
Pagi yang begitu hangat tiba-tiba hilang tertelan kabut yang tiba-tiba turun dari atas pegunungan.
Ghanes termenung sendirian di tepi pantai kesayangannya sejak subuh. Dia di sana sendirian tanpa teman.
Di temani speaker bluetooth SRS-XB23 milik brand elektronik ternama Sony, dia menerawang jauh ke luas lautan yang hilang tertutup kabut putih.
Lagu-lagu melow milik kangen band yang di mix dengan suara milik Akhdiyat Duta Modjo di putar terus berulang ulang tanpa henti.
Nelayan yang lalu lalang banyak yang memperhatikan Ghanes dari jauh ketika mereka mau berangkat melaut, namun mereka juga ga mau terlalu peduli dengannya karena mereka juga punya kesibukan dengan mata pencaharian mereka sendiri.
Terbayang jelas di mata Ghanes bagiamana selama ini ia telah melewati hari-harinya seorang diri. Tak ada siapapun yang membantunya. Bagaimana ia harus terjebak dengan rasa bersalah yang hingga kini belum hilang dari dalam hatinya.
Terselip sebatang rokok signature di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Namun rokok itu di biarkan habis tanpa di hisap .
Asap tipis yang mengepul dari ujung batang rokok seakan merefleksikan peristiwa-peristiwa yang telah berlalu.
"Tuhan,,,, apakah Engkau belum puas menghukumku hingga Kau berikan rasa ini kepadaku yang kurang ajar ini? Belum cukup kah Engkau melihat air mataku Tuhan? Belum cukupkah Kau melihat kacaunya otakku Tuhan? Lalu mengapa tak kau beritahu aku bagaimana cara aku melewatinya ? Kepada siapa aku harus bercerita ? Sedangkan aku tak bisa mendengar suaraMu menjawab keluh kesahku."
Dari belakang terdengar kasak kusuk orang-orang membicarakan keberadaan Ghanes di tempat ini.
"Entahlah, dia sudah dari subuh duduk di sana."
"Cewek, pakai hijab tapi pegang rokok. Ada-ada aja dech."
"Akh, tapi tak kau lihatkah jika rokok yang di pegangnya dari tadi ga di hisap sama sekali?"
"Iya juga sih, mungkin dia hanya sedang stress ."
"Akh, biarkan saja, jangan terlalu kepo dengan urusan orang, yang penting kita sama-sama perhatikan dia saja, jangan sampai dia melakukan hal-hal yang ga di inginkan. Karena orang-orang yang sedang banyak masalah itu biasanya suka kalap."
"Nah iya, bener kamu."
Ghanes bukan tak mendengar suara-suara di telinganya , namun ia tetap berlagak budeg. Karena ia sama sekali tak ingin peduli dengan hal itu.
Setelah lelah duduk di tempat itu, dan matahari mulai menyengat, Ghanes kembali menaiki motornya menyusuri jalan raya pinggir pantai.
Namun ia tidak menuju arah rumahnya, malah ke arah yang berlawanan. Melaju tanpa tujuan. hanya ingin kembali merasakan angin segar yang menerpa mukanya. Ia sedang kembali menikmati dunianya yang dulu. Dunia yang ia rindukan.
Hatinya lelah dengan ***** mbengek dunia. Lelah mendengar celotehan tetangga yang bilang bahwa dirinya ga ingin punya anak hanya karena di usia pernikahannya yang ke 6 bulan, ia belum juga di karuniai anak.
Ingat benar bagaimana saudaranya Danu berkata di depana orang banyak tentangnya ,
"Ya kalau Danu dan Ghanes itu memang ga pingin punya anak, orang mereka masih sibuk dengan bersenang senang kok. Coba liat saja mereka tiap minggu pagi selalu pergi jalan-jalan seakan-akan memang tak kepikiran untuk punya anak. Selain itu mereka tak kepikiran buat pergi ke orang pintar bagaimana caranya agar mereka cepat di karuniai anak."
Di tengah lamunannya itu Ghanes hampir saja menabrak pohon turi pembatas jalan.
"Fiiuuuhhhhhh....... ini gua kenapaaaaa pula. Njiiirrr..." Ghanes menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Sejenak, masih di atas motornya ia membuka resleting tasnya untuk mengambil botol air minum, menenggaknya dua teguk untuk menetralisir lamunannya yang terlalu jauh.
Dia memperhatikan sekitar, di seberang sana ada warung kecil tepat di bawah pohon pinus, dan nampak sepi hanya ada seorang laki-laki yang sednag duduk sendiri menikmati minumannya yang sudah hampir tandas.
Ghanes mendekati warung tersebut untuk sekedar membeli gorengan dan duduk-duduk saja.
Belum sempat ia duduk, tiba-tiba pemuda tersebut menyapanya,
"Mau bunuh diri mbak?'
"Hah? Apa?"
"Kamu itu lo, mau bunuh diri kah?"
Tanya pemuda itu tanpa sedikitpun memalingkan mukanya ke arah Ghanes."
"Ngomong sama saya mas?" Tanya Ghanes menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan. sama setan." Jawabnya cuek.
"Dihhh resek." Ghanes berlalu mengampiri si penjual untuk mendapatkan makanan apa yang bisa ia makan di saat itu.
Kemudian Ghanes duduk di hadapan pemuda tadi yang masih sibuk dengan ponselnya sambil membawa 1 piring penuh gorengan aneka macam dan satu gelas jeruk hangat di tangan kirinya.
"Woee,,, mas . Sibuk bener dah."
Dia diam tak bergerak tanpa respon.
"Bajingan." Gerutu Ghanes pelan.
Pemuda itu dengan spontan mendongakkan kepalanya kepada Ghanes, terdiam sejenak, terpaku, lalu kemudian tersenyum dan meletakkan ponselnya.
"Kirain tadi mau bunuh diri mbak, Hahahhahahaahaha,,, ga jadi ya?"
__ADS_1
"Siapa juga yang mau bunuh diri."
Dengan tatapan mata penuh kekaguman pemuda itu masih memandangi Ghanes, "Lah tadi ?"
Ghanes memasukkan gorengan pertama ke dalam mulutnya, "Ga sengaja."
Pemuda tersebut tiba-tiba terkikik geli . "xiixixixixxi kirain semua wanita itu kurang ajar semua, ternyata masih ada wanita polos kayak kamu yang patah hati juga."
khhuuukkkkkgg kkhhuukkggg Ghanes tersedak , dengan segera ia meraih gelas minumnya dan menyeruputnya beberapa teguk. "Dih siapa yang patah hati ? Emangnya elu pak."
"Lah gua di panggil Pak pula, kapan gua nikah sama emak lu?"
"Ya masak mau di panggil sayang." Jawab Ghanes mulai jahil.
"Ih ogah akh, nanti gua baper lagi. sakit hati lagi nanti."
Ghanes langsung tertawa tergelak mendengar pernyataan pemuda yang ada di depannya ini,
"Hahhahaaahahaa ternyata elu yang lagi patah hati ya. Hahahhahahaah keg gitu dengan pede nya ngatain gua tadi."
"Kaum mu tuh."
"Lah bukan murid gua kali. Hahahhaahaaha."
Entah kenapa Ghanes bisa tertawa mendengar penderitaan orang, atau mungkin karena merasa sedang berada pada posisi yang sama hingga merasa bahwa hidup itu menggelikan sekali.
Pemuda itu masih menatap Ghanes dengan serius, "Rumah lu mana sih?"
"Cie, kepo."
"Mana?"
"Desa S."
"Oh,,, terus mau kemana?"
"Ga tau, gua gabut banget, jadi ya cuma mau nyetrika jalan aja ngabisin bensin."
"Ada masalah?"
"Ga ada." Jawab Ghanes berbohong.
"Jalan bareng aja kalau begitu." Ujarnya memberi saran.
"Ke pantai yang ada PLTU nya yuk."
"Hah? Mau ngapain ke PLTU ?"
"Di sana bagus kali, di pantai sampingnya tuh banyak udang dan cumi-cumi, sapa tahu dapat harga murah , kan lumayan buat di bawa pulang, daripada pulang dengan tangan kosong ya kan."
"Mmmmmm oke oke."
"Terus gorenganmu itu mau di apain?"
"Ya di bungkuslah anjiirr,, masak mau di buang, ini udah gua bayar kali."
"Ga malu minta di bungkus?"
"Lah ngapain malu, ini makanan yang masih bersih belum tersentuh juga. Malu sama siapa coba? Tapi bentar biar gua ngabisin yang gua pegang dulu sama minuman ini biar habis dulu baru kita jalan."
Pemuda itu matanya berbinar binar melihat cewek langka di depannya ini, "Keren juga nih cewek, cxcxcxxcx keren , keren."
Ghanes dengan santai menghabiskan tahu isi yang sudah digigitnya tadi, dia sama sekali tak ada niat untuk terburu buru. Karena saat ini ia benar-benar ingin menikmati hidupnya kembali.
Sambil menggigit makanan di tangan kanannya, ia sibuk dengan ponsel Samsung S3 mini di tangan kanannya. Ghanes memilih milih Tas hasilprakaryanya kemarin kemarin dan di posting di akun facebooknya.
Dengan iseng di kasih caption : Hand made, bahan jins lokal, Rp 56.000
Sekitar 15 menit kemudian Ghanes berdiri dari duduknya membawa piring yang masih berisi gorengan dan mencari penjual untuk minta di bungkuskan,
"Pak, tolong ini di bungkus ya pak."
"Oke mbak, ga mau nambah lagi mbak?"
"Ga pak, makasih."
"Udah pak, satu saja , plastiknya jangan di double double."
"Oh, ya udah mbak, nih, makasih ya sudah mampir ke warung kami."
"Sama-sama pak."
__ADS_1
Ghanes menghampiri pemuda yang bahkan ia belum kenalan hingga sekarang, namanya siapa, rumahnya mana ia juga tidka tahu.
"Yuk Pak cabut, jadi ga ?"
"Eh,,, udah ya... jadi lah.. masak ga jadi. Yuk."
Dua manusia yang belum saling mengenal ini kemudian menaiki motor mereka masing masing menuju tempat yang di bicarakan tadi.
Di sana memang ada tambak udang, juga nelayan cumi cumi. Dan hasil laut pun langsung di jual di tempat. Ada yang beli secara eceran ada juga para tengkulak yang sudah siap dengan keranjang keranjang ikannya.
Ghanes berkeliling pantai sebentar, dengan bau amis segar khas pantai nelayan, ia juga melihat lihat lihat tambak udang yang ada.
Setelah puas berkeliling ia pun duduk duduk santai menikmati pantai sambil sesekali terdengar deru mesin PLTU di telinganya.
"Btw, cewek lu orang mana sih? " Tanya Ghanes tiba-tiba pada laki-laki di sebelahnya.
"Tetangga satu desa."
"Terus?"
"Lah kok jadi elu yang kepo sih."
"Wxwxwxwx ga pa pa sih, cuma heran aja laki-laki kok bisa patah hati gitu lo."
"Hei jangan lupa , laki-laki juga manusia kali."
"Emang sih. Hehehehehehe terus gimana?"
"Gimana apanya?"
"Kisah hidup lu gimana?"
"Oh itu, gua pacaran udah lama, dari SMA malah, nah ketika gua pulang dari kalimantan , di atas meja rumah malah ada undangan dari dia, dia mau nikah ma temenku . Kan gila."
"Kapan itu ?"
"Baru minggu kemarin."
"Jadi elu baru pulang dari kalimantan ?"
"Iya, gua di kalimantan setahun, biasanya kan tiap 6 bulan sekali gua pulang namun kali ini karena kerjaan padat jadi gua baru bisa pulang sekarang, tau taunya dia udah hamil 3 bulan dengan temen gua. Anjing bener sumpah."
"Wadawww,,,, berarti dia nikah karena hamil? Bukan karena cinta?"
"Ya karena cinta lah, kalau ga cinta kenapa dia mau di hamili coba. Goblok amat sih lu."
"Eh iya ding, kan hamilnya dengan temen lu yak, bukan dengan elu. hehehee."
"Dasar geblek."
Ghanes menepuk nepuk pundak pemuda di sampingnya ini dengan maksud memberi semangat,
"Tenang bro tenang santui saja dulu, lebih baik elu tau dia begitu sekarang daripada ketika udah nikah bukan? Bayangin aja kalau dia begitu ketika posisi udah jadi istri lu gimana? Pasti lebih sakit dari yang lu rasain sekarang bukan?"
"Ya juga sih, kalau seandainya dia udah jadi istri gua, udah pasti gua cekik dia. Gua cincang-cincang tuh laki-lakinya sekalian. Ga peduli temen gua pun."
Mereka dengan asyik bercengkerama bertukar cerita di sana.
Hal ini yang sering Ghanes rindukan dari sebuah perjalanan, yaitu mengenal orang baru, dunia baru dan cerita cerita baru.
Tak terasa matahari sudah semakin turun, kerongkongan mereka sudah kering karena terlalu banyak bicara, perut sudah lapar, gorengan di dalam tas pun sudah tandas oleh mulut rakus mereka.
Dengan menenteng tas kresek berisi cumi segar dan beberapa kg udang segar, mereka mulai meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumah masing-masing.
Tak lupa mereka berbagi nomor ponsel untuk bisa saling menghubungi nanti jika ada perlu.
.
.
..
.
.
..
.
..
__ADS_1
.