Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Termanis


__ADS_3

Perjalanan cinta mereka yang kembali bersemi di lalui penuh arti.


minggu demi minggu telah berlalu.


Hingga bulan berganti bulan. Dan tanpa terasa satu tahun sudah mereka bersama. Meskipun pernah ada masalah, namun bersama kedewasaan yang di ciptakan maka hari ini mereka menjadi pasangan yang saling mengerti satu sama lain.


Akhirnya setelah sekian lama bersama, jadwal bertemu merekapun kembali normal seperti dulu lagi.


Kini giliran Didim yang pergi ke kota Y tempatnya Anes bekerja.


Anes telah mempersiapkan Soto kesukaan Dimas untuk dimakan bersama.


Anes memasaknya sendiri, karena Anes memang memiliki hobi memasak dari dulu.


Setelah menunggu kurang lebih tigapuluh menit, jadwal kereta seharusnya sudah tiba.


Dimana Yah ? √√


^^^Toilet√√^^^


Toilet sebelah mana?√√


^^^Sebelah kiri pintu exit √√^^^


Oke , aku tunggu depan toilet ya, di kursi tempat tunggu taxi.√√


^^^Siap√√^^^


Belum ada lima menit, Dimas pun keluar dari toilet stasiun.


Mereka saling pandang dan saling tersenyum sumringah, seakan akan sudah puluhan tahun tak bertemu. Padahal baru bulan kemarin mereka bertemu di kota T.


Dimas mengulurkan tangannya pada Anes, lalu Anes menyambutnya lalu sungkem padanya mirip sungkem minta restu pada Bapak Ibuknya di rumah.


Ini menurut Anes wajar saja karena mengingat Anes sudah mengenalkan Dimas pada keluarganya sebagai calon suaminya ketika pulang nanti.


Waktu itu,,,,,,


"Ndra, photo yang kukirim ke kamu perlihatkan sama Bapak ya."


"Cowok ini mbak ? Pacaramu?"


"Hehehehe. iya."


"Kayaknya Bapak ga setuju dech mbak."


"Heh ? Kok bisa Ndra ? Kamu yakin?"


"ya yakin ga yakin sih ? mengingat dulu Bapak berpesan jangan bawa laki laki dari perantauan, sepertinya entahlah... ngomong aja sendiri Ma Bapak ya." Kata Andra mengingatkan Anes pada amanah Bapaknya dulu sebelum Anes berangkat.


"Pak ? itu anak bapak setuju ga kalau nanti saya pulang menikah ma dia pak. Dia naka kota B." Kata Anes pelan pada Bapaknya.


"Dimana dia sekarang ?"


"Ya di sini pak." Jawab Anes.


"Kenalmu di situ juga?"


"Ga sih pak. Kenalku dulu di perjalanan ke PJTKI, di atas bus." Jawab Anes agak takut takut.


"Oohhh,,,, liat anaknya gimana aja sih, kalau Bapak mah, asal kamu suka sama suka ya terserah, meskipun dari hati Bapak entah kenapa kurang sreg." Kata Pak Alan lagi.


Dan sehari setelah itu mereka saling ber Vcall ngobrol bareng dan akrab akrab saja, meskipun Anes tau dari ekspresi Bapaknya bahwa Pak Alan masih ragu ragu sama Dimas.


Namun Anes bertekad meyakinkan pada Pak alan bahwa apa yang di ragukannya itu hanya lah terlalu banyak yang dipikirkan saja, karena Anes hanyalah anak perempuan satu satunya dari keluarga ini.


Kembali ke dua sejoli ini.


"Eh Yah, makan dulu yuk, kita bisa duduk di taman, di belakang stasiun. Setelah itu baru kita jalan jalan." Kata Anes mau melangkahkan kakinya.


"Dek, bisa ga kalau kita nyari tempat istirahat aja, jujur aku capek banget dek, dari semalem aku belum tidur." Kata Dimas memelas dengan muka kusutnya.


"Maksudnya ? Hotel ?" Tanya Anes sedikit kaget namun berusaha menetralkan raut mukanya.

__ADS_1


"Terserah dech, hotel atau apa yang penting aku bisa tidur." Kata Didim lagi.


"Tapi makan dulu kan?!"


"iya lah pasti aku makan dulu. Itu kan makanan ke sukaanku dek, apalagi yang masakin kamu, pasti aku makanlah, meskipun belum se enak masakan ibukku. hehehehe"


Jawab Didim terkekeh.


"Kurang ajar kamu Yah." Sambil menepok pundaknya Didim.


"Lah, apa lebih suka aku bohongin kamu ? Katanya mau bikin warung pulang nanti... "


"Ya engga sih. Jujur lebih baik walaupun sedikit syakiit syakkiitt." Jawab Anes penuh drama.


Mereka pun berjalan menuju Hotel terdekat, dan menuju reaepsuonist, setelah selesai di resepsionist pun mereka segera naik lift ke lantai nomor kamar mereka.


"H.... akhirnya kasur juga.... sumpah ga kuat mataku dek." Kata Didim langsung merebahkan tubuhnya pada kasur tanpa melepas sepatunya.


"Cxcxcxcxcxcx pemalas." Gerutu Anes melihat kelakuan Didim.


Namun Anes cuex saja tak melakukan apapun, menolong Didim melepaskan sepatunya pun tidak sama sekali.


Karena Anes malah sibuk membuka bungkusan sotonya yang ia bawa dari rumah karena takut sotonya terlalu dingin, dan ia tau Didim ga suka dengan makanan yang terlalu dingin. Apalagi di dalam kamar AC nya begitu kencang.


"Ayah.... bangun dulu Yah.. jadi makan atau ga ?" Tanya Anes sambil menyodorkan plastik bekas kuah soto ke depan hidungnya Didim.


"Iya. iya. makan. makan. " Kata Didim sedikit tergagap membuka kelopak matanya karena hidungnya mencium bau makanan kesukaannya itu.


"Hahahahhahahaa anda lucu sekali bapak... " Kata Anes mentertawai kelakuan Didim yang kekanak kanakan itu.


"Dek, kok mangkoknya dua ?"


"Lah emang mulutnya dua kok. Kenapa?" Tanya Anes cengo.


"Satu mangkok aja berdua, jarang jarang makan bareng juga, masih aja pisah pisah. " Kata Dimas menarik tangan Anes untuk mendekat.


"Tapi jangan minta di suapin. Aku laper. Makan sendiri." Kata Didim lagi sambil menyuapkan sesendok soto ke mulutnya.


Dimas menoleh dengan tiba tiba dengan mata mendelik.


"Orang lain katamu ?"


"Ya kan masih orang lain. Masak tiba tiba berubah jadi Masku . Ada ada aja sih." Sahut Aneh menggeleng gelengkan kepalanya sambil terus mengunyah sotonya.


"M..... iya juga sih.. hehehehe." Jawab Didim terkekeh geli dengan ke lebay annya sendiri.


"Dasar No. Rak." cibir Anes


"Biarin. weeekkk.." Balas Didim menjulurkan lidahnya.


Tak sampai 20 menit dua mangkok soto pun telas kandas berpindah tempat ke dalam kantong makan manusia bucin ini.


Jarak 10 menit kemudian merekapun menuju kamar mandi lalu sikat gigi bersama dan mencuci kaki.


Selanjutnya Didim telah lebih dulu ga sadarkan diri karena telah terbang ke alam mimpi.


"cxcxcxcxcx... dasar kebo." Kata Anes terkekeh melihat Didim tidur tengkurap dengan arah sembarangan , alhasil tubuhnya yang tinggi besar memenuhi tempat tidur.


Iseng, Anes membuka handphone nya Didim, dan melihat lihat mesenger nya.


"Eh ??? Siapa ini ?" Gumam Anes perlahan ketika Anes melihat sebuat mesenger yang menyebut namanya.


Awas lu jangan macem macemin mbak Anes ya, Mbak anes itu masih perawan, beda sama gua.


^^^Emang apa urusan lu ?^^^


^^^terus kalau lu selingkuh^^^


^^^itu jadi salah gua gitu.^^^


^^^Lagian bukan guayang^^^


^^^meniduri lu pertama kali.^^^

__ADS_1


^^^Kamu ga usah^^^


^^^ikut campur lagi tentang hidup gua^^^


^^^apalagi mengenaiAnes.^^^


Anes terdiam sedikit syok karena terlalu banyak pertanyaan yang ada dalam benaknya saat ini.


Chat itu benar sekali dari taraya.


Namun Anes berusaha berfikir positif lagi, lalu dia mulai melihat tanggal yang tertera di atas Chat itu, Mulailah Anes sedikit tersenyum karena perhitungan tanggal itu kira kira sebelum Anes memutuskan untuk kembali bersama Dimas.


"H..... sudahlah..... Mungkin belum sempat di hapus juga." Kata Anes lalu meletakkan ponsel Didim pada meja di sebelahnya.


Anes menyusul Dimas merebahkan tubuhnya di tempat yang sempit itu, namun pergerakan Anes, Dimas mengetahuinya.


"Habis ngapain Dek?" Tanya Dimas dengan mata masih terpejam.


"Mmm.... kamu masih sering chat sama Aya setelah inbok itu Yah ?" Tanya Anes mencari sesuatu.


"Ohh... barusan bukan mesenger ??"


"iya." Jawab Anes singkat.


"Ga ada. Paling sekali doank, ngomentarin yang kemarin kemarin itu, setelahnya ga pernah.Ada apa ?" Tanya Dimas sambil meraih tubuh Anes dalam pelukannya.


"Mm.... ya udah. Ga ada apa apa kok."


Jawab Anes sambil tersenyum lalu membenamkan kepalanya pada dada bidang Dimas .


Tangan lembut Dimas membelai kepalanya Anes, namun matanya masih saja terpejam.


" Kan aku dah bilang dek, kita mulai dari awal, dan itu yang terjadi sekarang." Kata Dimas dengan lembut.


"Mmh...... " Jawab Anes hanya bergumam.


Meskipun mereka tak ada niatan sama sekali untuk melakukan yang lebih, namun iblis tetaplah iblis yamg akan berada di antara manusia manusia yang di mabuk cinta.


Maka terjadilah apa yang seharusnya tak terjadi. Terjadi karena saling ketertarikan tanpa paksaan sama sekali. Entah iblis mana yang meracuni otak mereka berdua hingga masih bisa tersenyum setelah semuanya selesai.


"Setelah ini Ayah akan ninggalin aku ?" Tanya Anes.


"Ga akan." Jawabnya sambil mengecup kening Anes lalu memeluknya hangat.


.


.


.


.


.


*Author : Kalian jangan berharap akan ada adegan mesum di cerita ini. Karena itu ga akan pernah terjadi.


Karena saya berharap tulisan ini berlaku buat semua kalangan. Bahkan bisa di baca dan di jadikan pelajaran buat para bocil.


Karena yang author lihat sendiri, Bocil di negara kita sekarang sudah banyak yang over pergaulannya.


Oh Ya.. dalam cerita ini, ,, pemeran utama Ghanes Anjani saat ini terjadi adalah berumur 26th. Dan itu umur yang sudah cukup dewasa untuk mampu mempertanggunjawabkan segala konsekuensi dari apa yang di lakukannya*.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2