
Damar mendesah frustasi ketika mendapat dua pilihan yang tidak ia sukai dari kepala sekolahnya itu. Ia hanya terdiam memikirkan jalan keluar apa yang harus ia tempuh untuk menyelesaikan semua masalahnya.
''Lebih baik saya di skors selama seminggu, dari pada orang tua saya harus meminta maaf kepada bajingan ini,'' umpat Damar sambil menatap tajam ke arah Victor.
''Damar!'' jaga bicara mu! bentak pak Hendro, yang sudah sangat geram melihat Damar berprilaku tidak sopan di depan semua tamunya.
''Kamu sudah siap di skors selama seminggu?'' tanya pak Hendro meyakinkan.
Damar hanya mengangguk frustasi, sebenarnya ia juga bingung harus menjawab apa kepada kedua orang tuanya, kalau ia tidak masuk sekolah untuk seminggu ke depan.
''Bagaimana pak Alan, apakah anda setuju dengan hukuman ini?'' tanya pak Hendro serius.
Pak Alan sejenak terdiam dan berpikir sambil menatap Victor, Putra dan Wiliam.
''Saya tidak setuju!'' bentak suaranya dengan lantang yang menggema di seluruh ruangan itu, yang tak lain adalah Putra.
Semua mata tertuju kepadanya tanpa terkecuali, Damar yang melihat penolakan itu terlihat kesal,
"Dia siapa sih? ikut campur saja urusan gue dari awal," gumam Damar menatap tajam Putra sambil bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Di sini saya bukan bermaksud untuk tidak menghargai keputusan yang bapak sekolah ajukan, karena dalam masalah ini, saya juga berhak ikut campur untuk mengambil keputusan."
''Mereka telah berniat jahat ingin menyakiti adik saya yang bernama Putri, walaupun mereka belum sempat melakukannya, tetapi itu sudah membuat saya sangat khawatir, dan terlepas dari semua yang sudah mereka lakukan itu, mereka termasuk ke dalam golongan orang yang bertindak kriminal, jadi mereka harus diberi hukuman sesuai apa yang mereka lakukan, agar para siswa lain tidak mencontoh semua sikap buruk yang telah mereka perbuat, dan saya tidak akan tinggal diam kalau mereka hanya diberi hukuman sebegitu ringannya, bukan begitu pak Alan?" jelas Putra dengan tampang dinginnya.
"Saya sangat setuju dengan nak Putra, kita harus memberi hukuman agar mereka jera untuk membuat hal yang dapat meresahkan orang sekitar," balas pak Alan dengan tenang.
__ADS_1
"Baiklah, jadi menurut anda hukuman apa yang pantas diberikan kepada mereka," tanya pak Hendro.
"Saya memberikan dua pilihan, pilihan pertama, mereka harus di DO dari sekolah ini, dan nama mereka akan di blacklist di beberapa sekolah ternama lainnya.''
Dan pilihan yang kedua adalah, anda harus bersedia kalau saya akan membawa masalah ini ke jalur hukum atau kepihak yang berwajib, karena ini menyangkut keselamatan para siswa dan siswi saya.''
''Silahkan anda pilih pak, langkah apa yang akan anda ambil untuk menyelesaikan masalah ini," ujar pak Alan yang sudah sejak di atas panggung sekolah tadi menahan emosinya melihat semua tingkah Damar yang begitu semena-mena terhadap siswanya.
Mendengar semua penjelasan pak Alan, Damar beserta teman-temannya yang lain seketika langsung panik dan tak tentu arah, mereka memohon-mohon kepada pak Hendro agar tidak mengikuti kemauan pak Alan untuk memberhentikan mereka di sekolah ini, ataupun melaporkan kepada pihak yang berwajib, karena yang mereka mau saat ini, hanya minta maaf dan menyelesaikan secara kekeluargaan.
Victor, Putra dan Wiliam begitu takjub dengan keputusan tegas yang diambil oleh pak Alan, mereka tersenyum senang mendengar hukuman yang akan diberikan kepada Damar, mereka sungguh merasa puas, karena pengorbanan mereka tidak sia-sia untuk membuka siapa Damar sebenarnya di depan kepala sekolah.
