Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Banyak mulut.


__ADS_3

Candra dan Danu yang sibuk mengangkat beberapa meja kayu warna merah dan beberapa di antarkan ke rumah pak RT karena merupakan fasilitas RT, jadi ya harus di kembalikan dalam kondisi bersih dan bebas bau amis.


Danu tampak bahagia meskipun ini adalah pengalaman tergilanya sepanjang hidupnya. Main ke rumah cewek baru pertama kali, namun mendapatkan sambutan yang sangat menggelikan sekali. Menurutnya ini adalah sambutan yang paling baik yang di terimanya ketika bertamu ke rumah orang yang bahkan baru di kenalnya.


Sambutan dari Candra yang sangat menyenangkan sekali baginya yang hari-harinya selalu kesepian di rumahnya yang seperti kuburan. Rumahnya yang lumayan besar dan hanya di huni oleh dia dan ayahnya seorang yang sangat jarang duduk berdua ngobrol seperti yang ia dapati saat ini.


"Rumah Pak RT nya jauh ga Ndra ?" Danu bertanya pada Candra ketika sedang mengangkat meja yang ke-4.


"Akh ga Mas, paling cuma 3 menit dari sini."


"Ohh kirain jauh. Hehehhehehe."


"Tenang aja mas, ga akan bikin capek kok. Oh ya habis ini mas mau main ke mana sama mbak Anes?"


"Kemana aja sih, karena aku sendiri belumย  tau daerah sini mana yang bagus. Kenapa emang?"


"Ga papa sih, cuma mau bilang aja, kalau mau main usahakan jangan ke pantai K, jika ga mau putus dengan Mbak Anes."


"Lah? Emang bisa gitu ya ? "


"Mitos mas, mitos. Cuma kan alangkah baiknya saja jika di hindari."


"Ya juga sih, btw aku sama mbakmu belum jadian lo."


"Nah itu dia masak jadian aja belum tapi dah putus duluan kan ga lucu mas. Hahahahaha."


Danu tersenyum kecut, "Buruk amat doamu nak."


Pak Alan dari kejauhan tersenyum senyum memperhatikan keakraban mereka, padahal yang Pak Alan tahu ini adalah pertama kalinya Danu main ke rumah, namun Si Bungsu Candra sudah begitu akrab dengannya.


Setidaknya hal itu bisa mengalihkan perhatian Ghanes agar tidak terlalu berfikir yang aneh-aneh tentang hidupnya.


Sedangkan Bu Santi seperti biasa hanya mengerjakan hal-hal kecil saja, dia lebih baik menghindar dari kemarahan anak-anaknya jika ia terlalu lelah bekerja.


"Hoosshhhh hoooshhhh hooosshhhhh...... Huaaaahhh,,,, capek juga ya ternyata ", Kata danu ketika baru saja duduk dari mengantarkan meja yang ke-5 ke rumah Pak RT.


Danu menggerutu karena merasa di kerjain Candra, "Kamu bilang ga jauh , hanya 3 menit, lha 3 menitnya orang sini tuh ternyata segitu ya, busyet."


"Tapi kan bener cuma 3 menit sekali jalan Mas. Hahhahaaa."


"Ya sih. Tapi ya lumayan jauh buat ukuranku."


"Makanya olahraga mas, hahahhahaha masak gitu aja capek."


Jawab Cabdra dengan nada mengejek.


"Sepertinya iya bener, aku harus olahraga dech."


Candra mengacungkan jempolnya pada Danu, "Nah,, itu."


"Hahahaha dasar cemen." Tiba tiba Ghanes menyela dari belakang sambil membopong satu keranjang berisi tumpukan baskom-baskom bekas pakai.


"Aku kan anak kota, ga tau menahu tentang beginian oneeeng." Jawab Danu membela diri.


"Heleh. Cemen !" Ejeknya dan berlalu pergi.


"Biarin aja mas, Mbak Anes memang bisa julid begitu, apalagi kalau sama orang baru. Hahahhahaa.... Tapi dia itu dari dulu adalah orang yang paling di rindukan kehadirannya jika ga ada. Ga ada dia ga rame mas hidup."


Kata Candra menjelaskan sambil memandangi langit biru di angkasa , mengingat kembali hari-hari kebersamaan mereka ketika Susan masih ada.


Betapa menyenangkannya waktu itu, meskipun mereka bertiga sering adu mulut, saling hina, saling julid dan saling usil. Namun sungguh waktu-waktu yang seperti itulah yang bahkan sangat di rindukannya saat ini.


"Belum selesai ya ?" Tanya Danu pada Ghanes yang masih mondar-mandir ke depan dan kebelakang.


"Ada apa sih ?"


"Lha kan tadi aku mau ngajakin keluar, udah di ijinin juga kok sama adikmu, sama ayahmu juga."


"Emang udah ijin ma Bapak?"


"Udah."


"Kapan ?"


"Tadi lah, emang kalau ijin ayahmu harus laporan ke kamu dulu gitu ?"


"Ga sih." Jawab Ghanes cengengesan .


"Nah tu tau. Cepetan."


Ghanes tertawa menyeringai,"Hahahaha... kirain ga jadi. Agak males gua nya."


Candra yang semula diam, menyedot rokoknya lalu menyela, "Mbak,,, mbak,, main-mainlah sana. Di rumah cuma bikin pusing aja lu."


"Elu tu yg bikin pusing. Kenapa jadi gua."


"Orang yg liatnya pusing mbak, elu kalau lagi puyeng tibactiba menjadi manusia paling rajin sekecamatan. Apa-apa di bersihin. Ya kalau ngebersihinnya normal ga papa sih. Lha tapi kalau bersih-bersih suka buang buangin barang, ya kita yang ngeliat jadi mual tau !."


Candra masih melanjutkan bicaranya,


"Coba mas bayangin, mbak Anes tu kalau palanya sedang puyeng, toren rumah pun di cemplungin, di sikatin ampe bersih. Baju-baju dalem lemari di cuciin satu-satu. Terus baju ya, cuma karena ada setitik bercak kuning aja di buang. Di bakar. Padahal itu di cuci aja ilang lo nodanya. Gila ga tuh ?!"

__ADS_1


Cerocos Candra dengan nada amat kesal.


Danu tergelak sampai memukul mukulkan tangannya ke pahanya sendiri, "Hahahahaha emang sampe keg gitu ? Lucu amat dah jadi manusia. Hahahahahaha."


"Ya emang gitu dia tuh, pengalihan isunya buruk sekali dia. Makanya kalau lagi ada masalah , aku malah lebih suka kalau mbak Anes tuh main pulangnya malem waktu tidur. Di rumah bikin rusuh dia."


Candra meneruskan ungkapan kekesalannya lalu menghisap rokoknya sampai pangkal busa dan mencecek putungnya di atas batu kerikil di sebelah kaki kanannya.


"Sono mbak, jangan bikin pusing. Pergi sono. Pulangnya malem aja." Candra mengusir kakanya untuk mau pergi dengan Danu.


Entah kenapa Candra langsung suka kepada Danu, padahal Danu baru pertama kali di temuinya. Mungkin karena pembawaan Danu yang tenang dan sama-sama suka ngecengin kakaknya jadi cepat nyambung kalau berkomunikasi.


"Ye lah ye lah,,, gua ga ganti baju ya, mau ganti celana aja. Masak naik motor gua pake rok panjang begini." Kata Ghanes menjinjing rok Hijau armi yang di pakainya.


"Jangan !" Seru Danu tiba-tiba.


"Jangan kenapa ? Apanya yang jangan ?" Tanya Ghanes heran.


"Eh maksudku jangan sampai kamu pake rok. Karena motorku motor laki, takut nyangkut ke roda entar. Bahaya."


"Nah, makanya gua mau ganti celana,,, begooo... Ada-ada aja dech."


Ghanes berlalu pergi ke dalam kamarnya. Tak berselang lama , dia sudah keluar lagi dengan celana kain warna hitam agak gombor. Tak lupa tas kain selempang yang biasa dia bawa di kesehariannya, entah itu ke pasar atau saat beli bakso di depan kantor desa.


Tas kain yang simple dan ringan, yang bisa ia bawa kemanapun kecuali ke kondangan. ๐Ÿ˜


"syuuhhh.... syyuuuhhhh syyuuhhh..." Candra menggerak nggerakkan tangan kanannya mengusir kakaknya agar segera pergi.


"Was jangan minta jajan lu."


"Ga perlu mbaaaaakkk.... Udah sono pergi."


"Hehehheehe makasih ya Ndra." Kata Danu tersenyum bahagia.


Sedangkan Ghanes memberenggut karena merasa Adiknya bersekongkol dengan Danu.


....................


Di dalam perjalanan , Ghanes tak banyak bicara. Dia diam saja. Tak tau mau ngomong apa. Angan-angan nya masih terbayang betapa ia sangat merasa bersalah dengan orang tuanya karena sudah 2x mengenalkan laki-laki pada mereka namun keduanya gagal semua.


Ghanes betapa sangat merasa berdosa ketika melihat kedua orangtuanya panik karena ia tak jadi menikah.


Betapa orangtuanya harus menjawab semua pertanyaan dari saudara dan keluarga jauhnya.


"Apakah ini salahku ? Apakah Tuhan memang sedang menghukumku atas tingkah lakuku yang dulu ?" Batin Anes berkecamuk dalam boncengan motor yang membelah jalanan pegunungan.


"Akkkhhcchhh..." Ghanes kaget setengah mati ketika tiba-tiba Danu menepuk paha kirinya.


Ghanes mukanya merah padam menahan malu campur kesal, "Dih resex, siapa pula yang ngelamun?"


"Hahahahaha ga usah ngebantah nyari alibi begitu. Ini spionku utuh lo dua-dua nya kanan dan kiri."


CEP ! Ghanes terdiam karena merasa alibinya ga masuk akal.


"Kita mau kemana ? Aku belum tau lokasi lo?"


Tanya Danu kemudian.


"Lha kalau ga tau lokasi kenapa ngajakin keluar bambang.... ?" Tanya Ghanes kesal.


"Ya kan jalan jalan. Kemanapjn kamu mau aku anterin deh."


Ghanes mulai tersenyum licik, "Yakin kemana aja?"


"Iya. Yakin."


"Oke kalau gitu, awas kalau ngomel atau ngeluh."


"Emang mau kemana sih ?"


"Kepo ! Ikutin jalan aja. Sampai gua nyuruh berhenti."


"Awas , jangan aneh aneh ya." Danu mulai sedikit khawatir, takut ni anak mau macam macam.


Ghanes menepuk nepuk pundak kirinya Danu, "Tenang, gua ga aneh-aneh kok. Santuy santuy." Kata Ghanes dengan senyum liciknya.


...........


Danu sudah membawa motornya hampir 1.5 jam lebih, namun Ghanes tak kunjung menyuruhnya berhenti. Tangki bensin sudah di isinya full di pom bensin yang ia lewati. Namun belum ada tanda-tanda akan segera sampai pada tujuan.


Danu mulai curiga, "Masih jauh?"


Tanya Danu pada Ghanes yang wajahnya masih di selimuti senyyuman yang misterius.


"Kenapa !?" Tanya nya ketus.


"Sabarrr saabaarrr..." Batin Danu lalu mencoba sok perhatian, "Ga. Nanya aja sih. Ga papa. Emang kamu ga laper ? Ga pingin makan dulu gitu ? Ntar pulang nggibahin ga di kasih makan..."


"Ga . Nanti aja kalau udah sampai." Jawab Ghanes menolak.


"Ya udah kalau begitu. Ngikut apa katamu aja dah. Yang penting kamu bahagia sudah."

__ADS_1


"Jangan-jangan ni anak mau ngajak gua ke planet namex pulak. Haiisshh ada-ada aja sistem dalam otaknya. Untung akunya suka, kalau ga , udah ku timbun dalam got pinggir hutan." Danu menggerutu dalam hati karena menurutnya perjalanan ini cukup lama. Melewati perbukitan naik turun. Pinggiran pantai , naik bukit lagi.


Ya meskipun ini adalah jalur provinsi, tapi kenapa juga ga ngasih rambu-rambu mau ke daerah mana gitu.


Danu agak terkejut ketika kemudian di Telah melewati batas kabupaten kota nya Ghanes. Namun ini bukan ke arah utara, kabupatennya, namun ke arah selatan.


"Hah ?" Ucap Danu spontan.


"Kenapa ?"


"Bentar," Katanya sambil melambatkan laju motornya.


"Itu tadi batas kabupatenmu ya?"Tanya Danu memastikan penglihatannya.


"Iya. Emang kenap ?"


"Ga sih. Ga papa." Jawab Danu kemudian melajukan kembali motornya ke kecepatan normal.


Ghanes mulai curiga dengan gelagat Danu,"Jangan bilang lu mau balik arah ya."


Dalam hati Danu berkecamuk, "Mampus aku, kalau pun balik arah, dia ga bakal mau lagi akau ajakin keluar pasti. Cxcxcxcx di lanjutin aku mati, ga di lanjutin hatiku yang di bikin mati. Sama-sama mati."


"Wooeeee ! Mau lanjut atau pulang nih ?!" Teriak Ghanes kesal karena perkataannya ga di respon. Meskipun Ghanes masih nangkring di atas boncengan motor yang sedang melaju.


"Motornya masih jalan khan?" Tanya Danu.


"iya." Jawab ghanes pendek.


"Ya udah, berarti kita lanjut. Bukan balik arah pulang. Cerewet banget dah. Udah diturutin juga."


"Elu yang cerewet ! Elu juga yang ngajakin keluar ! Itu kalau lu ga amnesi." Bantahnya judas.


Danu diam, membiarkan calon istrinya (cie..) mengomel. Danu berusaha mengerti kekalutan hatinya setelah ia mengalami peristiwa gagal nikah. Karena Danu juga pernah bercerai, jadi Danu sedikit bisa mengerti rasanya kehilangan.


Meskipun sebenarnya bukan rasa kehilangan Nathan yang di rasakan Ghanes . Melainkan malu dan rasa bersalah terhadap kedua orangtuanya.


Tiba tiba....


"Naahhhhh hampir sampai tuhh sana... " Teriak Ghanes sembari menunjuk sebuah pantai lepas yang lautnya sangat biru dengan pasir putih bak pantat sapi.


"Itu bukan hampir sampai namanya buuk."


Sela Danu karena menurut pandangan Danu tempat itu masih jauh sekutar 10 menitan. Naik motor. Bukan jalan kaki.


Jarak 10 menit naik motor dengan kecepatan normal itu sekitar 5-7 an km lagi.


"Dikit lagi." Kata Ghanes antusias.


"Disana ada banyak warung, kita makan dulu, lalu main." Kata Ghanes lagi.


"Udah pernah ke sini ? Kok tahu ada warung ?"


"Belum, cuma katanya orang aja. Hahahaha. Lagian kan pantai pasir lepas di pinggir jalan lagi, udah pasti banyak warung makan lah. Ga mungkin ga ada."


Danu tergelak melihat kelucuan cewek incerannya ini, "Dasar sok tau. Hahahaha."


"Emang gua tau kok."


"Sok tahu . Hahahahaha."


"Diam !"


Danu masih terkikik geli, "Xixixixxixi. Iya aku diam buuuk . Diam ini."


Pantai di pesisir selatan pulau jawa, berada tepat bersebelahan dengan jalan raya provinsi. Pasir putihnya menemani ombak biru jernih khas samudra hindia.


Ada pepohonan kersen kecil di sepanjang bibir jalan dan beberapa jajaran pohon kelapa di hamparan pasir yang bersebelahan dengan muara sungai yang juga sangat bersih airnya.


Sungguh keindahan yang luar biasa.



***Sumber photo : Koleksi pribadi(2015).


Author : Tebak pantai mana hayo ?๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜***


Danu menepikan motornya di salah satu warung makan bertuliskan bebek bakar dengan spanduk khas gambar bebek pada umumnya.


Ghanes hanya tersenyum melihat wajah Danu yang terlihat begitu lelah, namun dia malah bahagia dan bangga telah berhasil mengusili Danu, juga karena impiannya selama ini telah tercapai. Yaitu ingin mengunjungi tempat eksotis ini , yang masih alami, belum terlalu ramai dengan pengunjung, namun memiliki panorama yang menggugah mata untuk merem, karena terlalu nyaman.


Kebetulan sekali warung yang dipilih Danu memiliki balai-balai bambu. Danu naik ke atas balai-balai lalu menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal. Apalagi pergelangan tangannya yang mulai terasa keram.


Maklumlah jarak dari rumahnya ke pantai ini sekitar 130 an km .


Jarak yang lumayan jauh , apalagi untuk orang yang tak pernah touring seperti dia ini.


"Xixixixixixi ... Lu kenapa pak?" Tanya Ghanes terkikik geli melihat ekspresi Danu yang kelelahan.


"Apa liat liat ?!" Tanya Danu jengkel.


.

__ADS_1


.


__ADS_2