
Victor melepaskan pelukannya dikala Putri hanya terdiam dan sudah tidak memberontak lagi.
Ia menatap Putri masih dengan air mata yang menganak sungai di kelopak mata dan membasahi pipi chubynya.
Victor menghapus air mata itu dengan pelan, sungguh ia menyesal telah melakukan semua itu kepada Putri.
''Maafkan aku.!'' ucapnya lagi dengan memohon.
Putri mengangguk lesu, ia tidak tau harus bersikap seperti apa, Ia begitu sangat kecewa kepada Victor yang telah merenggut ciuman pertamanya, laki-laki yang belum jelas status hubungan dengannya, padahal ia menjaga semua yang ada pada dirinya hanya untuk suaminya kelak, tetapi ciuman pertamanya sudah direbut, ia tidak tau harus bagaimana menjelaskan kepada suaminya nanti.
Victor sedikit lebih lega, mendapat respon dari Putri, ia kembali mengemudikan mobilnya agar mereka segera sampai di tujuan dengan cepat, tangan kiri Victor menggenggam tangan Putri dengan sayang sedangkan tangan kanannya sibuk dengan setir yang ia kemudikan.
''Gue perempuan ke berapa?'' tanya Putri dengan tatapan dinginnya, karena ia beranggapan cowok seganteng Victor sudah pasti sering bergonta-ganti wanita, hal itu akan sangat mudah untuk ia dapatkan, apalagi mengingat banyak wanita-wanita yang tidak tau diri mendekatinya ataupun selalu mencari perhatiannya.
''Maksud kamu?'' Victor menatap Putri dengan bingung.
''Itu adalah ciuman pertama gue, dan kau merenggutnya! gue perempuan keberapa yang seenaknya kau perlakukan seperti itu.!''
Victor tersenyum senang dengan pengakuan Putri, memang ia tidak salah dalam memilih perempuan, ia begitu bangga mendapat ciuman itu, dan ia berjanji tidak akan melepasnya.
Ia menepikan mobilnya dan memberhentikan mobilnya disembarang arah.
''Apa aku sebajingan itu? hingga kamu selalu berpikiran buruk tentang ku.''
''Harus bagaimana lagi cara meyakinkan mu kalau kamu adalah wanita pertama dalam hidupku, ciuman itu juga yang pertama bagiku, kita impas bukan?''
''Impas..?'' bentak Putri yang sudah melepaskan tangan Victor dengan kasar.
''Tidak ada yang impas, semua yang ada pada diri gue, untuk suami gue, tapi laki-laki brengsek seperti lu, sudah mengambilnya!''
''Turunin gue disini! gue benci lu!!'' bentak Putri yang sudah membuka pintu mobil, tapi pintu itu tidak bisa terbuka, karena masih dikunci.
''Nggak..!! kamu akan aku antar pulang, dan kamu harus yakin kalau aku yang akan menjadi suami mu!''
''Omong kosong!!'' ketus Putri yang membuat Victor seketika terdiam.
Ia melajukan mobilnya kembali, ia tidak mau lagi berdebat dengan Putri, urusannya akan menjadi panjang, walaupun Putri masih saja terus mengumpatnya.
__ADS_1
Setelah tiba di depan rumahnya, Putri seketika membuka pintu mobil dengan kasar, kemudian ia berlari masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Victor yang memanggil-manggil namanya.
Victor yang sudah turun dari mobil, berusaha mengejar Putri.
Namun sayang, Putri sudah menjauh darinya, bu Ningrum yang melihat anaknya pulang dengan keadaan kusut, menatap dan menghampiri Victor yang sibuk mengejar anak gadisnya itu.
''Kalian bertengkar?'' tanya bu Ningrum. Victor menggeleng-gelengkan kepalanya.
''Tidak tante, hanya ada sedikit kesalahpahaman di sini,'' jawab Victor dengan santai.
''Ayo masuk dulu..!'' Ningrum mengajak anak dari sahabatnya itu untuk masuk terlebih dahulu.
Victor yang berkesempatan ingin menanyakan masalah orangtuanya, sangat antusias sekali untuk singgah sebentar.
Setelah beberapa lama mereka berbincang dan berbasa-basi, Victor memulai aksinya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi antara orang tuanya dan orang tua Putri.
Terlebih dahulu Victor meneguk minuman yang telah dibawakan bi inem untuk dirinya.
''Tante, sebenarnya mama sudah menceritakan semua masalah antara orang tuaku, tante dan om Surya. Sepertinya untuk saat sekarang papa masih belum bisa memaafkan tante dan om Surya, walaupun sudah terbesit rindu dalam ucapannya, tetapi itu semua kalah dengan rasa gengsi yang ia miliki,'' ucap Victor.
Bu Ningrum hanya tersenyum mendengar penjelasan Victor, kemudian ia pun berucap, ''Apakah tante boleh mendengarkan apa saja yang kamu dengar dari mama mu, nak?'' tanya Bu Ningrum.
Setelah bercerita panjang lebar, Ningrum yang hanya mendengarkan sedari tadi, menatap Victor dengan senyuman yang mengembang.
"Benar, semua ini hanya kesalahpahaman, gumamnya di dalam hati."
Titik terang selama bertahun-tahun yang ia cari, akhirnya menemukan jalan keluarnya.
"Victor, apakah kamu mau membantu tante untuk bisa bertemu dengan orang tua mu kembali?" tanya Ningrum dengan lirih.
"Maksud tante?" tanya Victor yang mulai kebingungan.
"Tunggu sebentar...!" Ningrum melangkahkan kakinya menuju kamar meninggalkan Victor yang sudah kebingungan dengan sikapnya.
Tidak berapa lama, ia pun kembali dengan membawa sebuah kotak berbentuk hati yang berisi sepasang cincin, dan membawa sebuah handphone lipat yang berlayarkan hitam putih. Pertanda kalau handphone itu sudah sangat ketinggalan jaman.
Sepertinya, sudah saatnya Ningrum mengeluarkan semua bukti itu, untuk memberikan pembenaran dan pembelaan tentang dirinya dan Surya.
__ADS_1
Ia memang harus memberi penjelasan, bahwa Diky sahabatnya, menyetujui mereka memadu kasih tanpa ada paksaan. Bahkan Diky sangat mendukung hubungan mereka.
Dan pada saat sebelum kecelakaan itu, antara ia dan Diky tidak ada pertengkaran seperti yang diceritakan Sukma kepada anaknya.
"Victor, semua yang diceritakan mama mu memang benar adanya, tapi ada satu kesalahpahaman di sini yang membuat masalah ini berlarut-larut."
"Apa itu tante?'' tanya Victor antusias.
''Diky telah menyetujui hubungan kami sebelum terjadi kecelakaan itu, ialah yang memberi sepasang cincin ini kepada om Surya untuk melamar tante dihadapannya.''
''Kalau bukti ini belum menguatkan, kamu boleh melihat handphone ini yang dari dulu tante simpan agar kelak bisa dijadikan bukti.''
''Dan Tuhan mengabulkan doa-doa tante melalui kamu, ini adalah handphone om Surya dahulu, di sana tertera nama Diky, kamu boleh membaca pesannya dari awal ia mengajak bertemu dan pesan terakhir ia kepada om Surya.''
Victor menatap Ningrum dengan ragu, dan melihat sepasang cincin itu dengan saksama. kemudian ia membuka handphone jadul itu dengan hati-hati, dan membaca pesan itu satu persatu.
Memang, sejak kejadian itu, Ningrum tidak pernah menghapus pesan itu dari handphone Surya, padahal Surya menyuruhnya untuk membuang handphone itu, tetapi ia dengan kekehnya tidak mau mendengarkan suaminya, karena ia yakin, suatu saat itu akan berguna untuk mereka.
Benar saja, hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Ningrum.
Victor yang sudah membaca pesan itu berulang kali, melukis senyuman indah di garis wajahnya, ia berharap dengan ada bukti ini, papanya percaya kalau yang selama ini ia pikirkan itu hanyalah kesalahpahaman semata.
''Apa rencana tante selanjutnya? aku siap membantu.! ucap Victor antusias.
''Kamu harus bisa mengatur pertemuan tante dengan orang tua kamu, biar tante bisa meluruskan semua kesalahpahaman ini,''
''Baik tante, secepatnya akan aku usahakan.!''
''Terima kasih, nak!'' ucap bu Ningrum sendu.
''Aku boleh meminta nomor telfon tante? biar aku bisa ngabarin tante secepatnya.''
Setelah saling bertukar nomor ponsel, Victor ijin pamit kepada calon ibu mertuanya untuk kembali pulang ke rumah.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung