
Pletak...!!!!!!
Bunyi terdengar begitu keras di telinga Anes ketika sentilan di kepala Anes mendarat sempurna. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Bu Santi ibuk tercintanya Anes.
"Kemana aja?"
Anes memegang kepalanya bekas jitakan ibunya sambil meringis. "Hehehe liatin gunung ***** ."
Ibunya sudah bersiap angkat jarinya kembali untuk di daratkan di kepalanya Anes namun di cegah oleh Pak Alan.
"Sudahlah Buk, ngapain sih ? Kan Ghanes sudah dewasa, jangan di perlakukan seperti anak kecil donk buk, biarin aja, toh dia sudah mampu bertanggung jawab dengan hidupnya snediri bukan?"
Ghanes memberi acungan dua jempol pada ayahnya. "Nah, bener itu bapak."
"Terus aja di belain, biasanya dulu juga bapak yang galak, kok sekarang bapak jadi lembek begitu pak." Bu Santi menggerutu lalu berjalan pergi masih dengan tertatih tatih.
Pak Alan mengekori istrinya dari belakang sembari menjawab. " Lha kan sekarang mereka sudah pada dewasa buk, mereka bukan anak kecil lagi kaya kemaren lo, biarkan mereka mengeksplore dunia, asalkan mampu bertanggung jawab dan tau segala resikonya atas segala pilihannya itu."
ddddddttrrrrrrrttttt,,,,,,,,, dddrrrttttttttt..........
"Halo?"
"Gimana? Kamu udah masuk rumah belum nda?"
"Udah, barusan, kenapa dan ada apa?"
"Ga ada apa apa sih? cuma ngecek kondisi kamu aja, di marahin ga?"
"Ga kok biasa aja, btw kamu lagi dimana? emang udah nyampek rumah? pasti belum donk."
"Ya belum, ini aku lagi istirahat di Pom bensin, ngisi amunisi sekalian istirahat bentar."
"owwhh,,, ya udah matiin gih, aku mau mandi dulu, bye." Tanpa pamitan lagi Anes langsung melempar ponselnya ke atas kasur di kamarnya , sayup sayup masih terdengar perdebatan antara ibu dan ayahnya yang memperdebatkan bagaimana caranya menasehati anak anaknya yang saat ini sudah dewasa semua.
Sambil mengalungkan handuk krem muda di pundaknya, Anes menggerutu dalam langkah kakinya menuju kamar mandi 2x3m berdingding keramik biru langit dengan corak hexagonal favorit ayahnya.
"cxcxccxcx ada ada aja ni orang dari dulu sama sekali belum berubah ya, sehat dikit kaya anjing ma kucing, tapi kalau ada yang sakit salah satu, udah kelabakan kaya ayam mau bertelor,,, hedeeewwwwwwwhhh orang tua orang tua. Cxcxcxcx."
"Woooeeee mbak !, Di dalam kamar mandi jangan bicara sendiri, banyak setannya tuh, kesambet mampus kau. Kebiasaan!" Brrrooooookkkkk!!!!! Broookkkkk!!!!! Brookkkkk!!!!!!
Terdengar teriakan dari luar kamar mandi dan suara gedoran pintu yang sangat keras.
Tak lain dan tak bukan adalah Candra sang adik laki laki satu satunya yang entah mengapa saat ini Anes merasa Candra lebih posesif terhadap dirinya, sangat jauh berbeda ketika Susan ,masih ada.
** Cep. **
Anes pun seketika terdiam menyadari kesalahannya ini.
"hiiiiiiiii........"
Air sedingin suhu di dalam kulkas, Bbbbbrrrrrrrrr ...... Jangan bermimpi ada air hangat yang tiba tiba mucul dari dalam keran, karena ini bukan cerita dongeng juga bukan cerita khayalan para pemimpi yang telat bangun di pagi hari. Tapi ini kenyataan yang ada pada kehidupan orang orang menengah ke bawah bahkan cenderung miskin.
10 menit adalah waktu yang sangat cukup sekedar untuk membasuh sisa sisa daki yang menempel di atas kulit eksotis wanita indonesia. Tak perlu luluran dengan segala macam skincare yang ber embel embel Whitening, buat apa? Toh kenyatannya kulit wanita indonesia adalah cantik eksotis, apakah cantik harus putih? Tentu tidak bukan?
Yang masih bilang begitu adalah orang orang yang masih berada pada pemikiran kolonial yang mengistimewakan manusia berkulit putih. Bukankah manusia adalah sama, di ciptakan sesuai dengan keindahan dan keistimewaan masing masing?
"Mbak, mbak, kau ini manusia apa bebek?" Seloroh Candra melihat kakaknya keluar dari dalam kamar mandi dengan begitu cepat.
Anes menyungnggingkan senyumnya di sudut bibir sebelah kanan , terlihat sangat sadis danpenuh ejekan. "Emang elu, yang mandi keg tenggelam di kali?"
"Pantesan aja jomblo." Ejek Candra lagi.
Anes tak peduli dan ngeloyor pergi berjalan menuju kamarnya kembali.
"Sesama jomblo dilarang saling hina." Jawabnya setengah berteriak.
............................
Satu minggu kemudian...........
Ghanes yang telah mempersiapkan satu tas persiapan untuk perjalanan ke Bali, senyum senyum membayangkan indahnya tol mandara benoa yang akan di lewatinya menuju pantai pandawa nanti.
Tol indah yang di bangun di atas sebuah teluk benoa yang menghubungkan segitiga emas antara Ngurah Rai, Benoa, dan Nusa Dua di resmikan oleh presiden indonesia yang ke 6 yaitu Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 september 2013 lalu.
Tentu saja tol ini semakin mempermudah mobilitas warga serta mempercantik kotanya, meskipun di atas pembangunan selalu saja ada dampak negatif yang di timbulkannya. Tinggal kita mencari solusi terbaik atas dampak yang di timbulkan tersebut.
Sumber : TanjungbenoaBali.com
"Berangkat jam berapa?" Tanya Pak Alan
"Nanti pak jam 4 sore katanya."
"Dijemput berapa orang?"
Ghanes tersenyum mendengar pertanyaan dari ayahnya, yang terdengar sedang mengkhawatirkan anak perempuannya yang baru saja pulang setelah beberapa tahun tidak bertemu.
Sembari menyunggingkan senyumnya Ghanes menjawab , "Ya satu orang dong pak, kan hanya Anes saja yang di jemput , lagian juga naik motor kok, bukan bawa truk."
Pak Alan masih berdiri di depan pintu kamar Ghanes memperhatikan Anes yang sedang memasukkan beberapa lembar baju gantinya ke dalam ransel hijau miliknya. Bukan sebuah ransel yang besar, hanya ransel seukuran 30L saja, karena rencana di Bali juga cuma 2 hari , yang lama adalah perjalananya, karena road menggunakan motor bukan dengan jet pribadi. heheheee,,,
"Ooohh,,,, Ya sudah." Katanya kemudian.
"Biasa aja donk pak, ga usah begitu ekspresinya, khawatir boleh, tapi jangan keseringan berfikir negatif, nanti uban tambah banyak pak. hehehhehe". Seloroh Ghanes menggoda ayahnya yang dari raut mukanya sangat memperlihatkan bahwa ia sedang khawatir.
Wajar saja sih, karena dari ketiga anaknya satupun belum pernah ada yang punya hoby touring mirip anak perempuannya ini. Apalagi touring yang sampai ke luar pulau, karena selama ini jika Anes touring masih di dalam pulau jawa , Pak Alan tak pernah banyak tanya seperti saat ini.
"Ya sudah, yang penting kamu hati hati, ga usah aneh aneh, kalau jalan ga usah ngebut juga."
"Hehehehehe tenang aja Pak, Anes tau kok pak."
Tiba tiba dari halaman rumah terdengar suara deru motor, yang jika di dengar dari suaranya siapapun tau bahwa itu bukan motor bebek.
"Mbaakkkkk !!!!!" Suara Candra menggelegar memanggil Ghanes yang dengan segera beranjak keluar dari dalam kamar, dan di ikuti oleh Pak Alan yang mengekori Anes dari belakang.
"Ya,, ya,,, ya,,,, berisik lu Ndra." Sambut Ghanes sambil menepiskan tangan kanannya ke arah Candra ketika Anes berjalan melewatinya.
"Asalamualaikum....... "
"Walaikumsalam Nathan, masuk Than." Sambut Ghanes mempersilahkan Nathan masuk dan duduk di kursi kayu panjang pucat tanpa cat dan pernis.
Kursi dari kayu sengon laut yang di buat sendiri oleh Pak Alan ketika Ghanes masih duduk di bangku kelas 5 SD. Awet hingga sekarang meskipun sudah ada coak di beberapa bagian karena usang di makan usia, apalgi di rumah Ghanes yang kelembapan udaranya jauh lebih tinggi dari udara di perkotaan pada umumnya.
Ya, sebenarnya Pak Alan dahulu adalah tukang kayu sekaligus Tukang Batu (bangunan). Namun karena mata Pak Alan yang minus akhirnya Pak Alan memilih meninggalkan profesinya karena sangat berbahaya. Bagaimana tidak bahaya , jika pada kenyataannya meskipun Pak Alan sudah memakai kacamata minus pun Pak Alan masih kesusahan membuat garis lurus, Kalau hal ini terjadi pada tukang bangunan maka akan sangat berbahaya pada proses pembangunan sebuah bangunan. Pak Alan juga merangkap sebagai tukang karawitan yang saat ini di jadikan sebagai hobi saja karena harus bekerja sampai subuh. Memang Pak Alan ini terlahir dari keluarga seniman. Ayahnya Pak Alan dulu adalah tetua desa yang bahkan punya gamelan lengkap di rumah joglonya.
Dan dari saudara saudara nya Pak Alan pun banyak yang bekerja di bidang seni. Tak terkecuali Pak Alan sendiri.
Namun Pak Alan tidak mau meneruskannya, karena pada masa itu SENI itu sangat identik dengan pergaulan bebas, dunia malam, minuman keras dan pergaulan pergaulan buruk yang lainnya.
Bahkan Ghanes yang dari kecil bercita cita jadi sinden pun di larang keras sama Pak Alan.
Kata Pak Alan :"Silahkan kamu jadi apapun, asalkan jangan di dunia hiburan, kamu anakku perempuan satu satunya dan Bapak ga mau kamu di dunia itu."
Hal ini juga yang menyebabkan Anes begitu tersiksa ketika ia begitu gobloknya menghianati kepercayaan ayahnya pada dirinya, hingga ia harus melenyapkan calon anaknya hanya karena ga ingin membuat kedua orangtuanya terluka.
Bagaimana mungkin ia sanggup melihat kesedihan dari seorang ayah yang dari kecil membenteginya agar terhindar dari hal hal buruk, atau bahkan ibunya yang sangat rapuh dan tak mampu berdiri kukuh bahkan dengan kakinya sendiri.
Berpindah kepada Bu Santi, yang sebenarnya dulu juga bukan terlahir dari keluarga miskin. Bahkan orangtuanya Bu SAnti (kakek neneknya Ghanes) adalah termasuk orang kaya. Punya kebun cengkeh yang sangat luas serta peternakan sapi dan kambing. Bahkan di masa itu 9( katanya Bu Santi), Kakek neneknya punya karyawan hingga 40 orang yang bekerja setiap hari untuk mereka.
Namun nasib baik sama sekali tak berpihak pada Bu Santi. Ibunya Bu Santi sangat membenci Bu Santi dan hanya menyayangi adik perempuannya saja. Padahal mereka sama sama anak kandungnya.
Aneh bukan?
Pada masa itu bahkan adiknya Bu Santi bisa sampai kuliah di salah satu universitas di kota M, sedangkan Bu Santi sendiri ketika mau bersekolah ke SMP, tidak di beri ijin oleh ibunya. Dan malah di nikahkan dengan Pak Alan. Sungguh tragis.
Lalu setelah menikah, Bu Santi dan Pak Alan harus keluar dari rumah dan di beri sepetak tanah di luar desa di pinggir sungai yang di sana terdapat 3 orang tetangga saja, atau lebih tepatnya di buang ke kebon.
Masih untung di beri tanah buat bangun rumah, sedangkan untuk bangun rumah saja sepeserpun tak di kasih uang, sehingga rumah mereka hanya sanggup gubuk kecil beralaskan tanah dan tanpa listrik tentunya.
Bahkan dari kecil Bu Santi sudah sangat terbiasa melihat adiknya makan dengan nasi dan daging ayam sedangkan dia sendiri hanya dengan cabe ulek dan tempe bakar.
__ADS_1
Bu Santi juga terbiasa memperhatikan Ayahnya (Kakeknya Ghanes) hanya terdiam ketika ibunya memukulnya atau bahkan memarahinya hanya kerana hal yang sepele.
Satu kalimat dari ibunya yang bahkan terus di ingat hingga tua yaitu ketika ibunya berkata :
"Saya tak pernah mengira jika anak yang saya lahirkan dari perut saya bisa sejelek kamu. Jujur saya malu punya anak kamu."
Kata kata ini juga sangat menyakiti Bu Santi hingga Bu Santi sampai masuk rumah sakit karena radang usus, dan setelah di periksa Lab ternyata penyebab utamanya karena Bu Santi mengalami stress berat dalam kurun waktu yang lumayan lama.
Sebentar,,,,,, Author bernafas dulu,,, menulis kembali masa lalu Bu Santi lumayan menguras perasaan, karena author sendiri susah membayangkan bagaimana perasaan Bu Santi saat itu ketika ibu yang melahirkannya malah membencinya dan memperlakukan sangat berbeda dengan adik kandungnya, yang hanya merupakan saudara satu satunya.
Author berharap kejadian seperti ini tidak terjadi pada kalian, saya dan kita semua. Jadilah orangtua yang adil dan menjadi rumah buat anak anak kita.
oh,,,,, TUHAN,,,,,,,
Kita lanjut ya,,,
Kisah pahit masa lalu ini yang pada akhirnya mendorong Pak Alan dan Bu Santi berjuang keras dan bertekad HARUS menyekolahkan ketiga anaknya paling tidak harus ke jenjang SLTA semua, meskipun mereka harus rela hidup miskin dan tak kuat membangun rumah yang lebih layak huni.
Ghanes dan kedua saudara nya sangat bersyukur dilahirkan dari pasangan Pak Alan dan Bu Santi, karena dari kisah hidup mereka Anes dan kedua saudaranya tumbuh menjadi anak anak yang bertoleransi tinggi, pekerja keras, dan penyayang kepada orang yang kehidupannya di bawah mereka, meskipun ada buruknya juga, yaitu dengan mereka bertiga juga tumbuh menjadi anak yang sedikit judas apalagi pada orang orang kaya yang suka menginjak injak orang kecil, terutama para ASN yang urat malunya dah putus, di gaji pake duit rakyat tapi arogan sama rakyat yang seharusnya di layaninya.
Kembali pada Pak Alan , Nathan dan Ghanes di ruang tamu ukuran 3x3,5m itu.
"Mau segera berangkat?" Tanya Pak LAn pada Nathan yang duduk di kursi panjang di depannya."
"Iya Pak, hanya nunggu persiapan dari Ghanes saja."Jawab Nathan sambil mengangguk dan tersenyum yang di manis manisin tentunya.
"Lah, aku dah siap dari tadi kok, ya kan Pak?" Jawab Anes malah minta pengakuan dari ayahnya.
Pak Alan tak menyahut, hanya tersenyum sambil terus memandang lekat pada Nathan, yang mungkin saja Pak Alan merasa aneh, karena melihat wajah Nathan yang jauh lebih muda dari Ghanes.
"Ya sudah kalau mau berangkat hati hati jangan lupa berdoa dulu, jangan ngebut. Yang penting selamat sampai tujuan bukan?"
"Iya pak, kami tahu, juga kami minta doanya dari bapak semoga perjalanan kami selamat kembali sampai di rumah." Kata Nathan kembali meminta doa restu dari Pak Alan.
Ghanes membatin : Jiiihhhh apaan sih norak, touring aja minta doa restu, padahal ini kan mau jalan jalan saja, kalau mau kerja mah minta doa restu okelah ya, masak mau jalan-jalan minta doa restu, anjayyy,,,, lebay.
Ghanes beranjak dari tempat duduknya , "Ya udah, gua masuk ambil tas ransel gua, setelah itu langsung gass kan ya, mau makan dulu ga?"
"Ga usah lah nda, di tungguin Pak Anggi di warungnya, kasian ntar kalau dia nunggu terlalu lama." Jawan Nathan menolak ajakan Ghanes.
1, 2 menit kemudian Ghanes sudah keluar lagi membawa ranselnya lalu di serahkan pada Nathan,
"Coba elu cek dech, ada barang barang yang ga perlu masuk ga? Kalau kebanyakan nanti biar gua kurangi."
Setelah menerima tas dari Ghanes, Nathan pun membuka dan melihat lihat isinya, lalu tertawa ...
"Hahhahahahaha ini ngapain kamu bawa topi? Kan kita perjalanan naik motor, ga repot apa kalau pakai topi? Kaya kamu ga pernah naik motor aja nda nda,, ini lagi sendal tali buat apaan juga? Kan naik motor akan sakit kalau pakai sandal, banyak pasir yang akan mengenai kaki. Cukup pakai sepatu saja kok."
"Hehheehe kirain butuh nanti kalau sedang istirahat sholat." Kata Anes cengengesan sambil garuk garuk kepala.
"Ya elah, nda nda,,, sholat kan sebentar ga perlu sandal juga bukan? Ga usah di bawa itu, daripada tas mu tambah berat."
"Oke, oke ada lagi yang perlu di tinggal ga?"
"Udah, ga ada, sepertinya itu aja, jas hujan juga sudah ada kan?!"
"Iya sudah."
"Ya sudah kalau begitu, kita berangkat sekarang?" Tanya Nathan segera beranjak dari duduknya.
Mereka berdua pun segera berpamitan pada Pak Alan dan Bu Santi.
"Pak, Buk, kami berangkat ya, minta doanya selamat hingga kemabli ke rumah." Kata Nathan menyalami pak Alan dan Bu Santi secara bergantian.
"Ya sudah hati hati di jalan." Kata Pak Alan melepas kepergian Anes.
"Jangan lupa ngasih kabar kalau ada apa apa." Seru Bu Santi pada anaknya yang sudah nangkring di atas boncengan motor.
Ghanes hanya cengengesan dari atas motor,"Siap kanjeng ratu."
"Ya sudah hati hati, jangan lupa bismillah."
Juga ada beberapa pohon kaliandra, yang sebenarnya ini bukanlah termasuk pohon besar, karena jenis pohon ini adalah pohon perdu yang di gunakan untuk makanan ternak.
Ya, di belakang rumah memang ada beberapa ekor kambing yang di beli Pak Aln beberapa waktu lalu dari uang kiriman Anes, danm memang Anes lah yang meminta untuk di belikan kambing, karena sekaligus bisa di ternakkan. Kambing jenis PE yang harganya lumayan jauh lebih tinggi daripada kambing jenis keling yang biasanya di pelihara di kampung-kampung.
Matahari yang mulai menghangat dari panas yang sangat terik juga menemani perjalanan mereka membelah aspal hitam yang tentu saja di bangun pemerintah untuk rakyatnya. Bukan di bangun oleh Bandung Bondowoso seperti dalam cerita dongeng.
Kembali barisan pohon pinus di lahan perhutani ini selalu abadi menemani jalan berliku yang menggemaskan.
............................
45 menit sudah mereka menyusuri jalan-jalan di atas pengunungan dan di sepanjang kaki perbukitan yang masih alami dan asri. Sampailah keduanya di sebuah warung kopi sederhana milik Anggi.
Warkop Satu Aspal begitu nama yang terpampang dalam logo berbentuk bulat berwarna merah dan hitam di depan warung. Warung ini tidak besar, tidak juga mewah, tapi di lihat dari dekorasinya memang warung ini di buat sengaja menjadi sederhana agar bisa dimasuki oelh kalangan bawah, terutama anak-anak komunitas touring yang biasanya memang mengutamakan kesederhanaan dan solidaritas.
Anggi adalah nama seorang anak laki laki yang terlahir dari keluarga pelat merah TNI , semua anggota keluarganya adalah TNI. Dari kakek neneknya hingga ayah ibunya serta kakak laki lakiknya. Hanya dia dan seorang pamannya yang cenderung ogah masuk di dunia militer. Pamannya seorang pebisnis di bidang rokok lokal, sedangkan dia sendiri adalah sarjana komputer.
Sebagai anak yang di lahirkan dari keluarga pelat merah, Anggi sama sekali tidak mencerminkan kemewahan atau arogansi yang biasa di bawakan oleh anak anak dari keluarga bangsawan. Outfit yang di pakainya 90% adalah barang yang di belinya dari loakan seharga sepiring sate kambing.
Bahkan dia kemana mana selalu membawa tas ransel warna merah pudar yang sudah sobek di bagian resletingnya.
Hebatnya Anggi ini sama sekali tak memiliki rasa minder sedikitpun dengan apa yang dimilikinya.
"Hallo Pak, Buk, masuk masuk, istirahat dulu di dalam barang 5 menit baru kita gass bareng bareng, kita naik very dari Banyuwangi saja ya." Kata seorang anak laki laki berkulit kuning langsat bersih tanpa bulu khas laki laki di wajahnya.
Dia memakai jaket hijau armi dan senyum lebar khas dirinya yang selalu dia jajakan setiap kali bertemu dengan orang.
Ya, dia adalah Anggi Baskoro putra dari keluaga militer yang tidak menyukai kemiliteran.
Author : Anggi ini adalah nama sebenarnya, hehehehehe menurut author lucu aja sih, laki laki di beri nama Anggi. xixixixiixxi
"Pak Nggi, anak-anak lainnya mana pak? Nunggu di mana?" Tanya Nathan pada Baskoro.
"Oh,, itu, yang enam orang ada di lampu merah dekat perbatasan, katanya mereka ga mau jika mesti bolak balik dari sini ke sana. Hemat bensin juga katanya."
"oh, gitu, tadi aku belum sempat buka grup sih? Masih dalam perjalanan terus." Kata Nathan memberi penjelasan pada Anggi.
"Kirain ga jadi ikut buk." Seloroh Baskoro pada Anes yang duduk diam memperhatikan pemmbicaraana mereka berdua.
Anes hanya diam saja karena selain mereka bertiga di sana ada 8 orang yang kesemuanya laki laki sedang duduk nongkrong menikmati kopinya sambil sesekali ngobrol membicarakan motor , apalagi selain itu, pembicaraan orang yang menyukai motor custom pasti berkutat di motor juga pastinya.
"Heheheheeh jadi donk, kasian yang njemput kalau ga jadi, udah di rencanakan dari kemarin kemarin juga bukan? Meskipun sebenarnya saya di ajak, bukan di ikutkan dalam perundingan perencanaan."
Jawab Ghanes sedikit menyunggingkan senyumnya dengan bahasa sarkas khas dari mulutnya.
Baskoro terkekeh geli melihat kerlingan mata Ghanes pada Nathan. "Hehhehehehe ga apa apa kan? Belum tentu setahun sekali kita bisa menghadiri Honda Bikers Day lo, sekalian itung itung piknik."
"Hehehheehee iya juga, sekalian itung itung jalan jalan." Kata Anes membenarkan Baskoro.
.......................
"Ayoookk,,, jadi gass ga kita ?!" Seru seseorang dari depan dengan berdiri.
"Woe jadi lah, anjir . Ayok,, berangkat yok. " Baskoro yang menyahuti mereka dengan segera, takut mereka juga nunggu kelamaan.
Satu persatu mereka mulai memakai helm nya masing-masing di kepalanya masing-masing juga tentunya. Ghanes dengan helm berwarna merah abu-abu kesukaannya yang di belinya sebelum ia berangkat merantau lagi pada waktu itu , di pakai tepat nempel melindungi kepalanya yang di balut dengan jilbab corak bendera inggris yang menurut Ghanes merupakan jilbabnya yang paling unik karena coraknya bendera minoritas muslim.
"Bismilahhirohmanirohiim" Anes berbisik perlahan dari dalam helmnya.
Raungan motor membelah jalanan yang lumayan ramai oleh orang-orang yang pulang kerja, anak-anak pulang dari les ataupun pasangan muda mudi yang mulai keluar mencari angin atau sekedar mencari makan di sepanjang kota. Langit yang mulai memerah, angin yang mulai semilir menerpa muk-muka yang tertutup helm SNI dengan berbagai macam corak. Total ada 6 buah motor CB100 yang melaju dengan warna body masing masing. Motor ini tentu saja hanya bodynya saja yang CB100, namun mesinnya satupun sudah tak ada yang memakai mesin CB100.
Ada yang memakai mesinnya GL Max, GL Pro, bahkan ada yang memakai mesinnya Scorpio.
Modif motor terutama motor klasik biasanya akan membutuhkan biaya yang lumayan besar, apalagi jika mesin motor yang di gunakan adalah motor yang CC nya besar.
Bahkan ada yang sampai menghabiskan ratusan juta hanya untuk memodifikasi motor klasik yang sesuai keinginannya.
Perempatan demi perempatan mereka lewati dengan santai sambil menikmati jalanan. Melewati beberapa area persawahan yang mulai merunduk karena tua menguning, juga beberapa penjual makanan yang mulai menyalakan lampunya , semakin menambah semarak suasana jalan yang sudah lama tak Ghanes dapati di hidupnya.
Tak berapa lama mereka pun sampai di batas kota dimana ke 6 teman lainnya menunggu di sana.
__ADS_1
Terdapat satu cewek yang di bonceng oleh pasangannya.
Dalam hati Anes : "Untung dah, ada temennya, semoga dia***fine** **ya." *
Yang di maksud Ghanes Fine adalah biasa-biasa saja, karena biasanya cewek itu cenderung menye menye, manja, suka membanding-mbandingkan dan ciri khas cewek lainnya yang Ghanes sangat risi jika bertemu dengan tipe tipe wanita seperti ini.
"Ga perlu berhenti, langsung gass aja Pak!!" Seru seseorang ketika mereka ber 8 mulai melambatkan laju motornya.
"Oke ! Ada adzan kita berhenti ya, seperti biasanya.!" Seru yang lain menimpali.
"Siap ! Gass yok, Gass !!"
6 buah motor di tambah 4 motor, kesemuanya ada 10 motor yang di isi oleh 18 orang , karena ada dua motor yang masing masing dari mereka katanya lebih nyaman nyetir sendirian, jadi ga punya beban membawa nyawanya orang lain. Ada benarnya juga, meskipun sebenarnya jika berboncengan itu bisa gantian nyetirnya. jadi ga terlalu kecapekan.
Seperti kesepakatan awal, setiap kali ada panggilan ibadah mereka semua segera mencari mushola atau masjid terdekat untuk sekedar memberi laporan pada Sang Pencipta.
Setelahnya mereka akan lanjut kembali membelah jalanan dengan rapi dan tentu saja tetap mematuhi rambu rambu jalan, karena ini bukan rombongan moge yang biasanya terkenal sebagai penguasa jalanan yang bisa menerobos lampu merah seenak jidat mereka.
Perjalanan malam adalah hal yang paling sangat di sukai, karena terhindar dari panas matahari serta debu debu jalanan yang tak terlihat, meskipun sebenarnya debu tetaplah debu selama tak ada hujan yang mengguyur, maka debu di jalan tetaplah ada dan mengganggu, namun karena malam hari, jadi gangguan debu ini menjadi tersamarkan oleh pandangan mata.
Tepat jam 2 dini hari akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah hotel merah putih milik pertamina, yaitu Pom Bensin. Hahahahaha.
Hotel Merah Putih adalah sebutan yang sangat familiar di kalangan anak anak touring, karena penghematan biaya, juga efisiensi perjalanan, karena setelah bangun tidur mereka bisa langsung cabut gass menuju aspal kembali.
Setelah selesai sholat subuh, mereka kembali meneruskan perjalanan mereka menuju tempat penyeberangan kapal feri dari Ketapang Banyuwangi menuju ke GIlimanuk Bali.
Lelah istirahat di hotel merah putih, laper berhenti sebentar buat mengisi amunisi di warung warung pinggir jalan sepanjang jalan yang mereka lalui, begitu terus hingga nanti sampai ke tempat tujuan.
Jadi jika ada yang berfikir bahwa touring itu akan menginap di hotel dengan fasilitasnya, maka anggapan seperti itu adalah salah besar, karena yang terjadi di lapangan adalah mereka pecinta jalanan dan perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan 3 hari 2 malam, akhirnya mereka sampai juga di pelabuhan Ketapang , dan mulai antri tiket untuk bisa naik ke kapal.
Setelah mendapatkan tiket, merekapun menunggu jadwal kapal yang masih 2 jam lagi, karena penumpang yang begitu padat. Ya maklum lah , karena acara Honda Biker Day ini adalah acara bertaraf international yang di hadiri orang-orang dari seluruh pulau di indonesia penggemar motor, dan menurut informasi yang di dapatkan, bahwa nanti di sana juga akan ada pemecahan Rekor Muri dalam kategori Tari Kecak peserta terbanyak.
2 jam kemudian , mereka ber 18 pun telah berada di atas dek kapal feri, ada yang duduk di atas pagar(tidak untuk di tiru).
Dan orang itu adalah Ghanes Anjani. Wanita pethakilan yang selalu getol ingin mencoba hal hal baru,
dia asyik memperhatikan riak air laut yang di terpa baling-baling perahu di bawah dek paling bawah.
Dia tersenyum senyum ," semoga engkau damai di sana ya nak, sampaikan maafku sama Tuhan, aku sayang sama kamu hingga saat ini."
Tiba-tiba terdengar suara Nathan memanggilnya untuk duduk di kursi "Nda,,, sini donk, kamu ngapain di situ ?"
"Ga pa pa kok , aku seneng aja liatin gerak air di bawah sana." Kata Anes mencoba meyakinkan Nathan bahwa yang ia lakukan adalah aman-aman saja , karena ia masih berpegangan pada tiang kapal.
"Kamu sini bentar lah....." Katanya lagi setengah memerintah.
Anes sedikit mencoba untuk tersenyum dengan hati bersungut-sungut karena banyak temen-temennya di sana.
Lalu iapun duduk di sebelah Nathan dan mulai membuka camera ponselnya untuk mengambil sebuah rekaman kapal feri yang tengah berjalan.
Tiba-tiba.......
Bleeeeeggghhhhhh........
Nathan tidur di pangkuannya Anes, "Nda tolongin aku , biarkan aku tidur nda, aku ga kuat, aku mabok laut."
Anes mukanya langsung pias kaget "Hah???? Apaan nih laki laki, cemen amat jadi orang, bisa-bisanya dia mabok laut, kemaren-kemaren aja dengan gagah ngajakin ke Bali, ternyata dia yang koit. ****** ****** kenapa jadi gua yang repot dan harus ngurusin dia, njiing."
Anes dia tak memberikan komentar apapun , dia hanya diam duduk di tempat dan membiarakan Nathan memejamkan mata di kedua pahanya, padahal niat hati dia pingin berkeliling kapal jalan-jalan menikmati terpaan angin selat yang sejuk da tidak terlalu kencang, namun apa daya ternyata dia bersama dengan orang lembek yang justru merepotkan dia sebagai wanita.
Anes juga sedikit banyak malu dengan teman-teman barunya yang tertawa melihat Nathan mabok laut dan malah manja pada Anes yang terlihat jauh lebih kuat.
"Dia kenapa?" Tanya salah seorang teman seperjalanannya pada Ghanes.
"Pusing katanya." Anes menjawab singkat.
"Udah tau mabok, kenapa dari rumah ga minum antimo, bikin malu laki laki aja lu Than." Kata laki-lakiitu meledek Nathan di pangkuannya Anes lalu dia menuju tempat duduk Anes di pagar sembari memperhatikan kelip lampu di kejauhan. Yang tentu saja kelip lampu ini masih terlihat karena yang di seberangi adalah selat bukan samudera. Dan hanya di tempuh dengan waktu (-+) 30 menit saja hingga sampai ke gilimanuk. Bukan jarak yang jauh dengan biaya menyeberang 18 ribu rupiah saja per orang.
Jam 3:40 dini hari mereka sampai di pelabuhan gilimanuk, di sini mereka di arahkan oleh panitia HBD (Honda Bikers Day) menuju ke lokasi peristirahatan untuk di berikan stiker pada msing-masing motor mereka dan mendapatkan tiket masuk ke acara mereke keesokan hari di pantai Pandawa.
Yang dinamakan lokasi peristirahatan bukanlah kamp dengan fasilitas, namun sebuah bangunan di pelabuhan yang ada beberapa tempat duduknya sekedar untuk melepas penat saja, tentu saja tidak ada makanan di sini.
"Kita tidur si sini saja gimana? Besok baru lanjut, perjalanan ke sana sekitar 2 jam dari sini."
Kata Pak Anggi pda semua teman-temannya.
"Okelah, kita apapun boleh, lapernye di tunda esok hari saja gimana?" Kata seseorang dengan mata memerah karena capek dan ngantuk.
"Eh ini kupon besok pagi boleh di tuker makanan ke panitia, tapi untuk saat ini makanannya belum ada, baru siap besok pagi katanya." Kata seseorang lagi yang memegang semua kupon yang mereka dapatkan.
Nathan ikut menimpali ,"Oke, lumayanlah itu untuk mengisi perut sebelum menemukan makanan besok."
"Oke kalau begitu, nanti yang bangun duluan, bangunin yang lain, pasang alarm masing- masing di jam 5:30" Lanjut Anggi.
"Siap Nggi, ya sudah semuanya tidur, jangan ada yang berisik biar ga slaing mengganggu satu sama lain."
Dan semuanya pada patuh dengan kata-kata itu, karena mereka semua juga sadar bahwa mereka capek dan butuh tidur, karena menyetir dengan kondisi lelah itu sangat membahayakan buat diri mereka sendiri juga buat pengguna jalan yang lain.
......................
Tepat waktu mereka semua sudah terbangun sesuai dengan alarm yang mereka pasang masing- masing di ponselnya. Cuci muka dengan air dari dalam botol mineral yang mereka bawa masing-masing juga tentunya.
Jangan berfikir mereka akan mandi di pagi hari, karena itu tak akan terjadi . Karena satupun dari mereka yang tak akan mau di sibukkan dengan acara mencari kamar mandi umum seperti yang sering mereka lakukan di pulau jawa, yang rata-rata hampir semua pom bensin menyediakan kamar mandi umum lengkap dengan toilet dan musholanya.
Namun di pulau dewata ini akan sangat jarang di temui pom bensin yang menyediakan fasilitas tersebut seperti yang di jawa. Ya karena memang mayoritas rakyat Bali bukanlah umat muslim. Dan kita pun harus menjunjung tinggi dan menghormati hal itu. Karena tidak boleh memaksakan keyakinan serta adat istiadat kepada orang lain.
Pagi yang cerah pagi yang indah, angin yang masih agak dingin berhembus menemani gerombolan anak-anak muda yang hobi dengan jalan dan perjalanan. Slogan anak-anak Cb sendiri adalah "CB menyatukan nusantara." Dan di jawa sendiri slogannya adalah CB seduluran selawase (CB saudara selamanya).
Kali ini mereka melaju dengan lumayan kencang, beda dari hari- hari kemarin yang cenderung santai, karena menghindari macet. Jalan yang di lewati mereka adalah jalan satu-satunya menuju pusat kota Bali. Dan akan menjadi sangat padat serta macet di jam jam kerja.
Bukan hal yang sulit untuk menembus jalanan di Bali, tentunya sebelum macet datang, kalau macet datang akan beda lagi ceritanya.
Dan dalam traveling, kalkulasi waktu kita memang harus bagus, kita harus tau jam-jam padat kendaraan di jam berapa agar kita tidak terjebak dalam antrian kendaraan di jalanan yang tentu saja hal itu sangat di benci hampir oleh semua pengguna jalan raya.
"Capek Nda?" Tanya Nathan memastikan bahwa manusia yang ada di belakangnya baik-baik saja.
"Ga , masih baik-baik saja kok, hanya sedikit laper sih." Jawab Anes santai.
"Oh ya aku tau itu, karena aku sendiri juga laper full, tapi kalau di Bali kita ga boleh sembarangan masuk di warung makan, takut kalau keliru makan yang ada babinya, jadi daripada ribet harus tanya-tanya dulu, lebih baik nyari tempat makan yang sudah jels kalau mereka tidak menjual daging babi, sebagai contoh warung-warung jawa dan sumatera, ya,,,,,, nyari aman aja sih." Nathan menjelaskan.
"Mudah-mudahan kamu bisa ngerti ya, takutnya kamu kelaparan lagi keg kemarin."
"Ya, oke aku mengerti kok, lagian kalau makan kan kita bisa bareng-bareng dengan yang klain bukan? Masak kita sendirian, berdua aja gitu."
"Kuat kan nunggu sampai di tempat acara?" Tanya Nathan lagi.
"Akhhh,,, kuatlah,,, masak engga. hahhahahahaa." Jawab Anes sambil tergelak. Masak ga makan beberapa jam saja dia mati , ga sigitunya juga kali, ya ga sih?
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
__ADS_1