Pacar Galak

Pacar Galak
Tamu bulanan


__ADS_3

Pagi ini terlihat begitu cerah, terdengar kicauan burung bernyanyi ria, menyambut datangnya pagi untuk mereka memulai mencari makan, dengan terbang dari tempat yang satu ke tempat yang lain dan diiringi semangat juang yang tinggi.


Tetapi tidak untuk Putri, jam tepat menunjukkan pukul 06.30 pagi, ia masih bermalas-malasan di kamarnya, bergulung dengan selimut dan memeluk boneka tedy bear coklat kesayangannya.


Sudah beberapa kali bi Inem bolak-balik membangunkannya, tetapi suara di dalam sana tidak menyahutinya sama sekali, hingga akhirnya ia menyerah dan meminta tolong kepada Putra untuk membangunkan adik kesayangannya itu.


''Deek..!'' Teriak Putra.


Masih tidak ada sahutan di dalam sana, hingga Putra menggedor pintu itu dengan kuat. Membuat yang ada di dalam kamar, menjadi kaget dan segera bangun dan melangkahkan kakinya dengan malas untuk membuka pintu kamar.


''Astagfirullah deek, kamu baru bangun? Udah sholat? Jangan mentang-mentang ibu tidak ada di rumah kamu jadi malas seperti ini.'' Putra memperingati adiknya itu.


''Apaan sih bang, pagi-pagi udah ngomel aja, aku lagi nggak sholat..!'' Ketus Putri, ia kembali ke kasurnya tanpa menghiraukan abangnya yang masih menunggunya di depan pintu.


''Ooh gitu, ya tapi kamu jangan malas-malasan seperti ini juga dong, ini sudah jam berapa? Kamu nggak ke sekolah?''


''Abang aja deh ke sekolah, katanya abang mau menemui bapak kepala sekolah, aku males banget ke sekolah bang, lagian perut aku sakit banget.'' Ujar Putri dengan sedikit memelas.


Mungkin karena, lagi datang tamu bulanannya, ia terlihat bermalas-malasan dan badmood banget, hingga sekarang ia hanya ingin berdiam diri di kamar tanpa ada seorang pun yang menganggu.


''Deek..! Udah cepatan mandi, abang nggak mau kamu malas-malasan seperti ini, nanti kalau ayah dan ibu pulang kamu mau dimarahi? Abang nggak mau bantu ya kalau kamu kaya gini.''


Dengan langkah kesal Putri melangkah ke kamar mandi. ''Ia deh, aku siap-siap dulu, abang tunggu di bawah aja,'' ia pun berlalu ke kamar mandi, sedangkan Putra hanya tersenyum melihat tingkah adiknya yang manja itu.


Tidak menunggu lama, terlihat Putri sudah rapi dengan berpakaian seragam sekolahnya. Ia menuju meja makan dan mencomot roti selai kacang yang telah dibuatkan oleh bi Iyem untuknya, tidak lupa ia menyeruput susu coklat panas kesukaanya.


''Ayo bang, kita berangkat..!'' Ujar Putri.


''Kamu duduk dulu, sarapan yang benar,'' oceh Putra mengajari adiknya.


''Kita udah telat bang, aku sarapannya di mobil aja,'' Putri kembali mengambil satu potongan roti selai kacang, dan mendahului abangnya menuju mobil. Membuat Putra hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan heran.


Putra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan Putri masih asyik dengan roti selai kacangnya, sekarang ini di dalam pikirannya, hanya ingin makan dan makan, terlihat ia sedang membayangkan memakan es krim, memakan coklat dan cemilan kesukaannya, dan ia berpikir, nanti setelah waktu jam istirahat tiba, ia akan membeli semuanya, maklumlah ia sedang datang tamu bulanan, hingga membuat nafsu makannya meningkat karena pengaruh hormon.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, mereka pun sampai di sekolah Putri, Putri pun langsung masuk menuju kelasnya, tidak lupa terlebih dahulu ia pamit kepada abangnya.


Sepeninggalan Putri ke kelas, terlihat Putra memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah, ia mengabari seseorang yang tak lain itu adalah Victor.


Victor menghampiri Putra di parkiran setelah Putra mengabarinya.


Bertepatan dengan datangnya mobil mewah yang juga memparkirkan mobilnya di samping mobil Putra. Mobil yang sangat dikenali Victor yang tak lain itu mobil papanya.


''Papa..!'' Victor berteriak dan memeluk papanya dikala melihat Heru keluar dari mobil itu, begitupun Putra yang terlihat bingung menatap ayahnya yang juga berada di dalam mobil yang sama.


''Ayah juga di sini?'' Tanya Putra dengan sedikit takut, pasalnya ia belum memberitahukan masalah adiknya kepada orang tuanya.


''Ia nak, ayah mau ke ruangan kepala sekolah, untuk memenuhi surat panggilan yang diberikan kepada adik mu kemaren.''


''Ayah tau dari mana?'' Kaget Putra yang sangat takut kalau papanya akan marah kepada adik dan dirinya.


''Maaf bang, aku yang kasih tau kemaren, soalnya ketika aku menelfon dengan papa, ternyata om Surya juga berada di samping papa dan mendengarkan semuanya.'' Victor sedikit menunduk pertanda ia cemas kalau calon abang iparnya akan marah kepadanya.


''Tapi ayah jangan memarahi Putri, dia sangat ketakutan ayah, lagian bukan dia juga yang salah,'' jelas Putra membela adiknya.


''Makasih ayah, kalau begitu aku berangkat ke kantor saja, kan sudah ada ayah, aku pamit dulu ya yah, om, Vic,'' Setelah menyalami semua yang ada di sana, Putra pun meninggalkan mereka semua dan berlalu pergi ke kantornya.


''Ya sudah, kamu masuk ke kelas sana..! Nanti telat loh, papa dan om Surya ke kantin dulu untuk sarapan, karena tadi kita tidak sempat sarapan, lagian pertemuannya jam 09.30 masih ada waktu lah buat papa bersantai sebentar,'' ujar Heru dengan raut wajah yang terlihat sumringah.


''Baik pa, aku pamit dulu, om aku masuk dulu ya,'' Surya dan Heru pun mengangguk, mereka pun pergi ke kantin sekolah itu, dan memesan nasi goreng untuk sarapan pagi ini.


''Kalau makan seperti ini, teringat waktu kita masih kuliah dulu ya, tiap pagi kita selalu mengisi kantin kampus,'' ujar Heru mengingat masa-masa kuliahnya.


......................


Putri terlihat sedang tertidur di mejanya, kebetulan guru yang mengajar di kelasnya berhalangan hadir, sehingga membuat siswa-siswi yang ada di kelas itu, bisa saling bercengkrama dengan teman-temannya sambil mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru tersebut melalui ketua kelas.


Tetapi tidak dengan Putri, dari tadi ia begitu badmood dengan semua orang yang ada di sana, termasuk Raysa, ia hanya mendiamkan teman sebangkunya dari tadi dan memilih untuk tidur.

__ADS_1


Karena ini hari pertama ia datang tamu bulanan, membuat ia merasakan perutnya begitu sakit, tetapi sakit yang ia rasakan lebih sakit dari yang biasanya, hingga ia tertidur pulas menahan sakitnya.


Mungkin karena memikirkan masalah yang ia hadapi sekarang, membuat ia menjadi stres dan merasakan sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Sejenak ia terbangun karena ia ingin ke toilet untuk buang air kecil, ia berjalan dengan pelan menuju toilet, sebelumnya ia menolak tawaran Raysa untuk menemaninya ke toilet, karena ia tidak mau menyusahkan temannya itu.


Berbeda dengan Rendi yang panik melihat keadaan Putri, hingga ia mengikuti Putri dari belakang tanpa sepengetahuan Putri.


Setelah keluar dari kelas, tidak sengaja Rendi melihat Putri yang hampir terjatuh ke belakang karena menahan badannya akibat dari pusing kepala dan perut sakit yang ia rasakan saat ini. Rendi dengan sigap memegang pergelangan tangan Putri dengan pelan.


Putri menatap Rendi dengan haru, ''terima kasih Rend, kalau nggak ada lu mungkin gue udah jatuh,'' ujar Putri.


''Lagian batu banget sih lu, tadi di temenin Raysa nggak mau,'' ketus Rendi yang terlihat kesal.


''Nggak enak gue, nyusahin temen mulu,'' balas Putri dengan senyum yang dipaksakan.


Rendi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mendengar jawaban dari Putri masih dengan memegang tangan Putri.


''Apa-apaan ini..!'' Suara Victor menggema di lorong Itu. Membuat Rendi dan Putri begitu kaget dengan suara itu.


''Berapa kali gue harus bilang..! Jangan pernah menyentuh milik gue..'' bentak Victor.


Ia sudah memegang kerah baju Rendi dengan geram.


''Victor..! Sudah..!! jangan lakukan lagi hal bodoh itu, lu nggak kapok-kapok apa?'' Bentak Putri dengan suara yang terdengar lemas.


''Kalau lu nggak ingin gue seperti ini, jangan pernah lakuin hal yang gue benci.!'' Bentak Victor kepada Putri, membuat Putri bertambah shock dan merasakan pusing yang sudah tidak bisa ia tahan, seketika ia pingsan dan untung saja dengan sigap Victor menggendongnya dan berlari ke UKS tanpa menghiraukan semua orang yang melihatnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2