Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Ingin Pergi


__ADS_3

Kebisuan dan Kesendirian Ghanes di rumah ibunya tak lantas membuat pikirannya tenang.


Ia bahagia untuk beberapa saat karena bisa kembali menhirup udara segar sebuah kesendirian. Atau yang biasa di sebut anak milenial sebagai me time.


Namun hal ini hanya sementara saja. Sedangkan yang terjadi selanjutnya adalah kegelisahan yang semakin bertambah setiap harinya.


Hal hal baru yang berusaha Ghanes lakukan di setiap harinya hanya mampu membuatnya tenang seketika itu saja, namun ketika kembali ke rumah dan mulai masuk kamar, ia akan tertimbun kegelisahan yang amat sangat.


Kembali teringat dengan kehidupan masa lalunya yang sangat menghantam kepalanya. Menghancurkan hatinya.


Ghanes sungguh tak menyangka jika keputusannya waktu itu akan menghantuinya hingga sekarang. Bahkan hatinya yang masih begitu sakit dan perih . Apalagi jika membayangkan seharusnya saat ini anaknya memasuki masa golden age nya.


Seharusnya saat ini adalah masa di mana Ghanes mengerahkan semua kemampuannya untuk menjadi pendidik terbaik untuk anaknya.


Bayangan gemerlap kota di negara itu membuatnya semakin tersakiti.


Saat ini Ghanes sedang menyendiri di kamarnya dengan ponsel putih di tangannya.


Menikmati video-video motivasi di youtube.


"Cara terbaik untuk sembuh dari trauma adalah kembali ke peristiwa yang membuatnya trauma tersebut. Contoh : jika ada orang yang takut air karena pernah tenggelam, maka cara menyembuhkannya adalah dengan kembali berenang."


Suara dari Dedy Corbuzier yang terdengar cempreng di ponsel mininya, seketika membuyarkan lamunannya.


"Benarkah begitu?" Tanya Ghanes pada dirinya sendiri.


Dengan menerawang dan mengira-ngira sisa tabungannya ada berapa, Ghanes mulai menemukan sesuatu di dalam otaknya.


Ghanes sedikit tersenyum,


"Hmmm... I will back."


Kemudian dia menggeser layar ponselnya dan mencari kontak suaminya.


...*A**ku akan kembali ke negara T*.***√√...


Hah ? Serius ? Kapan ?√√


...Dalam waktu dekat. √√...


Kerja lagi ?√√


...Ga. Cuma main. √√...


Gimana itu ?√√


...Visa turis. √√...


Berapa lama?√√


...Paling 1 sd 2 bulan.√√...


Aku ke sana besok.√√


...Serah.√√***...


.......


Danu plot,


Danu ******* ***** kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat pening,


"Ni anak bener-bener dach. Akkhhh shhiitt kenapa gua bego sih, harus main main skets togel segala. Kalau udah gini gua haruskah kehilangan dia lagi ?."


Danu begitu frustasi mendapat chat dari istrinya yang tiba-tiba bilang mau berangkat lagi.

__ADS_1


Meskipun hanya bilang visa turis, namun Danu sangat tahu bahwa Ghanes bukan 1 2 tahun di negara itu.


Danu tahu bahwa Ghanes bisa saja menjadi ilegal di sana setelah visa nya habis.


Danu juga tahu bahwa Ghanes punya banyak koneksi di sana.


Yang di khawatitkan Danu adalah jika Ghanes menjadikan negara itu sebagai pelarian kesal hatinya, dan ia tak mau lagi pulang ke negaranya.


Maka jika ini benar terjadi maka pada akhirnya Danu sendiri yang paling merasa sakit.


................


Embun belum hilang dari dedaunan. Danu tiba-tiba sudah memeluk Ghanes dari belakang.


Ghanes yang masih enak-enak tidur di udara yang cukup dingin kaget ketika ada tangan dingin yang memeluknya.


Namun dari aroma tubuhnya , tanpa membuka matapun Ghanes sudah tahu kelakuan siapa itu.


"Dek, serius mau pergi?"


"Diam ! Gua mau tidur."


Tes ! Tiba-tiba air mata Danu jatuh ke pipi.


Istrinya sudah bukan yang dulu lagi. Dingin.


Meskipun Danu terbiasa dengan ketusnya Ghanes, namun cengkok suaranya kali ini sangat berbeda dari biasanya.


Danu semakin mengeratkan pelukannya sambil terus menahan agar ia tak terisak.


Danu seakan tak ingin kehilangan Ghanes. Seakan hari ini adalah hari terakhir mereka bersama.


Sedangkan Ghanes sama sekali tak peduli. Meskipun ia sudah tak bisa tidur lagi, namun ia masih enggan membuka matanya.


Hatinya masih sangat kacau. Bukan juga bahagia ketika Danu memeluknya. Namun datar tak ada apapun yang di rasakannya.


"Eh." (suara lemah seseorang)


Lalu kembali ditutup.


Yang membuka pintu adalah Pak Alan. Yang mencari keberadaan Danu. Dipikirnya mereka sedang mengobrol di dalam. Ternyata anak dan menantunya sedang berpelukan. 😁


"Ada apa Pak?" Tanya Bu Santi.


"Mereka sedang tidur."


"Kan dari kemarin-kemarin sudah aku bilang, jangan dulu ikut campur urusan mereka, biarkan saja dulu. Terkecuali jika mereka minta pendapatmu, maka berilah pendapat. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya."


"Iya buk, iya."


Bu Santi mencebik, "iya iya doank dari kemarin."


Pak Alan pun pergi meninggalkan kamar Ghanes dengan pikiran berkecamuk tak tahu apa yang akan di lakukannya.


Khawatir dengan kehidupan rumah tangga anak perempuan satu-satunya.


9.00


Ghanes dan Danu dengan mata merah karena mengantuk baru keluar dari kamar tanpa bicara satu sama lain.


Ghanes mencari orangtuanya, Pak Alan dan Bu Santi ada di dapur sedang membuat kopi.


"Buk, aku mau pergi ke negara T lagi." Kata Ghanes tiba-tiba to the point.


"Kenapa?" Tanya Pak Alan.

__ADS_1


Sedangkan Bu Santi hanya diam tak merespon.


"Ga apa-apa." Jawab Ghanes terduduk lesu .


Danu hanya diam mendampingi Ghanes duduk di sebelahnya.


Pak Alan memandang Danu dengan tatapn heran, "Ga kamu larang Dan?"


"Ga pak, saya ga berani melarangnya karena akan percuma, selain itu Ghanes kan masih satu KK sama bapak, jadi toh kalau berangkat pun yang di perlukan adalah tanda tangan bapak bukan saya."


Pak Alan mangut-mangut paham dengan sifat anak perempuannya yang ga bisa di larang, karena jika di larang tanpa alasan yang kuat, dia malah akan semakin berani.


Pak alan kemudian melanjutkan kalimatnya,


"Ya kalau bapak sih terserah kalian berdua saja. Sekarang bapak ini hanya bisa mendukukung apapun yang kalian lakukan, selama hal itu ga merugikan orang lain."


Bu santi yang sedari tadi diam kemudian ikut menimpali,


"Berapa tahun Nes?"


Tanya nya pada Ghanes.


"Paling cuma 1 atau 2 bulan."


"Loh kok bisa?"


"Visa turis."


"Cukup uangmu?"


"Ada lah. Cukup buat di tunjukkan di depnaker."


"Ga apa apa Buk, nanti kalau di sana kurang, bisa saya transfer dari rumah. Kan ATM nya master card jadi bisa di gunakan di luar negeri."


Danu memberi saran agar Bu Santi tak khawatir.


"Bisa begitu ya Dan?"


"Bisa donk Buk. Sekarang jaman sudah semakin canggih kok."


"Ya sudahlah, tapi ingat Nes, jangan lama-lama, ibuk tahu kamu sedang stress akhir-akhir ini. Tanpa kamu bicarapun ibuk sudah tahu. Namun apapun masalahmu, selesaikan baik-baik jangan di hindari. Adanya masalah itu untuk di pecahkan. Sejauh apa kita mampu mencari solusi."


Bu Santi menarik nafas panjang kemudian menghempaskannya, matanya mulai berkaca -kaca,


"Sebenarnya selama kamu di sini, ibuk tuh ga tega meliat raut mukamu begitu tiap hari. Jadi ya sudah, berangkatlah. Lakukan sekiranya bisa membuatmu lebih baik Nes."


Ghanes hanya diam. Danu juga diam. Hening tak ada suara sedikitpun kecuali hembusan nafas mereka yang saling bersahutan.


Hingga akhirnya segelas kopi di sodorkan Bu Santi pada Danu.


"Eh maaf Buk membiarkan ibuk buatin saya kopi."


"Sudahlah Dan, ibuk tau. Ga usah dipikirkan. Ga perlu sungkan."


Danu tersenyum , "Makasih buk."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2