
Syaif yang telah membelah jalanan kota dengan memboncengkan Ghanes di belakangnya. Meskipun di dalam hati Ghane sada perasaan khawatir, namun dia sudah memeriksa baterai di ponselnya dan masih aman untuk kegiatan seharian, jaga-jaga kalau ada sesuatu yang ga di inginkan maka dia masih punya pnsel dan 2 buah power bank yang dayanya masih penuh .
Wisata yang di tuju adalah sebuah pantai yang masih sangat alami dan belum banyak di jamah manusia. pantai ini tersembunyi di balik dua buah bukit yang di tanami jagung oleh warga sekitar. Jalan masuk ke dalam pantai inipun harus melewati jembatan bikinan warga yang kalau hujan jembatan ini akan penuh oleh luapan air sungai.
Namun ketika sudah sampai, rasa kagum yang di dapati Ghanes, karena pantai ini sungguh masih sangat alami, ada juga beberapa warga keluarga dan pasangan yang bermain main di pasir cokelat pantai ini, entah pantai apa namanya.
"Ini pantai apa?" Tanya Ghanes pada Syaif yang menuntunnya menaiki jalan setapak untuk melihat view pantai dari atas.
"Ga tau juga. Tapi gua sering ke sini dulu kalau di panggil warga buat ngebasmi tupai."
"Lah, emang ga jauh dari rumah lu?"
"Ya lumayan sih, cuma kan kalau ada cuannya ya tetep berangkat donk. Hahhahahahaha."
"Oh... di bayar..?"
"Iya donk, itu tupai memang sengaja di basmi karena bisa menyebabkan gagal panen."
"iya sih, terus nangkep-nangkepinnya pake apa?"
Syaif tertawa lebar, "Hahahhaa,Ya pakai tembak lah."
Ghanes bergidik ngeri mendengar pernyataan Syaif. Dalam hati ia berkata,
"iiihhhhh masak ngebunuh hewan ga ada sisi kemanusiaannya sih? Harus ya di tembak? Emang ga bisa pake cara yang lebih mnausiawi sedikit gitu? iihhh ngeri banget dah."
"Kenapa mukamu begitu nek?" Tanya Syaif ketika malihat mimik muka Ghanes tiba-tiba berubah.
"Ga, ga kenapa-napa kok." Jawab Ghanes ngeles.
Ghanes teringat omongan Ayahnya dulu, bahwa manusia yang paling tidak bisa toleransi adalah seseorang yang punya hobi menembaki hewan, entah itu burung atau hewan liar lain, apalagi kalau tujuannya untuk di konsumsi atau di perdagangkan. Bagi Ayahnya perbuatan manusia yang seperti itu adalah mencerminkan bahwa manusia tersebut sangat minim etika dan rendah kemanusiaan.
Jika terhadap makhluk yang lebih lemah (hewan) dia bisa bersikap semena-mena begitu, maka terhadap manusiapun dia pasti akan berusaha menjadi penguasa atas dirinya.
Ghanes mangut-mangut mulai berfikir dengan masa depan, karena sekali lagi ia tak mau menyia-nyiakan hidupnya dengan orang yang karakter dan kebiasaan hidupnya tak bisa ia terima. Belajar dari pengalamna yang sudah-sudah kali ini ia berusaha untuk lebih hati-hati dalam menentukan pilihan hidup.
Meskipun di dalam hatinya masih berharap sesuatu yang lebih karena Syaif merupakan laki-laki yang cerdas dan supel serta memliki pengalaman hidup yang lumayan banyak. Karakter laki-laki yang Ghanes impikan selama ini dalam hidupnya.
Setelah mereka bermain pasir dan menikmati udara pantai, terlihat awan mulai menghitam di ujung laut sebelah sana. Ghanes mulai panik karena memikirkan gimana caranya ia pulang jika ia harus kehujanan di jalan, sedangkan ia tak membawa mantel hujan di motornya.
Ghanes menatap Syaif dengan penuh harap, "Pulang yuk."
Syaif menolehkan kepalanya ke arah Ghane sdengan pandangannya yang sangat teduh.
"Sekarang?"
"Iya lah sekarang If. Masak besok. Liat tuh awan begitu gelap, rumahku jauh If, kamu pikir deket apa."
"Oke oke, jangan marah gitu donk nek, santuy saja napa?" Tanya Syaif cengengesan seperti tak akan ada masalah yang besar.
Padahal dalam hati Ghanes sudah panik, ia takut kehujanan, karena ia sangat tahu bahwa di wilayah tempat tinggalnya kalau hujan ga main-main bisa ampe 2 hari ga berhenti. Dan kalau sudah malam dalam kondisi hujan maka jalan raya yang harus ia lewati sangatlah sepi dengan kendaraan , terkecuali kendaraan-kendaraan besar angkutan barang saja, juga karena biasa berkabut yang membuat jarak pandang sangat terbatas.
okelah kalau dia touring karena banyak kawannya, lha kalau harus melewati hutan berkabut, hujan dan pandangan mata terbatas itu akan sangat jauh berbeda rasanya.
"Ayyoookkk... Katanya pulang... jadi ga ? Kok malah bengong.?" Ajak Syaif setengah berteriak ketika melihat Ghanes malah diam terpaku duduk di atas gading perahu nelayan, yaitu papan-papan yang tersambung untuk membentuk lambung kapal dan melindungi kapal dari sapuan ombak dari samping.
Ghanes beranjak dari duduknya dan mulai berjalan mengekori Syaif berjalan kembali ke tempat parkir motor.
Ghanes tak lagi banyak bicara karena yang ada di pikirannya hanyalah waktu yang semakin sore, dan juga mengejar awan yang semakin menghitam.
Dalam hati dia tak putus berdoa semoga hujan tak menrirami jalan yang akan di laluinya nanti.
.......................................................
Ke esokan harinya ketika ia sedang menikmati tidurnya, ia di ganggu dengan bunyi dering ponselnya.
Drrrrrrrrrrrr........drrrrrrrrrrrrrtttttttttt..........
Ghanes memberenggut karena keinginannya untuk bangun telat tidak kesampaian,"Apaan sih?!"
"Mbak , kerumahmu ya." ✔✔
"Apa?Siapa? Kamu?" ✔✔
"Ya iya, aku mbak. Mau ke rumahmu."✔✔
"Besok aja, gua capek banget. Mau tidur gua hari ini."✔✔
"Oke, oke. Siap mbak."✔✔
Ghanes melemparkan ponselnya ke sisi kasur yang lain, "Diihhh resek bener dah pagi-pagi."
Ghanes kembali menarik selimutnya menutupi kepalanya, sinar matahari menyeruak masuk dari balik korden yang sedikit terbuka.
Namun ia tak peduli berusaha untuk tidur kembali meskipun sedikit susah.
Belum sempat Ghanes memejamkan matanya kembali , terdengar berisik suara pintu kamar di gedor Candra dari luar.
Braakkk.....!!!!! brak......!!!!!!Braakkkkkkkkkkk....!!!!!!!!
"Mbak... bangunnn !!!!!!!! Aku masuk ya.?!"
Candra pun tanpa mendapat persetujuan dari sang empunya kamar, sudah nyelonong masuk dan langsung menggoyang-nggoyangkan badannya Ghanes.
"Mbak di cariin Mas Danu tuh mbak, ada di teras."
Ghanes memaki dalam hati, "Bajingan tuh anak, di bilangin gua mau tidur malah udah nyampe aja ke rumah, dasar gila."
__ADS_1
"MMMMhhhgggggghhhh..... Biarin aja. Bodo ."
"Mbak, jangan gitu donk mbak, kasian dia, masak ada orang bertamu ga di temenin mbak."
"Ya elu aja sono yang nemenin kenapa harus gua sih?"
"Kan yang di cariiin kamu mbak. Ga sopan lu mbak."
Ghanes dengan sangat malas dan muka kucel akhirnya membuka selimutnya sambil menggerutu,
"Dasar kalian laki-laki bikin hidup gua ga tenang, mau tidur aja di gangguin, dasar kalian gila semua."
"Jiihhh,,, hidup gua riweh hari ini sumpah, mau tidur aja di gangguin terus." Ghanes masih mengomel ketika mulai menurunkan kaki dari atas ranjang dan menuju ke belakang mau membasuh mukanya yang mirip seperti neng kunti yang baru saja gaunnya nyangkut di ranting pohon.
Candra hanya senyum senyum saja dari belakang memperhatikan kaka perempuannya yang menggemaskan itu, sambil menerawang jauh kembali teringat masa-masa dulu ketika Mas Susan masih ada.
Candra tersenyum senyum sendiri membayangkan kelakuan mereka bertiga di jaman dahulu yang seringkali menjadi gila, tapi selalu bisa meramaikan suasana.
Lalu kemudian dia beranjak ke teras depan untuk menemani danu sejenak sebelum dia berangkat bekerja seperti biasanya.
Pagi ini masih sangatlah pagi, embun saja belum jatuh dari dedaunan, meskipun matahari sudah lebih awal memperlihatkan dirinya , namun jarum jam di dinding masih menunjukkan angka 6:50.
"Mas, ga kerja?" Tanya Candra setelah nongkrong tepat di sebelah Danu.
Danu menolehkan kepalanya sedikit terkejut, "Eh. Kaget aku Ndra, Ga , hari ini aku minta ijin."
"Hah? Boleh gitu minta ijin se enak jidat?"
"Ya bolehlah, kalau ga boleh aku mencoret namaku sendiri dari KK. Haahahahha." Jawab Danu sambil tertawa.
"Oh iya Mas aku lupa, bosmu Ayahmu sendiri ya."
"Ya begitulah nasib kuli. Bisaku cuma ngekor ayah, mau terjun sendiri aku masih merasa belum cukup ilmu. Ntar aja dech barang 1 atau 2 tahun lagi."
"Iya sih mas, terjun sendiri, pegang anak buah banyak kalau ga kuat mental dan cukup ilmu, yang ada malah di kerjain anak buah. Aku dulu juga pernah begitu soalnya waktu masih kerja di Gresik. hehhehe"
"Iya bener, aku nya kasian Ayahku jika usaha yang dirintisnya malah di hancurkan oleh anaknya, kan ga lucu."
"Ya pelan-pelan aja sih Mas, merintis karier itu ga harus langsung wuuss wusss wuuss,,,, kita bukan anak sultan soalnya."
Tiba-tiba terdengar suara keras membahana dari belakang.
"Eh Markonah ! Ngapain kesini pagi buta? Udah gua bilang gua mau tidur, masih juga nongol di sini."
Serentak mereka berdua menolehkan kepalanya ke arah belakang, terlihat Ghanes berjalan dengan muka bersungut sungut dan kedua tangannya mengangkat ke atas menggulung rambut panjangnya.
"Mbak, ga pakai kerudung mbak?" Tanya Candra melihat kakaknya lupa mengenakan kerudungnya.
"Aahhhkkkkk berisik lu Ndra, gua beneran lagi jengkel hari ini di gangguin dia tuh."
Danu tersenyum melihat Ghanes baru bangun dari tidurnya, tanpa make up dan sangat polos sekali, terlihat begitu menawan apalagi di udara pagi pegunungan yang sangat menyegarkan.
"Hehehhehehe maap maap, aku tadi tuh, udah nyampe tempat bus sana lo, baru sms kamu."
Ghanes mendecih kesal, "Ciihhh....Dasar gila lu Dan."
"Pagi-pagi gangguin orang aja lu."
"Mbak mbak,Lu itu lo, kenapa selalu begitu ma orang, kalau ada orang baik aja di ketusin, nah nanti kalau ketemu orang songong baru tuh sok baik, sok percaya, dasar makhluk aneh lu mbak."
"Itu tanpa di sengaja , reflek bro."
Sahut Ghanes membela diri.
Tiba-tiba Danu nyeletuk,
"Ayookkk...." Katanya sambil menatap Ghanes penuh arti.
Ghanes tak mengerti dengan arti tatapan danu tersebut,
"Hahhh !? ayok kemana ? "
Danu masih memandangi Ghane sdengan senyum-senyum ga jelas, "Puter-puter kotaku donk, emang mau kemana lagi?"
"Lah, mana gua tau kalau lu ngajakin gua keluar? Lu aja ga bilang dari awal kok, mana tau-tau dah nongol aja di rumah, dasar gila lu."
"Di sengaja emang, mungkin kalau aku ngomong dulu, kamu ga akan mau kan? Hehhehe"
Ghanes tak meladeni malah balik bertanya pada adiknya Candra,
"Lu ga kerja Ndra?"
"Kerja lah, ayok, kita berangkat bareng-bareng aja mbak, biar rame."
"Berangkat ke mana?"
"Katanya mau muter-muter kota, jadi ga?"
"Kan dia yang ngomong, bukan gua bukan?"
"Siapa tau lu setuju mbak, hahhahhaa."
Jawab Candra sambil berlalu pergi kembali ke dalam rumah.
Tiba-tiba wajah Ghanes berubah sumringah, lalu beranjak berdiri dari duduknya,
"5 menit ya." Katanya tanpa menoleh pada Danu.
__ADS_1
Danu tak menjawab, namun ia tersenyum sangat bahagia memperhatikan langkah kaki Ghanes yang tergesa-gesa masuk ke dalam rumah, "Lucu sekali anak ini, bentar-bentar galak, bentar-bentar menggelikan, bentar-bentar galau."
Ghanes di dalam kamar bergumam sendirian sembari memasukan ponsel ke dalam tas kecilnya,
"Gua rindu makan bakso solo di bawah lampu merah itu, xixixiixi biarin aja dah, gua nyari gratisan makan, wxwxwxwx itung-itung ngirit kan. Hehhehehhe, gua cerdas sekali bukan? "
Kata Ghanes memandangi cermin merasa sangat bangga dengan kecerdasan dirinya sendiri . Meskipun hal ini lebih tepat di sebut licik daripada cerdas.
.........................
Di taman kota yang berada di sepanjang pinggiran aliran sungai, mereka (Danu dan Ghanes) duduk berdua di depan seorang penjual kopi angkringan sambil memperhatikan anak-anak riang gembira bermain perahu pedal atau biasa di sebut bebek-bebekkan.
Sungai ini alirannya sangat tenang dan ada tim pengaman di sepanjang arena bermain, jadi safety nya terjaga , meskipun begitu anak-anak yang bermain harus tetap dalam pengawasan orangtua masing-masing.
"Kamu mau naik itu?" Tanya Danu pada Ghanes melihat Ghanes terus memperhatikan sugai yang di penuhi pengunjung.
Ghanes tersenyum, "Akh ga, cuma asyik aja memperhatikan mereka semua bahagia begitu."
"Kan emang hidup harus dinikmati bukan?"
"Hehhehe ya juga sih."
Sahut Gahnes meraih susu soda gembira dari tangan penjualnya."Makasih mas."
Danu menghirup bau kopi hitam panas yang di meja kecil di hadapannya,
"Kita nikah aja yuk."
Ghanes dengan cepat dan tanpa ekspresi mengerlingkan matanya tajam pada Danu, mencoba meneliti ekspresi Danu untuk menelaah kebenaran dari pendengarannya barusan.
Sedangkan Danu masih menatap Ghanes dengan serius menunggu reaksi dari si empunya kepala, yang cuex bebek seakan tak ada sesuatu yang aneh atau istimewa dari ucapannya itu.
Ghanes masih mengaduk aduk minuman di gelasnya dengan sedotan lalu memasukkan sedotan ke dalam mulutnya, yang menyesapnya dengan penuh perasaan, sebelum akhirnya ia melontarkan pertanyaan pada manusia di sebelahnya itu,
"Kenapa lu tiba-tiba ngajain gua nikah? Lu yakin lu sehat? Ada angin apa tiba-tiba ngomong begitu?"
Tanya Ghanes masih tanpa ekspresi dan sedikitpun ia tak memperhatikan muka lawan bicaranya.
"Ya aku pikir, daripada kita begini, cuma main sana main sini, bukankah lebih baik kita nikah aja? Kalau dah nikah kan kita mau main kemanapun ga akan ada yang mikir aneh-aneh, misal kaya takut kemaleman di jalan atau lain lainnya. Ya ga sih?"
"Heleh,,, dasar laki-laki, kalau lu emang beneran mau ngajakin nikah, sono lu cariin bapak gua. Berani ga lu ? Jangan beraninya cuma omong doank."
Jawab Ghanes tersenyum smirk.😏
"Serius? Lha ntar aku udah ngomong ma Ayahmu, kamu nya malah nolak, mau di taruh di mana mukaku?"
"Ya lu berani apa ga. Itu aja sih. Lain-lainnya serah elu."
"Oke oke, aku akan ke rumahmu. Kapan?"
"Serah elu lah, bodo amat gua." Jawab Ghanes cuex.
Tiba-tiba Ghanes dengan cepat meraih ponselnya karena ada panggilan masuk dari orang yang di kenalnya yaitu Syaif.
Suara dari seberang sana,
"Lagi dimana kok berisik?"
"Lagi main sama temen, kenapa?"
"Ga. Cuma kangen aja sih."
DEG !
Tiba-tiba hati Ghanes seperti di siram soda satu ember, bergetar pyar pyar pyar, Ghanes salah tingkah dengan sendirinya, tiba-tiba lupa kalau ia sedang bersama dengan orang yang baru saja melamarnya.
Sekitar 15 menit Ghanes dan Syaif berbicara di ponsel, hati Ghanes berbunga bunga ga jelas, dan ia sama sekali ga peduli dengan orang yang sedang bersamanya kali ini.
Ia kembali duduk di tempat duduknya dengan muka sangat sumringah.
"Siapa?" Tanya Danu memperhatikan muka Ghanes yang tibe-tiba berubah sangat sumringah.
"Temen lama ku." Jawab Ghanes singkat.
"Mantan?"
"Bukan sih." jawab Ghanes jujur karena Syaif memang bukan mantannya, karena selama ini mereka belum pernah berpacaran.
"Oh ya udah." Jawab danu tak ingin terlalu mengulik privasinya Ghanes, takut Ghanes merasa ga nyaman atau malah kabur menjauh dari dirinya. Percuma kan kalau Ghanes menjauh lagi, susah-susah ia selama ini berusaha berteman dengannya, hanya karena ke egoisannya kepo dengan privasinya. Maka yang di lakukannnya selama ini hanya akan sia-sia saja. .
.
.
.
.
.
.
.
.
..
__ADS_1