemana, ia langsung memutar bola matanya malas.
''Sudahlah Hary, saya menyuruh kamu bekerja dengan saya bukan untuk mengurus masalah seperti itu, urus saja pekerjaan mu dengan benar."
''Silahkan kamu keluar dari ruangan saya," ucap Putra sedikit membentak, mendengar suara Putra yang sedikit menggelegar, Hary sudah memastikan kalau Putra sedang marah.
Dan ia langsung keluar dari ruangan Putra agar tidak di amuk oleh bosnya itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung