
Pak Heru begitu kaget melihat wanita yang ada di depannya itu, ia tidak menyangka akan bertemu dengan sahabatnya yang sebenarnya sangat ia rindukan. Karena semenjak kejadian itu, ia tidak pernah bertemu dan berkabar lagi dengan Ningrum beserta suaminya.
Mengingat kejadian yang mengecewakan itu, seketika tatapan yang mula sendu berubah menjadi tatapan tajam dan penuh kebencian.
Bu Sukma menatap pak Heru dan menggenggam tangan pak Heru, ia tau pasti kalau suaminya saat ini sedang menahan marah, dilihat dari sudut mata dan genggaman tangan suaminya yang begitu erat menggenggam tangannya.
''Kenapa kamu mengajak saya ke sini, Sukma..?'' bentak pak Heru kepada istri tercintanya.
''Mas..! dengarkan aku dulu.'' ucap bu Sukma.
''Tidak...! saya tidak mau mendengar semua tentang dia ataupun suaminya.''
''Sekarang ayo pulang...!'' tegas pak Heru kepada istrinya.
''Heru...!!'' sela bu Ningrum yang berusaha menghentikan langkah kaki pak Heru yang sudah menuju pintu keluar dari ruangan itu.
''Saya ingin berbicara!''
Langkahnya seketika terhenti, dan ia pun berucap, ''Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, semua sudah jelas!'' tegas pak Heru lagi.
Ia kembali melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu dan menutup pintu dengan sangat keras. Membuat semua mata tertuju kepadanya, tetapi ia hanya cuek dan tidak memperdulikan lingkungan di sekitarnya, karena ia saat ini sedang menahan amarah yang sangat menggebu-gebu.
Victor sangat bingung melihat situasi saat ini, karena yang ia tau, Ningrum adalah ibu dari wanita yang sangat ia cintai, dan ia tidak menyangka kalau kedua orang tuanya mengenali bu Ningrum.
''Masalah apa yang melibatkan mereka hingga mereka berseteru seperti ini?'' gumam Victor.
Victor yang melihat mamanya terduduk diam dan membisu, merangkul mamanya dengan erat.
"Ma, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Victor.
"Tante, ini ada apa? tante mengenali orang tua saya?" tanya Victor kepada bu Ningrum, karena ia tidak mendapat jawaban dari mamanya.
"Sukma...! Apa dia adalah anak mu yang sering kamu ceritakan ditelfon?"
__ADS_1
Bu Sukma mengangguk mengiyakan pertanyaan bu Ningrum.
"Kamu mengenalinya??''
Bu Ningrum mengangguk dan tersenyum, "Sungguh, dunia ini ternyata begitu sempit," ujarnya.
"Ma, tante Ningrum ini adalah ibu dari wanita yang pernah aku ceritain ke mama."
"Maksud kamu tante ini adalah ibunya Putri?''
''Iya mah..!'' seru Victor dengan wajah yang begitu sumringah.
Sukma menggeleng-gelengkan kepalanya karena ia tidak menyangka sahabatnya sendiri adalah orang tua dari wanita yang sangat dicintai oleh putranya.
''Kamu tau nggak, anakku begitu sangat menyayangi anakmu, seumur-umur baru pertama kali aku melihatnya menangis seperti itu, bahkan pada saat papanya memarahinya ia tidak pernah menangis seperti itu.''
''Tetapi ketika anakmu memutuskan hubungan mereka, ia begitu kalang kabut.''
''Sungguh aku begitu penasaran ingin bertemu dengan anakmu, wanita seperti apa yang telah berani membuat putra ku menangis,'' oceh bu Sukma yang membuat bu Ningrum seketika tertawa.
''Anakku hanya wanita biasa, Sukma! Keluarga kami hanya keluarga biasa-biasa saja, tidak sebanding denganmu yang termasuk kepada barisan keluarga konglomerat di kota ini.
''Ck...! dari dulu kamu selalu saja merendah, sudahlah jangan selalu membanding-bandingkan, lihatlah pencapaianmu sekarang, bisa membangun butik yang dari dulu sangat kamu impikan, aku bangga sama kamu, Ning!!''
''Terima kasih, Sukma..! Kamu selalu mensupport apa yang aku lakukan, dari dulu aku selalu merindukanmu,'' ucap Bu Ningrum yang sudah menghampiri dan memeluk bu Sukma.
