
Setelah masalah dengan papanya selesai, dan semua orang sudah meninggalkan rumahnya, Victor melangkahkan kaki menuju kamarnya, ia tidak tau harus ngapain di rumah sendiri, karena orang tuanya juga ada keperluan di luar rumah.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur king size yang begitu empuk, menatap langit-langit kamar sembari pemikirannya menerawang jauh entah kemana.
Setelah lama terdiam, ia kembali duduk, perhatiannya tersita kepada ponselnya yang terletak di atas nakas.
Ia mengambil ponsel itu, mencari nama Putri kemudian ia langsung melakukan panggilan video call, setelah beberapa lama berdering, panggilan itu pun terhubung.
Terlihat wajah polos Putri sambil memeluk boneka kesayangannya, di sana terlihat ia masih memejamkan matanya dan berusaha menetralkan jiwanya yang masih di alam bawah sadar, karena ia dikagetkan dengan bunyi ponsel yang begitu nyaring
Victor menatap Putri dengan intens, sungguh ia begitu gemas melihat wajah Putri seperti khas orang bangun tidur. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia screen shoot wajah polos Putri agar itu menjadi koleksi di handphonenya.
''Ayo bangun put..! udah mau magrib, mandi dulu gih..!!'' ucap Victor dengan lembut.
Putri tersadar dengan suara Victor, ia mengucek-ngucek matanya berharap itu hanya mimpi, tetapi tidak, wajah Victor masih tertera di layar ponsel itu, ia tersadar kalau ia mengangkat video call Victor di alam bawah sadarnya.
Sekarang ia benar-benar malu, karena muka bantalnya bangun tidur terlihat jelas oleh Victor, bahkan mungkin Victor sudah melihat ilernya kemana-mana, pikirnya.
Putri menutup mukanya dengan boneka tedy bear warna coklat kesayangannya. Sumpah, ia benar -benar malu saat ini, ingin rasanya ia menghilang saja dari sana, tetapi nasi sudah menjadi bubur, Victor sudah melihatnya, lagian ia akan tetap cantik kok walaupun baru bangun tidur, gumamnya di dalam hati berusaha menenangkan jiwanya yang meronta-ronta ingin lari dari hadapan Victor saat ini.
''Jangan malu-malu, kamu tetap cantik kok walaupun bangun tidur!'', ujar Victor menggoda wanitanya itu.
''Gombal aja trus..!'' ketus Putri.
Victor pun tertawa melihat Putri yang sudah mengerucutkan bibirnya ke depan, ia selalu berhasil membuat Putri kesal, karena itu sungguh menggemaskan baginya.
''Coklatnya udah di makan? suratnya udah baca?'' pertanyaan itu berhasil lolos dari mulut sang empunya.
Putri menggelengkan kepalanya, padahal ia berniat setelah pulang sekolah ingin memakan coklat itu, tetapi karena ia sibuk dengan novel barunya hingga ia melupakannya.
''Kenapa nggak di makan? kamu nggak suka?'' tampang datar memenuhi wajahnya, terlihat raut kecewa menghiasi wajah lelaki itu.
''Bukan begitu, tadi gue sibuk membaca novel, hingga gue melupakannya!''
''Nanti setelah mandi gue akan memakan coklat itu dan membaca suratnya!'' jelas Putri.
''Baiklah, semoga kamu suka ya. Sudah..! sana mandi dulu..!'' perintah Victor.
Putri mengangguk dan mematikan telfon setelah ia pamit kepada Victor, walaupun masih malu-malu yang terkesan cuek dan ketus.
Setelah menerima telfon dari Victor ketika bangun tidur, membuat wajah Putri bersemu merah, moodnya jadi membaik dan dengan bersenang hati ia ke kamar mandi sambil berlari-lari kecil.
Setengah jam berlalu, Putri telah menyelesaikan ritual mandinya. Ia memakai baju santainya, dan berlalu keluar kamar, karena ia merasa perutnya sudah sangat lapar sekali.
''Ibu aku lapar,'' ucapnya setelah melihat ibunya sedang menata piring di meja makan.
''Kalau lapar ya mbok tinggal makan nak,''
''Tapi aku pengen disuapin..!'' ucap Putri manja sambil bergelayut di lengan ibunya.
Bu Ningrum mencubit hidung anaknya hingga meninggalkan bekas merah saking gemasnya melihat anaknya yang tiba-tiba manja itu
__ADS_1
''Kok anak ibu sekarang manja sih!'' ujarnya.
''Yaudah, sini ibu suapin..!''
Ningrum menyuapi anaknya dengan saksama, sudah lama Putri tidak manja seperti ini, karena kalau di rumah, Putri selalu dimanjakan oleh keluarganya, tetapi kalau di luar dia memang terlihat cuek dan sulit di raih. Tetapi, semenjak ia patah hati, ia menjadi cuek dan dingin, baik di rumah ataupun di luar.
Ningrum rindu dengan anaknya yang manja dan menggemaskan itu.
''Yaelah dek, bentar lagi udah mau nikah masih aja disuapin makannya,'' sela Putra yang merebahkan badannya duduk di sebelah ibunya, karena ia juga sudah sangat merasa lapar.
Putri menatap tajam ke arah abangnya, ''Apaan sih bang, ngomong nikah-nikah segala, aku masih sekolah, abang aja tuh yang nikah biar bisa kasih keponakan-keponakan lucu buat aku, apalagi kalau ibunya kak Cantika, pasti menggemaskan,'' ujar Putri yang pikirannya sudah jauh melayang entah kemana.
Putra mencubit pipi adiknya dengan gemas, ''Sudah, pikirannya jangan kemana-mana, ayo makan.!'' ketus Putra.
