
"Hai sayank." Sapa Anes ketika ponsel nya berhenti tat tut tat tut tanda panggilannya di angkat oleh bocilnya tercinta yaitu Candra.
"Jiihhh mbak,, kesambet apaan mbak ? Ga habis nyimeng kan mbak?" Jawab dan Tanya Andra geli mendengar suara kakanya.
"Sehat yank ?"
"Mbak Anes tuh yang stress. Menjijikkan mbak sumpah. Hiiiii." Jawab Andra bergidik ngeri.
Candra benar benar heran dengan kelakuan kakak perempuan satu satunya ini, ga biasanya dia bersikap genit menjijikkan begitu. Meskipun itu dengan teman laki lakinya sekalipun.
"Kenapa Ndra ? Ga pantes ya ?"
"Iihhh jijik akhh mbak, ada apa sih ? Kerasukan setan mana?"
"Hahahahhaha anjjriit dikata gua kerasukan pulak, ya.. gua kan lagi nyoba nyoba Ndra, nyoba jadi cewek beneran gitu lo. xixixixixi."
"Emang selama ini Mbak Anes pernah operasi kelamin Mbak? Ada ada aja deh."
"Yee ! ya Ga lah Ndra, tapi kan sapa tau dengan Mbak jadi lemah lembut begitu jadi gampang dapetin pacar hahahahaa."
"Tapi Mbak, gua yang laki laki malah jijik dengernya suer dah. Jijik."
"Akhh mungkin lu aja jadi laki laki ga normal Ndra, buktinya di sini banyak kok laki laki yang suka dengan cewek model begitu."
"Tapi tidak denganmu Mbak, sudahlah ga perlu berubah menjadi menjijikkan begitu . Buat apa sih ?" Tanya Andra sekaligus ga rela jika kaka nya berubah tidak sepeeti yang ia kenal biasanya.
"Kenapa jadi begitu mbak ? karena tuntutan dari pacarmu ?" Tanya Andra kemudian.
"Pacar mana ? "
"Lha pacarmu lah."
"Dah putus. Jawab Anes singkat.
"Ooo... jadi diputusin nih, akhirnya mbak jadi aneh begitu ?" Ejek Andra pada kaka nya.
"Jiihhh ga lah, gua yang mutusin. Mana ada cewek se cantik ini di putusin lebih dulu,gengsin donk.."
"Heleh,,, ga percaya aku mbak. hahahahhahaa." Sangkal Andra masih dengan tertawa menghina.
"Ya udah kalau lu ga percaya, ganti saudara aja apa gimana?" Ancam Anes menyunggingkan senyum smirkh nya.
"Heleh , beraninya ngancem ngancem mbak, mbak. Cemen."
"Biarin. hahahahaha" Tawa Anes penuh kemenangan.
Keluarga kembali, kembali ke habitat, kembali ke kehidupan nyata. Bukan angan angan tak jelas .
__ADS_1
Angan angannya yang tinggi, berharap untuk mendapatkan cinta manusia, perlahan lahan di kuburnya dalam , semakin dalam semakin dalam.
Satu persatu di ingatnya dosa dosanya yang sering ia lakukan dulu, dari main main , bersenda gurau berlebihan yang seakan akan tak bisa mendapatkan kesedihan.
Di ingatnya pula ketika ia baru saja lulus SMK, di tengah malam, pulang dari merayakan malam pergantian tahun, ia tak pulang ke kost namun malah balap motor hingga hampir menewaskan Dyaz temen nya kala itu .
Bahkan jika di ceritakan, Dyaz akan selalu bilang : "Itu adalah kelakuan tergila gua."
Dyaz dan Anes bukan teman satu sekolah, Namun Dyaz adalah satu angkatan di atasnya yang rumahnya tak jauh dari tempat kost nya Anes dulu.
Klub Motor, adalah yang mengenalkan mereka, karena senior di klub itu adalah kaka sepupunya Dyaz. Dan kenapa bisa kenal Anes ?
Karena kaka sepupunya Dyaz dulu sempat naksir ma Anes, meskipun akhirnya mereka hanya sebatas adik kaka an saja, karena hubungan kekeluargaan yang terlalu dekat kakak sepupunya Dyaz ga tega untuk merusak hubungan baik itu.
Katanya :
"Biarlah kita jadi keluarga yang seperti ini, jika kamu jadi adikku , maka aku akan pasang badan untukmu, namun aku membebaskanmu untuk melangkah kemanapun, masa depanmu masih sangat panjang, jadi aku ga mau menjadi penghalang masa depanmu itu."
Ya,,, laki laki itu terpaut umurnya cukup jauh dari Anes . ada hampir 13 tahun lebih tua.
Jadi Anes pun memaklumi jika kaka nya itu memilih jalan lain yaitu menjadikan Anes sebagai adik perempuannya.
Anes ingat pula ketika kelas tiga SMP dia sudah belajar menghisap rokok, karena ke tomboyannya itu yang melatihnya bergaul dengan kaum Adam, hingga teman teman Susan dan Candra pun memperlakukan Anes sebagai laki laki pada umumnya.
Dimana ketika sangat suka menjaili teman adam nya , sekedar malakin uang jajan, atau malakin peralatan sekolah.
Atau bisa juga ada hati hati yang tersakiti karena kelakuan buruknya waktu itu.
Bukankah doa doa orang yang teraniaya itu di kabulkan Tuhan?
Hingga Anes mulai menghubung hubungkan antara hal hal buruk yang telah di perbuatnya itu dengan yang di alaminya saat ini.
"Apakah Kau marah padaku?" Tanya Anes menengadahkan mukanya pada plafon yang warna putihnya mulai memudar, seperti gigi yang setahun ga di sikati.
Namun "Ccckkk ccckkkk cckkkk" Malah suara cicak yang menyahutinya berbicara.
"Sialan ! Babi ! Napa lu ikut berisik ? gua sobek sobek mulut lu.!" Kata Anes sambil melempari cicak yang nemplok di dinding dengan kacang kapri yang di pegang nya.
Plettaaakkk !! Kacang berbalik arah tepat mengenai ujung hidungnya.
"Astagaaa..... masak gua sama cicak sialan aja berdosa sih ?"
Umpatnya semakin jengkel karena kacang seupil pun ga bisa berkompromi dengan hatinya.
"Tuhan memang Maha cerdas, segitu kerasnya Dia menggamparku, hingga aku tak berkutik, segitu keras Dia marah padaku, hingga di hancurkan semuanya."
"Hhhmmmggh.... baiklah,,, jika ini memang jalan yang dipilihkan untukku sekarang, maka aku nurut saja pada komandan."
__ADS_1
Gumaman demi gumaman masih di lanjutkannya sampai bungkus kacang kapri yang di tangannya tinggal remah remah kecil kulitnya saja.
Jemarinya sedikit berwarna kehijauan dengan butiran butiran halus micin dan garam.
Anes tersenyum jahat,
"Ini dia yang bikin gua cerdas, xixixi."
Lalu memasukkan jari jemarinya ke dalam mulut satu persatu.
"Memang ya,,, tetap Tuhan itu Maha baik, memberikan kenikmatan micin yang tiada duanya."
Di longoknya bulatan G-shock di pergelangan tangan kirinya,
"Et dah,, jam setengah 11 ? Gua belum mandi pulak, hadaawwhh.... untung gua ga kesambet terus terusan ngomel sendirian. Haiisshh.."
Secepat kilat ia turun dari ranjang, dan menyambar handuk di gantungan.
Sampai di kamar mandi, setelah tubuhnya basah dengan air shower ,
"Ya Ampuunn,,, ni otak gua isinya apaan sih ? Alamat pakai baju kotor lagi,,, hhaiisshh..."
Dia lupa tak membawa baju ganti.
Akhirnya keluar dengan baju yang baru saja ia pakai seharian untuk keluar dari kamar mandi .
Dia mengganti bajunya setelah masuk ke dalam kamar kembali.
Menyempatkan diri untuk laporan dulu sama Tuhan yaitu isya' dan di akhiri dengan witir untuk mengakhiri harinya hari ini.
"Jangan gampar saya lagi ya Rabbku, saya janji saya berubah, Janji."
Ucapnya di akhir pertemuannya dengan Rabb nya,
Seperti janji anak kecil yang membuat kesalahan pada Ayahnya.
Mirip janji seorang pacar yang telat menjemput wanitanya.
Berharap esok hari akan baik baik saja.
.
.
.
.
__ADS_1
.