
Kota demi kota telah Ghanes telusuri. Ternyata benar kata Deddy Cahyadi Sunjoyo (Dedy Corbuzier), "Kembali berenang untuk menghilangkan trauma tenggelam."
Kepala Ghanes tak lagi berat, hatinya tak lagi lekat, meskipun masih terasa ada sisa-sisa kepedihan, namun ringan dan angin segar mulai berhembus di ubun-ubunnya. Ghanes menatap lagit luas yang tak lagi biru karena polusi negara maju.
"Lihatlah Nes, langit itu juga pasti menangis karena ulah manusia di bumi, namun lihatlah juga bahwa dia masih tetap di sana memberi nafas pada manusia perusaknya."
"Tuhan,,,, beri aku kesempatan untuk berguna buat makhluk lainnya jika memang Engkau masih mengijinkan aku untuk hidup di bumiMu."
*Drrttt............Ddddrrrrrrrrrrtttttttt..............*Ponselnya bergetar
Trouble he will find you no matter where you go, oh, oh
No matter if you're fast no matter if you're slow, oh, oh
The eye of the storm or the cry in the morn, oh, oh
You're fine for a while but you start to lose control
He's there in the dark
He's there in my heart
He waits in the winds
He's gotta play a part
Trouble is a friend
Yeah, trouble is a friend of mine, oh-ooh
Lagu Trouble Is a Friend dari **Lenka **mengikuti irama getar dari ponselnya.
Ghanes sedikit tertawa, karena lagu ini lagu yang sering dia nyanyikan dengan Mas Susan dulu ketika ia masih SMP.
"Kapan gua ganti ringtone gua ya. Hahahahaha kok bisa bisa nya nyantol di lagu ini dah."
Cungkring. Nama itu yang tertera di layar ponselnya.
"Ya.... hallo... Hahhahahahahahaaaa" Ghanes tertawa lebar, karena baru sadar kalau nama kontak Danu suaminya telah di ubahnya menjadi cungkring.
"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu dek?" Tanya suara di seberang sana.
"Hahahaha ga ada. Ada apa Mas, kok tumben telpon."
__ADS_1
"Ya ga tumben gimana, lha kamu udah hampir 2 minggu di situ ga ngasih kabar sama sekali lo. Ibuk nanyain kamu ke aku."
"Hah? Iya kah? Emang aku dah berapa hari sih?"
"12 hari. Lupa atau pura-pura amnesia?"
"Hehehehe,,,, ga sih . Habis ini aku pulang kok mas."
"Kenapa? Kok cepet. Bukannya Visa mu 1,5 bulan ya?"
"Akh,,, bosen juga tidur di hotel mulu. Kupikir-pikir kok sayang duitnya. Hehehhee."
"Kalau kurang aku transferin."
"Bukan kurang sih, cuma males aja."
"Heleh, bilang aja kamu kangen ma aku kan ya."
"Dih,,, pede banget kamu mas, siapa juga yang kangen ma kamu, yang aku kangenin hanyalah kasurku. ga ada yang lain."
"Iya dech iya, aku percaya kok dek. Kalau kamu mau pulang, bilang aja biar aku jemput di bandara ya. "
"Akhhh soal gampang itu mah. Ada lagi yang mau di sampaikan mas? Bilang aja ma ibuk, aku baik-baik saja di sini."
"Ya udah kalau begitu, aku mau mandi dulu terus keluar cari makan."
"Ya udah, Mas matiin ya. Hati-hati di sana."
Ghanes tersenyum, "Siap bos."
Tuuuuuuuuuuut............
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Danu plot
"Hmmmm syukurlah kalau dia sudah membaik, Tuhan,,, aku sungguh takut kalau dia ga bisa menenangkan dirinya. Aku sungguh ga tega dengan hidupnya yang begitu keras selama ini. Aku kira hidupku sudah menyedihkan karena ibuku ga pernah mengasuhku sejak bayi. Namun ternyata ada wanita tangguh yang hidupnya begitu sangat menyedihkan."
"Mudah-mudahan aku ga menjadi orang yang menyakitinya . Aamiin."
"Eh, tapi kenapa tadi tiba-tiba Anes ketawa begitu keras ya saat terima telponku? Pasti ada aja tuh kelakuannya. Kok penasaran ya."
"Mmmmmmm tapi ya sudahlah yang penting dia dah kembali tertawa saja aku dah sangat bersyukur kok. Terimakasih Tuhan...."
__ADS_1
Danu kemudian kembali pada kesibukannya, yaitu mempersiapkan rumah barunya yang akan di huni bersama dengan Ghanes nantinya.
"Mudah-mudahan dia suka dengan suasananya. Aamiin."
Dibantu dengan beberapa orang untuk memindahkan barang-barangnya dari rumah Ayahnya yang selama ini memang Danu tinggal bersama dengan Ayahnya. Danu yang memang dari lahir ga pernah di rawat ibunya yang ia sendiri tak tau alasannya kenapa, dan kini tak mau tau lagi. Jadi dia sudah sangat terbiasa hidup tanpa ibu. Bahkan hubungannya kini dengan ibunya di bilang baik, ya baik-baik saja. tapi tak sama dengan hubungan ibu dan anak pada umumnya.
Hal ini juga yang akhirnya menjadikan Danu orang yang sangat mengerti wanita, sangat menyayangi wanita, juga mengerti segala keluh kesahnya, hingga bukan hal baru lagi untuk sekedar membantu pekerjaan rumah yang selama ini selalu di anggap sebagai pekerjaan wanita.
Danu berdiri di depan sebuah rumah yang sebenarnya ga terlalu besar untuk ukuran orang elit. Namun punya halaman yang lumayan luas di depan dan belakang. Karena Danu tahu bahwa Ghanes istrinya sangat suka melakukan hal-hal random termasuk bermain main dengan tanah. Ghanes adalah orang yang gampang bosan terhadap segala hal yang di lakukannya. Jadi dia butuh banyak hal yang bisa di kerjakan dalam topik yang berbeda.
Sebagai contoh, dari Memasak, design baju serta menjahitnya, berkebun menanam sayuran (Ghanes tidak suka bunga) atau bahkan otak atik motor dan elektronik.
Menurut Bapaknya Ghanes, dulu banyak laki-laki yang sebenarnya mengejar ngejar Ghanes, namun setalh tahu karakter Ghanes yang hiper aktif dan hampir semua pekerjaan dia bisa melakukannya sendiri, akhirnya banyak laki-laki yang merasa minder atau bahkan merasa tak di butuhkan. Karena Ghanes tak pernah merasa butuh bantuan siapapun.
"Kamu tau, meja kayu di depan itu Dan, kenapa pinggirannya coel coel begitu ? Ya itu karena kerjaannya Ghanes tuh. Dia itu ga bisa diem anaknya. Duduk aja harus menyiksa meja pake apapun di dekatnya sampai mejanya toel toel begitu." Kata Pak Alan waktu itu.
Dan danu hanya terbengong melihatnya. Dikira Danu karena meja itu terlalu tua sehingga rusak dengan sendirinya. Ternyata tangan Ghanes yang sengaja melakukannya.
"Hahahhaahaa kamu sungguh unik dek dek." Gumamnya perlahan sambil tertawa kecil.
"Apa pak?" Tanya Pak Hendra dari belakang melihat bosnya berbicara sendiri.
Danu kaget dan menoleh ke belakang, "Eh, ga ada papa kok Pak. saya hanya teringat istri saya saja kok."
"Hehehee maaf Pak kalau begitu, kirain ada yang mau di sampaikan. Btw, kenapa yang depan ini ga jadi di bangun Pak?"
"Iya pak, ga jadi . Biarin jadi kebun saja, biar istri saya betah di rumah. Rumahnya biar kecil ga papa, asal halaman dan kebunnya luas. Oh ya pak, ini ada bibit mangga dan leci tanam di belakang ya. ga usah sekarang, kalau ada waktu luang aja. Pak Hendra dan Pak Didik aja yang ngerjain, karena rencananya saya ga nyari tukang kebun pak, biar nanti Istri saya aja yang utak atik semuanya. Mulai bulan depan gaji saya tambahin buat kalian berdua aja, karena udah saya minta double job. Apa Bapak bersedia?"
"Wah,,, kalau saya sih mau mau aja pak, nanti kalau Didik sudah datang, saya tanyakan sama dia mau atau ga. yang penting kita masih dapat libur pak."
"Kalau libur ya tetap seperti biasa sih pak. hari minggu giliran dan jika ada keperluan keluarga seperti biasa. Nanti tolong sampaikan sama Pak Didik ya, soalnya saya belum mau tidur di sini."
"Ok bos, siap. Hehehehe." Jawab Pak Hendra penuh semangat dan wajah yang begitu sumringah karena akan dapat tambahan gaji. Lagian kan ga jadi tukang kebun beneran, hanya bantu2 bos perempuannya saja. Apa sih susahnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.