Pak Hendro tampak berpikir sejenak, kemudian ia memutarkan bola matanya dengan malas, karena melihat Damar yang mulai bersandiwara dan memohon-mohon kepadanya.
Setelah beberapa menit berpikir, ia pun berucap, "Semua sudah saya pikirkan dengan baik, dan saya akan lebih baik memilih, kalau kamu dan teman-teman kamu yang lain akan saya keluarkan dari sekolah ini dan akan saya blacklist dari beberapa sekolah terkenal di kota ini, saya tidak ingin mencoreng nama baik sekolah ini, yang berurusan dengan pihak berwajib, karena itu akan sangat menjatuhkan nama baik sekolah kita nantinya."
Dengan rasa malas, Damar dan teman-temannya keluar dari ruangan itu dan tidak lupa mereka membawa surat yang telah diberikan pak Hendro yang terletak di atas meja kebesarannya.
Victor, Wiliam dan Putra merasa lega dengan keputusan yang diambil oleh pak Hendro, tidak lupa mereka meminta maaf dan berterima kasih kepada pak Hendro karena masalah ini.
Sedangkan pak Alan dan pak Hendro langsung berpelukan seperti teletubis dan saling mengucapkan terima kasih, membuat Victor, Wiliam dan Putra terheran-heran.
Melihat mereka yang kebingungan, pak Hendro pun memulai pembicaraan, "Kalian jangan terheran-heran seperti itu, bapak kepala sekolah kalian ini adalah sahabat saya dari kecil sampai sekarang, bahkan saat diangkat menjadi kepala sekolah beberapa bulan yang lalu pun kita berbarengan," ucap pak Hendro sambil tersenyum senang.
Mereka yang mendengar penjelasan pak Hendro, hanya menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Saya sangat kagum dengan pertemanan bapak yang sangat profesional dalam bekerja, hingga saya tidak menyangka kalau pak Hendro dan pak Alan akan bersahabat," ujar Putra dengan kagum.
Mereka semua pun tersenyum mendengar pengakuan Putra.
"Dalam masa jabatan ini, saya dan pak Alan akan berusaha memperbaiki hubungan murid SMA Satu Nusa dan SMA karya, saya akan mematahkan isu-isu miring yang menggelegar dari beberapa tahun silam sampai sekarang, bahwasannya SMA Karya dan SMA Satu Nusa tidak akan terlibat permusuhan lagi, makanya saya mengeluarkan Damar dari sekolah ini, karena ia sangat toxic untuk semua teman-temannya di sini yang selalu menjelek-jelekkan SMA Satu Nusa."
"Apalagi setelah saya selidiki, kalau merekalah yang selalu membuat onar, Damar mempunyai saudara laki-laki yang dulu pernah bersekolah di sini, di saat itulah perkelahian SMA Satu Nusa dan SMA Karya yang membuat kita bermusuhan sampai sekarang," jelas pak Hendro panjang lebar.
Semua yang ada di sana hanya mengangguk mengerti dengan semua yang dijelaskan oleh pak Hendro.
Setelah hampir setengah jam berbincang, mereka pun izin kembali ke sekolah dan meninggalkan ruangan pak Hendro.
"Terima kasih nak Putra, kalau bukan berkat bantuan anda mendapatkan video itu, pasti kita tidak punya bukti yang menguatkan masalah ini, dan mereka dengan sesuka hatinya akan berkilah," ucap pak Alan sambil melangkahkan kakinya kearah parkiran mobil yang tidak jauh dari sana.
"Iya sama-sama, pak! itu sudah tugas saya, apalagi berkaitan dengan adik saya," balas Putra seadanya.
"Kalau begitu saya pamit ke kantor lagi ya pak, Vic, Wil, kalau butuh bantuan saya, kabari saja," ucap Putra dengan sopan.
Pak Alan pun mengangguk dan sekali lagi ia mengucapkan terima kasih kepada Putra.
Sedangkan Victor sedikit berlari dan mengejar Putra kemudian berbisik, "Bang! bujuk adek lu yak, agar mau maafin gue, gila nih gue kalau dicuekin terus sama adek lu," oceh Victor yang membuat Putra dan Wiliam tersenyum melihat tingkah Victor, Putra pun mengangguk dan mereka pun berpisah.
.
.
__ADS_1
.
bersambung