
Mendengar ucapan sahabatnya, ia pun melepaskan pelukan itu.
''Kau serius? kau memaafkan ku? kau memaafkan istri ku?'' pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Heru dengan air mata yang masih menganak-sungai di sekitar kelopak matanya.
''Kau sungguh cerewet, jangan sampai aku berubah pikiran..!'' kesal Surya.
Heru dan Sukma tersenyum lega, dikala Surya sudah mau mengajaknya untuk bercanda.
''Kau masih sama seperti dulu, kaku..! kaya kanebo kering, tapi aku rindu.'' ujar Heru.
Surya tersenyum mendengar pernyataan sahabatnya itu.
''Aku juga rindu,'' balas Surya dengan senyuman hangatnya.
''Kalau begitu aku akan memeluk mu sekali lagi, ucap Heru yang sudah merentangkan tangannya untuk memeluk sahabatnya itu.
Surya pun menepis tangan Heru yang berhasil menggodanya.
''Bah..! jangan gila kau, sudah seperti istri ku saja, yang dikit-dikit minta dipeluk.''
Heru tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya yang masih seperti dulu, ia benar-benar rindu masa itu.
Sedangkan Ningsih dan Sukma hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat para suami mereka yang memang suka bergurau.
''Sudahi lelucon mu Heru, kau tidak ingin kan mempermalukan dirimu untuk berpelukan mesra dengan sesama jenismu di acara bahagia mu ini? membayangkannya saja aku sudah geli.'' ujar Surya lagi.
Ya, memang hukum alamnya begitu, lelaki yang sedang berpelukan begitu hina dimata manusia, banyak yang berpikir kalau mereka adalah pasangan sesama jenis, padahal mereka hanya ingin melepaskan rindu dikala mereka sudah lama tidak bertemu. Bahkan sesama lelaki pun juga kadang merasa geli untuk berpelukan.
Berbeda dengan wanita, kalau wanita yang berpelukan, atau cipika-cipiki dengan teman wanitanya yang lain terlihat biasa saja.
Dengan adanya pemikiran seperti itu, memperkuat istilah kalau wanita selalu benar itu memang benar adanya.
''Cuih..! aku hanya menggoda mu saja, dan aku tidak tertarik dengan tubuh mu, karena aku hanya akan menyentuh tubuh istri ku.''
''Aku rasa aku pun begitu, tidak berminat dengan mu.'' sewot Surya.
''Sudah..! masih banyak waktu untuk kita bercanda setelah acara ini, ayo akhiri dulu dengan ucapan penutup agar para tamu undangan melanjutkan dengan makan-makan,'' ujar Ningrum menghentikan perdebatan mereka.
''Dengar ucapan istri ku, dan lagian aku sudah sangat lapar, kau masih saja terus menggodaku dengan lelucon yang membosankan.''
''Ya, karena sudah berpuluh-puluhan tahun aku tidak menggoda mu,'' balas Heru.
''Ya sudah, sana kau turun dari panggung ini, merusak pemandangan ku saja,'' ujar Heru lagi.
__ADS_1
''Brengsek..! kau yang menyuruhku untuk naik ke sini mengikuti drama mu.''
''Awas saja, permintaan maaf mu yang tadi akan aku pikirkan lagi, sewaktu-waktu bisa ku cabut lagi,'' Surya meninggalkan panggung itu menuju tempat duduk mereka tadi, setelah mengumpat kepada Heru dengan mulut pedasnya dan tidak lupa ia merangkul istrinya dengan sayang.
Victor yang melihat lelucon orang tua dan kedua calon mertuanya dari kejauhan, merasa sangat senang dengan apa yang terjadi hari ini, ia sangat berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengabulkan doa-doanya.
...****************...
Putri menatap langit-langit kamarnya dengan kesal, tidak tau kenapa ia merasa kesepian saat ini, mungkin karena sedari pagi Victor tidak mengabarinya atau mengganggunya sekalipun di jam istirahat, bahkan di jam pulang pun Victor tidak menampakkan batang hidungnya.
Sepertinya Putri sudah terbiasa dengan keberadaan Victor di sampingnya, hingga ia merasa kesepian dikala Victor tidak mengabarinya seperti sekarang ini, walaupun ia selalu berdebat, bersikap jutek dan dingin kepada Victor.
Ia mengutak-atik handphonenya, berharap ada pesan masuk seperti biasa yang dilakukan Victor dengan spam chat setiap malam atau selalu melakukan panggilan video call dengan wanitanya itu, tetapi malam ini ia juga tidak melakukannya, membuat Putri mendesah frustasi.
''Kenapa hari ini dia menghilang? segitu doang perjuangannya buat dapetin gue lagi, dasar lelaki omong kosong,'' umpat Putri di dalam hati.
"Ngapain juga sih gue mikirin dia, laki-laki nggak jelas, bisanya ngomong doang, buktinya kaga ada."
