
Ghanes terduduk lemas di sebuah stasiun kereta api kota TY. Dia kembali mengenang tanggal itu. 31 Agustus.
Dimana dia melihat dua garis merah di stik putih yang ia pegang. Stik yang ia tunjukkan pada Dimas, tapi hanya di respon cuek dan di suruh menyimpannya kembali ke dalam tas.
Ia kembali menangisi isi perutnya yang sudah pergi, yang segaja ia kebiri dari dalam tubuhnya. Ia masih saja belum mampu menerima bahwa yang ia lakukan itu benar-benar terjadi dan bukan mimpi.
"Akh betapa gobloknya gua waktu itu. Kenapa gua bisa jatuh cinta dengan manusia macam begitu? Kenapa pula Tuhan harus memberikanku rasa cinta yang berakhir sangat menyakitiku?"
Detik berlalu, menit berganti. Tak terasa Ghanes sudah hampir 3 jam duduk di pinggiran stasiun. Entah sudah berapa orang yang memandangnya dengan aneh. Terdengar pula celetukan dari warga lokal "Kasian ya anak ini, kok ga ada temennya?"
Namun semua celetukan itu hanyalah sekedar suara-suara yang berlalu. Karena ke individualan negara maju memang sangat jauh berbeda dengan Indonesia yang cenderung kepo dengan urusan orang lain.
Kering air mata Ghanes, namun mulutnya kaku tak mampu berkata sepatah katapun. Seluruh tulang belulangnya seakan mengalami stroke mendadak tak bisa bergerak. Ia sungguh sakit jiwanya.
Notifikasi suara Adzan membuyarkan lamunannya.
"Akh, shiittt gua kenapa sih?" Batinnya mennggerutu.
Ghanes menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tetap sama. Suasana yang sama seperti dulu.
Ia menarik nafas dalam dan panjang, lalu menghempaskannya dengan kasar. Perlahan ia melangkahkan kaki menuju minimarket stasiun. Ia keluarkan uang 60.000 dan menukarnya dengan sebungkus Malbor* merah. Tanpa peduli kanan kiri, Ghanes memasukkan bungkus merah itu ke dalam saku celananya. dan ia segera menuju ke pemberhentian Taxi untuk pergi ke suatu tempat.
Tempat yang sangat indah, di atas bukit rumput yang damai. dari atas bisa melihat pemandangan kota yang sangat mengagumkan. Dulu, dia seringkali ke tempat ini ketika hatinya sedang sangat kacau, atau sekedar melepas penat dari semua rutinitas busuknya.
Di hisap perlahan batang putih di tangannya. Lalu di hembuskannya dengan sangat kasar. Angin yang lumayan kencang mengacaukan sisiran rambutnya. Ghanes tak peduli dengan semua itu. Lagian orang-orang di sini sama sekali ga ada yang mengenalnya bukan?!
Ghanes bergumam dalam hati "Tuhan, jika memang Engkau mengijinkan aku untuk tetap bertahan dalam keadaan ini, maka sembuhkanlah aku Tuhan. Aku ingin hidup normal seperti orang lain."
Tiba-tiba angin berubah menjadi sangat sejuk, seakan Tuhan menjawab ucapan hati Ghanes, membuat Ghanes merasa sangat nyaman, dan menimbulkan kantuk di matanya.
Di tengah matanya yang mulai mengantuk Ghanes bergumam, "Akh,,, nanti malam gua mau ke tempat bangsat itu dech. Baru besok paginya langsung cuss ke kota TG."
Sambil menyunggingkan senyum pahit, Ghanes mulai memejamkan matanya perlahan, nyender pada kursi batu yang memang sengaja di buat oleh pengelola. sayup-sayup di dengar suara anak-anak sekloah yang sedang menikmati masa mudanya bersama dengan kawan-kawannya.
"Akhhhhh mereka belum tahu pahitnya dunia, biarkan mereka bersenang senang selagi belum merasakan dewasa."
.
.
.
Tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya
__ADS_1
"Mbak, boleh kita ikutan duduk?"
Ghanes terkejut mengerjap ngerjapkan matanya, terlihat sepasang muda mudi tersenyum manis. Lebih tepatnya adalah pasangan wanita(sejenis). Mereka tak terlihat seperti teman biasa, karena kemanjaan dari salah satunya yang terlihat dengan sangat jelas.
Ghanes tersenyum, "Ya.... tentu saja. Silahkan."
"Terimakasih." Jawab mereka serempak.
Ghanes masa bodoh dengan mereka, karena memang di negara ini melegalkan pasagan sejenis. Jadi Ghanes sama sekali tidak mau menilai dan mengomentari mereka dengan perspektif Ghanes sendiri. Sedangkan Ghanes sendiri adalah warga negara asing yang sedang stress dan mencari hiburan di sini. sangat tidak pantas jika Ghanes harus berkomentar buruk terhadap kebijakan negara lain.
Mereka duduk bertiga , namun tidak saling bertegur sapa. Jika dilihat dari sudut pandang orang Indonesia, maka Ghanes hanya terlihat seperti obat nyamuk buat mereka. Namun karena keindividualan, ya semua akan terlihat sangat wajar dan baik-baik saja.
............................................................................................................................................................................
**21:00 **
Ghanes telah berada di tempat bangsat yang dulu menjadi markasnya.
Ya,,, tempat ini adalah sebuah klub malam yang dulunya buka setiap hari. Sedangkan sekarang hanya buka di hari libur saja.
Ghanes ingat betul bagaimana dia terakhir pergi ke tempat ini dimana dia sedang putus asa ketika bingung memilih, harus bertahan atau membuang isi perutnya. Dia ketempat ini karena ingin berteriak yang tanpa mengganggu orang lain, menangis tanpa di curigai dan berjoget tanpa di caci maki.
"Akhhh.... brengsek." Gerutu Ghanes menghempaskan pantatnya di sofa merah di pojokan ruangan.
Dia sendirian, lagi-lagi tak peduli dengan sekitarnya.
Belum ada 20 menit ia duduk tiba-tiba,
"Woee !!!!! Buk !!!!! Kapan datang ? Balik lagi kok ga bilang-bilang sih? Gila ya lu. Katanya nikah juga ga bilang-bilang kan?"
Teriak seorang laki-laki seumuran Ghanes dengan postur sedang dan rambut keriting. menyambutnya dengan sangat antusias.
Ghanes cuek, "Dihhh apaan sih?"
Pria itu Yusa namanya. Duduk dengan ekspresi yang susah di jelaskan saking exitednya.
"Buk, beneran kamu nikah?"
Ghanes menoleh malas, "Ya emang kenapa?"
Dengan ekspresi kecewa pria itu menjawab : "Yah, kok masih nanya kenapa. Aku yang patah hati donk."
"Patah hati ndasmu. Orang Lu aja tiap bulan ganti perempuan kok masih berani bilang patah hati ma Gua." Jawab Ghanes sambil melayangkan ketiga jarinya di pipi Yusa.
__ADS_1
"Ya,,,, itu kan karena kamu menolakku terus Buk." Yusa membela diri.
Ghanes mencebik, "Heleh, bulshitlah.."
"Buk, minum ga?" Tanya Yusa kemudian.
"Ga." Jawab Ghanes tegas.
"Oh, ya udah. Kirain mau, hehehhe."
"Ndasmu. Kan gua berehenti dah lama, masih juga nanya Yus Yus."
"Ya ,,, sapa tau ya kan?" Jawab Yusa masih ga percaya.
"Lagian ngapain kamu main ke tempat ini lagi Buk?"
"Kepo aja lu."
Di tengah gemerlap lampu disco, mereka banyak bercerita tentang teman-teman lama mereka. Dengan Yusa yang masih terus menyesalkan atas pernikahan Ghanes. Karena dari dulu Yusa memang menaruh hati pada Ghanes. Sedangkan Ghanes waktu itu karena memang sedang kacau setelah putus dari Didim, dan memang sangat tidak menginginkan lagi para penghuni dunia hitam untuk menemani hidupnya.
Dan yah,,,,,,,, tidak seperti harapan , yang ternyata manusia yang terlihat sangat bagus, malah meninggalkannya di ujung ijab Qobul.(Eps. Hujan Badai)
.
.
.
.
..
.
.
Author : Mohon maaf yang sebesar besarnya jika ada yang lelah menunggu episode baru. Karena memang ternyata kondisi yang sangat tidak memungkinkan.
.
.
.
.
__ADS_1