
Setelah semua baik baik saja, sakit yang di alami kian membaik, Anes dengan kesehariannya yang begitu gitu aja (Jadi author ga usah tulisin lagi ya... jahahhahanhaa) . Membosankan sekali. Bangun pagi langsung cuci muka gosok gigi doank tanpa mandi. Ingat ya ... tanpa mandi.
Lalu kerja, kerjanya ya di rumah aja ga kemana mana, hingga sore baru keluar jalan jalan dengan kursi rodanya Papa.
Apa yang istimewa dari semua itu ? Ga ada.
Hanya gaji nya saja yang besar jika di rupiahkan.
Pelangi... di seberang rencana aku berdiri
Ddrrrtttt ...dddrrrtttt ...dddrrtttt....
Pelangi....rengkuh aku di relung hati
Dddrrrtttt....dddrrrrtttt..dddrrrrttt...
"Eh,, nomor siapa nih ?" Tanya Anes meraih handphone nya ketika melihat nomor baru yang muncul disana.
"Wei... (hallo)" Sapa Anes setelah memencet tombol hijau di sebelah kanan.
"Asalamualaikum." Sapa orang di seberang bumi.
"Siapa nih ? mo cari siapa? mo ngapain?" Tanya Anes ketus.
"Akhh masak lupa ? aku ." Kata orang itu lagi.
"Iya kamu, kamu siapa nyet, mbulet aja dari tadi." Jawab Anes bersungut sungut.
"Siapa lagi orang yang kamu panggil Ayah ?" Kata orang itu sekalian bertanya atau entah apa. Bahasa dan intonasi yang ambigu.
"oohhhhh elu Mbang, kirain sapa ? Dimana lu ? kok nomormu nomor sini ? udah nyampek?" berondong Anes tanpa jeda.
"Kabarnya gimana? sehat kan ? Aku udah beberaoa bulan juga kok. Kalau ga salah jeda 1 bulan setelah kamu berangkat, aku juga berangkat, aku Di kota CH. Lha kamu?" Jawab Ayah yang lain adalah Didim si manusia elien.
"Aku ada di kota TY." jawab Anes singkat.
"Duh jutekmu masih aja ada ya. Ga ilang ilang. Bisa libur ga ?" Tanya nya lagi.
"Belum sih Yah, ntar aja kalau gua dah dapet 7 bulan ke atas, baru aku mau ambil libur." Kata Anes menjelaskan.
"Kenapa Emang?" Tanya Anes lagi.
"Ga ada. cuma siapa tau kita bisa ketemu. Meskipun jauh juga. Naik kereta juga butuh waktu 2jam setengah kan?!" Jawab Didim di ujung telephon sana.
"oohh kirain mau ngapain. Emang lu ga kerja ? kok bisa tlp nan?" Tanya Anes lagi.
"Kerja lah.. ni lagi kerja aku. Sambil mainan sih. Ternyata kerjaan di sini santai ya, daripada di negara M, beeuuhhh tau gitu dari dulu gua kesini. hahahaa." Jawab Didim sambil curhat.
"Emang dulu di negara M capek?" Tanya Anes.
"Capeklah , kalau di bandingin sama sini ya jauh, mana gajinya cuma sepertiga dari sini pulak." Jawab Didim lagi.
"Gua dulu tuh sama itu tuh yang nama Fb nya Negak Ciu, Asoy Alay, Rezek ( jawa: Sampah ). Kan mereka temen Fb mu juga kan?"Kata Didim lagi.
"Mereka temen temen kamu ?"Tanya Anes
__ADS_1
"Bukan cuma temen, tapi tetangga. Satu Desa."
Jelas Didim detail.
"Waaahhh jangan jangan...." Anes berandai andai.
"Jangan jangan apaan?!" Tanya Didim.
"Mereka punya anak juga?" Tanya Anes ambigu.
"Maksudnya juga ?apaan?!!" Tanya Didim sedikit keras.
"Bhahahahahahaha ... !!! nah kan takut ketahuan kan... " Kata Anes sambil tertawa terbahak bahak.
"Eh cewek gilak ! Dah gua bilang, gua single, belum punya anak dan belum menikah, pacar aja ga punya gimana mau nikah, diihh." Kata Didim dengan nada semakin tinggi.
"Dah tau gila, kenapa di telpon ?" Tanya Anes sinis .
"Nyari temen ngobrol,, weeeee... emang lu kira apaan?" Balas Didim.
"Ya udah, nih telpon perlu di matiin ga? gua lagi kerja soalnya." Kata Anes.
"Ga usah, jangan di matiin pokoknya, temenin gua kerja, Lu sambil kerja juga ga pa pa kok, asal Gua tau ada temennya aja." Jawab Difim menolak.
"Diihhh cowok kok lebay letoy." Jawab Anes ngedumel.
Suara kluntang klunting di ujung telpon sana dan ujung telpon sini berdentingan di headset masing masing.
Karena mereka menggunakan headset bluetooth jadi sama sekali tidak mengganggu segala aktifitas mereka .
sssrrrtkkkkk ssrsrrtkkkkk ssrrrrrrkkkk.....
"Jahahahahaa suara plastik, Budeg ya telingamu ? xixixixixixi." Kata Anes cekikikan.
"Eh ga usah ketawa, sakit ni telinga." kata Didim sewot.
"Tadi kan dah kubilang aku kerja, sapa suruh ga boleh di matiin?" Kata Anes membela diri.
"Akkhh ya sudahlah... cepet kelarin urusan plastik itu. Bisa budeg beneran nih telinga."
Seru Didim lagi.
"Eh Yah, btw lu di pabrik apa sih yah?" Tanya Anes.
"Di pabrik baut. Kenapa?"
"Ga napa napa sih. Kalau di pabrik makanan atau baju gitu kan gua bisa minta. ya ga sih ? hahahahaa." Jawab Anes ketawa.
"Wooo dasar politik PKI." Jawab Didim gemas.
"Eh yah, awas lu ngomong ngomong kaya gitu masuk penjara lu, dikira beneran." Ucap Anes menakut nakuti.
"Akkk indonesia kadamg terlalu lebay. Maling ayam di penjara, giliran koruptor di biarain berkelana, jalan jalan ke luar negeri , naik jet pribadi, apalah kita nasibnya jadi TKI."
"Jahahahaha kenapa larinya ke sono Yah ? Kenapa ga lu aja yang jadi presiden?" Tanya Anes.
__ADS_1
"Niatnya sih begitu, pingin jadi presiden, tapi gua ga punya duit buat kampanye."
"Jahahahahhahahahahhaha" Tawa Anes dan Didim bersamaan.
Setelah hari itu, mereka setiap hari bersua telpon, ga ada apa apa, hanya sekedar ngobrol dan membicarakan lagu lagu kesukaan mereka.
Mendengarkan music bersama sambil bekerja.
Ataupun nggibahin temen Facebook mereka.
Saling curhat kegoblokan mereka ketika berada di rumah bersama keluarga.
Anes juga bercerita tentang kakak laki laki satu satunya Susan yang terkadang Geblek namun sangat perhatian.
Juga Adik laki lakinya yang Cuex namun sangat rajin.
Didim pun melakukan hal yang sama , bercerita bahwa ia adalah anak laki laki terakhir karena adiknya adalah perempuan yang masih duduk di bangku SMA .
"Eh Nes, itu Adikmu kapan berangkat Nes?"Tanya Didim suatu ketika saat mereka melakukan rutinitasnya di kabel telpon.
"Adik siapa? Aya?" Tanya Anes.
"ya dia. Siapa lagi." Jawab Didim.
"Ga tau sih, Gua jarang hubungin dia soalnya, paling cuma Sms lewat WA atau inbok. Mau telpon pake internet paket data di indonesia mahal, sedangkan kalau telpon GSM , Pulsa dari sini yang mahal." Jawab Anes.
"Iya juga sih, aku juga hubungan sama keluarga cuma lewat chat, kalau penting banget barulah telpon. Sama sama ga di untungkan soalnya."
Jawab Didim membenarkan.
"Naahhh itu kamu tau kan. Ntar dikira kita ga perhatian. Padahal bukan begitu juga. Seringkali orang orang yang di indonesia itu ga ngerti berapa biaya yang harus di keluarkan untuk panggilan luar negeri." Jawab Anes menambahkan.
Hari berganti minggu berubah Bulan dilalui mereka dengan rutinitasnya .
Rencana dan keinginan mereka untuk liburan bersama belum juga terlaksana.
Karena Anes masih menunggu waktu ke 7 bulannya di tempat itu.
Sekalian di bulan ke 8 bertepatan dengan hari raya idhul fitri.
Jadi itu mau di gunakan Anes sebagai alasan untuk mengambil cuti.
Dan selanjutnya tiap bulan sekali.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.