Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
KOTAK kecil


__ADS_3

Perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Meskipun melewati pemandangan yang indahnya aduhai, namanya lelah ya tetap saja lelah. Kondisi badan tak akan menipu apapun , terkecuali dia sedang konsumsi sabu atau pil koplo.


Anes menuju sebuah penginapan di kabupaten itu yang sudah di pesannya melalui apps booking.com di ponselnya. Kenapa tidak segera menuju rumah sahabatnya ? Karena Anes ingin beristirahat terlebih dahulu setelah melewati perjalanan panjang. Lagian dia merasa sungkan jika pulang merantau malah menuju rumah orang lain, meskipun sahabatnya juga sudah tau kalau ia belum pulang ke rumah. Setidaknya tetangganya lah yang ga tau.


Nah, dalam proses pembelian tanah makam dan penggalian lubang kubur Anes harus mengeluarkan kocek yang lumayan untuk mengurus hal ini, Anes juga mesti kong kalikong dengan aparat desa dan penggali kubur, agar tak banyak masyarakat yang tahu.


Bisa dibilang ini sebagai aksi suap. Tapi.. ya sudahlah... apa yang Anes bisa lakukan sekarang jika bukan menyuap aparat desa luar kabupaten agar ayah ibunya tetap sehat dan tidak tersakiti dengan tingkah busuknya ini.


Anes teringat, dimana ia sangat kacau ketika harus menentukan anak atau ibunya yang mesti ia save. Gimana ia harus mengambil keputusan dengan cepat sebelum terlambat. Sebelum janin itu punya Ruh.


"Yang gua lakukan ini sama sekali tidak benar, tapi gua yakin ini lebih baik daripada gua harus kehilangan ibu dengan hati yang tersakiti oleh gua." Gumam Anes menunduk menatap kotak coklat dengan ukiran indah di tangannya itu.


Anes sama sekali tak ingin membukanya. Mungkin gumpalan darah sebesar ibu jari itu sudah mengering, atau bahkan sudah hilang dimakan cacing tanah. Yang jelas tidak ada bau apapun selain sisa sisa bau harum dari semprotan parfumnya.


Anes tak ingin membukanya.


"Amasya, maafin ibuk ya." Lirih Anes berucap sambil mengusap perlahan kotak itu lalu meletakkan pelan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya sembari menghela nafas dalam dalam.


"Hhmmmgghhh...... Tuhan, aku tau aku salah, namun mohon jangan limpahkan hukumanMu pada orang orang terdekatku. Limpahkan saja hukumanMu padaku, hanya padaku Tuhan, jangan orang lain."


...................


Keesokan harinya.......


Setelah Anes membersihkan diri, ia segera membawa tas slempang hitamnya yang bertuliskan Elle, bukan sebuah brand yang mahal, namun tentang kenyamanan serta ke bermanfaatan dari sebuah baranglah yang membuat Anes bisa membeli.


Tipe tipe tas yang bisa muat banyak barang, yang comfortible serta bisa di pakai di semua kondisi, itu adalah tipe tas yang selalu Anes buru ketika memastikan untuk membeli.


"ik, bentar lagi gua ke tempat lu ya ik." √√


Isi chat Anes pada sahabatnya yang sudah bersedia menolongnya itu.


^^^"Oce ! siap boskyuh. Bokap gua dah nungguin, takut kesiangan katanya. Nah, abis itu lu gua anterin belanja ya. Buat kebutuhan selametan. Kata nyokap ga banyak kok nek, ntar sekalian lu bantuin masak. Oce bos ?"√√^^^


"Oke oke. Thank you lo di bantuin. Makasih banget dach pokoknya.√√


^^^"Heleh keg ma siapa aja lu nek, urusan ma Pak Lurah dah selesai kan?√√^^^


"Udah.√√


^^^"Syukur dah. Yang paling penting kan itu soalnya. Ni Bang Apri juga ada di sini. Ngabarin kalau lubangnya dah selesai. Lu berapa menit lagi ? Lama ga ?√√^^^


"Ga sampe 15 menit lah, gua dah pesen ojek kok. Kan hotel gua deket.√√


^^^"Oke oke. Kita tungguin yak .Hati hati di jalan. Jangan suka ngelamun key ?" √√^^^


"Otw."√√


...................


"Mbak Ghanes ?" Tanya seorang laki laki berjaket orange naik Jupiter z mata kucing warna hijau berhenti tepat 5 meter di depan Anes.


"Benar sekali. Langsung ke tujuan aja ya mas, saya buru buru soalnya."


"Oke mbak. Silahkan helm nya di pakai mbak."


Sambil menyerahkan helm SNI warna senada dengan jaket yang di pakainya.


"Mas, meskipun saya buru buru jangan ngebut ya, tetap patuhi aturan berkendara, saya ga suka melanggar hukum soalnya. Berabe. Nambah nambahi masalah hidup." Kata Anes memberi saran.


"Siap mbak. Hehehehe."


12 menit kemudian sampailah Jupiter hijau itu di depan rumah asri berpagar coklat tanah dan coklat muda yang dipadukan begitu serasi. Tak ada tanaman hias apapun di balik pagar, karena keluarga ini adalah keluarga petani yang menggunakan halaman rumahnya sebagai tempat parkir mobil mobil angkut hasil pertanian. Jadi akan sangat mengganggu mobilitas jika di tanami tanaman hias di halaman.


Namun, rumah ini punya kebun belakang yang teramat sangat luas, hampir segala macam tanaman kebutuhan dapur ada di sana.


Apalagi kalau hanya untuk menyimpan file janji janji mantan , satu Abad pun mungkin belum terisi penuh 😅.


"Asalamualaikum." Seru Anese mengucapkan salam ketika sampai di depan pintu.


"Heiiii !!! neekkk !!! masuk masuk, hei ! tambah gemoy aja lu, bersih, montok, keren keren." Sapa sahabatnya sambil berlari memeluk Anes dengan suaranya yang melengking seperti sambaran tenaga listrik dari iron man.


Sahabatnya ini memiliki postur sedikit gembul, bukan gemuk, tapi pipi yang gembul , wajah bulat, tipe tipe orang ketika balitanya sangat imut dan menggemaskan.


Sebut saja namanya i,ik. Anak ini tipe anak yang ramai suka bergosip, suka berkumpul , hobi shooping, tapi sedikit ceroboh.


Berbanding terbalik dengan Anes yang suka ketenangan, suka hiking, suka traveling namun sangat disiplin.


Namun mereka berdua sudah bersahabat sejak mereka berada pada satu tempat kerja dulu ketika baru sama sama lulus SMK.


"Hehehehe alhamdulilah sehat, dan masih hidup." Jawab Anes perlahan.


"Ngomong apaan sih lu ?! Sudah sudah, duduk dulu. Sini."


Tiba tiba dari arah belakang muncul seorang bapak bapak separuh baya dengan tinggi sekitar 163 cm . Ya bukan tubuh yang ideal bagi seoarang laki laki, tapi kantongnya tebel beud. Omsetnya aja per 3 bulan bisa 2M dari bertani. Gila ga tuh 😁.


Jadi bagi kalian para bocil, anda ga perlu tergoda dengan seragam dengan gaji UMR itu, karena di luar sana banyak orang berpenampilan biasa , pekerjaan dianggap remeh tapi kaya raya.


"Nak, udah nyampek ? Sehat kan ?" Tanya bapak itu pada Anes sambari mengulurkan tangannya berjabat tangan.


Anes beranjak dari tempat duduknya lalu membungkukkan badannya dan meraih tangan bapak itu sembari sungkem.


"Alhamdulilah sehat pak, ibuk mana pak ?Ada?"


Tanya Anes menanyakan ibuk sahabatnya ini yang memang sangat akrab dengan Anes dulu.


"Ada, tapi masih ngirim bekal buat orang di kebun tebu yang selatan itu lo, paling bentar lagi juga pulang."


"Sedang nggiling pak?" Tanya Anes.


"Iya . Udah semingguan sih nek." Di jawab oleh Sahabatnya yang duduk di sebelahnya.


"Gimana ? Mau langsung atau nanti saja, istirahat dulu ?" Tanya Ayahnya sahabatnya ini.


"Mmmm langsung saja Pak, kasian Bapak kan sudah nunggu lama dari tadi. Ga enak saya. Nanti sore saya juga mau langsung pulang kok pak." Kata Anes menegaskan.


"Ya sudah, ayo. Apriiiiii.... ! sini Pri." Kata Bapak itu sambil berteriak memanggil yang namanya Apri.


Apri ini adalah abang sepupu dari sahabatnya. Apri juga sudah kenal Anes ketika Anes masih satu tempat kerja dengan sahabatnya ketika baru lulus SMK dulu. Abangnya ini agak tengil namun dulu dia sangat menjaga kepada adik adiknya termasuk Anes. Anes sudah dianggap seperti adiknya juga sama kaya sahabatnya itu.


"Eh elu cil, sehat cil ? Belum gila kan cil?"


Tanya Bang Apri pada Anes yang dari dulu selalu manggil Anes dengan Krucil. Entah kenapa, mungkin karena dulu postur Anes yang kurus kering keg anak kekurangan gizi hingga membuat Bang Apri punya ide menanggil Anes dengan Krucil.


"Hehehee sehat Bang ? Abang gimana ? masih jomblo aja bang?" Anes balik nanya dengan sedikit meledek. Karena setahu Anes Bang Apri ini memiliki trauma terhadap cewek, karena tunangannya yang akan dinikahi kurang satu bulan ternyata Hamil dengan orang lain.

__ADS_1


"Ahhhh masih aja rese' lu cil."


Jawab Bang Apri sembari mengusap usap kepala Anes dengan sedikit kasar. Bukan mengusap, lebih tepatnya mengacak ngacak rambut hingga kumal berantakan.


"Akkhhh..... Apaan sih Bang?!" Jawab Anes kesal langsung membenahi rambutnya yang ga karuan.


"Weeeee......kk.. (Menjulurkan lidahnya) . Mana kotak itu ? " Tanya Apri mengulurkan tangannya pada Anes.


Anes membuka resleting tas hitamnya , lalu mengeluarkan kotak cantik itu dari dalam dan menyerahkannya pada abangnya Apri.


"Namanya benar begini kan?" Tanya Apri sembari memperlihatkan sebuah photo nisan kecil bertuliskan Rahma Damasya.


"Iya bang bener kok."


"Tanggalnya ? Bener ?"


"Bener juga." Jawab Anes.


"Oke. Setelah selesai membungkus ini , kita berangkat. Kamu siap kan?" Tanya Apri lagi menegaskan.


"Insha Allah siap bang. Di sana ada berapa orang bang?" Jawab Anes lalu bertanya.


"Tenang aja, ga ada siapa siapa. Hanya dua orang petugas makam. Nanti Pak Lurah yang akan ke sini jika semuanya sudah selesai. Tinggal tanda tangan dokumen aja."


"Heheheehe Makasih yang bang , juga Bapak, makasih pak atas bantuannya."


"Ga usah sungkan. Kesalahan yang sudah berlalu jadikan pelajaran saja. Ga perlu di ratapi berlebihan. Dan satu lagi, JANGAN DI ULANGI. Ngerti ?" Kata Bapak menasehati.


"Iya pak , saya mengerti. Maaf."


"Bukan minta maaf ke saya, tapi mintaa maaf ke dirimu sendiri, karena kamu ga bisa jaga diri."


"iya pak." Kata Anes menunduk.


"ya sudah, ayo berangkat. ik, kamu ikut apa di rumah ?" Tanya bapak pada i,ik.


"Ikut pak, kasian tuh. Ntar dia mêlèng lagi." Jawab i,ik sambil mengerlingkan matanya ke arah Anes.


"Aku sehat." Kata Anes memastikan.


"Kita liat aja nanti." Jawab i,ik.


Mereka berempat pun mulai menaiki motor berboncengan satu satu. Sedangkan kotak berukir coklat itu di pangku Bang Apri yang telah dibungkus rapi dengan kain mori putih bersih dengan ikatan seperti permen.


Namun tetap di taruh lagi dalam tray segi empat agar lebih sopan bentuk penghargaan terhadap calon manusia yang telah tiada.


Sederhana, tidak ada bunga, hanya ada botol kecil minyak serimpi sebagai wangi wangian yang ikut di bawa di atas tray.


Perjalanan dari rumah ke TPU tidaklah lama, hanya sekitar 10 menit saja.


Di sana sudah ada dua orang bapak bapak yang menunggu di pos pintu masuk makam.


Ya memang mereka adalah penggali kubur untuk makam itu, sekaligus penjaga makam yang bertugas juga membersihkan makam tersebut.


Dan beruntungnya aparat Desa ini sangat kooperatif dengan mereka, memberikan gaji bulanan, serta tambahan gaji ketika ada orang yang meninggal atau harus gali gali kubur seperti saat ini.


"Siang pak, langsung ke belakang saja ya." Kata salah satu Bapak itu.


"Sebentar, saya ikut." kata seseorang yang baru saja Tiba, beliau adalah Pak Ustad yang akan memimpin doa di pemakaman ini.


Tanpa ada yang menjawab, mereka ber tujuh pun melangkahkan kaki ke arah galian lubang yang telah di siapkan.


Lubang ini kecil, hanya berukuran 0.5 x 0.85 meter saja.


Penguburan dilakukan dengan sangat cepat, karena memang ukurannya hanya kecil saja.


Setelah semuanya selesai, lalu dilakukan prosesi doa yang dipimpin oleh pak Ustad.


بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ/سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ ، اللَّهُمَّ افْتَحْ أَبْوَابَ السَّمَاءِ لِرُوحِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَوَسِّعْ لَهُ فِي قَبْرِهِ


Bismillāh wa ‘alā millati/sunnati rasūlillāh. Allāhummaftah abwābas samā’I li rūhihī, wa akrim nuzulahū, wa wassi‘ madkhalahū, wa wassi‘ lahū fī qabrihī.


Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama rasul-Nya. Ya Allah, bukalah pintu-pintu langit untuk roh jenazah, muliakanlah tempatnya, luaskanlah tempat masuknya, dan lapangkanlah alam kuburnya.”


"Aamiin." Serempak mereka mengusap kedua belah tangan setelah pak Ustad selesai membaca doa.


Ternyata penjaga makam telah mempersiapkan satu keranjang kecil bunga untuk di taburkan di atas makam serta air dalam kendi yang memang sudah di persiapkan di makam ini.


"Terimakasih pak." Kata Anes lalu meraup bunga itu dan menaburkannya 3x ke atas tanah makam yang di tancapkan nisan bertuliskan Rahma Damasya . Kemudian menyiramkan air dari cungkup kendi 3x juga di antara taburan bunga bunga itu.


"Sisakan untukku nek." Kata i'ik.


"Gua juga." Kata Apri.


"Bapak mau ?" Tanya i,ik pada Ayahnya.


"Jelas harus. Masak saya kakeknya ga mau sih."Jawab Ayahnya I'ik.


"Terimakasih semuanya. Dan maaf sudah merepotkan. Saya tidak pandai bicara pak ustad, jadi mohon maaf." Kata Anes menjelaskan.


"Oh, tidak apa apa nak. Kalau sudah selesai mari kita pulang." Kata Pak ustad tersebut.


"Oh iya pak, nanti setelah Dzuhur mohon bapak bapak ini ke rumah saya ya. Untuk Pak Ustad juga kembali saya mohon untuk ke rumah saya pak." Kata Ayah i,ik menegaskan undangan untuk doa bersama di rumah i,ik.


"Siap pak, kami mengerti." Jawab mereka serempak.


................


Sesampainya di rumah i,ik.


"Nek bersihin diri dulu, baru kita ke pasar belanja. Ganti baju dengan baju gua aja dulu, sekalian cuci bajumh, ntar sore pasti dah kering kalau lu ga mau ninggal baju di sini."


"Oke lah, saya ngerti ik, baju lu di cuciin sekalian ga ?"


"Ga akh, gua cuci sendiri . Kan kamar mandinya ada dua kan."


"Eh iya. hehehhee." Jawab Anes yang langsung masuk kamar mandi setelah ambil baju ganti yang ternyata sudah di siapkan sama i,ik sebelum berangkat.


Merekapun akhirnya mandi bersama di tempat masing masing, juga mencuci baru mereka masing masing lalu menjemurnya di terik matahari yang memang indonesia rajanya sinar matahari yang menyengat sepanjang waktu.


Setelah semuanya selesai mereka berduapun bergegas ke pasar pagi dan membawa daftara belanjaan yang sudah di tulis oleh ibunya i,ik di selembar kertas note warna pink.


"Ghan,,,,, hei jam berapa sampai ?" Tanya seorang ibuk ibuk tiba tiba yang tak lain adalah ibu nya i,ik.


"Hehehe asalamualaikum buk, sudah lama kok buk, barusan pulang dari makam." Sambut Anes sambil memeluk tubuh subur milik ibuknya i,ik.

__ADS_1


"Sama Bapak dan Apri?"


"Tentu saja buk, ga mungkin kan saya sendirian? Hehehehe."


"Lha, terus, Bapakmu sama Apri mana sekarang ?"


"Ga tau Buk, katanya tadi mau ngecek pengairan kolam. Kolam apa Buk ?" Anes balik nanya.


"Oh... kolam Patin Ghan, baru 5x panen ini sih. Belum lama koo Ghan."


"Ohh... kirain kolam apaan gitu, perasaan Bapak dulu ga ada kolam dech."


"Iya kemarin itu tanahnya Om Bima di jual karena beliau sakit sakitan. Kamu masih ingat sama Om Bima, yang bujang umur 45 itu lo. Sepupunya Bapak."


"Ingat Buk." Jawab Anes mengangguk angguk tanda mengerti.


"Ya udah cepetan pergi, keburu jalanan rame ntar.Cepetan pulang. Bilang sama i,ik ga usah main main dulu. Mainnya ntar kapan kapan aja. Ini habis dzuhur kan?!"


"Iya buk kata Bapak, habis dzuhur."


"Nah, itu. cepet sono pergi. iiiikkkkk !!! cepetan !!!" Teriaknya pada i,ik yang padahal i,ik sudah nangkring di atas motor sambil mainan ponsel.


"Ibuk tuh yang bikin lama, kok saya.!" Jawab i,ik balik berteriak.


"Hehehehe sudah sudah, sana pergi, hati hati di jalan ya Ghan, bilang sama i,ik ga usah ngebut."


Nasehatnya lagi.


"Iya buk. Asalamualaikum."


"Walaikum salam."


............


Gelang jam hitam di atas pergelangan tangan kanan Anes menunjukkan jam 8:30 . Masih lumayan pagi untuk ukuran emak emak di indonesia, apalagi bagi mereka yang suka gosip. Pasar juga ramai dengan emak emak yang pakaian yang berwarna warni.


Ada yang sekedar membolak balik hanger baju yang di gantung, ada juga yang mencoba tawar menawar dengan para pedangan, aja juga emak emak yang membawa rentengan besi tutup botol untuk di jadikan alat music sebagai pengamen pasar.


Hei di sini ada ! pengamen tipe beginian masih ada. Dan banyak pula. Hahahahahaha.


Anes dan i,ik terus berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari barang yang di inginkan.


Ga banyak sih, cuma butuh Daging, sayur, kelapa parut, dan beberapa printhiln printhilan yang harus di beli di tukang bunga yang biasa jual bunga tabur kuburan.


45 menit kemudian mereka sudah sampai kembali ke rumah dengan tentengan mereka masing masing.


"Dapet semua ga?" Tanya ibunya i,ik dari dalam dapur.


"Alhamdulilah dapet semua buk, tanpa koma." Jawab i,ik.


"ya sudah. Bawa sini semua. Dan kalian berdua ga boleh pergi. Bantuin ibuk."


"Siap bos !" Jawab I,ik dan anes serempak sambil memberi hormat seperti sedang hormat bendera negara.


"Haiiissshhhh belum berubah juga ternyata."


Kata ibunya i,ik ngedumel melihat kelakuan anaknya dan temannya yaitu Anes.


Mereka bertiga di dapur tanpa banyak bicara lagi . Karena proses memasak itu memang tak secepat makanan siap saji, yang tinggal ambil bahan setengah matang dari freezer , goreng bentar langaung jadi. Ini butuh ketrampilan dalam mengolahnya. Apalagi hidangan hidangan otentik yang membutuhkan rempah lebih banyak.


........... ......................... ...............


12:30 Di ruang tamu, sudah ada Pak Lurah beserta sekertaris desa, 2 orang bapak penggali kubur, Pak Ustad, Bang Apri dan juga Bapak.


Mereka berbincang bincang sebentar lalu melakukan doa bersama atas Rahma Damasya .


Hanya mereka bertujuh tak ada orang lain lagi.


Selanjutnya Anes menandatangani surat pembelian tanah makam, serta surat keterangan bahwa ia telah menguburkan anaknya di Kelurahan tersebut.


Kenapa tanah makam harus beli ? Karena tanah makam ini sebenarnya di sediakan Desa untuk penduduk desa tersebut gratis.


Karena Anes bukan penduduk situ, bahkan Anes adalah penduduk luar kabupaten yang tidak ada kepentingan mendesak (misalnya meninggal tanpa identitas dll), maka Anes harus membeli tanah makam sebagai miliknya.


Dan uangnya akan masuk ke kas Desa.


Meskipun harus melewati diskusi yang lumayan panjang juga, karena tanah makam tidak bisa diperjualbelikan seenak jidat. Namun bersyukurnya Anes karena Ayahnya I,ik kenal baik dengan Pak Lurah.


Kegiatan hari ini berjalan dengan lancar, tanpa suatu halangan apapun sama sekali.


Satu persatu mereka mulai beranjak menuju kegiatan masing masing.


Dan Anes pun ikut membantu beres beres dapur sambil sesekali bersenda gurau dengan ibuknya i,ik beserta anaknya yaitu i,ik sendiri.


Menceritakan hal hal menarik lain yang selama beberapa tahun ini mereka jalani.


Ya.... keluarga i,ik memang dekat sekali dengan Anes, mereka seperti menganggap Anes sebagai anak mereka sendiri, dan Anes pun sangat beruntung memiliki mereka saat ini.


"Thank you Allah, engkau berikan keluarga ini untukku, setidaknya dengan hadirnya mereka saya bisa menyelamatkan ayah dan ibu ku."


.


.


.



Author : Ngiler ngiler ga liat makanan ter endoy saya hari ini ?🤣


sluurrpphhhhh aahhkkkk uuuhh hahahaha😛


nikmat apa..... 😁.


.


.


.


.


.


 

__ADS_1


__ADS_2