"Aaaah*...!!" teriak Putri dengan mengacak-ngacak rambutnya frustasi, karena tidak bisa melupakan Victor di dalam benaknya.
Hingga ia tidak fokus untuk melanjutkan novelnya untuk hari ini.
Setelah beberapa lama terdiam, ia teringat akan seseorang yang kemungkinan bisa menemani galaunya untuk malam ini.
Ia mengambil ponselnya, kemudian mencari nomor Cantika, mungkin saja kak Cantika berbaik hati menemaninya malam ini. Ya, semenjak Cantika bertamu ke rumahnya untuk keperluan kerjaan bertemu Putra, sejak saat itulah mereka terlihat sangat dekat. Seperti kakak dan adik, mengingat Putri tidak mempunyai kakak perempuan, hingga ia merasa beruntung dipertemukan dengan Cantika yang bisa ia anggap sebagai teman ataupun sebagai kakak kandungnya, karena perlakuan Cantika yang begitu baik dan memanjakannya seperti adiknya sendiri.
"Halo dek..! ada apa?" tanya Cantika dari seberang sana.
Putri pun tersenyum sumringah, "Kakak ada dimana? kenapa berisik?" tanya Putri yang memang mendengar kebisingan di seberang sana.
"Kakak masih di jalan dek, nungguin angkot, ini baru pulang kerja."
"Kakak nungguin angkotnya dimana?"
"Masih di depan kantor dek," Cantika yang memang baru pulang jam segini untuk menyelesaikan semua pekerjaannya hingga tuntas, karena dua hari ke depan ia akan mengambil cuti untuk sekedar beristirahat dan ingin berkutat dengan novelnya yang harus memenuhi target bulan ini.
Mendengar penjelasan Cantika, Putri tersenyum karena mempunyai ide yang cemerlang menurutnya.
"Yaudah..! kakak tunggu di sana ya, jangan kemana-mana, biar aku jemput,"
"Tapi dek..!"
"Aku nggak mau tau, kakak tunggu di sana ya," Putri mematikan telfon secara sepihak.
__ADS_1
Sedangkan Cantika hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adik bosnya yang terkesan lucu.
Setelah memakai jaket tebal yang membaluti tubuhnya, Putri berlari ke kamar abangnya dengan semangat, dan membuka pintu kamar abangnya tanpa permisi, membuat si empunya kamar begitu kaget.
"Apaan sih dek..! bikin kaget aja." Umpat Putra yang terlihat kesal kepada adiknya itu.
Putri nyengir pertanda ia melakukan kesalahan, menatap abangnya yang menampakkan wajah kesal menahan amarah.
Pasalnya, Putra terlalu sibuk dan serius mengurus pekerjaannya yang harus ia handle untuk dua hari ke depan karena sekretarisnya meminta cuti.
"Abang..! anterin aku yok.!" ajak Putri.
"Kemana sih dek? udah jam setengah 8 malam loh," oceh Putra.
"Aku mau beli makanan,"
"Bukannya bi Iyem masak, kamu makan masakan bi Iyem aja sana, kerjaan abang lagi menumpuk dek, nggak bisa ditinggal," jelas Putra lagi.
"Aku maunya cemilan yang aku suka bang, mana bisa bi Iyem bikinnya, ayoklah bang.!" ucap Putri memelaskan wajahnya.
"Yaudah, besok kita beli ya, sekarang abang nggak bisa nganterin kamu."
"Kalau nggak, kamu pesan di aplikasi online aja nih pake hp abang, kamu mau makan apa sih memangnya?" tanya Putra yang sudah mengulurkan hpnya kepada Putri.
Putri menggelengkan kepalanya,
"Dia nggak jualan online bang," balas Putri merengut.
"Yasudah, kalau abang nggak mau nganterin, aku pergi sendiri aja," Putri cemberut dan melangkahkan kakinya keluar kamar meninggalkan abangnya yang seketika terdiam.
Setelah itu, Putra langsung berdiri mengambil jaketnya, karena ia tidak pernah membiarkan adiknya pergi sendiri apalagi di waktu malam seperti ini, buru-buru ia menutup laptopnya dan menyusul adiknya yang sudah membuka pintu utama rumahnya.
"Deek..! kamu kok ngeselin sih, yaudah abang antar, tunggu sebentar."
Putri pun tersenyum licik, jurus ampuhnya keluar untuk mengelabui abangnya yang tidak akan pernah membiarkannya untuk pergi keluar sendiri apalagi dihari yang sudah larut.
"Wkwkw...Maafkan adek mu yang jahil ini bang," gumam Putri masih dengan senyum licik.
Putra pun mengambil kunci motor yang menggantung di tempat penyimpanan kunci, karena ia berniat membawa motor untuk akses jalan agar bisa cepat sampai tujuan, mengingat pekerjaan yang masih banyak menunggunya di rumah.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung