
Suara dentingan alat makan terdengar bersahutan dari dalam ruang tamu rumah Pak Alan yang pintu depannya terbuka sangat lebar.
Pak RT tersenyum sneyum sambil berseloroh, "Wah bahagianya saya pak, kalau tyap hari begini istri saya di rumah tak perlu menghitung jatah perut saya pak."
"Yah Pak Rt, saya yang bangkrut dong pak kalau begitu, hahhahahhaa."
Sambut Pak Alan dengan tertawa.
"HHAHhahhahahahaha" gelak tawa pun meledak meyahut selorohan dari pak Rt dan si empunya rumah yaitu Pak Alan.
Sajian opor ayam, urap-urap sayur dan kerupuk udang memanglah sangat pas jika di makan hangat hangat dengan nasi panas di suhu udara sejuk pegunungan.
Untuk sajian sederhana ini cukup di kerjakan sendiri oleh Ghanes di bantu oleh Mbak Sri dan tentu saja oleh Candra.
Candra ini meskipun agak menjengkelkan namun dia tak pernah bisa menolak sebuah permintaan yang di utarakan oleh Ghanes kakak perempauannya. Entah karena apa , sedari kecil Candra memang lebih dekat dengan Ghanes daripada dengan Susan.
"Wahhh rasanya sungguh pas, tidak terlalu pedas jadi sangat pas di nikmati di lidah." Kata ibuknya Nathan memuji makanan yang sudah tandas habis dari piringnya pindah ke dalam perut.
"Makasih lo buk, itu Ghanes dan Mbak Sri yang masak, besok-besok ibuk silahkan sepuasnya menikmati masakan dari Ghanes." Sambut Bu Santi sambil tersenyum bangga dengan hasil karya anak perempuannya.
"Wah beneraan Nes?" Tanya nya pada Ghanes setengah tidak percaya.
"Akh, ga buk, saya cuma bantu-bantu saja, saya ngikutin resepnya Mbak Sri saja kok buk." Jawab Ghanes merendah.
Sedangkan Mbak Sri di belakang pintu malah mengumpat-ngumpat, "****** bener si Anes, kenapa mesti nyebut-nyebut nama gua dah?" *
"Terus Mbak Sri nya mana?" Tanya ibuknya Nathan lagi.
"Ada buk di belakang, gumpet, katanya malu buat keluar, lha ini suaminya." Jawab Ghanes menunjuk Mas Wanto suaminya Mbak Sri yang geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ghanes.
"Oaalaahhhh ini suaminya, lha dari tadi ga ngomong apa-apa beliaunya."
Kata ibuknya Nathan sambil terkekeh geli.
"Akh saya biasa aja buk, lagian udah eneg dengan ke jahilan Ghanes, karena setiap hari saya melihatnya, hehehhehe." Kata Mas Wanto terkekeh menggambarkan kelakuan sehari-harinya Ghanes.
"Oh gitu ya?"
"Ibuk nanti siap-siap aja kalau nanti rumah ibuk jadi rame gara-gara krucil satu ini." Lanjut Mas Wanto memberi gambaran.
Tiba-tiba ayahnya Nathan menyela, "Wah, bagus donk kalau gitu, berasa seperti rumah yang sebenarnya. Rumah kalau sepi malah jadi aneh bukan? seperti penghuninya sedang bermusuhan."
Nathan melirik ke arah Ghanes sambil menahan tawa, seperti mengingatkan bahwa memang begitulah kelakuan Ghanes di mata orang-orang yang memang seringkali menjengkelkan namun juga membuat kangen karena keramaian tingkah konyolnya.
Ghanes menatap balik ke arah Nathan sembari menggerak-nggerakkan alisnya seperti mau bilang ,"Apaan lu ketawa-tawa.?!"
Tiba-tiba,
DDDDDrrrrrrrrrr,,,,,,,,,,,Dddddddddddrrrrr....(Ponsel di dalam sakunya bergetar tanda ada sebuah pesan masuk).
Ghanes merogoh ponsel di saku celananya sebelah kiri depan.
"Gimana rasanya di ghibahin? Hahahhaaaa." ✔✔
Ghanes langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah selesai membaca pesan singkat dari Nathan di layar super amoled itu,
"Ciiihhhhh." Gerutunya kesal.
Tak pelak, semua orang yang ada di dalam ruangan serentak menoleh ke arah Ghanes mendengar decihan suara Ghanes yang tanpa Ghanes sadari ternyata suaranya begitu keras hingga semua orang memandangnya dengan tajam.
Pak Alan yang begitu mengenal anak perempuannya menatapnya dengan sedikit khawatir,
"Ada apa Nes? Ada masalahkah?"
Ghanes menutup mulutnya kaget dan malu setengah mati setelah tersadar memperhatikan sekelilingnya dan mendapati seluruh pasang mata sedang memperhatikan dirinya.
"Upppsss,,, hehhehehe ga ada kok pak, hanya orang iseng saja. Ga ada apa-apa."
Tiba tiba terdengar suara dari kakeknya Nathan,
"Asalamualaikumwarohmatullahiwabarokatuhu."
"Walaikumsalamwarohmatullahiwabarokatuhu."Jawab peserta rapat konferensi rencara pernikahan serempak.
"Karena silaturahmi ini sudah menemui jalan terang dan mendapatkan hasil tanggal yang sangat memuaskan, maka saya sebagai perwakilan dari pihak laki-laki juga sekaligus sebagai kakek dari calon mempelai, memohon ijin untuk kembali ke rumah, dan semoga dari pertemuan ini bisa menjadikan awal membangun silaturahmi yang lebih luas dengan terjalinnya pernikahan antara Nathan dan Ghanes. Aamiin."
"Selanjutnya kami sebagai orang tua hanya bisa memberi contoh dan dukungan yang baik kepada mereka berdua untuk bisa membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah."
"Aamiin." Serempak lagi peserta rapat dari kedua delegasi mengaminkan doa yang sungguh baik ini.
Author : Saya senyum senyum menuliskan beberapa kata2 sok intelek di atas 🤣
"Silahkan Pak." Lanjut kakek ini memprsilahkan kepada anggota keluarga Pak Alan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.
"Asalamualaikumwarohmatullahiwabarokatuhu."
"Walaikumsalamwarohmatullahiwabarokatuhu."
"Saya sebagai wakil dari pihak perempuan mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga mempelai laki-laki atas kesediannya berkunjung ke kediaman kami yang sangat sederhana ini, juga terimakasih atas pengambilan keputusan yang membahagiakan ini, kami juga berharap serta terus berdoa semoga pertemuan ini menjadi awal terjalinnya silaturahmi yang lebih erat antara kedua belah pihak."
"Selanjutnya, tentang persiapan pernikahan seperti yang sudah di bicarakan di awal, bahwa tidak akan ada pesta sesuai dengan permintaan kedua mempelai, tanpa ada tunangan, jadi langsung pada tanggal 25 bulan depan untuk melaksanakan ijab qobulnya."
"Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan pada pertemuan ini, mari kita akhiri dengan bacaan alfatihah bersama sama."
" بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ "
" اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ "
" الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ "
" مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ "
" اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ "
" اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ "
" صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ"
Serentak mereka mengusapkan kedua belah tangan mereka ke muka masing-masing, "Aamiin."
Keluarga Nathan mulai beranjak dari duduknya dan saling bersalaman dengan keluarga Ghanes berpamitan pulang.
Tiba pada Ghanes yang menyalami tangan calon mertuanya, ia di belai rambutnya dengan sangat lembut.
"Hati-hati di rumah ya, nanti kabar-kabar tentang proses surat-suratnya sama Nathan."
Ghanes tersenyum tersipu," Iya pak, saya akan selalu memberi kabar."
Tiba-tiba Nathan nyeletuk, "Halah pak pak, paling aku juga akan segera ke sini lagi kok, kan kebutuhan pernikahan itu surat-suratnya harus lengkap bukan? Ga usah lebay deh."
"Kamu apaan sih Than, masak sama calon anak sendiri di katakan lebay Than."
Ayahnya Nathan kemudian menoleh pada Pak Alan, "Maafkan kelakuan anak kami pak, dia memang begitu anaknya. Harap di maklumi ya."
Pak Alan malah terkekeh geli melihatnya, "Ga apa-apa pak, saya malah geli melihatnya karena anak kami pun sama konyolnya."
"Jodoh berarti ya."
"Nah itu dia. hahhahahahaahaa."
Pertemuan kali ini di akhiri dengan penuh kebahagiaaan dan semangat kebersamaan yang begitu tinggi.
Kedua belah pihak pun saling berdoa dan berharap agar pertemuan ini bisa menjadi jalan merajut silaturahmi menjadi sebuah keluarga besar.
.....................................
Hari-hari Ghanes selanjutnya di nikmati dengan kesibukan mengurusi beberapa surat sebagai syarat-syarat pernikahan. Karena ini pernikahan antar kabupaten maka juga membutuhkan SKCK dari polres setempat untuk pihak laki-laki karena pelaksanaan ijab qobul di laksanakan di tempat pihak perempuan.
Sedangkan pihak perempuan sendiri hanya perlu mempersiapkan beberapa hal saja, seperti suntik ** (Vaksin Tethanus) yang rasanya sungguh aduhai di lengan. Nyuuutt nyyuutttt merempel kaya habis di gigit zombie.
Ghanes sama sekali tak menemui kendala berarti selain satu hal yaitu ketika ia mau mendaftar ke KUA dan ternyata dibutuhkan surat nikah kedua orangtuanya karena akta lahirnya tidak ada.
Dan lucunya nama ibuknya Ghanes itu aliasnya atau namanya ada dua. Dasar orang jaman dulu bikin riweh saja.
__ADS_1
"Ini kenapa nama ibukmu ada dua ?" Tanya petugas KUA pada Ghanes.
"Ya mana saya tahu pak, kan waktu orangtua saya menikah, saya belum lahir pak, kok bapak malah nanya sama saya." Jawab Ghanes sedikit sewot.
"Hahhahahaahahaha iya juga ya, kenapa saya malah nanya sama kamu. Ya udah saya cari dulu di rekapan buku lama ya."
"jiiihhhh dasar ASN geblek." Maki Ghanes dalam hatinya.
Ghanes terdiam menunggu di kursi sambil menonton video youtube di ponselnya. Tak peduli dengan sekelilingnya yang lumayan ramai dengan orang-orang yang entah dengan kebutuhan apa.
Ada yang mau minta surat pengantar cerai, ada yang nyari rekapan pernikahan untuk orangtuanya juga, bahkan ada rame-rame yang ternyata adalah pendamping pengantin yang mau menyaksikan prosesi ijab qobul kawannya.
15 menit kemudian,
"Iya dek, ini ada kok, sekalian di benahi saja ya, ini yang mau di coret yang mana kira-kira?"
"Yang depan saja pak, karena nama yang belakang itu sesuai dengan KTP yang sekarang, daripada ribet gonta ganti kan."
"Okelah kalau begitu, ini tinggal bayar materai aja 6000, dan tanda tanga di atas materai ya, bahwa semua surat-surat dan keterangan dokter nya sudah lengkap semua. Nanti rapak nya tanggal 12 jam 10 pagi ya , di sini. "
"Baiklah pak."
"Di catat tanggalnya ya, jangan sampai lupa, karena surat keterangan rapak itu juga menjadi syarat pernikahan oleh negara, terkecuali kamu mau nikah siri saja."
"Dih,, ogah pak, kalau saya cuma mau nikah siri ngapain saya harus repot-repot ngurusin surat-surat beginian."
"Lagian kalau ada yang ngajakin nikah siri jangan mau dek, bahaya buat perempauan itu, karena kalau nanti ada hal buruk, ga bisa di tuntut atau di mintai pertanggungjawaban apalagi kalau lelakinya kabur." Kata Bapak petugas itu mengompori Ghanes.
"Akh saya bukan orang yang kaya begitu pak." Sela Nathan tiba-tiba dengan nada sedikit tidak senang.
Petugas itu hanya terkekeh melihat Nathan, "Hahhahaha mas, mas hampir semua laki-laki juga ngomong begitu ketika sedang bahagia, namun ketika mereka ada masalah bisa beda ceritanya mas, karena kebanyakan kasus permintaan cerai itu rata-rata dari pihak perempuan mas, ada yang selingkuh, ada yang suaminya kabur ga jelas, ga ada kabar, ga di kasih nafkah dll."
"Lha Bapak kan laki-laki juga pak."
"Lha kan saya bukan laki-laki seperti mereka mas. Hahhaahahaha."
"Lah , Sama !" Seru Nathan sedikit melototkan matanya ketika kata-katanya di copy paste sama bapaknya ini.
"Kan saya dah bilang dari tadi, laki-laki yang sedang bahagia rata-rata kalimatnya memang begitu, sekarang masnya baru percaya bukan?"
"Dih,,, apaaan sih." Nathan semakin sewot dengan pernyataan bapaknya yang ngajak berantem.
Tiba tiba,,,
"Nomor 38 silahkan ke loket 3." Suara dari pengeras di dalam ruangan itu.
"Eh !" Ghanes baru sadar jika ternyata loket 3 adalah tempat yang ia duduki ini. Ghanes bahkan tidak sadar jika urusannya sudah selesai sejak ia dan Nathan tanda tangan di atas materai.
"hehehehhe silahkan mas," Katanya menahan malu mempersilahkan seorang bapak-bapak yang membawa map merah di tangannya dengan wajah layu seperti bunga matahari tanpa bunga dan belum di sirami dari pagi.
"Makasih mbak, oh ya mbak, kalau mbaknya nikah nanti rumah tangganya di jaga dengan baik ya, jangan kaya saya mbak." Kata mas mas itu dengan lesu.
"Hehhehehe baik mas." Jawab Ghanes dengan sangat tidak enak hati melihat kondisi masnya ini yang terlihat sangat menyedihkan.
Ghanes segera menyingkir dari barisan di dalam ruangan tersebut dan bersama dengan Nathan segera menuju tempat parkir untuk pulang kembali ke rumah.
Karena masih banyak yang harus Ghanes kerjakan , apalagi jika melihat kondisi Bu Santi yang seperti itu, mau ga mau Ghanes harus turun gunung sendirian mengurus semua keperluannya.
Apalagi di tanggal 15 harus mengadakan selamatan 1000 harinya Susan, sudah pasti dalam satu bulan ini akan menjadi hari-hari yang sangat sibuk buat Ghanes.
Tak lupa ada Candra yang siap sedia menjadi tameng dari tenaganya Ghanes di rumah, karena anak ini selalu siap sedia dengan apapun yang d perintahnkan oleh nyonya ratu Ghanes Anjani.
..............
Di atas sepeda motornya Nathan hanya diam tidak banyak mulut seperti biasanya, begitu juga dengan Ghanes yang diam dengan segala pikiran di dalam kepalanya.
Tak berselang lama mereka sudah kembali sampai di rumah Ghanes dan seperti biasanya ngobrol sebentar di dalam ruang tamu.
Ada Pak Alan , Bu Santi dan Ghanes di sana, sedangkan Candra belum pulang dari tempat kerjanya.
"Gimana? lancar?" Tanya Pak Alan memecah suasana.
"Alhamdulilah lancar pak, tak ada kendala apapun." Jawab Nathan sopan.
"Iya lancar terkecuali nama ibuk tuh, kenapa namanya ada dua coba?" Tanya Ghanes gemas dengan orang tuanya.
"Loh , tapi kok bisa di dalam surat nikah?" Tanya Ghanes dengan penuh keheranan.
"Lha surat nikah itu kan cuma duplikat saja Nes, yang asli sudah hilang ga tau di mana, setahu bapak sih waktu pindahan rumah, surat nikahnya itu ga ada, jadi bikin duplikat itu." Akhirnya Pak Alan membuka suara.
Ghanes langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya, "Astagaaaa,,,,, kirain itu surat nikah yang asli, secara itu kan sudah lama sekali, ternyata duplikat toh. Hahahhaha."
"Ya namanya kan orang jaman dulu begitu Nes, pendataan penduduk belum selengkap sekarang, coba kamu cari data pernikahan kakek sama nenekmu pasti ga ada , dan ga akan di temukan di manapun." Lanjut Pak Alan.
Setelah berbincang bincang beberapa menit, Nathan pun segera berpamitan untuk pulang, karena waktu juga semakin beranjak sore.
"Pak, Buk, saya mohon ijin untuk kembali pulang, karena di rumah saya masih punya banyak tanggungan reparasi motor yang harus saya selesaikan dengan segera. Takutnya waktu ijab qobul ga bisa selesai, takut punya hutang sama orang lain pak."
