
Anes pulang dari pasar malem dengan hati yang sedikit terhibur karena berhasil mendapatkan teman teman baru.
Mereka pun berhasil saling bertukar nomor ponsel, siapa tahu mereka bisa menyambung tali silaturahmi mereka, karena ternyata alamat tempat kerja mereka tidaklah terlalu jauh.
"Lumayanlah ya,,,,, daripada gabut,gua rasa mencari circle baru itu adalah solusi yang cukup bagus buat gua sekarang ini, palingan juga rata rata sama aja kan, Triyono yang mulutnya lemah lembut kayak putri keraton aja, ternyata sama busuknya dengan yang lain kok, yaaa,,,, begitulah Nes, negara ini keras Nes, keras,,,,,,,,,"
Ocehnya pada dirinya sendiri untuk mengingatkan alam bawah sadarnya untuk tak terlalu percaya ma orang seperti yang sudah terjadi selama ini.
"Fiiuuuuuhhh..... bantal ku sayang,,,,
I am coming, Nyonya ratu mau tidur Tal". Sambil menepuk nepuk bantal satu satunya yang selalu di atas ranjangnya setiap malam , bantal ini pula yang selalu berhasil menidurkannya meskipun dalam suasana galau tingkat dewata.
"Tidur beb?" Sapa Anes pada seorang anak via inbok.
Hanya mampu via inbok karena anak ini ada di indonesia. Dan Anespun sama sekali belum pernah bertemu muka dengan anak ini sama sekali.
"Belum beb. Lagi rebahan nih." Jawabnya santai.
Entah kenapa banyak orang yang gampang baper dengan Anes , padahal se ingat Anes, Anes jarang sekali berkata lembut atau romantis atau apa yang dibilang mesra bahkan Anes tak tau yang seperti apa.
Mungkin benar mereka sebenarnya penasaran saja, karena Anes tipe orang yang aneh dan cuek, dari situlah mungkin menimbulkan rasa penasaran yang tinggi pada mereka.
"Beb, kamu pingin liat gunung kelud meletus ga beb?"
"Emang keliatan apa dari rumahmu?"
"Waaahhhh jelas sekali pasti, namun bersyukurnya arah lava nya ga ke daerahku beb, cantik dech, yakin. Apalagi jika kamu bisa melihatnya langsung dari sini, pasti kamu suka dech beb."
"Liat donk..." Jawab Anes antusias.
"Aku naik dulu ya,,,,, eh kamu denger kan suaranya tuh, dentuman dentumannya kedengeran kan dari situ?"
"Iya denger kok, jelas."
"Mirip suasana romadhon kan beb?"
__ADS_1
"hhiihhh, jangan ngawur kamu Wan."
Sangkalnya pada Wawan yang menjadikan bencana sebagai bahan bercandaan.
Namanya adalah Wawan Kurniawan, penduduk asli kota Blitar jawa timur, namun ia bukanlah teman Anes yang ia kenal secara langsung, Anes mengenal Wawan hanya sebatas lewat dunia maya saja, dan sama sekali belum pernah bertemu sekalipun.
Iseng iseng berhadiah, itulah slogannya Anes saat ini, ya ,,, mungkin ini kurang tepat, namun menurut Anes selama ia tak menjanjikan apapun, atau selama Anes tak mengobral gombalan dan janji janji palsu maka hal ini masih bisa di kategorikan sebagai pertemanan yang wajar wajar saja.
"Liatlah beb, indah sekali bukan, meskipun ini bencana, tapi pijaran pijaran api itu bukankah benar benar indah menurutmu juga? Lihatlah kebawah, semua tetangga tetanggaku juga sama seperti kita saling melihat keindahan alam yang di sajikan Tuhan itu beb, indah bukan?"
"Jadi jangan salahkan aku juga jika hal ini kukatakan sebagai keindahan dari sebuah bencana."
Kata Wawan setengah membela diri sambil memutar kameranya ke depan dan kebelakang.
"Iya iya, emang bagus kok kalau di lihat malam hari, emang itu ga bahaya apa?"
"Ga lah, kan itu arah anginnya bukan ke sini beb, namun ke arah yang berlawanan, ya makanya bersyukurnya di situ."
"Dari tadi belum berhenti ?"
"Belum lah, kan baru malam tadi kan, abis isya, dulu dulu jika meletus juga ga secepat itu lalu selesai, kadang bisa sampek pagi lo, dan orang orangpun biasanya ga tidur juga, mereka nungguin, sekalian jaga jaga kalau ada pembalikan arah angin."
"Eh, udah dulu ya Wan, aku ngantuk nih, besok aku harus kerja . Aku tidur ya." Lanjut Anes sambil membuka mulutnya lebar lebar menguap.
"Ya udah , kamu juga hati hati kerjanya di sana, jangan ceroboh."
"Siap komandan !" Jawab Anes tersenyum senang.
.................................
Ke esokan harinya Anes segera ingat bahwa semalam ia melihat secara virtual gunung yang meletus itu, seketika ia ingat Bapak dan Ibuknya di rumah, Karena dari berita berita yang ada di youtube hingga penerbangan di batalkan. Lantas apakah arah anginnya menuju ke kotanya? Anes yang buta arah mata anginpun tiba tiba menjadi cemas.
"Pak, gimana rumah? aman?" Tanyanya pada Pak Alan ketika telponnya berhasil tersambung.
Karena ternyata jaringan seluler sangatlah sibuk, padahal ini siang hari. Tak seperti biasanya jaringan seluler hanya akan sibuk di jam jam diskon di malam hari dari jam 20:00 s/d 24:00.
__ADS_1
"Alhamdulilah aman Nes, meskipun ada hujan abu tapi ga parah, kita hanya cukup pakai masker saja, dan aktifitas di sini masih sangat normal, jadi kamu tenang aja di sana, ga perlu ada yang di khawatirkan kok." Kata Pak Alan menerangkan menenangkan Anes.
"Syukur dech kalau begitu Pak, eh Pak, tapi kok abunya bisa sangat jauh sih pak?"
"Lha kan gunung meletus itu efek yang ditimbulkan kan tergantung arah angin Nes, ini kan Abu jadi pergerakannya mengikuti arah angin, ya mudah mudahan saja ga ada pembalikan arah angin deh, jadi daerah kita masih dalam zona aman. Lihatlah di berita bandara Yogyakarta yang parah malahan, padahal kalau di lihat secara posisi ,Yogyakarta kan jauh Nes."
"Eh, iya juga sih pak . Heheheheh."
Anes terkekeh malu karena kebodohanya barusan.
"ibuk sehat pak?"
"Alhamdulilah sehat Nes, ya begitulah, sekian lama ga ada perubahan yang signifikan Nes, gitu gitu aja dari dulu, tapi sekarang udah bisa pakai tongkat sedikit sedikit Nes, makanya itu sekarang Bapak bisa ninggal kerja, meskipun Bapak harus pulang sebentar ketika jam istirahat."
"Untung bosnya Bapak orangnya baik dan pengertian pak."
"Nah, itu yang Bapak sungkan ga enak hati jika harus keluar dari kerjaan ini, kasian si Bos udah sangat baik sama Bapak. Mau keluar Bapak ga tega ninggalin."
Pak Alan kerja pada Bos nya yang ini terbilang sudah cukup lama, namun setiap Pak Alan bilang mau keluar karena capek, Bosnya selalu naikin gajinya Pak Alan agar Pak Alan mengurungkan niatnya untuk keluar.
Pak Alan bukan satu satunya karyawan di sini, namun Pak Alan hanyalah satu satunya karyawan yang serabutan, bisa ngerjain kebun, bersih bersih, atau bantu bantu di pabrik.
Intinya Pak Alan adalah karyawan panggilan, jika ada kekurangan tenaga di bagian mana, pasti akan memanggil Pak Alan untuk membantu.
Mungkin di luar sana banyak bos bos yang memang mengharapkan karyawan yang punya loyalitas tinggi dalam pekerjaannya, berbeda dengan yang sering terjadi di lapangan adalah perhitungan soal waktu, tenaga dan berapa gaji yang di berikan.
Anes mangut mangut,,,,
"M,,,,,,,mmmmm mungkin ga sih jika ini adalah salah satu penyebab banyaknya pengangguran di indonesia? Padahal sebenarnya banyak sekali lapangan pekerjaan, namun pelakunya saja yang kebanyakan gengsi, yang di inginkan selalu yang berdasi biar kelihatan keren, padahal yang berdasi belum tentu dia yang paling tinggi penghasilannya. cxcxccxcxcxcxx indonesia.... indonesia..... literasinya memang kurang sih."
.
.
.
__ADS_1
.
.