Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Putus


__ADS_3

Putus.


itu adalah kata yang masih di nantikan Ghanes sampai sekarang, Dia tak suka di gantung seperti jemuran basah. Dia butuh kejelasan.


Setidaknya dia harus tau pasti layang layang yang terbangkannya ga hilang terbawa angin.


Jauh di dasar hatinya masih menolak kenyataan bahwa Dimas tak lagi menghubunginya, atau sekedar menanyakan kabarnya pun sudah tak pernah sama sekali.


Isu dan kabar berita buruk dirinya di lingkungan teman temannya pun masih santer terlihat, belum surut juga. Namun Anes tetaplah Anes yang dengan gaya ga pedulinya membutakan matanya dan menulikan telinganya, karena menanggapi hal itu hanya akan menyita waktu dan pikirannya saja.


Udara fajar tak lagi segar.


Mentari tak lagi terlihat berseri, Hanya hati yang pura pura kuat yang berusaha menghangat.


Mulai berjongkok di jalanan ketika hujan, Berusaha nge Lem Aspal. Buat persiapan nanti jika jatuh cinta lagi, siapa tau cintanya retak ditengah jalan. Lagi.


"Lu dah putus dengan Dimas?" Tanya Yandro suatu ketika.


"Apaan sih , kepo amat." Jawab Anes ketus.


"Yah ... di perhatiin malah ga mau."


Anes mencibir sinis, "Bukan waktu yang tepat, hatiku bukan konsumsi publik."


Yandro mengangkat kedua tangannya menyerah, "Oke oke, gua ngikut aja bos."


Tentu saja Anes hanya melirik sekilas tak peduli. Layar handphone nya pun di biarkan berdiri di Rak sepatu, lalu Anes mencopot headset dari telinganya tanda tak mau lagi mendengar suara yang di anggap mengganggu itu.


Lelah,,, itu yang di rasakannya saat ini. Pening kepala karena terlalu banyak kata kata yang tak di tuangkannya.


"Fiiuuhhhh..... sudahlah Nes." Katanya pada hatinya. Pasrahnya kepada Tuhannya.


"Lu putus Nes?"


Tanya Kohan lewat private call


Singkat dijawab "Iya."


"Karena kabar yang di facebook itu ?" Lanjut Kohan masih kepo


"May be. ntahlah, dia ngilang gitu aja."


"Kok bisa ?" Tanya Kohan lagi


Terdengar hembusan nafas berat, ...."Entahlah."


"Gua sambungin ke dia ya,


biar ngobrol bareng, aku dengerin deh." Kohan memberika ide.


"Ga usah Han, makasih.


dia kalau telpon tau ada aku,


ga bakal diangkat kok.


kalau ga percaya coba aja." Tolak Anes memberikan saran .


tuuutttttttt....ttuuuuttttt...ttuuttttttt.....


"Diangkat? ga kan ?!" Tanya Anes ingin tau.


" Han ?" Anea mengulangi panggilannya karena tak ada jawaban dari seberang.


"Iya bentar gua chat dulu, sapa tau dia sibuk." Jawab Kohan masih berusaha meyakinkan sahabatnya itu.


" Sudahlah Han, sudah, biarin aja." Sahut Anes pasrah.


"Gua ga terima Nes, malu gua sumpah dah, malu gua sama elu." Jawab Kohan sedikit meninggi menahan kesal hati.


"Lha kenapa mesti malu Han, gua kenal Dimas bukan dari elu kan?!. Biasa aja kali Han." Jawab Anes dengan tertawa kecil sambil memegangi dada nya yang sedikit nyeri karena menahan sakit.


Kohan menghela nafas panjang dan berat, "Tetep aja gua malu Nes."


"Nes,, Nes dengerin Nes !" Kata Kohan tiba tiba.


"Apaan sih Han?" Tanya Anes penasaran


Dengan semangat yang menggebu nggebu ,


" Nih gua bacain ya ... "Lu ga usah hubungin gua kalau cuma mau bahas Anes. Males gua. Lagian urusan pribadi gua bukan urusan elu kan. Ngapain lu sibuk sibuk." Masak Dimas chat gua begini Nes.?! Gila tuh anak kali ya."


"Dibilangin dari tadi. Ga usah Kohaaaannn. Ga usah. Lu sih yang ngeyel. Urusannya Dimas, biar di urusin sendiri. Biarin aja." Kata Anes menegaskan ulang kata katanya.


"Jadi Lu sah dah putus beneran nih?" Balik tanya lagi seakan ga percaya atas apa yang tiba tiba terjadi pada sahabat manisnya ini.

__ADS_1


"May be sih Yes Han. Terus apalagi kalau bukan Putus namanya ? Emang gua ****** basah di gantungin terus?" Jawab Anea sambil berusaha bercanda menghibur dirinya sendiri.


"Ya udahlah, kalau emang putus ya putus, padahal gua seneng kalau lu bisa bareng dengan Dimas, paling ga kita bisa tetanggaan ntar kan?!" Kata Kohan putus harapan.


"Emang rumah kalian se deket apa sih ?" Tanya Anes sedikit ingin tau.


"Kan kita satu RT Nes." Jawab Kohan antusias.


"Oh, berarti Deket ya." Jawab Anes ber Oh ria.


"Iyalah deket Nes. RT itu ga seluas Samudra Pasifik, jaraknya ga selebar Pulau Miangas dan Rote. Ngedipin mata juga kelar Nes." Ulas Kohan sekaligus membandingkan dengan peta dunia.


"Hebat bener matamu bisa ngelarin satu RT. Jangan jangan matamu buatan China lagi." Sambung Anes mulai menanggapi gurauan Kohan.


"Buktinya indah kan?!" Kohan menjawab sambil cengengesan.


"iya lama lama berubah jadi telor mata sapi tuh. Tinggal nambahin sambel aja ma nasi anget." Tambah Ane mulai sedikit teralihkan perhatiaannya.


"Eh Nes, Huda telpon Nes. Masukin sekalian ya?" Tanya Kohan ketika melihat layar handphone nya ada panggilan lain yang masuk.


Mengangkat kedua tangannya ke atas bahu, sambil mengedikkan bahunya, "Serah deh."


Cliinnnggggg...


(Author : 😅😁masak bunyi orang masuk grup call gitu sih. Hahahahaha.. akhh serah deh ga tau saya 🤣)


"Ghanes sayang,,, gimana masih sehat ?" Suara menggelegar merusak lubang telinga yang masih berusaha di imut imutkan.


"lagi kebanyakan efek samping." Jawab anea sekenanya.


"Beneran putus Ghan?" Huda menanyakan pertanyaan yang sama.


Anes mendesis perlahan mirip ular yang mencari mangsa, "Ga ada pertanyaan lain selain PUTUS? Nanya apa kek, nomor rekening gitu, jomblo butuh amunisi pak !"


Membenarkan dirinya sendiri dan merasa hebat, "nah kan bener. Putus."


"Diem lu ******." Sungut Anes dengan nada agak tinggi.


" Btw , kalian darimana tau gua putus sih?" Lanjut Anea menanyai kedua sahabatnya penasaran.


"Beranda facebook." Jawab Kohan dan Huda serentak.


"Dasar emak emak komplek, hobi Ghibah." Maki Anes mencebikkan bibir tipisnya.


"Iya bener, padahal setahu kita kan elu yang sama Dimas , bukan Aya." Kata Huda membenarkan .


"Ya itu menurut kalian, tapi jika pada kenyataannya Dimas, kanan kiri oke gimana? emang kalian tahu?" Jawab Anes sok bijaksana.


"Ga sih." Jawab Huda dan Kohan serempak mirip pasangan pengantin baru.


"Tau tak apê." Jawab Anea menirukan gaya Kak Ros dalam serial kartun anak anak Upin dan Ipin.


"Lu kira kita upin ipin ?" Tanya Huda kesal


"Begitulah kura kura." Anea jawab dengan ngasal lagi.


Tiba tiba Anes memberikan ide, "Eh kita pulang aja gimana?"


"Kita ? lu aja kale, gua masih butuh duit." Jawab Kohan ketus menolak keras usul Anes.


"Yah,, berarti ga ada yang mau nikahin gua nih."


Lanjut Anes dengan suara memelas.


"Yandro tuh, bukan kita." Jawab Huda mengingatkan Anes pada sahabat yang satu nya lagi, yang selama ini memberi perhatian lebih pada Anes.


"Beneran ?" Tanya Anes penasaran sekaligus heran.


"Tanya aja ndiri ma orangnya Nes, jangan nanya ke kita, Itu Hati bukan kita yang bikin." Jawab Huda menegaskan.


"Akhhh males akh, temenan kalau begini ga asyik sama sekali tau." Jawab Anes merasa sedikit sedih karena mulai merasa ga asyik lagi.


Kohan menjawab meminta penjelasan ,


"Lha lu sama Dimas?"


" Kan beda Bondol,,, gua kenal Dimas ga bareng dengan gua kenal ma kalian. Itu beda acara." Jawab Anes memberi penjelasan pada Kohan.


"Sama aja kale, kita sama sama saling kenal juga." Huda menyahut sambil mencebikkan bibirnya.


"Sekali gua bilang beda ya beda. Titik ! No debat." Jawab Anes sekaligus memerintah untuk menghentikan perdebatan , karena tak akan ada ujungnya .


Huda mengangkat kedua tangannya menyerah, "iya lah serah lu, wanita selalu benar."


Anes mencebikkan bibirnya menahan tawa,

__ADS_1


"Tu tau."


"Wanita mah suka begitu, apa apa minta benar, padahal kalau ga ada laki laki wanita juga ga akan lahir kali." Kohan membenarkan dan ikut ikutan pasrah.


"Bisa lah, buktinya Siti Hawa ga punya Bapak." Anes menambahkan ulasan , padahal ga nyambung.


" Kalau lu bandingin sama Siti Hawa , kenapa ga sekalian bandingin ma Iblis, iblis kan juga ga punya Bapak Nes." Jawab Kohan geleng geleng kepala.


"Emang lu tau Iblis lahir darimana ? Yang ga dilahirkan kan raja iblis, bukan keturunanya. Dasar geblek." Tanya Anes beradu logika dengan temannya ini.


"Lu tau detil banget Nes, jangan jangan lu titisannya Iblis yak?" Kohan bertanya sambil mencibir.


Anes membalas, " Kalau gua titisannya iblis, elu temennya."


"Mana ada iblis ganteng kaya kita, ya ga Han?" Sahut Huda minta persetujuan Kohan.


Kohan menjawab bangga dan singkat, "Tul."


"Mana ada juga iblis cantik dan imut kaya gua." Jawab Anes juga membanggakan dirinya .


"Kan elu titisan. Bisa donk jadi siluman, menjelma jadi apa aja." Masih lanjutan dari Huda, (Karena Author mulai bosan menulis dengan tema penulisan seperti ini, tema penulisan yang mencoba author rubah ternyata di tolak oleh auditornya, heehehehehe,,,,,, but,,, lanjutin aja deh apa adanya yak. 😁)


.............


Percakapan yang masih di lanjutkan seperti robot yang tak pernah kehabisan baterai. nyerocos, salin adu argumen atau sekedar mengolok ngolok dengan tujuan saling menghibur.


" Lu kira gua siluman Rubah pacarnya Cu Pat Kai?" Tanya Anea mulai mengeluarkan taring cetar nya.


Kohan cekikikan menutup mulutnya sendiri "Mirip sih."


"Ya. bener bener bener.Mirip." sahut Huda membenarkan pernyataan Kohan.


Anes menggeletukkan giginya tanda mulai ada kobaran asap di ubun ubunnya, "Dasar ******, masak gua di serang dua laki laki elien. Njiirr hilang aura ke Ratu an gua dah !"


"Dih Ratu apaan ? Ratu kok patah hati." Cebik Kohan mengejek sahabatnya.


"Ratu itu bisa beli laki laki, bukan di campakkan. hahahahahahahhahaa." Sahut Huda menegaskan.


"Kalau besok tiba tiba kalian jadi monyet, jangan salahin gua ya. Itu gua memang sengaja." Anes mulai memberikan peringatan ancaman.


"Mau nyantet Nes? Hahahaha." Jawab Huda tertawa terbahak bahak, karena dia tau Anes hanyalah bercanda saja.


"Daripada lu sibuk sibuk nyantet kita , mending cari pacar baru sana, sama sama kerja nya kan . hahahahaha." Lanjut Kohan masih dengan nada mengejek.


"Jiiihhh lagu lagu cinta udah ga relate dengan gua." Jawab Anes mencoba nyambung nyambungin.


"Heleh, barusan juga putus belum ada seminggu, dah sotoy aja lu Nes." cebik Kohan gemas dengan Anes.


"Tau tuh, jangan jangan barusan nyemil sabun tadi." Huda ikut menimpali karena juga Gemas dengan Aneams ini.


Anes terkikik geli, "Bukan sabun, tapi abu gosok."


"Tu kan bener, pantesan aja gesrek." Huda membenarkan ucapannya sendiri.


"Lah gua gesrek juga karena di gangguin setan setan kayak kalian. Padahal biasanya gua diem kok." Kata Anea membela diri.


"Iya Diem, ampe gua kira Reinkarnasi jadi kepala ikan. Ngilang, ga bisa di cariin." Kata Kohan setengah mengejek.


Anes masih mencari pembenaran diri, "Kan gua Butuh inspirasi Han."


Kohan mencibir mesra sampai jontor, karena dari tadi nyebak nyebik terus. 😁


"Heleh....Inspirasi pa patah hati?"


Anes dengan nada keras , lugas, singkat dan tegas, "Diem lu !!"


"hahahahahahahahhahhahahaa" Tawa Kohan dan Huda serempak.


Terlihat jelas kebahagiaan mereka karena Anes nya sudah mulai normal seperti sebelumnya.


Mereka ini sahabat beda negara, Anes dan Ariz di negara T mereka bertiga di negara M. Namun persahabatan terjalin begitu indah.


Seperti itulah sosial media, jika di gunakan dengan benar maka akan menjadi penyambung silaturahmi, namun jika di gunakan tidak dengan semeamstinya maka malah akan merenggangkan silaturahmi, yang dekat menjadi jauh, karena tak bertutur kata ketika bersua.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2