Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Aku dianggap apa ?


__ADS_3

"Karena........" Jawab Anes tak melanjutkan perkataannya.


Mami menepuk pundah Anes dengan lembut.


"Pikirkan kembali baik baik, masih ada waktu seminggu, Bapaknya anak ini ada kan ?"


"Ada sih." Jawab Anes pelan.


"Nah, kamu tanyakan dulu sama Bapaknya, gimana baiknya, jangan gegabah ambil keputusan, jika memang masih bisa di pertahankan ya di pertahankan , kasian ini janin tidak tahu apa apa. Namun, jika mau memutuskan harus cepat dalam waktu seminggu, jangan nunggu janinnya besar." Kata Mami memberi saran.


"Iya Mi, aku tau semua resiko nya, dan aku juga memikirkan hal itu juga, selain masih ada hal lain."


"Ya udah, nanti apapun keputusanmu, kabari aku ya, minggu depan aku temenin kamu lagi."


Dengan wajah yang sangat sumrigah Anes menoleh ke Mami,


"Serius Mi ?"


"Iya." Balas Mami sambil tersenyum.


"Kamu udah makan ?" Tanya Mami kembali.


"M... belum Mi dari pagi."


"Lha kenapa ?"


"Ga napsu aja sih... terus siang tadi juga muntah jadi selera makanku hilang sama sekali."


"Sekarang makan buah aja gimana ? atau beli soup panas gitu ? Gimana kamu bisa kerja kalau kamu ga makan?"


"M... mungkin soup panas aja deh Mi, kan enak tuh kalau perut kosong lalu makan yang anget dan seger." Jawab Anes menyetujui saran mami.


"Nah , gitu donk,, yuk beli dulu, nanti di makan di sini aja sambil ngadem."


"Oke deh, yuk."


Mereka beranjak dari tempat duduknya di kursi beton taman. Karena musimnya sedang panas , jadi mereka memilih untuk duduk duduk di taman, karena banyak pepohonan , otomatis udara lebih segar dan nyaman.


Tak sampai setengah jam mereka telah kembali ke tempat semula dengan kantong plastik berisi dua mangkok sup kepala ikan salmon dan tahu.


Bau rumput laut sangat segar ketika tutup mangkok di buka. Sambil tersenyum keduanya mulai menyantap soup itu perlahan lahan.


Namun baru menghabiskan separuh mangkuk, Anes mulai merasa mual lalu segera menghentikan makannya.


"Kenapa?" Tanya Mami melihat Anes berhenti menyuapkan sendok soup ke dalam mulutnya.


"Mual mi." Jawab Anes mencoba bertahan dan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, untuk merelaksasi dirinya sendiri agar tak memuntahkan makanan yang baru saja di makannya.


"ya udah kalau ga kuat ga usah di paksain. Orang berbadan dua memang begitu, btw, kamu kok udah begini reaksimu, padahal belum ada 1 bulan kan?" Tanya mami agak keheranan.


"M... aku juga ga tau mi, ini kan pertama kalinya, tanggal 18 kemarin kok."


"Nah, iya kan belum ada sebulan. Ini kan tanggal 31."


"Udahlah ga usah di bahas, yang penting dalam seminggu ini jaga dirimu baik baik ya. Makan sebisamu. Usahakan harus ada makanan yang masuk, kalau ga gitu lemes badanmu ntar, kamu ga bisa kerja."


"Iya mami, aku ngerti kok."


"Oke, setelah ini kita pulang ya. Kalau ada apa apa jangan sungkan sungkan kabari mamimu ini ya."


"Iya. makasih lo mi."


"Sama sama. Kita di sini keluarga. Jadi wajar saja. Jangan merasa sendirian."


"Makasih."


Mereka berjalan beriringan menyusuri trotoar pertokoan yang masih ramai dengan orang dan kendaraan yang lalu lalang di tengahnya.


"Mami, makasih ya, bye bye." Kata Anes melambaikan tangannya pada mami ketika dia telah mendekati rumahnya.

__ADS_1


"Jaga kesehatan ya."


"siap mi. Besok ketemu di taman. Mi... jangan bilang ma anak anak ya. Pleaasee."


Kata Anes memohon.


"Mami tahu. Ga usah khawatir." Sahutnya sambil tersenyum.


"Ya udah bya bye." Mami melambaikan tangan balik pada Anes dan terus berlalu menuju rumahnya sendiri.


"Kok tumben pulang ga ada suara An." Kata Mama yang melongok ketika mendengar suara roling door di buka.


Anes tersenyum kecut, "Capek Ma."


"Ya udah mandi sana gih. Keburu malem." Kata Mam prihatin melihat Anes yang kuyup dan lesu.


"Habis darimana rmtuh anak, kok kelihatannya lesu banget." Gumam mama sendirian lalu masuk ke kamarnya lagi.


"H...........hgh..." tarik nafas panjang Anes lalu membanting tubuhnya di ranjang nya.


Tuuu...**...... ttuuuuuttt.....tuuuu......t...


"Ya ada apa dek?" Tanya sebuah suara yang tak lain adalah Dimas.


Anes terdiam seakan tak mampu mengeluarkan suaranya sendiri.


"Ada apa sih ? Aku capek nih."


"Aku positif." Kata Anes lirih dan lesu.


"Oh yang tadi ? Ga mungkin lah..."


"Aku bilang aku positif ! Aku barusan pulang dari dokter, dan itu positif." Kata Anes setengah berteriak.


"Akh.. kamu jangan kebanyakan drama deh, aku bilang ga mungkin ya ga mungkin, orang aku ngeluarinnya di dalem kok bisa hamil. Ada ada saja kau." Jawab Didim mengelak.


Dduuuuaarrrrrrr !!!!


"Sekarang aku hanya butuh jawaban kamu, Kamu siap pulang ga secepatnya, kita menikah ?" Tanya Anes sambil menahan sakit di dadanya .


"Ga. aku ga bisa pulang sekarang. Kalau kamu mau pulang, pulang aja dulu, 6 bulan atau 1 tahun kemudian aku nyusul." Kata Dimas memberi jawaban yang sangat tak masuk akal.


"Apa lu bilang ? 6 bulan ? setahun ? lu mau ibukku mati ? lu gila Dim ?" Kata Anes mulai kasar dengan kata katanya.


"Oke. kalau lu ga mau pulang, sekarang gini, biarkan aku melakukan aborsi, namun aku harap biaya nya kita tanggung berdua, ini kan milik kita, bukan milikku saja." Kata Anes memberikan pilihan.


"Berapa duit yang kamu inginkan ? 4 ribu ? 6 ribu ? cukup ga ? kalau ga cukup minta aja ma yang lain jangan ma aku. Aku ga punya duit."


"Hah ??? maksud lu apaan Dim?" Tanya Anes heran bercampur emosi.


"Lah, kenapa harus jadi tanggung jawabku, kan itu bukan anakku, ya nikahlah sama ayahnya kenapa harus sama aku. Jangan nyari kambing hitam donk." Kata Dimas lagi.


Anes tambah pusing mendengar semua suara di telinganya itu. Dan tidak mengerti apa maksudnya.


"Tinggal mengakui saja kalau anak itu bukan anakku, kok susah amat sih ? Bilang aja , yang nidurin kamu bukan aku aja kan?! Dasar lonthe."


"Lu bilang gua lonthe Dim ? jadi selama ini lu nganggep gua cuma lonthe, hiburan lu gitu ? Emang selama ini lu udah mbayar gua berapa Dim ? Gua pernah ngabisin duit lu berapa milyar Dim ?


Jawabbb !!!!" Bentak Anes dengan sangat keras karena terlampau emosi yang tak bisa di tahannya.


"Sudahlah, kamu mau ngapain terserah kamu aja deh, aku ga mau tau. Jika ga penting ga usah nyariin aku. Satu hal lagi , Ga usah kebanyakan drama. Kalau mau nglonte bilang aja terus terang ma aku, biar aku yang jadi mucikarinya." Kata Dimas dan langsung mematikan ponselnya.


Teesss.... teesss....tessss...... Air matanya membanjiri bajunya.


Ponsel nya sudah melorot entah kemana.


Tak ada suara isak tangis, tak ada suara umpatan , tak ada apapun, sepi.........


Di pojokan Anes membanting kepalanya pada tembok berulang kali, merutuki kebodohannya itu, merutuki kepolosannya, merutuki hatinya.

__ADS_1


Sampai setelah kepalanya terasa berat dan puyeng, Anes dengan baju basah oleh air matanya sendiri, dia beranjak ke kamar mandi, mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin, menggosok seluruh badannya, berharap dapat membersihkan kotoran kotoran dalam dagingnya.


"An... kamu ngapain di dalam ? kamu gila apa mandi ampe 2 jam . Ngapain kamu?"


Teriak sebuah suara dari luar kamar mandi yang tak lain adalah suara mama sambik menggedor nggedor pintu.


Seketika Anes tersadar dari mimpinya.


No ! itu bukan mimpi, tapi kenyataan yang harus di hadapinya sendirian. Ya sendirian. Tak ada siapa siapa.


"Iya ma. Anes segera keluar, tadi keramas, Kepala Anes bau telor , Amis." Kata Anes memberi alasan.


"Kok bisa ? Tadi perasaan aku ga nyium bau apa apa deh."


"iya ma, ada temen yang ulang tahun lalu aku ga sengaja kelempar telor."


"Emang kalian kalau ada yang ulang tahun selalu begitu ?"


"Iya ma, selalu, seperti video yang pernah aku perlihatkan sama mama itu lo."


"Oh.. ya udah, kirain kamu pingsan di dalam ."


"hahahaha ga lah ma." Kata Anes tertawa dengan mata memerah karena habis menguras air matanya.


Setelah Anes mendengar langkah Mama pergi, Anes keluar dari kamar mandi dan langsung sesegera mungkin turun ke bawah ke tempat tidur, agar ga ada yang menanyainya lagi.


Ponselnya berkedip kedip hijau.


Namun nafas kecewa , karena yang ia harapkan adalah Dimas meminta maaf atas apa yang telah di ucapkannya, namun Ariz yang menghubunginya.


Gimana ?√√


^^^Positif√√^^^


Haahh ??√√


Lalu Dimas ?√√


^^^Mati.√√^^^


Artinya dia lepas tangan? √√


^^^yes√√^^^


Kurang ajar √√


^^^Jangan cari dia.^^^


^^^Biarin aja.^^^


^^^Biar gua urus sendiri.√√^^^


^^^Udah , gua mau tidur √√^^^


Malam yang sepi. Hanya dengkuran papa yang terdengar. Lelah mata Anes menangis, namun air matanya belum juga kering. Terus saja mengalir tanpa henti. Dia menatap langit langit kamar , ukiran ukiran pada plafon berubah menjadi seperti cakar monster yang siap menerkamnya.


Dibukanya linimasa facebook, semakin sakit hantinya melihat postingan Dimas yang mengupload photo tentang kegiatan bahagianya dia hari ini bersama kawan kawannya.


Menangis dan terus menangis,, hingga alarm berbunyi menunjukkan jam 7 pagi. Ternyata Anes tertidur dalam tangisannya.


Dan dia juga semakin sadar bahwa ini bukan mimpi, ini adalah kenyataan hidupnya saat ini. .


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2