"Oh, iya silahkan nak, hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut. ingat sudah hampir nikah biasanya banyak godaannya."
Kata Pak Alan menasehati.
"Siap pak, saya mengerti. Saya pamit dulu, asalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Setelah menyalami tangan Pak Alan dan Bu Santi, akhirnya Nathan pun segera menaiki sepeda motornya dan melajukannya pulang ke rumah.
Setelah Nathan pergi, Bu Santi bertanya tentang persiapan keuangannya pada Ghanes,
"Gimana uangmu ? Cukup Nes?"
"Akhh tenang aja buk, pasti cukup kok, lagian ga akan ngabisin puluhan juta juga , tennag aja , ga perlu khawatir tentang hal itu." Jawab Ghanes menenangkan Ibunya.
"Ya sudah kalau begitu, ibu minta maaf karena sebagai orang tua malah ga bisa membantu apapun termasuk membantu keuanganmu, kalau di pikir-pikir ibu sudah durhaka pada anak sendiri, kan seharusnya pernikahan anak itu masih menjadi tanggung jawab orang tua Nes. "
"Sudahlah Buk, jangan terlalu di pikirkan, kan kehidupan setiap manusia itu berbeda beda buk. Ga perlu berfikir yang aneh-aneh, stress tambah repot nanti."
Bu Santi hanya berdehem kecil sambil menarik nafas panjag dan membuangnya dengan keras. "hhhmmmmmmmmmmm..........."
9 Maret pukul 17:30
Senja di sore ini begitu cerah, burung-burung yang mulai bersembunyi ke dalam sarangnya terlihat bahagia karena perutnya sudah cukup kenyang hari ini, terkecuali burung hantu yang baru saja mulai bangun dari tidurnya.
Terlihat Pak Alan dan Candra sedang sibuk membuka buah kelapa tua yang berwarna cokelat dari sabutnya, rencananya mau di anter ke rumah kakeknya yang kemarin untuk membuat dodol, ga banyak sih hanya 25 biji saja untuk dodol 5kg. Ini kelapa milik sendiri yang di ambil dari kebun. Jadi persiapan pernikahan yang sederhana pun hanya di kerjakan sendiri, selain untuk menghemat biaya juga karena tak ada pesta .
Sedangkan Ghanes sedang mengirim sms pesanan ke pembuat kue, namun ini kue yang akan di gunakan untuk acara selamatan 1000 harinya Susan, bukan untuk pernikahannya Ghanes.
Karena untuk pernikahan, masih cukup lama, jadi dipikirkan lagi belakangan.
Tiba-tiba .....
Dddrrrrrrrrrtttttttttt,,,,,,,,,,,,,,dddddddddddddrrrrrrrrrrtttttttttt
Ada pesan WA masuk ke ponselnya.
"Nda, aku rasa kita sampai sini aja nda ya, aku merasa ga sanggup nda buat nerusin."✔✔
Ghanes yang masih sibuk dengan pesanannya masih ga ngeh dengan kalimat yang baru saja di bacanya.
Baru 5 menit kemudian,
"Hah, apa ini maksudnya, ada-ada aja dech." Gumam Ghanes perlahan.
"Kamu ngomong apa Than? ngomong yang jelas donk, ada apa? Salah kirim?" ✔✔
"Ga , aku ga salah kirim kok."✔✔
Ghanes yang di penuhi rasa penasaran langsung memencet tombol call pada kontak Nathan namun di tolak terus menerus.
❌ Outgoing Rejected
❌ Outgoing Rejected
__ADS_1
❌ Outgoing Rejected
❌ Outgoing Rejected
"Hei kenapa di tolak? kamu sibuk atau emang ga mau ngomong?"✔✔
"Ga usah telpon deh nda, aku rasa ga ada hal yang harus di bahas, karena kalimatku di atas sudah sangat jelas, bahwa aku ga bisa ngelanjutin hubungan kita nda, ga sanggup aku." ✔✔
"Oke kalau begitu, sekarang aku hanya ingin tau apa alasan kamu yang membuat kamu merasa ga sanggup dan ga mau melanjutkan."✔✔
"Penting ya?" ✔✔
"Ya jelas pentinglah, biar kalau aku di tanya orangtuaku atau keluargaku aku bisa jelasin."✔✔
*"Aku merasa ga bisa dan ga sanggup kalau harus di minta untuk ngurusin orangtuamu, lha orang tuaku sendiri aja belum aku urusin kok tiba-tiba aku di minta ngurusin orangtuamu. Aku ga sanggup." **✔✔*
* "Lha kan Bapakku ga minta sekarang Than, nanti kalau orang tua sudah tua, lagian orangtuaku sekarang kan masih sehat toh."**✔✔*
*"Intinya aku ga mau ngelanjutin, dan alasannya juga sudah aku kasih tau bukan? Apalagi?"**✔✔*
* "Oke, oke kalau itu yang kamu mau, setidaknya datanglah kemari dengan orangtuamu untuk meminta maaf karena memutuskan hubungan ini, datang dengan baik-baik maka pulang juga harus baik bukan?"**✔✔*
*"Aku rasa ga perlu nda, orangtuaku ga perlu lah ke sana, buat apa juga. Toh semuanya sudah jelas bukan?!"**✔✔*
* "Oh, jadi kamu ga ada rencana ke rumahku untuk mengembalikan pembicaraan?" **✔✔*
*"Ga."**✔✔*
* "Oke , ya sudah terimakasih atas semua yang telah kamu berikan. Tunggu masih ada beberapa barangmu yang kemarin ketinggalan disini, ntar biar aku paketin aja ke rumahmu."**✔✔*
"Ga usahlah\, barang itu simpan saja untuk kenang-kenanganmu\, juga termasuk kaos HBD itu simpanlah\, setidaknya kaos itu lumayan lo harganya buat kenang-kenangan kamu."******✔✔***
* "Hahhahahahaha kamu bilang mahal??????? kamu tau ga jika celana dan kaos yang kamu pake sebagai baju ganti kemarin itu harganya berkali kali lipat lebih mahal daripada kaosmu 1 biji itu, oh ya power bank yang kamu bawa itu juga mahal lo, aku belinya 500 ribu, jika kamu pingin hitung-hitungan."**✔✔*
"Ya sudah, ga usah di bahas, intinya barang-barangku biar di situ saja , buat kenang-kenangan kamu ya, aku harap kita tetep baik-baik saja, setidaknya sebagai teman." ✔✔
"Jangan berharap berlebihan dari itu, sekali lagi terima kasih." ✔✔
Ghanes dengan muka yang sangat pias buru-buru ke teras belakang ke tempat ayahnya dan Candra mengumpulkan kelapa yang mau di anterin ke rumah kakeknya.
"Pak, ga usah di lanjutin pak, karena aku ga jadi menikah."
Pak Alan dengan muka kaget melongo kaya orang bego dalam sedetik, du detik, lalu kemudian....
"Hah??? Ga jadi gimana maksudnya?"
Candra pun dengan segera menghentikan aktifitasnya dan duduk di kursi kecil di sebelahnya.
"Ya ga jadi pak, pernikahannya di batalkan."
"Siapa yang mbatalin? Kenapa ? Kamu bertengkar? Kan bisa di selesaikan dengan baik-baik An."
"Bukan bertengkar pak, tapi Nathan membatalkan pernikahannya , jadi ya ga jdi, intinya itu dech."
Jawab Ghanes dengan muka tanpa ekspresi.
"lha kenapa ga jadi? alasannya apa?" Tanya Pak Alan masih dengan nada tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar dari mulut anak perempuannya itu.
"Katanya karena ga mau ngurusin bapak sama ibuk, kok belum nikah aja udah di suruh ngurusin orang tua, padahal orangtuanya aja belum di urusin kok di suruh ngurusin orang tuanya orang lain, gitu katanya."
"Lah tapi kan ga sekarang An." Kata Pak Alan membela diri.
"Terus mereka kapan kesini?" Lanjutnya.
"Mereka ga akan ke sini pak."
"Loh kok gitu?"
"Ya,,, begitu dech. hehehee sudahlah,,,, ga jadi ya ga jadi pak, intinya ga usah di lanjutin ya. bikin capek aja."
Lalu Ghanes kembali ke dalam rumah menyibukan dirinya dengan persiapan belanja untuk acara seribu harinya Susan.
"Persetan gua dengan bajingan-bajingan itu, ada-ada aja dech, siapa yang ngajakin nikah, siapa pula yang mbatalin, dasar ga ada etika sama sekali,sampah !" Gerutunya di dalam kamar sembari melipat baju serta celananya Nathan dan rencananya mau di paket atau di titipin ke rumahnya Anggi kalau Ghanes ada waktu buat keluar.
Bayangan-bayangan kelam yang baru saja beranjak pergi kini kembali menaungi kepalanya, bagaimana bisa ia percaya dengan manusia ketika manusia itu sama busuknya, yang kelihatan baik priyayi pun bahkan bisa mempermalukan keluarganya hingga seperti ini.
Bahkan Ghanes harus berfikir keras jawaban apa yang akan ia berikan nanti ketika acara seribu hari nya Susan, ketika di tanya tentang pernikahannya ini. Dan Ghanes pun terlalu khawatir dengan kondisi mental ibunya yang harus menanggung malu karena anak perempuannya tidak jadi menikah.
Jawaban apa yang harus ia berikan kepada mereka.
"Bajingan !" Gerutunya berkali kali sambil terus menyibukkan diri. Karena Ghanes tak mau lagi mengulangi kebodohannya yang dulu yaitu dengan menyayat pergelangan tangannya ketika ia stress sehari setelah ia menghilangkan anaknya.
"Kalau gua mati, mungkin bapak ibuku akan ikutan mati juga karena stress kehilangan kedua anaknya, please Nes jangan goblok, jangan goblok, jangan goblok ! Cari kesibukan sebanyak banyaknya, jangan membodohkan dirimu karena manusia manusia bajingan itu." Omelnya terus menerus sambil menepuk nepuk jidatnya sendiri yang lebar seperti lapangan bola pingpong.
"Jangan goblok !" Plakkk ! Plakkk ! Plakkk ! Ghanes menepuk jidatnya dengan sangat keras hingga membekas warna kemerahan.
Tiba-tiba di luar kamar terdengar suara ibu da ayahnya yang sedang berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain.
"Gara-gara kamu sih pak, belum-belum udah minta di urusin kaya orang udah ga bisa gerak aja, padahal kamu kan masih sehat pak, aku yang sakit aja ga pernah minta di urusin kok. "
"Lah kok gara-gara aku sih, kan emang begitu kenyataannya, emang kamu mau kalau nanti rumah ini kosong ga ada yang nempatin ? Katamu kasian Anes yang sudah susah-susah ngebangun."
"Intinya kita harus ke sana secepatnya."
Lanjut Pak Alan di tengah-tengah perdebatannya dengan istrinya.
"Apa-apaan sih kalian kok malah bertengkar ge jelas begitu?" Tiba-tiba Ghanes berteriak cukup keras setelah keluar dari dalam kamarnya.
"Kita harus ke sana An." Kata Pak Alan panik.
"Buat apa Pak? BIkin malu aja, orang keluarga dari sana aja ga ada yang punya niatan untuk kemari kok."
"Intinya kita harus ke sana."
"Aku bilang ga usah ya ga usah pak, kenapa sih susah amat di bilangin?! Ga ga pak kalau aku hamil !" Kata Ghanes dengan berteriak saking jengkelnya.
Udah otaknya sendiri keg mau kebakar, malah orangtuanya pake bertengkar pula. Astagaaaaa cobaan apalagi ini.
Tiba-tiba Candra yang sedari tadi diam saja meraih kepalanya Anes dari samping,
"Sudahlah mbak,,,,, ngadem-ngadem dulu kemana keg gitu..... Dan buat kalian bapak sama ibuk,, tolonglah jangan memperkeruh suasana, ngapain harus bertengkar segala, kalian itu yang seharusnya meredam suasana hatinya mbak Anes, bukan malah bikin pusing."
"Oh ya sudah kalau begitu, ga usah ke sana ya ga usah, asalkan kamu baik-baik saja."
Kata Pak Alan kemudian.
.
.
..
.
..
.
.
.
.
Author : Itulah hidup. Hidup penuh dengan misteri yang seringkali di luar jangkauan manusia untuk memikirkannya.💕💕💕
.
.
.
.
__ADS_1
.
.