
Dua orang yang sedang tidak jatuh cinta namun saling menyayangi sedang duduk di atas sofa ruang tamu bermalas-malasan. Siapa lagi kalau bukan Danu dan Ghanes. Pasangan yang menikah bukan karena cinta. Mungkin Danu saja yang jatuh cinta tapi tidak dengan Ghanes. Bersyukurnya adalah karena Danu begitu sangat bisa menerima kondisi Ghanes yang sedang berada dalam vase trauma atas masa lalunya. Dan Danu sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan Danu sangat berharap jika dia bisa menjadi obat buat luka hati Ghanes, karena Danu sudah pernah merasakan bagaimana rasanya sakit ketika di tinggal pacaran oleh mantan istrinya yang sudah dinikahi selama 6 tahun lamanya.
"Mas,"
"Hmmm,,, apa sek?"
"Aku boleh ga mas buka jahitan?"
"Hah? Lha bukannya kamu ga suka bidang jasa ya?"
"Mmmmm bukan yang itu."
"Lha terus yang gimana?"
"Aku mau buka jahitan tapi yang ga terima jasa."
"Maksudnya?"
"Ya , aku mau menjahit tapi hasil jahitanku aku jual sendiri."
"Oh,, butik maksudnya?"
"Iya. tapi yang ga nerima jasa. Jadi aku hanya menjual hasil karyaku saja, bukan atas dasar permintaan pelanggan."
"Boleh saja kok. Rencanamu mau buka di daerah mana?"
"Ya .. Ga usah jauh-jauh sih. Mentok 30km dari rumah dech. Soalnya kalau kejauhan takut capek di jalan."
"Mmmmm, oke. Besok kita nyari lahan dech. Butuh bantuan dana atau mau pakai dana sendiri?"
"Mmmmm ga tau dech mas, uangku cukup atau ga nya. Kalau uangku nipis, tanahnya pinjam uangmu dulu ya. Ntar aku ganti."
"Kenapa mesti di ganti?" Tanya Danu penasaran.
"Ya,,, rencanaku sih mas, agar ga ada hitungan keuangan yang semrawut, jadi semua data nya jelas dan lengkap , ga ada yang gandeng gandeng , meskipun itu denganmu sekalipun. Aku ingin full mulai dengan diriku sendiri. Boleh kan?"
"Boleh boleh aja kok. Aku rasa itu bagus juga. Jadi kan detailnya malah lebih gampang nantinya. Jadi yang kamu perlukan nanti adalah surat utang bukan? Atas tanah yang aku beli."
"Yap. Benar sekali kring. Hehehehe."
"Krang kring krang kring kamu pikir aku bel sepeda?"
Ghanes hanya terkekeh geli kesenengan karena ide dan rencananya langsung dapat persetujuan dari suaminya.
...............................................
__ADS_1
Keesokan harinya Ghanes dan Danu langsung meluncur mengecek beberapa lokasi tanah yang di jual. Danu sedang fokus mencari tanah-tanah lelangan dari bank. Karena itu relatif jauh lebih murah dari yang seharusnya.
Bukan hal mudah untuk bisa menemukan lokasi yang tepat dan cocok sesuai dengan kriteria yang di inginkan mereka.
Kalau ada yang murah, lokasinya di pinggir sungai besar, ada yang murah lagi, lahannya sempit dan tanah bergerak yang sangat tidak cocok untuk sebuah bangunan. Atau ada juga yang setelah di telusuri ternyata merupakan tanah warisan dan kemilikannya masih menjadi sengketa. Ya,, memilih tanha itu gampang-gampang susah dan hoki-hokian memang. Namun karena Danu merupakan orang yang berada di bidang konstruksi sudah lumayan lama, jadi tidak terlalu sulit untuk mencari informasi soal tanah. Banyak koneksi yang memberinya tawaran atau sekedar informasi yang sangat berguna buat Danu.
1 Bulan telah berlalu, hingga akhirnya Danu mendapat lokasi yang sempurna. Sebuah bekas persawahan milik dari orang tanpa pewaris yang kini tinggal di kota Samarinda bersama dengan anak adopsinya. Di jual karena tanah terbengkalai dan penyewa sawah yang tidak bertanggung jawab menggunakan tanah miliknya.
Lokasi yang sempurna karena Danu sangat tahu selera Ghanes yang menyukai udara terbuka dengan suplai oksigen yang berlimpah. ya tentu saja karena gangguan Rhinitis pada hidungnya itu.
"Huuaaahhh..... Akhirnya............" Ghanes merentangkan tangannya ketika telah selesai membeli semua peralatan yang di butuhkannya sambil menunggu pengerjaan bangunan butiknya.
"Itu bangunan kira-kira kapan selesainya mas?"
"Ya,,, dengan ukuran segitu dan ga banyak detail seperti hunian, dua minggu udah finishing lah. Kan bangunan ruko itu gampang banget. Asal ga kena hujan ya. Soalnya kalau hujan susah keringnya."
"Heheeheehehe....."
Ghanes tidak merespon hanya cengengesan saja, ga sabar menunggu ia menuangkan ide idenya di tempat itu.
..................................................
Suasana ruko Ghanes yang baru mau di tempati tidaklah terlalu ramai seperti di sinetron-sinetron pada umumnya di televisi saat acara peresmian tempat kerja. Ghanes memulai semuanya dari skala kecil lebih dulu.
Dan untuk pembelian tanahnya, Ghanes menggunakan uang Danu terlebih dahulu yang di catat dalam surat hutang yang masuk dalam management keuangan butiknya.
Butik Asya, begitulah nama yang di gunakan Ghanes menjadi nama butik barunya ini. Nama yang di ambil dari nama Damasya yang dengan niatnya di baca ASA sebagai ungkapan dari seluruh cerita hidup dan isi hatinya selama ini.
Sebagai ungkapan syukur dan doa, pagi-pagi tadi Ghanes telah membagi-bagikan bingkisan makanan serta kue-kue ke saudara-saudaranya dan tetangga dekatnya. Juga telah melakukan doa dan tasyakuran sederhana ala orang komplek yang biasa di lakukan oleh bapak ibunya di kampung sebelum memulai sesuatu.
Tak usah bermewah mewah dulu seperti di sinetron atau drama yang ada di cerita-cerita fiksi. Karena itu semua hanya imaginasi belaka.
Pelan tapi pasti, mulai dari bawah dan perlahan berdiri untuk kemudian berlari menyusul mereka-mereka yang sudah punya privilege dari orang tuanya. Ghanes hanyalah anak orang miskin yang dulu hidup di rumah lantai tanah dan ga kuat beli beras dan beli listrik. Dengan hidupnya yang sekarang, tentu saja Ghanes sudah sangat bersyukur pada Tuhan. Bersyukur bahwa ia bisa sangat mandiri di kala anak muda seusianya masih banyak yang mengganggu hidup orang tuanya dengan minta bantuan keuangan pada mereka. Atau bahkan mereka-mereka yang nikah muda dan pada akhirnya hanya menjadi beban buat orangtuanya dengan tidak terpenuhinya semua kebutuhan hidup berumah tangga.
Ya... meskipun sekali lagi,,, melakukan kesalahan yang bahkan tak layak buat dibicarakan di publik. Karena publik yang biasanya hanya bisa nge judge tanpa bertanya alasan dan tujuan dari di lakukannya sebuah tindakan.
Ghanes duduk di kursi kerjanya, bukan kursi kerja kantoran dengan busa tinggi berwarna estetik. Tapi sebuah kursi gaming warna kuning yang baru beberapa hari di belinya di toko ijo karya anak bangsa.
Dia duduk di depan meja sedang menyelesaikan gambar(design) baju pertama yang akan di buat nya. Sederhana saja, dia sedang menggambar modifikasi batik yang kainnya sudah ia siapkan di gudang. Ghanes memang sengaja memilih kursi gaming karena memiliki sandaran kepala yang tinggi serta ada sandaran kaki yang bisa di gunakan untuk selonjoran.
Sedangkan untuk kursi-kursi yang ada di depan mesin, tentu saja Ghanes menggunakan jenis kursi yang lain karena kursi gaming akan sangat menghambat pergerakan tangan ketika sedang bekerja mengoperasikan mesin.
Ghanes juga belum ada rencana buat mencari bantuan(karyawan) karena ia memang benar-benar akan memulainya dari Nol. Ya sama lah dengan ketika kita mengisi BBM di pom bensin.
__ADS_1
"Dek, aku hari ini ga bisa menemanimu ya, aku langsung pergi, ntar sore pulang kerja aku langsung ke sini nengokin kamu." Kata Danu yang sudah bersiap mau berangkat ke tempat kerjanya.
"Eh, bentar mas, tandatangani ini dulu." Kata Ghanes sambil menyerahkan beberapa lembar dokumen.
"Apa?" Tanya DIanu meraih dokumen tersebut.
"Surat utang yang point-pointnya."
Danu melihat sekilas, lalu tanpa di baca dengan detail langsung meraih pulpen dan menandatanganinya sekaligus kopiannya dan menyerahkannya kembali kepada Ghanes.
"Nih, udah."
"Ga di baca dulu?"
"Nanti malem aja bacanya, yang penting tanda tangan kan."
"Itu kopiannya yang satu buat kamu simpan." Kata Ghanes menjelaskan dan menyerahkan satu dokumen pada Danu.
"Kamu simpan aja dulu dek, ntar bawa pulang tapi. Jangan di simpan di sini. Biar aku bisa baca ulang di rumah."
"Kan udah kamu tanda tangani mas."
"Yaa,,, ga papa, kalaupun kamu ingkar dari perjanjian itu, anggap aja aku apes, ditipu istri sendiri. Hahahahhaa."
"Dih, ya udah kalau gitu, kaya kamu ga butuh uang aja, hingga kamu anggap enteng begitu."
"Ya udah, aku pergi. Assalamualaikum." Danu melambaikan tangannya kemudian segera tancap gas menuju tempat kerjanya.
"Walaikumsalam....." Jawab Ghanes sendirian karena Danu sudah menghilang bersama pengguna jalan yang lain.
.
...
.
.
.
.
.
.
__ADS_1