
''Nak..! kamu sudah lama berdiri di sana?'' tanya bu Ningrum dengan gugup.
''Ibu...!'' Putra menatap tajam ke arah ibunya.
''Ibu ada urusan apa sama dia?'' Putra menatap Victor dengan datar.
''Tidak ada apa-apa nak.!''
''Jelas ada..! aku mendengarnya bu, ibu jangan berbohong..!'' ucap Putra dengan tegas.
''Ibu merahasiakan apa?''
Bu Ningrum hanya terdiam dan tidak tau harus berbicara apa kepada anak sulungnya itu, begitupun Victor yang mulai bingung harus bagaimana menjelaskannya.
''Kalau begitu aku akan tanya ayah!'' ucap Putra yang sudah bersiap mengambil ponselnya.
''Nak..! sini kamu duduk dulu,'' perintah bu Ningrum.
Putra menghampiri ibunya dengan tatapan datar.
''Akan ibu ceritakan, tapi ibu mohon jangan cerita kepada ayah dan Putri dulu ya nak,''
Putra mengangguk, ia setuju dengan permintaan ibunya.
''Ibu mau ambil tas dulu, kita bicaranya di luar saja, ibu tidak mau ada yang mendengarnya,'' Ningrum berlalu mengambil tasnya.
Setelah semua sudah siap, mereka pun menaiki mobil Putra menuju sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah mereka.
Sepuluh menit berlalu, mereka telah sampai di cafe itu, terlebih dahulu mereka memesan minuman.
Putra yang sudah tidak sabar ingin mendengar semua penjelasan ibunya, menatap ibunya dengan tatapan menuntut, sungguh ia merasa penasaran rahasia apa yang ditutupi ibunya.
''Langsung saja bu, ceritakan kepada ku,'' ucapnya.
Bu Ningrum menatap Victor, kemudian ia menatap Putra dengan saksama, ia menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kepada Putra masalah diantara ia dan orang tua Victor.
Putra tertegun mendengar semua cerita ibunya, ia tidak menyangka hubungan Victor dan adiknya begitu sangat rumit. Tetapi melihat kegigihan Victor selama ini untuk mendekati dan melindungi adiknya, hingga Victor ingin membantu permasalahan orang tua mereka, membuat Putra menjadi sangat bangga kepada Victor.
__ADS_1
''Apa yang harus aku bantu bu? agar masalah ini cepat selesai, kasian aku melihat bocah ingusan ini di cuekin mulu sama Putri,'' Goda Putra menatap Victor.
Victor hanya tersenyum simpul, menanggapi ucapan Putra.
''Nanti kalau masalahnya udah selesai, trus gue dijodohin sama adek lu, jangan ngiri lu ya bang, karena gue mau nikah duluan!'' ketus Victor.
''Ngapain juga gue ngiri, nggak usah deh lu berharap tinggi-tinggi, lu taklukin dulu hati adek gue yang kepala batu itu, bisa nggak lu.!'' tantang Putra yang sebenarnya ingin melihat seberapa semangat Victor untuk mendapatkan hati adiknya.
''Bisa lah, lu liat aja ntar!'' oceh Victor menatap sinis ke arah calon abang iparnya yang menyebalkan itu.
Putra hanya tersenyum geli karena berhasil menggoda Victor dan memancing emosinya.
''Sudah-sudah, kalian kok pada berdebat sih, bantuin ibu mikir dong!'' geram Ningrum yang pusing melihat perdebatan diantara mereka.
Mereka pun terdiam dan berusaha memikirkan langkah apa yang harus diambil.
''Naah..! ibu punya ide, gimana kalau besok Putra nganterin ibu ke rumah Victor, biar ayah nggak cariin ibu, kan perginya sama kamu.!'' ucap Ningrum antusias, seolah-olah ia mendapatkan penerangan yang begitu menakjubkan terlihat dari ekspresinya, karena sedari tadi ia berpikir, dan mencari alasan apa yang harus ia berikan untuk meninggalkan rumah kepada suaminya, pasti suaminya tidak mengizinkannya kalau ia akan pergi sendiri.
''Ide yang bagus bu, Putra setuju, jam berapa Putra jemput ibu?''
''Setelah adikmu pulang sekolah aja ya, nak! takutnya kalau adikmu belum pulang, pasti dia nyariin ibu!!'' jelas Ningrum kepada anak sulungnya itu.
Setelah tiba di depan rumah Putri, Victor turun dari mobil dan tidak lupa ia berpamitan kepada calon ibu mertuanya dan calon abang iparnya.
Kemudian ia berlalu melajukan motornya membelah jalanan sore menuju rumahnya.
Sedangkan Putra dan bu Ningrum yang juga sudah turun dari mobil melangkahkan kakinya menuju pintu rumah mereka.
Alangkah terkejutnya Putra melihat kedatangan sekretarisnya secara tiba-tiba. Ia melupakan perintahnya kepada sekretarisnya, untuk mengantarkan berkas yang harus ia tanda tangani sekarang juga.
Untung saja ada Putri yang menyambut kedatangan sekretarisnya itu.
''Maaf bapak, saya sudah lancang! sebelumnya saya sudah menelfon bapak dan mengirimkan pesan, tetapi saya tidak dapat balasan, untung saja ada adik bapak di rumah, berkas yang bapak minta sudah saya berikan kepadanya!'' ucap Cantika dengan sopan.
''Iya, saya yang harusnya meminta maaf, karena sudah merepotkan, tadi saya ada sedikit urusan dan terburu-buru, hingga saya lupa membawa ponsel dan melupakan kalau saya memerintahkan kamu untuk ke sini!'' balas Putra dengan tampang datarnya.
Ia yang selalu ingin tau urusan ibunya, sehingga ia lupa kalau sudah membuat janji dengan Cantika sekretaris cantiknya itu.
__ADS_1
''Abang kebiasaan, untung saja tadi ada aku di rumah, lagian abang sama ibu dari mana sih? tega banget ninggalin aku sendiri di rumah!'' ucap Putri dengan sikap manjanya.
''Tadi abang nganterin ibu ke butik, ada barang ibu yang ketinggalan!'' balas Putra dengan senyuman manisnya, membuat Cantika yang menatap bosnya itu menjadi deg-degkan.
"Andai sama gue semanis itu.!" gumam Cantika di dalam hati.
"Ooh ini sekretarisnya Putra di kantor ya?" sela bu Ningrum.
"Iya bu, kenalin nama aku Cantika!" ujar Cantika dengan sopan dan ia menyalami bu Ningrum.
"Wah...! nama yang cantik, seperti orangnya!'' puji bu Ningrum yang membuat wajah Cantika merah merona seketika.
"Bu, kak Cantika ini juga punya hobi yang sama loh seperti aku!'' ucap Putri antusias.
''Bagus dong, kamu bisa berbagi cerita,''
''Iya, bahkan dia sudah membuat novel yang berdedikasi online, jadi para pembacanya bisa membaca novel secara online tanpa harus membeli bukunya terlebih dahulu!'' ucap Putri menjelaskan panjang lebar.
Bu Ningrum mengangguk menandakan kalau ia paham apa yang disampaikan anaknya.
''Kaka main di sini dulu ya sama aku.!'' ucap Putri bergelayut manja di lengan Cantika.
''Kapan-kapan aja ya dek..!'' tolak Cantika dengan sopan, sebenarnya ia ingin sekali berlama-lama bermain dengan Putri, tetapi melihat tatapan dingin bos galaknya itu, ia mengurungkan niatnya hingga ia berusaha menolak ajakan Putri.
Putri menatap abangnya dengan tajam, ia yakin Cantika menolak permintaannya karena abangnya yang memberikan tatapan tidak suka kepada Cantika.
''Abang..! jangan menatap kak Cantika seperti itu, galak banget sih, ini kan di rumah, bukan di kantor, boleh ya kak Cantika main di sini.!'' ucap Putri yang selalu berhasil membujuk abangnya.
Putra menghembuskan nafasnya dengan pelan, ''Terserah kamu aja dek,'' Putra berlalu dari sana tanpa menghiraukan dua wanita itu.
Putra tidak bisa menolak, kalau sudah adik kesayangannya yang menginginkannya, bahkan melihat adiknya yang begitu antusias kepada Cantika, membuat wanita itu semakin menarik di matanya.
Pasalnya, sebanyak itu teman wanita yang ia kenali kepada adiknya, baru kali ini ia melihat adiknya yang begitu antusias dan merasa senang sekali.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung