
Victor melajukan mobilnya membelah jalan ibukota, setelah beberapa lama melajukan mobilnya, ia memberhentikan mobil itu di salah satu pom bensin yang ada di kota itu.
''Tunggu sebentar..! '' ujar Victor dan berlalu turun dari mobil menuju minimarket yang ada di sana, sebenarnya ia bingung harus membeli apa, karena ia baru pertama kali berada di posisi ini.
Dengan pelan ia menghampiri salah satu wanita yang bekerja di toko itu.
''Permisi mbak..! Maaf saya ingin menanyakan kalau yang biasa dipakai untuk wanita yang sedang datang bulan itu letaknya dimana ya? Soalnya saya juga kurang tau bentuknya seperti apa,'' ujar Victor dengan polos dan tampang malu-malunya, membuat wanita yang ada dihadapannya tersenyum geli.
''Ooh, baik mas, ayo ikuti saya, akan saya tunjukkan,'' ujar wanita itu dan melangkah menuju dimana terdapat berbagai macam kebutuhan wanita pada saat datang bulan.
Victor mengambil salah satu pembalut yang ada di sana, ''Kalau untuk obat pereda nyerinya ada?'' Tanya Victor lagi.
''Owh, ada mas, mari ikuti saya,'' perintah pegawai itu dengan sopan, mereka melangkah menuju dimana terdapat tempat khusus untuk obat-obatan, pegawai itu memberikan salah obat pereda nyeri kepada Victor.
''Beruntung sekali wanita yang menjadi pacar mas saat ini, jarang-jarang loh lelaki mau membelikan ini untuk wanitanya, biasanya ia akan sangat malu, tapi masnya terlihat santai, semoga langgeng ya mas,'' ujar wanita itu.
Victor hanya mengangguk dan menggaruk kepala belakangnya yang tidak terasa gatal sambil tersenyum simpul.
''Jangan lupa mas, biasanya wanita yang sedang datang bulan, tingkat nafsu makannya akan lebih meningkat dari pada biasanya, belikan ia coklat, es krim atau cemilan apalah itu yang membuat moodnya lebih membaik,'' ujar wanita itu lagi.
Victor mengangguk, ''Baiklah akan saya belikan,'' Victor melangkah mencari cemilan untuk Putri, tidak lupa ia membeli coklat dan es krim, setelah dirasa semuanya telah lengkap, ia membayar semuanya di kasir. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada wanita yang membantunya tadi, setelah itu ia berjalan ke mobil dengan membawa tote bag yang berisi keperluan Putri.
Dengan semangat Victor membuka pintu mobil dan memberikan semua yang ia beli tadi kepada Putri.
''Ini apaan?'' Tanya Putri dengan bingung.
''Untuk keperluan kamu, ayo ganti sana..! di situ ada toilet,'' ujar Victor sambil menunjuk toilet yang ada di pom bensin itu.
Putri hanya menuruti perintah Victor, dengan sigap ia melangkah menuju toilet itu.
Tidak berapa lama menunggu, Victor tampak tersenyum kecil melihat Putri keluar dari toilet itu.
''Sudah..?'' Tanya Victor di saat Putri memasuki mobilnya kembali.
Putri hanya mengangguk dan langsung mendaratkan tubuhnya di jok mobil tersebut, mengingat perutnya yang masih terasa nyeri membuat ia merebahkan badannya dengan pasrah dan memejamkan matanya agar ia bisa tertidur dan rasa nyeri diperut sedikit mereda.
''Perut kamu masih nyeri? Ini aku sudah belikan obat buat kamu, ayo di minum..!'' Perintah Victor yang terlihat kasihan melihat Putri terus saja memelas kesakitan terlihat dari wajah cantiknya.
Putri hanya menuruti semua yang diperintahkan Victor, karena ia sudah tidak bertenaga untuk berdebat dengan Victor.
__ADS_1
''Kamu beristirahatlah, kalau sudah sampai akan aku bangunkan.'' Victor menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikannya dengan pelan.
Putri yang menahan nyeri perut dari tadi, langsung tertidur begitu saja setelah meminum obat pereda nyeri itu, ia tertidur dengan sangat pulas tanpa memikirkan Victor yang selalu mencuri pandang ke arahnya.
Victor memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Putri, tetapi wanitanya masih tetap saja tertidur dengan pulas, sehingga ia tidak tega untuk membangunkan Putri. Ia menatap wajah Putri yang terlihat polos di saat sedang tidur seperti itu.
Sepuluh menit berlalu, Putri menggerakkan badannya dan membuka matanya dengan pelan.
''Hoammh...'' ujarnya sambil meregangkan otot-otot yang kaku setelah bangun tidur. Ia pun menoleh ke samping kanannya, dan alangkah terkejutnya ia yang baru menyadari kalau dirinya masih berada di mobil Victor.
