Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Kembali


__ADS_3

Empat bulan telah berlalu dari putusnya nya hubungan Anes dan Dimas.


Keadaan sedikit membaik, Bu Santi juga sudah kembali ke rumah, dengan kondisi sama seperti ketika belum masuk RS, yaitu lumpuh, namun sudah bisa bicara dan bercakap cakap normal seperti kemarin kemarin.


Ariz juga sudah punya pacar, dengan seseorang yang ia curhatkan kemaren, Pria ini pria rantau juga yang ada di negara B, mereka berdua belum pernah bertemu, hanya berkenalan lewat facebook dan berpacaran lewat mesenger.


"Hahahahahahahahaa..." Tawa Anes menggelegar ketika tahu cerita Ariz tentang pacarnya.


"Dasar Ariz goblok. Masak pacaran online . Hahahahahaha pake di kata Cinta pulak. Dasar geblek."


"Lu belum tau aja, entar kalau lu ngerasain juga jatuh cinta online baru tau rasa lu crit."


"Gua ????? Mana mungkin gua se tolil lu Riz Ariz, hahahhahahhaha... ga mungkinlah gua bisa jatuh cinta ma makhluk ghaib. Jahahhahahhaahahahah"


"Bilang aja lu ga bisa move on Criittt .... Dasar lebay alay lu.. lebih menjijikkan daripada gua donk ya... hhahhahahhaa"


"Heleh, liat aja ntar palingan kalau lu putus, malah lu yang gila karena ga bisa move on, jatuh cinta online biasanya kan begitu." Sanggah Anes mencebikkan bibir tipisnya.


"Heleh, elu emang kalau Dimas ngajak balikan, lu masih mau ga?"


"Entahlah...." Anes menundukkan kepalanya karena di ingatkan lagi pada lukanya yang belum juga hilang rasa perih yang ia rasakan.


.......................................................


Untuk menghilangkan resah hatinya, Anes iseng membuka Skype. Ada beberapa chat masuk, karena setelah putus dari Dimas memang semua notifikasi di matikan, karena Anes ingin memfokuskan tenaga dan pikirannya pada pekerjaan serta keluarganya.


...One week ago...


Apa kabar ?


Kamu baik baik aja kan dek?


"Akhh ngapain nih anak . Kenapa pulak harus nanyain kabar sih ?"


Gerutu Anes ketika membuka sebuah pesan yang tak lain adalah pesan dari Dimas.


Matanya mulai panas, menahan amarah yang bercampur dengan kesedihan, namun hal ini berusaha di tahannya, ia tau ia harus bersikap dewasa dan bijaksana sekarang.


Anes juga masih bingung kenapa ga hubungin dia via WA aja. Kenapa harus lewat Skype ?


"Akkkhh sudahlah, ngapain juga gua kepo dengan alasannya. Takut ketahuan Aya mungkin."


Gumam Anes lagi.


Tangan Anes pun secara setengah sadar tiba tiba sudah mengetik hurup pada keyword nya.


^^^Baik.^^^


Tanpa sadar ternyata sudah send.


"Akkhh kenapa gua bales sih...?"


Gerutu Anes merutuki kebodohannya.


Syukurlah kalau begitu.


Tiba tiba di bales donk... Anes panik donk...


"Gila gua. Kenapa begini bodoh ya ? tuh kan jadi bingung sendiri kan jadinya." Masih menggerutu di depan laptop biru nya yang ia pangku.


Kalau ada waktu telpon ya.. WA masih aktif kan?


^^^Besok . Dan Iya.^^^


Oke Oke.


"Aakkhhh shiittt kenapa gua jadi gemeteran begini sih, ni gua ga bisa apa pinteran dikit, mau bicarain apa coba ? Kenapa ga to the point aja sih."


Namun kata kata ini hanyalah keluar dari mulutnya saja. Da tentu saja tak ada satu orangpun yang melihat atau mendengar.


Tiba tiba panggilan grup Vcall di WA Dari Boriz alias Ariz,,, dengan salah satu nomor yang belum ada dalam daftar kontaknya.

__ADS_1


Namun dari kode negara yang muncul, maka Anes sudah bisa menebak dengan siapa ia akan berbicara.


"Jiirrr apalagi sih ini ? Ada ada saja."


Gerutunya , namun dengan menggeser tombol warna hijau itu.


"Jahahahahahahaha" Tiba tiba barusan di buka sudah meledak tawa keduanya.


"Apaan sih nyet ?" Tanya Anes sedikit emosi.


Lha siapa juga yang ga emosi , ketika banyak masalah menghampiri, terus di ajak ngobrol beginian.


"Yank,, tuh kan beneran apa yang aku bilang , kalau kuncrit pasti marah marah kalau di telpon. Hahahaha,,,,,"


Kata Ariz memperkenalkan Anes pada kekasihnya .


"Iya saya percaya kok sama kamu. Salam kenal ya Mbak Nes." Kata laki laki itu menyapa dengan senyum melebar selebar daun pisang milik pak RT.


"Ada perlu apa?!" Tanya Anes ketus.


"Ya ngobrol lah criiitt,, kok nanya ada apa, gimana sih." Jawab Ariz dengan wajah sangat sangat sumrigah seperti habis dapat lotre satu M.


"Ga ada penting kan?" Tanya Anes masih dengan bersungut sungut.


"Ga ada sih." Jawab Ariz terkekeh geli ga peka.


"Ya udah. Bye. Gua out." Kata Anes lalu langsung mematikan telponnya tanpa mau tau repon dari kedua nya.


Ariz dan kekasihnya :


"Kok Mati ?" Ucap mereka bebarengan.


"Yank, sepertinya temenmu lagi badmood dech, kamu ga coba nanya kenapa gitu ?" Tanya laki laki itu.


"Ga akh,,, kan aku lagi telponan ma kamu, lha Anes telponnya di gabungin juga ga mau kan ? kamu liat sendiri kan ? padahal kita juga ga ngapa ngapain kan ?" Jawab Ariz minta pembenaran .


"Ya udahlah kalau gitu, mungkin benar seperti apa katamu kalau karakternya memang suka ketus begitu. "


Anes pov:


"Sialan bener, ni anak kok ada peka pekanya sih, kenapa sih ga bisa bentar aja biarin gua tenang sendirian gitu ? Kaya di hidupku cuma ada dia doank. Ada tuh ibukku yang butuh otak buat dipikirin. Dasar sialan." Gerutunya terus karena memang hatinya benar benar sedang kacau saat ini.


"Apakah jatuh cinta serumit ini ?" Tanyanya pada cermin yang berdiri tegak di kamarnya, sambil memperhatikan raut mukanya yang semakin hari makin kusut ia rasa.


"Haisshh kenapa pulak ni muka, perasaan wajahku ga buruk buruk amat dech. haiisshhh geblek ! geblek! Anes geblek. !"


Setelah sedikit puas memaki maki dirinya sendiri, Anes beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.


15 menit kemudian....


Anes keluar dari kamar mandi sudah kembali berpakaian lengkap karena ia memang tak suka dan tak terbiasa keluar dari kamar mandi hanya pakai handuk seperti orang orang kebanyakan.


Namun, Anes tak lagi membuka laptop maupun ponsel nya.


Gadged nya ia biarkan begitu saja tergeletak di atas ranjang.


Dengan tanpa banyak kata lagi, Anes segera menuju ke bawah, ke kamar nya Papa. Di kamar inilah Anes tifur sejak pertama kali datang, namun saat ini meskipun masih dalam satu kamar, Anes tidur di ranjang yang berbeda dari papa pasiennya.


Anes merrbahkan tubuhnya dan berjuang keras untuk melupakan storynya hari ini.


"Akkkhhhhh lelah." Ucapnya pelan sambil terpejam.


...............................


Ke esokan harinya.


...10.24...


***Ada waktu ? √√


^^^Ntar malem √√^^^

__ADS_1


oke. siap √√***


Bunyi chat WA nya Anes dari siapa lagi kalau bukan dari Dimas.


Namun gara gara ini pun membuat Anes kelimpungan, ga fokus pada apa yang dia kerjakan, entahlah dia sendiri bingung apa yang sebenarnya ia pikirkan atau ia takutkan.


Mungkin ini sudah mencapai Peak of Stress .


Meskipun Anes sendiri ga tau bahwa ia sedang stress atau ga. Dia sendiri bingung apa yang sedang terjadi pada dirinya.


Waktu di pergelangan kiri Anes menunjukkan jam 21.30 ketika ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk. Tak lain adalah Video Call dari Dimas.


"Akhhhh kenapa gua masih gemeteran ya?" Tanya Anes pada dirinya sendiri ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya tersebut.


"Ya ?" Sapa Anes dengan tangan masih gemeteran, Anes duduk di tepi ranjangnya sambil memperhatikan siluet dirinya sendiri di dalam kaca. Karena ia tak mau atau entah tak kuasa memandangi wajah Dimas di Dalam layar ponselnya.


"Dek, gimana kabarnya sehat sehat kan ?"


"iya sehat. Ada apa?"


"Ga ada apa apa sih, cuma kangen aja, sekaligus mau minta maaf." Kata Didim.


"Minta maaf ? Soal ?" Tanya Anes lagi pura pura bego.


"Ya soal kita yang kemaren dek, aku tau aku salah banget waktu itu, aku telah salah memilih orang." Kata Didim menjelaskan dan mencoba menarik kembali kepercayaan Anes.


"Aku pikir, aku lebih bahagia dengannya, ternyata tidak." Kata Dimas lagi.


"Terus ?" Tanya Anes lagi.


"Ya aku mau, kalau kita mulai lagi dari awal dek, aku pingin kita baik baik kaya dulu lagi, seperti apa yang telah kita jalani bersama."


"Jadi, sebenarnya tuh aku atau Aya sih yang jadi selingkuhan ?" Tanya Anes meminta penjelasan.


"Bisa ga dek, ga usah bahas itu lagi, aku takut malah akan semakin menyakitimu. Yang sudah ya sudah jangan di bahas terus, karena yang tersakiti adalah kamu, aku tau waktu itu aku sangat sangat egois dengan tak memikirkan keberadaanmu." Lanjut Didim menjelaskan.


"Bisa kan kita bareng bareng lagi ?"


"Liat nanti." Jawab Anes singkat karena ia ga tau mau menjawab apa.


"Tapi aku di maafkan kan?" Tanya Didim mengharap.


"Sudah, tenang aja, aku ikhlas waktu itu." Jawab Anes sedikit melebarkan bibirnya tersenyum.


"Syukur dech kalau begitu, terimakasih ya dek telah memaafkanku. Tapi tenang, aku ga akan mengulangi apa yang telah terjadi. Kita mulai hidup yang baru ya. Aku yakin kita bisa." Semangat Didim ber orasi.


"Mmmm.........." Hanya jawaban itu yang mampu Anes keluarkan untuk saat ini.


Selebihnya Anes hanya mendengarkan Didim bercerita tentang hari hari yang ia lalui akhir akhir ini bersama teman temannya satu pabrik. Sambil memperlihatkan daftar lagu lagu baru yang sudah ia persiapkan untuk menemani hari hari bersama mereka berdua lagi.


Hingga kekakuan mereka (lebih tepatnya Anes seorang diri) hilang secara perlahan lahan. Meskipun Anes masih lebih banyak diam , namun canggungnya sudah berangsur angsur pergi.


Ghibah berlangsung hingga larut malam, tak seperti biasanya yang akan berakhir di jam 22.30 karena kedua nya nge game dengan game kesukaan masing masing.


Anes yang menyukai bilyard dan Dimas yang menyukai game poker, mereka sama sama ga mau di ganggu ketika sudah masuk di dunia game. Meskipun game yang mereka lakukan hanya sebatas hiburan ga sampai membeli chip, namun bagi mereka pembatasan waktu sangatlah penting untuk tetap menjaga Me time.


Larut malam, malam makin larut menemani dua manusia yang akan membina hubungan baru, nafas baru, kabut pelan pelan menutupi kedua kelopak mata dua manusia yang telentang di tempat tidur masing masing sambil masih menyalakan ponselnya.


Sungguh LEBAY, banyak orang yang bilang begitu, namun bagi sepasang kekasih yang sudah lama tak bersua suara , hal ini di anggap sebagai oase di tengah luasnya sahara.


Tinggal hembusan nafas yang terlihat begitu teratur di antara layar ponsel yang masih menyala, tentu saja ini menjadikan relaksasi buat tidur malam dua makhluk ini.


😁


.


*Ada yang merasa mual mual pingin muntah di bagian ini ?🤣


Author sudah siapkan obat anti muntah yaitu Karet Ban. Tinggal telen aja karet ban di pastikan aman dari muntah 😁*


.

__ADS_1


.


__ADS_2