Pacar Galak

Pacar Galak
Flash Back 4


__ADS_3

''Diky..! maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu, maafkan kelancanganku yang sudah menyatakan perasaan ku kepada Ningrum.''


''Percayalah, setelah ini aku akan pergi jauh darinya, kau boleh mengejar cintanya, aku tidak akan mengganggumu, tapi aku mohon, jangan pernah lagi kau mendiamkan Ningrum, sungguh...! dia sangat tersiksa,'' ujar Surya dengan tatapan kosong.


Ya, mereka sekarang ini telah berada di Bondan Cafe, setelah kejadian 2 hari kemaren, mereka tidak saling bersapaan ataupun memberi kabar satu sama lain, dan pagi tadi Diky mengajak Surya dan Ningrum untuk bertemu sore ini di Bondan Cafe karena ada yang ingin ia bicarakan.


Ningrum yang mendapat pesan sepagi itu dari Diky, terlihat sangat senang, karena sahabatnya yang beberapa hari ini sangat ia rindukan begitu susah untuk dihubungi perihal dengan masalah yang terjadi, begitupun sebaliknya dengan Surya.


''Tidak...!'' bentak Diky yang sedikit emosi mendengarkan semua ucapan Surya.


''Aku memang mencintai Ningrum, tetapi tidak dengan dia, dia hanya menyayangiku, tidak lebih..!''


''Setelah ku berpikir, aku tidak mesti harus mendapatkan cintanya, karena rasa sayang yang begitu tulus yang ia berikan kepadaku, itu sudah lebih dari cukup.''


''Dan dia memilih kau.! aku minta kau harus berdampingan dengannya, anggap saja itu sebagai penebus kesalahan kau kepadaku,


Dan ingat..! tidak ada yang boleh pergi menjauh.! kita akan tetap bersama!'' ucap Diky dengan penuh penekanan.


''Tapi..!''


Seketika ucapan Surya terpotong tatkala melihat Ningrum yang sudah berada di belakangnya mendengarkan semua pembicaraan mereka.


"Diky...! maafkan aku," seketika air mata itu manganak sungai di pelupuk matanya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.


Diky yang melihat Ningrum seperti itu sungguh tidak tega melihatnya, hingga dengan spontan ia memeluk Ningrum dan mengusap punggungnya dengan sayang.


"Sudah..! jangan menangis.! dan tidak ada yang perlu dimaafkan, ayo duduk..!" ucap Diky yang sudah melepaskan pelukannya dan menuntun Ningrum untuk duduk.


"Bagaimana Surya? kau sudah paham dengan apa yang ku ucapkan tadi? mumpung di sini sudah ada Ningrum," ucap Diky dengan sedikit tersenyum.


Surya begitu terkesiap mendengar ucapan Diky.


''Kau serius?'' tanya Surya meyakinkan Diky.


Diky mengangguk dengan sangat yakin, sedangkan Surya menghela nafas lega.


''Kau..! jangan pernah menyakiti hatinya dan membuat ia menangis, kalau sampai itu terjadi, akan ku patahkan tulang rusuk mu,'' ancam Diky kepada Surya yang membuat nyali Surya sedikit menciut.


''Ningrum, kalau sampai ia mempermainkan dan melukaimu, tolong kasih tau aku, aku akan membuat perhitungan dengannya,'' ucap Diky sambil tersenyum manis.


Ningrum pun mangangguk dan tersenyum bahagia kala Diky berucap seperti itu kepadanya. Kemudian mereka memesan makanan dan berbincang-bincang seperti biasanya tanpa merasa ada masalah sebelumnya.


Setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan, Diky pun pamit pulang duluan agar Surya dan Ningrum bisa berduaan di hari bahagia mereka ini.


''Berarti hari ini adalah hari jadian kalian dong?'' goda Diky kepada sepasang kekasih itu, Ningrum pun tersenyum malu digoda seperti itu oleh Diky, sedangkan Surya berusaha tetap stay cool, berusaha menutupi perasaan senangnya di depan Diky.


''Berhubung hari ini adalah hari jadi kalian, gue nggak mau tau, kalian harus bayar semua makanan gue..! dan sekarang gue mau pamit pulang duluan karena ada urusan lain,'' balas Diky yang sudah berdiri untuk melangkahkan kakinya meninggalkan Surya dan Ningrum berduaan.


Surya pun mengiyakan dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah lucu sahabatnya itu.


Setelah kepergian Diky, Surya dan Ningrum pun berbincang dan bercanda layaknya sepasang kekasih.

__ADS_1


Surya mengambil handphonenya yang pada saat itu berbunyi pertanda ada pesan masuk,


ia pun tersenyum senang melihat isi pesan itu.


^^^#Diky#^^^


^^^Aku sudah menyiapkan cincin untukmu dan Ningrum di tempat aku duduk tadi, katakanlah perasaanmu kembali dengan suasana yang romantis, anggap saja itu adalah kenang-kenangan dariku untuk hari jadi kalian, selamat ya untuk kalian berdua, ingat pesanku tadi, jangan pernah menyakiti orang yang aku sayang, kalau sampai itu terjadi, kita akan beradu argumen di atas ring tinju👊.^^^


Begitulah isi pesan dari Diky, Surya memperlihatkan pesan itu kepada Ningrum, membuat senyum cantik terukir di wajah Ningrum.


Surya mengambil kotak kecil yang bergambar hati di tempat yang di maksud oleh Diky, ia membukanya, matanya pun berbinar melihat sepasang cincin yang begitu indah di dalam sana.


Kemudian ia tersenyum senang, dan memasangkan cincin tersebut ke jari manis Ningrum, ia mengucapkan kata-kata manis dan rayuan gombalnya untuk menggoda Ningrum, sungguh ini adalah hari bahagia untuk sepasang kekasih yang baru saja meresmikan hari jadi mereka.


Setelah merasa sudah larut malam, mereka pun pulang bersama dan Surya tidak lupa mengantarkan Ningrum hingga depan rumahnya.


*


Di tempat lain, Heru dan Sukma dengan tergesa-gesa menuju rumah sakit karena salah satu suster yang ada di rumah sakit x mengabarkan kalau temannya yang bernama Diky mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit tersebut.


Setelah Diky pulang dari cafe itu, ia memang menelfon Heru dan mengatakan kalau ia baru bertemu dengan Surya dan Ningrum, belum sempat ia menjelaskan apa yang ia bicarakan dengan Surya dan Ningrum tadi, telfon pun terputus karena handphone Heru pada saat itu lowbat.


Diky berniat ingin menghampiri Heru ke rumahnya. Tetapi ketika menuju perjalanan ke rumah Heru, ia mengalami kecelakaan dan orang di sekitarnya melarikan ia ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, nyawanya sudah tidak dapat tertolong lagi, karena ia mengalami pendarahan hebat.


Pihak rumah sakit pun menghubungi Heru karena panggilan terakhir dari handphone pasien tertera atas nama Heru.


Heru yang mendapat kabar duka malam itu, langsung menjemput Sukma kemudian mereka pun ke rumah sakit bersama.


Tetapi sesampai di rumah sakit, mereka baru percaya kalau korban itu adalah Diky, melihat tubuh yang terbujur kaku, dan sebagian luka lebam yang ada di wajahnya, membuat Heru berlari memeluk sahabatnya dan menangis sejadi-jadinya.


Sedangkan Sukma hanya menelan tangisnya di dekat pintu, melihat tubuh Diky yang sudah tidak bernyawa, ia sungguh tak sanggup dan tak percaya dengan kenyataan yang ada di depannya.


Malam ini Diky akan langsung dibawa keluarganya pulang, agar proses pemakaman besok pagi berjalan dengan cepat, mereka tidak ingin berlama-lama untuk melakukan proses pemakaman karena menurut mereka itu tidak baik.


Sukma sudah berusaha menghubungi Ningrum dan Surya untuk mengabarkan kabar duka ini, tetapi tidak satupun dari mereka yang mengangkat telfon dari Sukma ataupun Heru.


Memang Ningrum maupun Surya sudah tertidur lelap, bagaimana tidak, jam sudah menunjukkan pukul 2 dini, sudah dipastikan kalau mereka sudah tidur.


Heru yang merasa kesal karena telfonnya tidak diangkat sama sekali langsung mengumpat dan berpikir kalau Surya dan Ningrumlah penyebab kecelakaan Diky, mengingat tadi Diky mengatakan kalau ia bertemu dengan Surya dan Ningrum, membuat Diky tidak fokus mengendarai motornya dan terjadilah kecelakaan itu, begitulah pikirnya. Membuat ia bertambah benci melihat kedua orang itu pada saat ini.


Pagi pun telah tiba, proses pemakaman berlangsung dengan cepat, Heru dan Sukma yang dari semalam tidak tidur dan menginap di rumah Diky, berjalan gontai mengantarkan Diky ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Sejak tadi pagi hingga sampai saat ini, Surya dan Ningrum belum menampakkan batang hidungnya, Ningrum yang handphonenya lowbat ketika baru bangun tidur langsung mengecas handphonenya, dan meninggalkan begitu saja ke dapur untuk membantu ibunya membuat sarapan pagi tanpa ia aktifkan terlebih dahulu.


Sedangkan Surya yang memang bangun kesiangan, langsung mandi tanpa menoleh handphonenya. Setelah mandi ia mengecek handphonenya.


Alangkah terkejutnya ia melihat puluhan pesan masuk dan panggilan tak terjawab, ia begitu panik. Ia menelpon Heru dan Sukma, tetapi tidak ada jawaban dari mereka, kemudian ia menelpon Ningrum yang ternyata diangkat oleh wanita kesayangannya itu. Sama dengan Ningrum, ia juga panik ketika baru membuka handphonenya yang ternyata isi pesannya adalah kabar duka.


Setelah Surya menjemput Ningrum, Surya pun melajukan mobilnya menuju rumah Diky, sesampai di sana, salah satu warga di sana memberitahukan kalau Diky sudah dibawa ke pemakaman, mereka pun langsung menuju makam tersebut.

__ADS_1


Di dalam perjalanan itu, Ningrum tak henti-hentinya menangis histeris. Surya yang tidak sanggup menerima kenyataan itu, hanya terdiam dan fokus melajukan mobilnya.


Sesampai di sana, proses pemakaman telah selesai, satu persatu warga dan kerabat Diky telah meninggalkan pemakaman itu, hanya terlihat Heru dan Sukma yang masih meratapi kepergian sahabatnya itu.


Ningrum yang sudah turun dari mobil, langsung cepat berlari menuju pemakaman itu tanpa menghiraukan orang di sekitarnya, begitupun dengan Surya.


Ia menangis sejadi-jadinya dihadapan pemakaman Diky, ia tidak ingin menerima kenyataan kalau sahabat yang paling ia sayangi saat ini begitu cepat meninggalkannya.


Heru dan Sukma yang melihat kedatangan Ningrum dan Surya secara bersamaan, menatap mereka dengan tatapan benci.


''Sandiwara kalian sungguh indah,'' ujar Heru sambil memberikan tepukan tangan.


Seketika Ningrum dan Surya menatap Heru secara bersamaan.


''Bukannya ini yang kalian inginkan? sekarang apa kalian sudah puas? sahabat macam apa kalian ini, yang tega menyakiti sahabatnya sendiri.''


''Maksud kamu apa Heru?'' balas Surya dengan tatapan dinginnya dan mengepalkan tangannya pertanda ia sangat marah dengan semua ucapan yang dilontarkan oleh Heru.


''Saya sudah tau semuanya..! kalian memang biadab..!'' bentak Heru.


Surya langsung melayangkan satu pukulan tepat di pipi kanan Heru, sedangkan Sukma dan Ningrum seketika berteriak melihat Heru yang sudah jatuh tersungkur.


Hati Surya begitu panas pada saat itu, hatinya begitu bergemuruh mendengar semua ucapan Heru.


Ningrum berlari mengejar Surya dan berusaha menahan Surya ketika Surya ingin menghajar Heru lagi.


''Sudah...!!'' bentak Ningrum.


''Kenapa kalian berkelahi di sini? apa kalian tidak kasihan dengannya!'' bentak Ningrum lagi sambil menunjuk makam Diky.


''Heru..!'' Bentak Ningrum dengan nafas yang sudah sesak karena menangis tersedu-sedu.


''Kalau kamu belum tau pasti kebenarannya, alangkah baiknya kamu tanya terlebih dahulu..! bukan seperti ini..!''


''Saya sudah tau semuanya, dan tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, saya sangat menyesal mempunyai sahabat bajingan seperti kalian.''


''Terhitung hari ini, saya pastikan, saya tidak akan pernah sudi mengenal kalian lagi, ingat itu..!'' bentak Heru dengan penuh penekanan. Kemudian ia mengajak Sukma yang masih menangis terisak-isak untuk pergi dari sana.


Sedangkan Ningrum langsung terduduk dan terkulai lemah melihat kepergian Heru dan Sukma, ia tidak menyangka persahabatannya yang sudah terjalin lama akan berakhir seperti ini. Surya yang melihat keadaan Ningrum yang sudah acak-acakan, merangkul Ningrum dan menuntun Ningrum untuk melangkahkan kakinya menuju mobilnya.


Semenjak kejadian itu, mereka tidak pernah bertemu atau saling berkabar lagi, bahkan pada saat wisuda, mereka tidak terlihat berfoto bersama seperti teman-teman mereka yang lain.


.


.


bersambung


Betewe, selamat hari kartini untuk wanita tangguh di seluruh indonesia, jangan lupa semangat ya, buktikan hari esok mu lebih baik dari hari ini.😊


Jangan lupa like, vote dan komentnya, agar aku lebih semangat lagi upnya.

__ADS_1


Oiya, yang mau berkenalan dan bersilaturrahmi denganku, yok follow ig aku @ameliarusin, nanti aku Follback, sapa tau kita bisa berteman dan saling memberi inspirasi.


Yok bisa yok💪


__ADS_2