''Nyenyak tidurnya?'' Victor melontarkan pertanyaan itu sambil memperlihatkan senyum tampannya, membuat Putri terlihat malu-malu.
''Kenapa lu nggak bangunin gue sih,'' Putri berpura-pura cemberut agar Victor tidak menyadari kalau ia saat ini begitu salah tingkah.
''Tidurnya pulas gitu, nggak tegalah gue banguninnya,''
''Udah sono masuk, gue mau balik,'' ketus Victor.
''Iya, ini gue mau masuk, makasih udah nganterin gue,'' ujar Putri yang tak kalah ketusnya, ia menarik gagang pintu hingga pintu mobil itu terbuka, belum sempat Putri melangkah keluar dari mobil itu, Victor kembali menarik tangan Putri.
''Apaan sih, narik gue mulu, emang gue kambing di tarik-tarik,'' Putri menepis tangan Victor kemudian melipatkan kedua tangannya di dada.
''Ini buat lu, dimakan ya..! di dalamnya juga ada es krim, di masukkan dulu ke dalam kulkas, sepertinya sudah meleleh karena kelamaan di luar,'' Victor memberikan tote bag berisi cemilan yang ia beli di minimarket tadi.
Dengan ragu Putri mengambil tote bag itu.
''Buat gue?'' Tanya Putri dengan bingung.
''Gue paling nggak suka mengulang-ulang ucapan gue, udah gue balik.'' Ujar Victor dengan ketus dan menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukan mobilnya kembali ke sekolah.
Sedangkan Putri berlari masuk ke dalam rumah menuju kamarnya sambil tersenyum senang. Setiba di kamar ia langsung membuka tote bag itu dan mengeluarkan seluruh isinya. Ia sangat kaget karena begitu banyak makanan, apalagi beberapa cemilan yang sangat ia sukai.
Dan di sana juga ada es krim dan coklat, ia pun bergegas mengambil es krim itu, dan menaruhnya di lemari pendingin. Sembari menunggu es krimnya beku kembali, ia memakan cemilan itu dengan lahap.
''Kenapa ia tau kalau gue menyukai ini semua?'' Gumam Putri bertanya di dalam hatinya sambil mengunyah salah satu cemilan yang ia suka.
...----------------...
''Vic...!'' Teriak Wiliam dan Doni bersamaan, mereka berlari kecil menghampiri Victor yang turun dari mobil setelah ia memparkirkan mobilnya di parkiran sekolah.
__ADS_1
''Lu dari mana?'' Tanya Doni menatap tajam ke arah Victor.
''Nganterin Putri pulang,'' Victor melangkahkan kakinya mendahului temannya menuju kelasnya.
''Putri kenapa?'' Tanya Doni lagi.
''Kepo lu,'' sewot Victor yang tidak suka dengan perhatian Doni kepada Putri.
''Yaelah, babang tamvan takut banget doinya gue embat, merasa tersaingi ya bang?'' Canda Doni mengoda Victor.
''Bodo..!'' Victor mempercepat langkahnya meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Tetapi dengan sigap Doni dan Wiliam mengejar Victor hingga langkah mereka sejajar lagi.
''Vic..! Gue mau ngomong serius ini,'' Wiliam mulai membuka suaranya.
''Ah elah mau ngomong aja pake drama segala lu,'' oceh Victor.
''Ngomong apaan?''
Mereka bertiga berjalan dengan gaya ketampanan mereka masing-masing, beberapa wanita yang melihat pun berusaha mencuri pandang dan ingin menarik perhatian mereka, apalagi adik kelas mereka yang selalu menggosipkan ketampanan mereka.
Doni yang memang selalu menggoda cewek-cewek yang selalu menarik perhatiannya, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menggoda mereka. Membuat Victor dan Wiliam jengah dengan tingkah sahabatnya itu.
Setelah tiba di kelas mereka, Mereka pun duduk di tempat mereka masing-masing.
''Tadi lu mau ngomong apa Wil?'' Tanya Victor yang terlihat sedikit penasaran.
''Damar mengajak kita buat balap Vic..'' perkataan itu berhasil lolos dari mulut Wiliam.
Victor tampak terlihat berpikir dan berusaha tenang.
Dan ia pun berucap, ''Nanti gue pikirin lagi Wil,'' Victor membuka bukunya dan mulai membacanya, ia terlihat serius membaca buku itu, sejak saat papanya menasehatinya kemaren, ia memulai pola hidupnya dengan benar dan tidak lagi malas belajar, bahkan ia mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan senang hati, mengingat ia akan menikah dengan Putri dan akan belajar untuk mempelajari bisnis agar bisa menggantikan papanya kelak.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung