
18.30
Waktu yang ditunjukkan pada jam dinding besar di depan stasiun.
"Akkkhhh cepat sekali waktu berjalan." Gumam Didim yang duduk di samping Anes menikmati suasana senja.
"sejak kapan waktu punya kaki buat berjalan Yah?" Tanya Anes cuex.
Pleetttaakkkk... !
"Iisshhhh sakit Yah, biiih." Gerutu Anes memegangi jidatnya.
"Salah sendiri tolil." Kata Didim lalu meletakkan lengannya di bahu Anes.
"Emang kamu ga ingin di sini terus?" Tanya Didim penasaran dengan kecuekan Anes.
"Ga. kan aku harus kerja ." Kata Anes menolak.
"Diihhh jangan terlalu polos napa?" Kata Didim sewot sambil geleng geleng kepala.
"Bukan polos yah, tapi itu kenyataan. Jangan terlalu lebay napa sih?" Kata Anes membela diri.
"Emang bener ni anak ya, ga ada romantis romantisnya deh."
"Diihh romantis, kaya bocil aja. Kalau udah dewasa itu yang terpenting adalah kenyataan bukan Bualan." Kata Anes masih cuex.
"ya Anggep aja mengulang masa muda . Ga pa pa kan ?! hehehehe." Kata Didim cengengesan.
"Diiihhh norak. Lebay. Apa ga inget umur, umur udah 26 masih aja begono. Hadaawww."
Sahut Anes menolak pernyataan Didim.
"Heii jangan keras keras ngomongin umur ya, Aku ini masih muda, imut pulak." Kata Didim menolak tua.
"Kalau masih muda kenapa ga jadi gigolo aja Yah? Hahahaha... Banyak duit ntar." Kata Anes sambil tertawa.
"Iiihhh jijik. Ogah. "
"Lahhh kenapa ?" Tanya Anes dengan senyum smirk nya.
Ting tong ting tong .....
"Uupppsss jam 7 Yah, 10 menit lagi keretaku datang. Udah yuk, mau anterin aku ke dalem ga ?" Kata Anes sambil beranjak dari duduknya.
"Yaahhhhh,,, cepet nya ...
Fiiuuuhhhhh..... ya udah deh, aku ikutan masuk aja, sekalian mau pulang, ngapain juga di sini kalau sendirian." Jawab Didim lalu ikutan berdiri.
"Yuukk akhh.. " Ajak Anes sambil meraih tangan Didim menggandengnya masuk stasiun, karena Didim ogah ogahan berjalan.
"Nanti nyampek rumah, awas ga bales chat atau angkat telpon." Kata Didim memberi peringatan.
"Diihh kenapa sih Yah, perasaan aneh banget dech." Kata Anes tolil.
"Takutnya setelah ketemu, kamu langsung menghilang." Kata Didim mendelikkan matanya dengan muka melas.
"Jahahahahahaaha kita kan bukan pertama kali ketemu Yah, Dasar ini kepalamu ada otaknya ga sih ? hahahahaa." Kata Anes sambil tertawa dengan masih terus berjalan masuk ke stasiun.
"Ya udah, q nungguin kamu masuk kereta baru aku yang naik, kan arah kita berlawanan, aku harus ke Platform 3 di seberang tuh." Kata Didim.
"Yakin mau nungguin?" Anes balik bertanya.
"iya lah yakin, kan cuma beberapa menit doank." Kata Didim lagi.
Tak berselang lama, lampu di pinggir rel berkedip kedip merah, tanda kereta sebentar lagi datang. Lampu ini adalah indikator otomatis ketika ada gesekan rel dan roda kereta.
"Ya udah, aku pulang dulu ya Yah" Kata Anes sambil menyodorkan tangannya minta salaman.
Namun Didim meraih kepalanya Anes lalu mencium keningnya, serta memeluknya erat.
Sambil berbisik.
"Jangan membenciku ya." Katanya.
"Atas dasar apa aku harus membencimu ? ya udah, lepasin. nanti telat aku nya, keretanya dateng tuh." Kata Anes sambil melepaskan pelukan Didim.
Anes pun melangkahkan kaki masuk ke dalam pintu kereta. Dia ga segera duduk, namun berdiri di dekat pintu, sampai pintu kereta tertutup.
Melambaikan tangan pada Didim sampai tak terlihat lagi.
Sambil mengembangkan senyumnya di balik masker, Anes bersyukur di pertemukan kembali dengan Didim yang awal mulanya dianggap Bajingan oleh Anes, ternyata dia lah yang menemaninya di kala terluka.
Di sisi lain , Didim menundukkan kepalanya setelah menyaksikan kereta yang ditumpangi Anes pulang menuju kota tempat tinggalnya.
"Hati hati di jalan ya..." Katanya pelan.
Lalu Didim, masih dengan kepala yang tertunduk berjalan menuju Platform 3 , kereta yang menuju ke daerahnya. Meskipun Kota yang ia tinggali adalah kota ini, namun untuk menuju ke daerahnya masih perlu naik kereta lagi sekitar 20 an menit.
......................................
Setibanya di stasiun Anes pun langsung berjalan cepat menuju tempat parkir sepedanya.
Ya.. dari rumahnya ia harus mengayuh sepeda nya 10 menit menuju stasiun Kereta Api.
Bersyukurnya ia tinggal di daerah tengah kota, yang ga jauh dari stasiun, jadi memudahkannya untuk kemana mana.
"Akkkhhh akhirnya sampek juga nih. Hehehehe. Mudah mudahan di rumah Papa dah di tidurin, jadi gua ga usah capek capek ngurusin lagi." Gumam Anes sambil menyeret sepedanya dari parkiran.
Kecepatan yang normal ketika Anes mengendarai sepedanya, menembus keramaian kota modern yang tak bisa tidur, Lampu lampu pertokoan di pinggir jalan menghiasi kayuhan sepedanya.
__ADS_1
Udara kota yang masih terjaga kesegarannya, juga menambah nilai plus pada kota ini.
tttttttiiiiiiiitttttttt......... ssrreekkkkkhhhhhh
( bunyi remot pintu, dan suara pintu terbuka)
Anes membuka pintunya sendiri, karena memang Anes di kasih kunci pintu sendiri untuk memudahkan mobilisasinya.
Inilah perbedaan bekerja di negeri sendiri dan di negara maju. Di negara maju, manusia di hormati meskipun jabatannya rendah. Di beri tanggung jawab dan kepercayaan yang sama sesuai jobdes nya.
"Mama,,,,, aku pulang..." Tetiak Anes setelah menaruh sepeda nya di garasi.
"Udah makan?" Tanya Mama.
"Udah Ma, papa dah tidur ? Mbak Yenji dah pulang?" Tanya Anes beruntun.
"Iya udah semua." Jawab Mama.
"Ya udah, aku naik kalau begitu ya Ma." Kata Anes lalu menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Namun masih di anak tangga yang ke fua, Mama tiba tiba nyeletuk,
"Itu celanamu kenapa?"Tanya Mama sambil menunjuk celana belel nya.
"Hah ??!" Spontan Anes melihat ke bawah kakinya.
"Astagaaa....... !! masak celaku begini?" Kata Anes kaget dengan muka merah padam.
Bagaimana tidak, perjalanan dari kota T menuju kota Y Dua jam naik kereta, ngayuh sepeda, dengan celana tinggi sebelah, dan Anes ga kerasa, ga sadar dengan apa yang terjadi.
"Kamu dari mana tadi?" Tanya Mama menahan tawa.
"Dari kota T Ma." Jawab Anes malu.
"Hahahahahahahaaha, dengan celana seperri itu?" Tanya Mama tertawa geli.
"Seharusnya iya Ma, karena aku benar benar ga sadar sih. Diihhh malu nya aku Ma." Jawab Anes masih dengan muka merah.
"Hahahahaha udah nyampek rumah malah malu, hahahahaaha,, sudah sudah, kamu mandi sana. hahahahaha." Mama masih tertawa lalu berlalu pergi ke kamarnya.
.......................
"Akkhhhhh bengek bener hari ini, masak sih gua pake celana begitu ga sadar ? Nahhh ini otak gua bentukknya apaan ? Udah gila apa gua yak? ciiihh parah parah." Gerutu Anes kesal lalu melempar tas nya ke atas ranjang.
*Dddrrtttttttt....... Ddddrrrrtttttttt .........Dddrrrrrr.....
Andai a... a.....a.... ku orang kaya...
Dddrrrrrrtttt........
Andaii a.... a....a....enggak usah pake kerja...
"Astaga..... siapa lagi ini Tuhaannn." Gerutunya lagi lalu mencari ponselnya di dalam tas.
"oohhhh." Katanya ketika melihat nama yang tertera di atas layar ponselnya.
"Asalamualaikum Yah." Kata Anes.
"Walaikum salam, Udah nyampek rumah ?" Tanya Didim.
"Niih. barusan aja masuk kamar. Tapi hari ini gila sih Yah, masak tadi celanaku tinggi sebelah, yang sebelah kakan ku tekuk sampai bawah lutut, emang sejak di sana celanaku udah begitu Yah?" Tanya Anes penasaran.
"Bahahahahaha masak sih ? Perasaan ga dech, tadi di sini normal normal aja kok". Kata Didim menjelaskan sambil tertawa.
"Ga malu kamu diliatin orang?" Tanya Didim lagi.
"Nah itu dia masalahnya, aku tuh ga sadar, ga kerasa, tau tau Mama yang ngasih tau barusan. Diihhh memalukan bener sih." Kata Anes jengkel dengan dirinya sendiri.
"Akkhh sudahlah, yang penting bukan bugil kan. hahahahahaha ga usah terlalu dipikirkan. Anggap aja itu kejadian tolol yang lucu. Hahahahaa." Sambung Didim menenangkan.
"Btw, kamu blm mandi kan pasti?" Lanjut Didim.
"Ya belumlah ya,,,, barusan juga nyampek. " Jawab Anes masih dengan nada jengkel.
"Mandi dulu gih, telpon ga usah di matiin ga pa pa, aku sambil makan, sambil nungguin kamu, hape nya tinggalin aja di kamar, ga usah di bawa ke kamar mandi , kena air nanti." Lanjut Didim setengah memerintah.
"Oke lah, kalau ga pa pa di tinggal,15 menit aja."
Kata Anes menyetujui usul Didim.
"Yahhh, kan biasanya tyap hari juga 15 menit kan. Cewek mandinya kaya bebek, ya kamu." Kata Didim.
Namun tak ada sahutan apapun dari seberang telpon, pertanda Hape sudah tergeletak di atas kasur, dan manusianya sudah berpindah tempat ke kamar mandi.
"Hhuuhhh,,, dasar ni anak, ga berubah ya, hahhahahaha tapi lucu. xixixi." Kata Didim jengkel namun senyum senyum bahagia.
..............
Tepat 15 menit kemudian.
Anes meraih handphonenya yang tergeletak di atas kasur . "Weeiii (Halo)"
"iya sayank..... " Jawab Didim melembutkan suaranya.
"Diihhhh... apaan sih. Norak." Jawab Anes sambil mengedikkan bahunya ngeri.
"Hahahahahaha.... kamu ini ga bisa di rayu ya."
Sahut Didim tertawa terbahak bahak.
__ADS_1
"Dek... " Suara Didim memanggil dengan lembut.
"Apa?" Tanya Anes cuek.
"Mmmmmm..... bisa ga kalau kita serius?" Tanya Didim sedikit ragu ragu.
"Serius apaan? Serius ngapain?" Tanya Anes cengo.
"Ya... kita.... kita berdua." Kata Didim lagi.
"Iya... maksudnya serius yang bagaimana?" Tanya Anes masih dengan nada dongo.
"Hubungan kita, serius gitu. Bisa ga?" Tanya Didim lagi mulai khawatir, terdengar dari nada bicaranya.
"Mmm... maksudnya gimana sih?"
"Kita . Jangan cuma sekedar temen, lebih serius gitu." Kata didim memastikan.
"Oh,,,, pacaran ? Aku di tembak ?" Tanya Anes senyum senyum geli.
"I.....ya...." Jawab Didim lemah.
"Status itu harus ya ?" Tanya Anes.
"Mau ga ?." Tanya Didim mulai kesal.
"Mmmm mau mau aja sih. Asal ga berubah." Jawab Anes.
"Berubah apanya ?" Tanya Didim ga ngerti.
"Ya..... kita tetaplah kita, temen yang baik, rekan yang kompak, melengkapi seperti biasanya, aku ga mau jika status itu merubah suasana, jadi saling mengatur, saling menuntut, saling mengekang dan semacamnya." Kata Anes menjelaskan.
"Oohhh soal itu.... jangan khawatir, aku akan berusaha tetap sama seperti apa yang kamu kenal sebelumnya." Jawab Didim meyakinkan.
"Oke lah kalau gitu." Jawab Anes.
"serius?" Tanya Didim bahagia.
"Lha pinginmu serius apa jawaban Prank nih?" Tanya Anes kemudian.
"Serius. serius. " Jawab Didim takut takut kalau jawabannya di batalkan.
"Ya sudah." Jawab Anes lagi.
"Udah dulu ya... aku mau pokeran bentar lalu tidur. Capek." Kata Anes meminta.
"Heheheheehe ga mau nih tidur di temenin?" Tanya Didim.
"akkkhhh gimana aku main game nya kalau telponan terus Yaahh.." Jawab Anes menolak.
"Iya deh iya. Ya udah... jangan begadang. Kalau udah mainnya lagsung tidur ya." Kata Didim .
"Siap komandan." Jawab Anes.
"Ya udah, asalamualaikum." Kata Didim memberi salam di balik telepon.
"Walaikumsalam." Jawab Anes pelan.
Anes memandangi telepon genggamnya nya sambil tersenyum.
"Mudah mudahan Yang ini tak menyakiti. Aamin" Guamam Anes perlahan.
Malam semakin larut, bintang berpijar dengan terang, seperti itulah kondisi kedua insan yang sedang dimabuk asmara ini.
Pertemuan dari ketidaksengajaan yang menjadikannya sahabat, hingga menjadi hati yang saling tertaut.
.
.
.
.
.
.*Kriikkkk krriikkk krriikkk krriikkk......
Bunyi jangkrik mengerik.
Ini bukan suara malam, hanya author saja yang iseng menuliskannya 😅😅😅
Sapa tau ada yang bosan dengan tulisannya. 😁😁😁 .
Ini adalah salah satu view di atas padang rumput, ga usah kepo ini dimana.. nikamti saja keindahannya. hehehehehehehehe.
Iya ...saya sebagai Author emang agak gaje😛*.
.
.
.
.
.
__ADS_1