''Aku juga merindukan dirimu, maafkan mas Heru yang masih bersikap dingin kepadamu ya, setelah ini kita harus mencari cara agar suami kita bisa saling memaafkan, aku tidak mau berlarut-larut dalam masalah ini, sudah bertahun-tahun kita seperti ini.''
''Iya, aku juga akan berusaha membujuk mas Surya, aku yakin mereka juga saling merindu seperti kita, tetapi mereka hanya mengedepankan gengsi mereka masing-masing.''
''Setelah masalah kita selesai, kita harus menjodohkan anak kita, aku mau Victor menikah dengan anakmu, mumpung mereka pacaran.''
''Aku yakin suami kita akan mendukung perjodohan ini, ditambah lagi dengan pertemuan anak kita yang tidak disengaja, sungguh ini sangat luar biasa, Tuhan merancang semua rencana dengan sangat indah, walaupun banyak rintangan yang kita hadapi terlebih dahulu.''
__ADS_1
''Apakah kamu setuju aku menjodohkan Victor dengan Putri anakmu?''
''Aku sangat setuju Sukma, karena dari awal pertemuan aku dengan Victor, aku mengenalnya dengan sangat baik, walaupun pernah terjadi kesalahpahaman. Bahkan Putra sulungku sangat mendukung hubungan mereka,'' ujar bu Ningrum yang menatap Victor sambil tersenyum.
''Ma, aku sangat senang dengan perjodohan yang mama dan tante bicarakan, aku mau menerima perjodohan itu.''
''Tetapi sebelum itu, aku ingin bertanya, sebenarnya ada masalah apa antara mama dan tante Ningrum sebelumnya, bahkan papa terlihat sangat marah, aku takut papa menentang hubunganku dengan Putri, dan pasti ayah Putri juga akan menentang hubungan ini kalau ia tau, bahwa aku adalah anak dari papa Heru,'' ujar Victor menatap sendu kepada kedua wanita yang ada di depannya.
''Nak...! serahkan semua kepada mama, kamu jangan takut nak, papa kamu pasti akan merestui hubungan kamu nantinya, percayakan kepada mama,'' balas bu Sukma menatap Putranya dengan saksama.
''Nanti sepulang dari sini akan mama ceritakan masalah apa yang terjadi antara mama dan orang tua Putri.''
''Sekarang ayo kita pulang, pasti papa sudah menunggu kita di rumah.'' Ucap bu Sukma, tidak lupa ia pamit kepada bu Ningrum.
''Tante, aku mohon sama tante, tolong sembunyiin semua ini dari Putri, aku takut kalau Putri mengetahui masalah tante dan orang tuaku, ia akan tambah menjauh dari aku, aku tidak mau itu terjadi tante,'' Victor berucap dengan tampang datarnya, terlihat di raut wajahnya ia sangat takut kehilangan Putri.
''Tenang Victor, tante akan menjaga rahasia ini sampai masalah kita selesai. Kamu tidak usah memikirkan masalah kami, kamu hanya fokus belajar dan menjaga Putri dengan baik, karena ia adalah calon istrimu,'' balas bu Ningrum sambil tersenyum.
Setelah mereka berpamitan kepada bu Ningrum, Victor melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah mereka.
Di dalam mobil, bu Sukma hanya terdiam memikirkan bagaimana cara agar suaminya mengerti dan tidak salah paham lagi, mengingat watak suaminya yang sangat keras kepala. Apalagi suaminya tadi terlihat sangat marah kepadanya.
Victor yang melihat mamanya terlihat panik, berusaha menenangkan mamanya.
''Mah, aku tau mama pasti sedang memikirkan bagaimana cara menjelaskannya kepada papa, kan? mama jangan panik, aku yakin papa tidak akan marah kepada mama, pasti papa hanya membutuhkan penjelasan dari mama karena telah mempertemukan papa dengan tante Ningrum.
''Nanti mama ke kamar aku ya, tolong ceritakan semuanya ma, aku ingin tau, ada apa dengan masa lalu mama dan orang tua Putri, siapa tau nanti aku bisa bantu mama untuk berbicara kepada papa.''
''Iya nak, nanti setelah makan malam mama akan ke kamar kamu, mama akan ceritakan masalah apa yang membuat papa begitu sangat marah.'' Ucap bu Sukma yang sudah sedikit lebih tenang mendengar semangat dari anaknya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung