Pacar Galak

Pacar Galak
Perasaan yang tidak tentu arah


__ADS_3

Setelah preman suruhan Damar melihat keadaan Wiliam di ruangan yang tak terawat itu, Putra pun keluar dari persembunyiannya.


''Bagaimana cara kita untuk keluar dari sini, bang?'' tanya Wiliam dengan tampang lesunya.


Putra hanya terdiam sambil memikirkan jalan keluar dari sini, ''Saya mempunyai ini!'' ucap Putra sambil memperlihatkan kunci yang ia ambil dari saku celananya.


''Ini kunci gerbang depan, saya menemukannya ketika preman itu memasuki ruangan ini, dan kuncinya masih tergantung di pagar itu, berarti, sekarang kita hanya memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dari ruangan ini tanpa sepengetahuan mereka,'' jelas Putra kepada Wiliam.


Seperti mendapatkan ide yang bagus, Putra pun berjalan ke arah jendela yang tertutup rapat yang terdapat di sudut ruangan itu, ia melihat ke arah luar dan sekitar, ada dua orang preman yang berlalu lalang tepat di depan gerbang pintu keluar untuk berjaga-jaga.


''Kita melewati jendela ini saja, kemaren waktu saya mengikuti preman itu membawa kamu ke sini, saya berhasil melewati jendela dan memasuki ruangan ini, tetapi sepertinya di luar ada beberapa orang yang berjaga,'' ucap Putra sambil membuang nafasnya begitu kasar.


''Tetapi kalau kita bisa menyelinap di antara pohon-pohon itu, saya yakin kita pasti akan lolos,'' ucap Putra lagi sambil menunjuk pohon yang ia maksud.


Wiliam hanya menganggukkan kepala mendengarkan penjelasan Putra. Dan setelah itu, Putra berusaha membuka tali yang mengikat tubuh Wiliam dengan pecahan kaca yang terdapat di ruangan itu.


Dengan bersemangat Wiliam pun berucap, ''Ayo bang! mumpung masih subuh, dan suasana di luar masih gelap, itu sangat membantu kita untuk menyelinap di antara pepohonan itu,'' ujar Wiliam antusias.


Putra hanya tersenyum melihat reaksi Wiliam yang begitu bersemangat.


''Sebaiknya kita kunci pintu ini dari dalam, bang! agar memperlama mereka mencari kita,'' ucap Wiliam lagi, sambil berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu dengan pelan agar tidak diketahui oleh preman yang berjaga di luar.


Putra hanya mengangguk dan ia berusaha membuka pintu jendela dengan pelan, mereka keluar dari jendela itu dengan sangat berhati-hati, menyusuri jalan setapak dan menyelinap di antara pohon yang satu ke pohon yang lain hingga mereka sampai di depan gerbang.


Pada saat kedua preman itu sedang sibuk membuat kopi di posnya, Putra mempunyai kesempatan untuk membuka kunci gerbang, dengan perlahan ia membuka gembok itu.


Setelah bersusah payah membuka gembok, akhirnya Putra bisa membuka pintu gerbang, dengan sangat berhati-hati mereka keluar dari pekarangan itu agar tidak diketahui oleh kedua preman yang berjaga.


Mereka lari sekencang-kencangnya agar secepatnya sampai di tempat Putra menitipkan mobilnya.


Pada saat Wiliam di tangkap, Putra mengikuti preman itu sampai ke gedung tua di pinggiran kota yang di kelilingi semak belukar, dan untuk menuju ke gedung tua itu, ia harus menempuh jalan setapak, makanya ia menitipkan mobilnya disalah satu rumah warga yang terdekat dari sana, dan ia berlari sambil menyelinap hingga tiba di gedung tua itu.


Setelah berlari kurang lebih dari setengah jam, mereka pun sampai di depan rumah warga, dimana tempat Putra menitipkan mobilnya, Putra pun mengambil mobilnya dan tidak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah berbaik hati untuk memberikan tumpangan kepadanya.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, di dalam mobil tercipta suasana hening, hanya terdengar deru nafas yang memburu, membuat mereka disibukkan dengan pemikiran mereka masing-masing.


Setelah dua jam perjalanan, mereka telah sampai di depan SMA Satu Nusa.


''Lu beneran mau ikutan lomba? gue anterin pulang aja ya, kayanya lu masih belum pulih deh,'' ujar Putra yang melihat Wiliam masih meringis kesakitan.


''Gue baik-baik aja kok bang, sepertinya teman-teman gue membutuhkan bantuan gue saat ini, jadi gue harus ke sekolah, buat ikutan lomba,'' ucap Wiliam antusias.


''Yasudah, kalau lu maunya begitu, semoga kalian menjadi pemenang lomba kali ini ya, dan gue akan mengurus semua preman suruhan Damar.''


''Iya bang, terima kasih atas bantuannya, gue berhutang nyawa sama lu bang,'' ucap Wiliam sambil merangkul Putra yang sudah ia anggap seperti abangnya itu.


Putra pun tersenyum mendengar ucapan Wiliam, dan Putra membalas rangkulan Wiliam, ''Sudah menjadi tugas gue,'' balas Putra.


''Gue ke lapangan dulu ya bang, kapan-kapan kita ketemuan lagi ya, dan lu harus nongkrong bareng gue, bang!'' ujar Wiliam sambil keluar dari mobil Putra.


''Oke, nanti kabarin aja,'' ucap Putra kemudian ia melajukan mobilnya membelah jalan ibukota.


*


''Put!! lu mau kemana?'' tanya Raysa yang melihat Putri berjalan meninggalkan dirinya dan teman-temannya yang lain.


''Udah kelar kan acaranya? gue balik duluan ya,'' pamit Putri.


''Nggak!!'' teriak Raysa.


''Lu harus ikut gue dulu,'' Raysa menarik tangan Putri dan mereka jalan beriringan.


Putri hanya pasrah karena ulah Raysa yang menarik tangannya dengan terburu-buru.


''Mau kemana sih Ray? gue mager banget nih,'' oceh Putri.


''Dasar kebo lu, mageran mulu, udah ikutin aja, jangan bacot deh,'' balas Raysa ketus.

__ADS_1


Putri mengikuti Raysa sambil menggerutu di dalam hati.


Dan ternyata, Raysa membawa ia ke hadapan Victor dan teman-temannya, Raysa dengan berani dan percaya dirinya mengucapkan selamat kepada mereka semua, yang mereka balas dengan anggukan dan senyuman.


''Sue bat tuh si Raysa, ngapain dia bawa gue ke sini, males banget,'' gumam Putri kesal.


"Hm... ada dede gemes nih," goda Doni menatap Putri sambil melirik Victor.


Victor yang sudah mengetahui kalau Doni menyindirnya, hanya tersenyum menatap Putri.


Sedangkan Putri hanya membalas gurauan Doni dengan senyuman yang dipaksakan, karena jantungnya sudah berdebar tidak karuan dikala Victor menatapnya intens seperti itu.


''Put, nanti aku antar pulang ya, sekalian aku mau ngomong serius sama kamu,'' ucap Victor menatap Putri dengan sendu berharap Putri menerima tawarannya untuk pulang bersama.


''Cieee... cinta lama bersemi kembali, bau-baunya ada yang mau balikan nih ceritanya, jangan lupa makan-makannya ya bro!'' oceh Doni yang membuat pipi Putri seketika merah merona.


Karena tidak ingin ditatap lebih lama lagi oleh Victor, Putri pun pamit ke toilet.


Putri melangkah menuju toilet dengan perasaan yang tidak tentu arah, ia begitu gugup ketika tatapan matanya bertemu pandang dengan tatapan mata indah Victor, membuat ia semakin deg-degkan.


Sesampainya di toilet, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar dan bergumam, ''Kenapa gue jadi deg-degkan gini ya setiap menatapnya, padahal dia sudah membuat gue kecewa, apakah gue harus menerima tawarannya untuk pulang bersama?'' gumam Putri bertanya-tanya di dalam hati sambil mencuci mukanya yang sudah dipenuhi dengan keringat.


Ketika sibuk dengan pemikirannya, Putri dikejutkan dengan kedatangan Helena beserta dengan geng ciwinya, ia menatap Putri dengan tatapan tajam dan membunuh, membuat nyali Putri sedikit menciut.


.


.


.


Terima kasih telah membaca novelku sejauh ini, jangan lupa like koment dan votenya ya.


Sekedar pemberitahuan, aku akan berusaha untuk up setiap hari di jam yang sama, jadi jangan lupa di pantengin terus novel aku ya guys😉

__ADS_1


__ADS_2