Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Akhhhhh


__ADS_3

Satu setengah bulan berlalu setelah kedatangan pertama Anes .


Dan selama 45 hari itupun Anes masih saja tidur di lantai seperti biasanya.


Ya,,,, di udara yang begitu dingin , Anes harus tidur di lantai setiap malam karena ga bisa tidur seranjang dengan laki laki , meskipun dia adalah pasiennya.


Anes sangatlah risi dengan hal itu.


Rasa capek pada tubuhnya karena harus angkat junjung Papa, ia rasakan makin hari makin ngilu di sekujur tubuhnya, hinga sampai pada suatu masa Anes merasakan nyeri yang amat sangat pada perutnya dan susah buang air kecil.


"Mas, mas Susan dulu waktu kengser rasanya kaya gimana sih mas ? sakitnya yang seperti apa mas?" Tanya Anes pada Mas Susan ketika bersua telpon.


"eeeemmm apa ya.. kram perut, terus susah kencing. Kayaknya gitu doank sih, ga ada yang lain. Kenapa emang? Kamu sakit blek?"


Tanya Susan sambil menjelaskan pada Anes tentang apa yang pernah di rasakannya dulu.


"Seperti aku kengser deh mas, rasanya mirip sih sama itu, cuma ketambahan sakit di pinggang bagian kanan sih."


"Ya udahlah, coba kamu urut pake minyak yang agak anget gitu, agak di naik naikkan ke atas , sapa tau mendingan. Jangan bilang sama ibuk dulu, nanti ibuk kepikiran ma kamu." Lanjut Susan.


"iya dech, langsung aku coba ya mas, jangan di matiin dulu tlp nya, sapa tau malam ini aku udah bisa tidur." Kata Anes.


"Lha emang udah berapa hari kamu begitu Blek?" Tanya Susan khawatir.


"Tiga hari Mas." Jawab Anes.


"Ehhhh... beneran Mas, agak mendingan rasanya, kayaaaa...kkk ringan gitu." Kata Anes sedikit senang.


"Tu kan bener, Tapi kalau ga sembuh sembuh kamu harus ke dokter lo Blek. Sapa tau kamu kenapa napa gitu." Lanjut Susan menyarankan.


"Iya Mas, Anes tau kok. Berharapnya sih ga kenapa napa ya. Hanya kengser biasa aja."


"Iya mudah mudahan. Ya udah kamu jaga tuh badan, ati ati kalau kerja, ni aku mau lanjutin kerjaan dulu. Kalau mau tlp ibuk, nanti aja kalau kamu dah sembuh. Ibuk pasti curiga dengan suaramu kalau tlp sekarang." Lanjut Susan.


"Ya udah deh Mas, aku juga mau mandi dulu nih. Meskipun dingin juga."


"Lah, , kamu belum mandi Blek jam segini?" Tanya Susan heran.


"Hehehehe kan belum, di sini emang begitu adatnya, mandinya kalau mau tidur. Emang dipikir indonesia yang mandinya 3x sehari. Ada ada saja kau mas."


"Kirain sama. wxwxxwxwxwx." Jawab Susan terkekeh.


"Ya udah, aku matiin ya, Walaikumsalam mas."


"Asala...... "


tuuuutttt....tuuuutttt....tuuuuuttt


"Dasar sialan tuh manusia satu. Punya adek perempuan satu aja gesreknya setengah mati. Beeuuuhhh.." Sungut Susan sambil memandangi hape nya dengan kesal.


................


Sudah satu minggu perut Anes masih saja sakit, proses urut yang dilakukannya kemarin memang mengurangi rasa nyeri, namun setelah 24 jam nyerinya kembali terasa. Dan berulang ulang begitu terus.


Bahkan saat ini nyeri yang di rasakannya semakin hari makin parah, apalagi nyeri di pinggang belakang bagian kanan, rasanya seperti mau putus saja.


Anehnya tubuh Anes terasa makin lemas, tak bertenaga. Kantung matanya mulai menghitam. Wajahnya pucat, bola matanya berubah kehijauan.


Lebih parah lagi ketika tiba tiba saat Anes buang air kecil yang keluar bukan air, namun darah. Air kencingnya berubah coklat kemerahan.


"Akkhh sudahlah,,, paling aku cuma kecapekan aja kali ya" Batin Anes menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun harapannya sembuh dengan sendirinya ternyata cuma mimpi.


Setelah ke esokan harinya apa yang di rasakannya makin parah.


Warna kencingnya juga semakin merah darah.


Tubuhnya makin tak bertenaga. Hingga untuk berjalanpun Anes harus berpegangan pada tembok.


Namun Anes masih saja bekerja seperti biasa. Ngurusin Papa dan pekerjaan lainnya.


Di sela sela makan siang..........


"Ma, nanti anterin Aan ke dokter ya." Pinta Anes pada Mama.


"Kamu kenapa An?" Tanya Mama.


"Perutku sakit Ma, Nanti setelah selesai makan aku perlihatkan sesuatu." Jawab Anes.


"Mau memperlihatkan apa?" Tanya Mama lagi.


"Makan dulu Ma, ga enak aku ngomongnya." Jawab Anes.


Sepuluh menit kemudian Anes pun membereskan meja makan dan meraih tangan Mama sekalian buat pegangan.


"Ma,, sini,," Kata Anes menarik tangan Mama menuju kamar mandi.


"Apaan.?" Tanya Mama.


"Tuh lihat, air kencingku tuh begitu ma, dan waktu kencing tuh sakiiiittt banget rasanya. Ga kuat aku ma, makanya aku mau Mama nganterin aku periksa dokter." Kata Anes sambil memperlihatkan air kencingnya dalam kloset yang sengaja ga di guyur sebagai bukti.


"Astaaggaaaaaa An ..!! Kamu begitu dah berapa hari An?" Tanya Mama kaget.


"Gila kamu An. Kalau aku jadi kamu dah ga kuat hidup An. Lha Kamu dah sepuluh hari masih bertahan. Ya udah tidurin Papa di ranjang, lalu kita pergi ke dokter, ada dokter kandungan di seberang jalan. Harusnya sih bisa di sana. Kalau di sana ga bisa baru kita ke rumah sakit." Jawab Mama panjang lebar.


"Kamu bisa jalan ? kuat? " Tanya mama.


"Kuat ma, tapi pinjem tangan buat pegangan. Lemes soalnya. Hehehehe." Jawab Anes terkekeh.


"Masih aja ketawa kamu." Ledek Mama sambil meraih tangan Anes.


Jarak rumah ke klinik dokter sangatlah dekat. Hanya perlu jalan kaki 2 menit pun sampai.


Sstelah melakukan registrasi, dan mengantri, akhirnya Anes pun di panggil masuk kedalam.


Dan Mama lah yang berbicara dengan sang dokter apa yang terjadi pada Anes.


"Sakitnya dah berapa hari?" Tanya dokter pada Anes.


"Sepuluh hari dok, tapi yang kencing campur darah baru tiga hari."Jawab Anes menjelaskan.


"Ya udah kamu baring di ranjang dulu, kita rontgen, setelah itu kita lakukan USG juga sekalian." Kata dokter tersebut menjelaskan.


Anes pun menurut, dan setelah photo rontgen selesai , Anes bepindah ranjang yang satu lagi untuk lakukan USG.


Rasa dingin di perut Anes tidaklah menenangkan perasaan Anes yang Was was setengah mati.


"Kenapa langsung Rontgen ya? Busyeet .. gua kenapa pulak?" Batin Anes.


"Ya Rabb... Aku ga mau mati di negara ini." Batin Anes masih dengan rasa khawatir yang sangat tinggi.


"Ini sakit ?" Tanya dokter pada Anes sambil menekan bagian perutnya .

__ADS_1


"Iya dok." Jawab Anes.


"Nahhh ini dia. Liat di layar, ini kantung kencingmu infeksi. Ada luka di dalam sana. Itu sebabnya kenapa kamu bisa kencing darah, ya karena dinding kantung kencingmu luka. Kena air kencing yang keruh, akhirnya darahnya ikut turun kebawa air seni." Jelas Dokter itu sambil tersenyum.


"Tapi ga usah panic, ini sering terjadi. Kamu kurang minum air putih ?" Tanya dokter.


"Ga dok , dia itu paling rajin minum air padahal." kata Mama ikut menjawab.


"Angkat angkat berat tanpa pengaman pinggang?" tanya nya lagi.


Anes hanya tersenyum kecut. Lebih tepatnya meringis.


"Iya dok, dia menjaga suami saya, dan harus angkat junjung tiap hari." Jawab Mama lagi.


"Oke oke, ga pa pa. Ini air kencingmu juga kotor, artinya ginjalmu ga bekerja drngan normal, akhirnya air kencing yang keruh melukai dinding kantung kencingmu, di perparah dengan kamu angkat junjung berat tanpa pengaman pinggang, akhirnya ginjalmu tertekan dan ga bekerja dengan baik." Lanjut dokter panjang kali lebar kali tinggi.


"ini saya kasih sementara obat jalan untuk tiga hari, pereda nyeri, dan pil obat luka dalam. Nanti setelah tiga hari, kamu ke sini lagi lihat hasil rontgen mu, kalau hasilnya baik, maka kamu hanya perlu minum obat untuk perawatan saja selama 2 bulan sampai 3 bulan berturut turut." Kata dokter itu lagi.


"Mengerti dok." Jawab Anes sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Ini perutmu karena sudah terlanjur terluka, dia ga bisa sembuh total, jika kamu ga bisa jaga makan dan minum kamu. Dalam satu setengah bulan ini kamu hanya boleh minum air putih saja. Makanan kaleng dan yang berpengawet kamu jangan makan dulu." kata dokter lagi.


"Teh hijau ga boleh dok? Mie instan?" Tanya Anes kepo.


"Teh ,, ga boleh dulu. Mie instant apalagi. Itu sangat memberatkan lambung dan usus dalam pencernaan, juga kuahnya sangat tinggi garam, itu memberatkan ginjalmu." jelas dokter lagi.


"Oke dok, mengerti." Jawab Anes.


"ya sudah, ini resep obatnya, ambil di depan ya. ingan tiga hari lagi kamu ke sini lagi." Kata dokter itu sambil tersenyum.


Semua telah selesai, sambil menghembuskan nafas lega, Anes dan Mama pun berjalan pulang.


"Akkkhhh,,, sendiri itu kadang membahagiakan , namun kalau udah sakit begini baru dah kerasa sedihnya, nasib nasib jadi anak rantau Nes Anes." Oceh Anes pada dirinya sendiri.


"Besok aku pesankan korset pingang aja dech buatmu An, aku merasa bersalah atas sakitmu ini." Ucap Mama tiba tiba.


"Akkhh ga pa pa kok ma, mudah mudahan hasil rontgen ku bagus, ga ada masalah yang serius. Ga usah sungkan begitu Ma." Jawab Anes menenangkan Mama.


Ya.. pada dasarnya mama itu baik, namun seringkali baiknya mama itu kelewat baik hingga terlalu mencampuri urusan pribadi yang kadang bikin Anes gedheg. Apalagi kalau sudah ngurusin kemana dan buat apa uang nya di indonesia.


Pengalaman pertama di tempat baru ini sedikit membuat Anes ga terlalu banyak cakap.


Entahlah ,,, ada rasa ingin pulang, dan ada pula rasa ingin di sayang.


Malam ini Anes berasa sedikit lega, meskipun masih dalam suasana hati yang sedikit kacau. Paling tidak dia tau apa penyakitnya saat ini.



.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2