Mereka bertiga pun makan bersama, kebetulan pak Surya hari ini harus lembur di kantornya, hingga ia nanti akan pulang larut malam.
......................
Putri mengambil coklat yang tadi ia masukkan ke dalam tas sekolahnya setelah mendapatkan pesan dari Victor untuk tidak lupa memakan coklat pemberiannya.
Ia membuka pita yang menghiasi coklat itu dengan pelan, perlahan ia membuka surat kecil yang menempel di sana.
^^^''Tolong jaga hatiku yang selalu cemburu melihat kamu begitu dekat dengan pria lain, dan semoga kamu mau memberiku satu kesempatan lagi.''^^^
Begitulah isi surat kecil yang menempel di coklat itu, Putri mengembangkan senyumannya setelah membaca surat itu, ia paham sekali kalau Victor begitu cemburu melihat kedekatannya dengan Rendi, mengingat Victor yang terlalu possessive kepadanya sewaktu pacaran dulu.
Dan sepertinya saat ini, Victor berhasil membuatnya luluh untuk bisa memaafkan dan memberi kesempatan kepada Victor, tetapi ia malu untuk mengungkapkannya, iapun berpirkir untuk menyembunyikannya dan melihat seberapa besar perjuangan Victor untuk medapatkan hatinya kembali.
^^^"Terima kasih, gue sudah memakan coklatnya dan membaca suratnya."^^^
Begitulah isi pesan yang ia kirimkan kepada Victor.
Tidak menunggu berapa lama, Victor langsung menelfon Putri melalui panggilan video call.
Victor tersenyum di saat melihat wajah Putri yang imut mengunyah coklat dengan nikmat.
''Enak gak coklatnya?'' tanya Victor di sebrang sana yang masih menatap wajah Putri dengan saksama.
Putri pun mengangguk.
''Aku harap, kamu paham dengan isi surat itu ya, masih ada kesempatan buat aku kan put?'' tanya Victor serius.
Putri terdiam, sebenarnya ia ingin sekali mengatakan iya, tetapi ketakutan itu masih ada, ia tidak mau dikecewakan untuk kedua kalinya dengan orang yang sama.
''Puut..!'' teriak bu Ningrum yang sudah membuka pintu kamar anaknya.
''Kamu lagi ngapain nak?'' tanyanya lagi.
Putri langsung panik karena takut ketauan video call dengan Victor.
Bu Ningrum langsung menyambar handphone Putri tanpa permisi.
__ADS_1
Ia melemparkan senyumannya dikala melihat wajah Victor tertera di layar handphone anaknya.
''Ooh..! jadi kamu lagi video call sama nak Victor ya dek? pake sembunyiin segala dari ibu.''
''Putrinya malu-malu kali tante!'' sambar Victor yang sudah berhasil membuat muka Putri seperti udang rebus karena menahan malu.
Bu Ningrum tertawa mendengar pernyataan dari Victor. Ia menatap anaknya yang sedang memegang sebuah coklat dan sepucuk surat kecil, diam-diam tante Ningrum berusaha merebut surat itu.
''Hhhap.. berhasil,'' ujar bu Ningrum yang berhasil mengambil surat itu dari tangan Putri dan berusaha kabur menjauh dari anaknya itu, sungguh bu Ningrum begitu lucu, selalu saja bisa mengerjai anak gadisnya itu hingga menjadi salah tingkah.
''Ibu...!'' teriak Putri sambil mengejar ibunya.
''Itu punya ku bu jangan di ambil,'' kesal Putri.
''Ngga ibu ambil kok nak, ibu cuma mau melihat isinya saja,'' jawab Ningrum yang sudah berhasil membaca surat itu.
''Nggak..! nggak boleh, ibu tidak boleh membacanya, sini balikin buu..!'' ketus Putri yang berusaha mengambil surat itu dari tangan ibunya.
Victor tersenyum mendengar semua percakapan Putri dan calon ibu mertuanya itu. Ia tidak habis pikir mertuanya suka bercanda dan penuh kehangatan. Memang sedari tadi telfon itu tidak dimatikan.
''Ibu nggak mau tau, berarti bulan depan kamu sudah harus menikah..!''
Putri membulatkan matanya dengan penuh, ia begitu kaget mendengar pernyataan ibunya.
''Ibu..! apaan sih..! jangan bercanda deh,'' kesal Putri.
''Aku kan masih sekolah, masa iya disuruh nikah cepat-cepat, aku kan ngejar karir dulu, biar menjadi kebanggaan ibu, ayah dan abang.''
''Walaupun sudah nikah masih tetap bisa ngejar karir kan dek, buktinya ibu saja sudah punya anak dua, mempunyai butik yang cukup ternama.''
''Karir itu tergantung niat kita nak, dan tergantung kita bagaimana membagi waktu untuk setiap yang kita jalani, kalau kita serius menjalaninya dan tetap berkomitmen dan berpendirian teguh, maka karir itu akan kita dapatkan dengan mudah.'' jelas bu Ningrum panjang lebar.
''Tapi Putri belum mau menikah ibu..!'' Putri bergelayut manja di lengan ibunya.
''Tetapi kalau kamu menikah membuat ibu dan ayah bangga, apa kamu mau menurutinya?''
Putri terdiam, ia menatap ibunya dengan tampang datarnya, ia mencerna maksud dari ucapan ibunya.
''Akan Putri pikirkan lagi bu, sudah lah bu, Putri tidak mau membahas ini lagi,'' ucapnya.
.
.
.
.
Bersambung
Hai para pembaca setiaku, terima kasih telah mengikuti ceritaku sampai episode ini.
__ADS_1
Btw, selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin 🙏.