
3 bulan telah berlalu dari hari itu.
Namun keadaan Bu Santi bukanlah membaik.
Meskipun sudah sadar, dan mengerti bahasa manusia, artinya bisa nyambung di ajak bercakap cakap, akan tetapi tubuh lemahnya belum mampu sinkron dengan saraf saraf otaknya.
Bu Santi mengalami kelumpuhan sementara, kemana mana harus di bopong. Makan minum harus di suapi.
Psikologisnya sangat sangat terganggu dengan kepergian Susan. Bu Santi akan selalu histeris ketika dengar suara Adzan , berbagai macam cara telah di lakukan namun hasilnya nihil.
"Ini hanya keinginan dan suasana hati Bu Santi sendirilah yang bisa menyembuhkan Pak." Kata Seorang Ustad panutan di daerah Pak Alan.
"Hanyalah keikhlasan dari Bu Santi sendirilah yang bisa memulihkan kondisinya, sama seperti apa kata dokter, Bu Santi ini Sehat, namun psikisnya yang terluka." Ibuh Ustad tersebut.
"Iya Pak, saya mengerti. Semampu kami sekeluarga untuk menyembuhkan ibuk." Jawab Pak Alan pasrah dengan kondisi istrinya.
Hari hari Pak Alan pun di sibukkan untuk menemani istrinya di rumah.
Di tinggalkan pekerjaannya, dia tinggalkan rutinitasnya. Perkerjaannya yang selama ini terbengkalai karena mengurus Susan, maka akan masih berlanjut untuk mengurus Bu Santi.
Namun Pak Alan sadar itu adalah tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
Andra yang sempat resign dari tempat kerjanya karena mengurus Susan , juga sudah mendapatkan pekerjaan baru, Untuk membantu kakaknya melunasi kewajiban kewajiban keuangan Susan yang belum di lunasi.
Ya.. mereka tau iti semua adalah tanggung jawab bersama sebagai saudara.
Dimana ia teringat ketika masih tidur di rumah bambu bertiga, berlima dengan ayah ibunya.
Dimana ketika Mbak Anes belum merantau, Orang tuanya yang selalu hidup dalam caci makian tetangga karena hidup sebagai orang miskin.
Ingat kebersamaannya dalam kemiskinan, namun sangat sangatlah bahagia waktu itu. Berbeda seperti sekarang ketika salah satu berpulang, meskipun kondisi ekonomi sudah lebih baik dari yang kemarin, Hari ini rasanya lebih menyiksa dari waktu itu.
"San, ibuk minta tolong dong San, kamu pergi ke warung Bu inah, pinjem beras sekilo aja, kalau ga berani sendirian ajak Anes." Teringat Andra waktu itu gimana ibuknya meminta tolong pada Susan untuk hutang beras pada warung tetangga karena ga ada yang dimakan.
Teessssss....teeessss.... Mata Andra mulai basah dengan butiran bening mengalir sampai pipinya, namun di audut bibirnya menyunggingkan sedikit senyum. Betapa bahagianya waktu itu, masih bersama sama meskipun dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
"Permisi Bu Inah, saya di suruh ibuk, pinjam beras 1kg buk." Kata Susan waktu itu takut takut. Bertiga dengan Anes dan Andra yang ngekor di belakang mirip anak ayam dengan induknya.
"Oohhh kalau pinjem ga ada San, bilang ya pada ibukmu, kalau beras sekarang mahal, jadi ga bisa di pinjemin." Kata Bu Inah menolak.
"Oh iya buk, kami tau, ga pa pa kok buk, nanti kami bilang pada ibuk di rumah, Makasih Buk, permisi." *Jawab Susan berlalu pergi dan pulang.
Sampai di rumah, apa yang di sampaikan Bu Inah, di katakannyalah pada Bu Santi.
Bu Santi sambil mengelus dada, "Kalian yang sabar ya, maklumin aja kekurangan kita, ga usah bersedih."
Lalu mereka bertiga malah tertawa tawa, karena dengan begitu mereka bisa pergi ke kebun kakek mereka (yang lumayan jauh) Sambil bermain ketawa tawa mereka mencari Ubi dan Talas buat di makan. Tentu saja hal ini ga akan pernah di marahi. Karena talas dan ubi di kebun kakek ini tumbuh liar di tanah yang ditanami pohon cengkeh.
Betapa bahagianya waktu itu . Tak lupa sambil ngata ngatain Bu inah sang pemilik warung*.
"Dasar Bu inah, itu beras ga boleh dipinjem mau di buat mandi kali ya ? hahahahhaa" Kata Susan sambil tertawa.
__ADS_1
"Bukan mas, sepertinya dia mau bikin kompetisi ngitungin beras di kelurahan, biar bisa nyapres tahun depan, yang milihnya elien." timpal Anes dengan terkikik geli.
"Elien kapan datang ke indonesia mbak?" Tanya Andra cengoh.
"Huuuuuuuuuu dasar bocil." Sahut Susan menoyor kepala Andra gemas.
"Barusan kemaren Ndra, makanya sekarang Umbi talas ini besar besar, ini berkat kekuatan super power elien itu Ndra." Jawab Anes asal.
"Beneran mbak? Andra mau dong punya kekuatan kaya elien itu mbak." Jawab Andra masih dengan gaya tolilnya.
"Diem lu Blek, jangan membodohi Andra dengan teori busukmu itu. Racun itu buat otak anak kecil, nanti kalau dia dewasa , tiba tiba otaknya Andra bisa ngeluarin enzim Sianida, mampus kita Blek." Jawab Susan hiperbola.
..."Sianida apaan tuh mas ?" Tanya Anes planga plongo....
"Tempe mendoan !" Jawab Susan kesal.
"Diihh seriusan... ?" *Anes balik nanya.
Susan diam saja tanpa respon lalu mengambil segumpal tanah dan memasukkannya ke kantong celananya Anes*.
"Maaaassssss !!!! Kebiasaan !!!!" Teriak Anes lalu melempar gumpalan tanah pada Susan yang telah beranjak pindah tempat dengan Andra.
"Ahhhhhh..... kita waktu itu begitu goblok ya ..."
Gumam Andra sendirian di atas motornya menuju rumah dari pulang kerja.
............
"Waalaikumsalam Ndra,,, dah pulang ?" Sahut seseorang dari dalam rumah, tak lain dan tak bukan adalah Pak Alan.
"Iya Pak, Ibuk udah makan ?" Tanya Andra menanyakan kondisi ibunya.
"Udah tuh, lagi duduk di teras belakang ngobrol sama mbak Sri." Kata Pak Alan lagi.
Andra pun berjalan menuju belakangencari keberadaan ibunya.
"Buuuukkkk...... ibuukkk...."
"Walaikumsalam Ndra.... " Sahut Bu Santi menjawab salam mengingatkan Andra untuk mengucapkan salam lebih dulu.
"Ahh tadi udah buk di depan, masak tyap masuk pintu rumah kasih salam buk,capek tau." Jawab Andra membela diri.
"Kamu ini, di bilangin jawab terus." Kata Bu Santi .
"Iya iya buk, lain kali." Kata Andra.
"Lain kali apa ?" Tanya Buk Santi lagi.
"Ga ada. Hahahahahahahahahaa" Jawab Andra tertawa terbahak bahak merasa berhasil mengerjai ibunya.
"Udah makan Buk?" Tanya Andra.
__ADS_1
"Udah." Jawabnya singkat.
"Ndra , ibuk kok g sembuh sembuh ya Ndra, kalau ibuk lumpuh selamanya gimana Ndra ?" Tanya Bu Santi menundukkan kepalanya.
"Makanya ibuk itu harus bahagia, pikiran pikiran yang buruk itu di buang saja, mikir yang baik baik aja, kasian tuh mbak Anes ga berani telpon ibuk, karena tiap Mbak Anes telpon ibuk selalu nangis ga bisa diem." Kata Andra menasehati ibuknya.
"Ibuk kan ga pingin kaya gini Ndra, bukan mau ibuk juga. Lagian mana mungkin ibuk lupain Susan." Jawab Bu Santi mulai meneteskan Air matanya lagi .
"Udah udah Buk, jangan selalu di bahas tyap hari buk, doain Mas Susan agar baik baik di sana, kita semua kehilangan lo Buk, tapi kalau ibuk begini terus, kan kasian juga raga nya ibuk, lama lama bisa sakit beneran lo buk." Jawab Andra lagi.
"Betul Bu Santi, pikirkan yang baik baik saja, jangan mikir yang jelek jelek , agar bu Santi bisa berjalan normal kembali, kasian kan Anes, Andra yang kerja keras, mikirin ibunya juga nanti. " Sahut Mbak Sri menimpali.
"Entahlah Sri." Jawab Bu santi sedih.
"Udah akhhh buk, kalau ibuk terus begitu, ayam ayam ibuk aku sate semua ntar, biar ibuk di rumah ga punya hiburan." Kata Andra.
"Jangan Ndra,,,, !"
"Nahhh makanya itu, jangan sering sering membahas masalah yang sudah selesai. hanya akan membebani saja. " Jawab Andra.
"Iya iya ibuk sedang berusaha ini Ndra." Jawab Bu Santi.
Ya..... bu Santi memang menggemari ayam. Memelihara ayam kampung adalah hobinya.
kalau sudah banyak maka akan di jual jualin.
Entah kenapa ketika banyak ibuk ibuk yang suka pelihara kucing, Bu Santi malah hobi piara ayam. Namun hobi ini bisa mendatangkan uang juga, sebagai tambahan buat beli bumbu dapur.
Sedangkan Andra bekerja tak jauh jauh dari rumah karena belum bisa meninggalkan orang tuanya yang masih dirundung Duka.
Dia juga tak mau melanjutkan usaha Susan karena profesinya berbeda. Mereka berdua sekolah di SMK dengan jurusan yang berbeda dan ga bisa di sambungkan.
Jadi Andra lebih memilih mencari pekerjaan yang dia bisa melakukannya, daripada di komplain pelanggan pelanggan kakaknya.
"Ga bisa aku mbak kalau nerusin usahanya Mas Susan. Ga kuat aku. selain beda jurusan juga aku ga kuat dengan kenangannya, kalau di sana aku teringat Mas Susan terus mbak. Ga mungkin kan Ibuk sudah kaya gitu masak aku ikut ikutan kaya ibuk? Sudahlah mbak, di bongkar saja, biarkan aku cari kerja yang lain aja." Kata Andra suatu ketika Anes menanyakan keterlanjutan Usaha Susan.
"Ya sudahlah, hidupmu pilihanmu, jika menurutmu melanjutkan bukan pilihan yang tepat, ya cari yang lain saja." Kata Anes menengahi. .
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.