
Mobil tepat berhenti dikediaman keluarga Sanjaya. Setelah masuk ke dalam rumah, langkah Victor dan bu Sukma terhenti tatkala pak Heru memanggil istrinya dengan sedikit emosi.
Melihat bu Sukma yang tampak ketakutan, membuat Victor menggenggam tangan mamanya dengan erat dan tidak ingin melepaskannya, sebenarnya ia memberikan isyarat kalau semuanya akan baik-baik saja.
''Maksud kamu apa mempertemukan saya dengannya?'' tanya pak Heru dengan tampang dinginnya, membuat semua orang yang menatap pak Heru seketika nyalinya pasti akan menciut.
''Sejak kapan kamu bertemu dengannya? Kamu merasa sudah pintar karena bisa membohongi saya? iya.?'' bentak pak Heru dengan suara tingginya.
Bu Sukma yang dibentak seperti itu hanya terdiam, ia menekukkan wajahnya ke bawah, seketika buliran air yang sudah menganak sungai di matanya terjatuh tanpa permisi, yang berusaha ia tahan sedari tadi.
''Mas..!'' ucap bu Sukma lirih.
''Sampai kapan kita akan seperti ini mas, kita ini sudah tua mas, tidak baik menyimpan dendam terlalu lama,'' ucapan bu Sukma membuat pak Heru sedikit tertampar seketika.
Ia sadar dengan semua dendam yang masih tersimpan di lubuk hatinya, tetapi tidak bisa di pungkiri kalau ia sebenarnya sangat merindukan sahabatnya sejak lama, tetapi ia sangat gengsi mengakui kalau ia sungguh merindukan persahabatan mereka dahulu yang terjalin sudah sejak lama.
''Sudahlah, saya tidak ingin membahas ini lagi. Saya tidak ingin bertemu dengan mereka. Persahabatan kita dahulu sudah gugur setelah Diky meninggalkan kita semua. Jadi saya harap kamu tidak bertingkah konyol seperti tadi, kamu mengerti..!''
''Tapi mas....!''
''Tidak ada penolakan..! kalau kamu memang istri saya kamu harus mendengarkan semua ucapan saya,'' pak Heru berlalu dari hadapan bu Sukma menuju kamar mereka.
Victor yang melihat perdebatan kedua orang tuanya, hanya berusaha tenang dan juga berusaha menenangkan mamanya yang masih terisak.
''Mama yang sabar ya, mama harus menceritakan semuanya kepada aku apa sebenarnya yang terjadi, agar aku juga bisa membujuk papa,'' ucap Victor mengelus punggung mamanya dengan lembut.
''Ayo, aku antarkan mama ke kamar, mama beristirahatlah agar mama sedikit lebih tenang.''
Bu Sukma hanya mengangguk mengiyakan semua ucapan Victor, setelah mengantarkan mamanya ke kamar, terlebih dahulu Victor meminta ijin pergi keluar sebentar untuk menjenguk Wiliam yang sedang sakit, karena teman-temannya juga sudah pasti menunggu di sana, pikirnya.
Ia melajukan mobilnya menuju dimana rumah Wiliam berada, di dalam perjalanan ia hanya termenung memikirkan masalah orang tuanya. banyak pertanyaan yang tersemat di benaknya kali ini.
__ADS_1
Setelah 45 menit berlalu ia pun telah tiba di depan rumah Wiliam. Terlihat teman-temannya sedang berkumpul di luar sambil bercengkrama diselingi dengan cemilan yang sepertinya mereka beli di supermarket terdekat.
''Gimana keadaan lu sekarang Wil?'' tanya Victor setelah ia menghampiri teman-temannya.
''Seperti yang lu lihat sekarang Vic, keadaan gue sudah lebih membaik.''
''Lu dari mana? kok sekarang baru nyampe? tanya Wiliam.
''Iya, tadi gue habis nganterin nyokap, bokap gue ke butik, untuk fitting baju pesta mereka,'' jelas Victor.
Mereka menghabiskan waktu dengan bernyanyi bersama, ada yang memainkan gitar, ada yang sibuk dengan game mereka. Sedangkan Victor hanya termenung di sudut kolam renang sambil mengutak-ngatik handphonenya.
Ia berusaha menghubungi Putri, tetapi Putri malah tidak mengangkatnya. ia berusaha mengirimkan pesan kepada Putri, tetapi Putri hanya membaca pesannya tidak berniat untuk membalasnya.
Membuat Victor sangat kepikiran dan sangat tidak bersemangat, ditambah lagi dengan masalah orang tuanya dengan orang tua Putri yang tidak ia ketahui selalu menari-nari di benaknya.
''Wil, kayanya Victor lagi ada masalah deh, liat aja dia menyendiri seperti itu,'' ujar Doni yang menatap Victor dari kejauhan.
''Sepertinya sih iya Don, kira-kira masalah apa yah? Apa masalah dengan Putri?''
''Yaudah, nanti coba kita tanya langsung ke dia setelah anak-anak yang lain pada pulang, lu jangan pulang dulu nanti ya,'' sela Wiliam yang masih menatap Victor dari kejauhan.
Doni hanya mengangguk mengiyakan ucapan Wiliam. Victor yang merasa dirinya diperhatikan oleh kedua sahabatnya langsung menghampiri mereka. Victor membaringkan tubuhnya di sofa yang bersebelahan dengan Doni dan Wiliam untuk meregangkan ototnya yang kaku, ia berusaha memejamkan matanya agar ia bisa tertidur sebentar. Tetapi matanya tidak bisa di ajak untuk kompromi. Doni dan Wiliam masih saja memperhatikan Victor yang tampak gelisah.
*
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Doni membangunkan Victor yang masih tertidur di sofa. Victor yang tadinya tidak bisa tertidur akhirnya bisa memejamkan matanya setelah ia merasa kepalanya sangat pusing.
''Vic..! bangun..!'' udah malem, lu ngga mau pulang apa?'' ujar Doni yang kesusahan membangunkan Victor sedari tadi.
Victor membuka matanya dengan pelan, ia menatap langit-langit dan menyadari kalau ia masih di rumah Wiliam.
__ADS_1
Ia pun duduk dengan tidak bersemangat, ia menatap sekeliling mencari keberadaan teman-temannya yang lain, tetapi hanya Doni dan Wiliam yang berada di sana.
''Yang lain pada kemana?'' tanya Victor sambil menguap.
''Udah pada pulang, lu nggak liat udah jam 7 malam,'' oceh Doni lagi.
Victor menatap luar jendela, memang benar di luar sudah sangat gelap, ia menghela nafas dengan kasar.
''Vic, lu kenapa? kalau ada masalah cerita-cerita dong sama kita. Gue nggak mau lu kayak kemaren lagi, Vic..!'' Wiliam berucap dengan menatap tajam ke arah Victor.
''Gue tidak apa-apa, yaudah sekarang gue pulang dulu ya.'' balas Victor dengan tampang dinginnya hendak melangkahkan kakinya mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas nakas.
''Vic..! lu jangan bohong sama kita Vic, udah bertahun-tahun gue kenal lu, ya pasti gue dan Wiliam paham kalau lu sekarang sedang tidak baik-baik saja.''
''Gue nggak ingin maksa lu sih, kalau lu belum siap ceritain ke kita, ya tidak apa-apa juga, tapi gue mohon jangan seperti kemaren lagi, kita bersahabat sudah lama, Vic! duka lu berarti duka gue juga, begitupun sebaliknya, jadi gue mohon lu jangan sungkan untuk cerita.''
Victor menatap kedua sahabatnya dengan sendu, kemudian ia pun berucap, ''Terima kasih kalian sudah mau menjadi sahabat yang baik buat gue,'' balas Victor.
''Iya, sama-sama, Vic!''
''Itu sudah tugas kita, Vic! jangan pernah lu merasa sendiri lagi, masih ada gue dan Wiliam.'' balas Doni.
''Jadi sebenarnya lu ada masalah apa? sampai lu pusing seperti ini.'' Tanya Doni lagi.
Victor mendesah kasar, ia berpikir sejenak bagaimana cara menjelaskan masalahnya kepada kedua sahabatnya ini. Sebenarnya di saat seperti ini, ia memang membutuhkan teman untuk bercerita mengeluarkan keluh kesah yang masih ia pendam sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung