
Putri dan Rendi sudah tiba di depan toko buku, mereka langsung masuk ke dalam toko itu dan memilih beberapa buku yang ingin mereka pinjam untuk mereka baca.
''Rend, rencananya gue mau bikin novel di aplikasi novel online gitu, menurut lu gimana?'' tanya Putri kepada Rendi membuka pembicaraan mereka sambil memilih-milih buku yang mereka inginkan.
''Wah... bagus juga ide lu, Put! emang lu termotivasi dari mana membuat novel online?'' tanya Rendi.
''Gue termotivasi dari kak Cantika, dia itu sekretaris abang gue di kantor, ia mempunyai hobi yang sama seperti kita, dan sekarang ia juga menjadi penulis novel online, gue mau coba-coba aja sih Rend biar gue ada kesibukan gitu,'' ucap Putri menjelaskan.
''Ooh... gitu, ya sudah lu coba aja, nanti gue bantuin deh bikin alur ceritanya,'' ucap Rendi menyemangati Putri.
''Beneran lu mau bantuin gue Rend?'' tanya Putri antusias.
'' Iya,'' balas Rendi singkat.
Putri spontan memegang lengan Rendi dengan sangat erat, ia sangat senang karena Rendi mau mendukungnya.
Sedangkan Rendi begitu senang diperlakukan seperti itu oleh Putri.
Setelah mereka selesai mencari buku yang mereka inginkan, mereka langsung membawa buku itu ke bagian administrasi untuk melakukan peminjaman buku tersebut, mereka memberikan kartu anggota dan langsung dicek oleh bagian administrasinya, setelah prosesnya selesai, mereka sudah bisa membawa buku yang mereka pinjam untuk dibawa pulang.
Putri dan Rendi keluar dari toko buku tersebut, dan langsung melangkahkan kaki menuju cafe yang ada di sebelah toko buku itu.
Rendi memilih duduk agak paling pojok, agar nanti Putri nyaman untuk menceritakan masalah yang ingin ia ceritakan.
Terlebih dahulu mereka memesan minuman, dan sedikit cemilan.
Setelah beberapa saat terdiam, Rendi pun memulai pembicaraan mereka.
''Jadi gimana ceritanya lu bisa putus sama Victor, Put?'' tanya Rendi dengan rasa ingin tau.
Putri menghela nafasnya dengan kasar, ia terdiam beberapa saat memikirkan bagaimana menyusun kata-kata yang pas untuk menceritakan kisahnya dari awal kepada Rendi.
__ADS_1
''Dia punya wanita lain, Rend!'' ucap Putri dengan suara bergetar menahan rasa sakit hatinya.
'' Maksud lu, dia selingkuh?'' tanya Rendi memastikan.
Putri mengangguk sambil memandang ke arah lain, agar Rendi tidak melihat bola matanya yang sudah berkaca-kaca siap menetes kapan pun.
''Put...!'' panggil Rendi sambil menggenggam tangan Putri dengan lembut.
Putri menatap ke arah Rendi dengan tatapan datarnya.
''Kalau lu ingin menangis, menangislah! jangan ditahan, anggap saja gue gak ada, lepasin semua yang lu rasa saat ini, agar lu lebih tenang,'' ucap Rendi memberi pengertian kepada Putri.
Mendengar ucapan Rendi, Putri langsung saja meneteskan air mata yang sudah ia tahan-tahan sejak tadi, ia sangat terharu mempunyai sahabat seperti Rendi, yang mengerti bagaimana perasaannya saat ini, dan selalu ada disaat ia terpuruk.
''Sakit bangat rasanya, Rend! ia berubah secepat itu, sejak saat itu ia tidak pernah lagi mencari gue, ia jarang ngasih kabar ke gue, bahkan, waktu gue sakit kemaren, ia malah sibuk berduaan dengan wanita yang kita lihat sedang bersamanya tadi, hanya teman-temannya yang menjenguk gue di UKS, ya seperti yang lu lihat kemaren,'' ucap Putri yang masih meneteskan air matanya.
''Gue udah tertipu dengan janji-janji busuknya, gue udah tertipu dengan perlakuan lembutnya ke gue, perlakuan yang selalu diinginkan oleh orang lain dari dirinya.''
Melihat Putri menangis dan tersakiti seperti itu, Rendi langsung memeluk Putri dengan erat, agar Putri merasa lebih tenang, Rendi merasa sangat iba sekaligus sakit hati saat ini, karena orang yang ia cintai dalam diam, merasakan sakit hati yang teramat dalam.
''Kalau saja gue yang duluan menyatakan perasaaan yang gue simpan dari dulu ke elu Put, mungkin sekarang lu akan bahagia bersama gue, karena gue tidak akan pernah membuat lu menangis seperti ini, tapi gue terlalu pengecut untuk menyatakan perasaan gue Put, gue bodoh Put, gue pecundang,'' umpat Rendi di dalam hatinya.
''Lu tau kan, Rend! gue baru pertama kalinya pacaran, dan gue gak tau akan sesakit ini, mungkin kalau gue tau, gue tidak akan pernah memulainya sebelum gue tamat sekolah, karena ini sangat mengganggu pikiran gue, dan membuat gue tidak fokus untuk belajar,'' jelas Putri yang masih nyaman berada dalam pelukan Rendi.
Rendi mengusap punggung Putri dengan lembut.
''Lu yang sabar ya, Put! memang sudah hukum alamnya begitu, kalau kita sudah berani untuk memulai, kita juga sudah harus siap untuk tersakiti, karena di dunia ini tidak ada yang abadi, Put! tugas kita sebagai manusia hanya menerima dan menjalani apa yang sudah dikehendaki-Nya, kita hanya perlu ikhlas dan berusaha bangkit dari keterpurukan ini, walaupun gue tau ini akan sulit bagi lu, tapi gue yakin, lu pasti bisa, lu pasti kuat, gue yakin itu, Put!'' Ucap Rendi menguatkan sambil menggenggam erat tangan Putri.
Mendengar semua ucapan Rendi, membuat Putri menjadi sedikit lebih tenang, seperti ada kekuatan yang masuk ke dalam hatinya, setelah mendengarkan semua nasehat dari Rendi.
Inilah yang disebut sahabat, ia akan mendengarkan, menemani disaat tertawa ataupun menangis, walaupun ia tidak bisa membantu, setidaknya ia bisa menenangkan dan menguatkan.
__ADS_1
(hm... kayanya author juga pengen punya sahabat seperti Rendi dong😆)
Setelah Putri merasa sedikit tenang, dengan pelan ia melepaskan genggaman tangan Rendi, kemudian ia menghapus sisa air mata yang masih enggan berpisah dari wajah cantiknya itu, sambil memperlihatkan senyuman manis yang ia miliki, seperti sudah tidak ada beban lagi.
"Terima kasih, Rend! lu udah ada disaat gue seperti ini, mendengarkan gue, menenangkan, menguatkan dan membuat gue bangkit, hanya dengan kata-kata, lu bisa membuat gue sedikit lebih tenang dan tidak menangis lagi."
"Gue sangat beruntung mempunyai sahabat seperti lu, Rend! gue harap kita akan terus seperti ini ya," ucap Putri masih dengan senyuman manisnya.
Rendi mengacak-acak rambut Putri dengan gemasnya melihat Putri tersenyum.
"Nah...! gitu dong senyum, gue kan jadi senang," ucap Rendi.
"Besok-besok kalau ada masalah jangan disimpan sendiri, cerita ama gue, gue siap kok dengerin semua cerita lu, gak usah sungkan-sungkan, tinggal telfon abang Rendi!" ucap Rendi percaya diri sambil tertawa.
Putri pun ikut tertawa melihat tingkah Rendi,
sedangkan makanan yang mereka pesan tadi sudah datang dari beberapa menit yang lalu, mereka langsung menyantap minuman dan cemilan yang mereka pesan sambil bercanda gurau.
Rendi sangat senang, karena sekarang Putri sudah bisa tertawa lagi seperti biasanya.
Ketika sedang asyiknya bercengkrama bersama, Putri dan Rendi dikejutkan dengan kedatangan Victor.
''Put....! ngapain kamu di sini bersama dengannya?'' tanya Victor dengan muka datarnya sambil menatap tajam ke arah Rendi.
.
.
.
bersambung
__ADS_1