
Keesokan harinya, pagi pagi buta jam 5, keadaan masih gelap, karena kebetulan musim nya musim dingin . Jam 5 pagi sama seperti jam 10 malam hari, dengan udara yang menusuk tulang.
Meskipun belum sampai turun salju.
Akan tetapi suhu 11°C akan sangat mengganggu bagi orang orang indonesia yang notabene udara nya tropis yang cenderung panas dengan tingkat kelembapan tinggi.
Di sini, udara dingin dan kering, saat musim dingin tangan dan kaki bisa pecah pecah, hingga mrngeluarkan darah di sela sela pori pori kulit.
"Kanes Anjayni" Panggil seorang bapak bapak dengan pengejaan kata yang buruk, yang kepalanya semi botak dengan mulut kemerahan mengunyah pinang.
"Wô ma?(aku?)" Tanya Anes sambil menunjuk dirinya sendiri?
Om om itu sebentar melihat Anes lalu sebentar melihat dokumen yang di pegangnya.
"Duì. Shì Nî. Guò laí (Benar sekali. Kesini kamu)." Sahutnya setengah memerintah sambil melambaikan tangannya.
"Daì nî de xînglî (Bawa kopermu)." Perintahnya lagi.
"Guaî yīdîan ! Nî dông bù dông á ?!
(cepat sedikit ! kamu ngerti ga sih?!)"
Perintahnya lagi dengan nada tinggi.
Dengan sedikit cuex Anes menoleh ke kawan kawannya yang lain, ternyata yang di panggil hanya dia seorang .
"Wah... mampus gua, gua sendirian nih, ga ada temen satu agen lagi. Njiirr mimpi apaaa gua semalem yak, weleh weleh,,, mudah mudahan bukan si engkong ini yang nganterin gua, Aamiin aamiin." Gerutu Anes dalam hati dengan diakhiri doa.
"Guaî !" (cepat !) Teriak si engkong naik satu oktaf.
Anes dengan blo'onnya santui berlenggang kakung mengikuti langkah si engkong sampai halaman .
"Nǐ qù nà liàng hēi de chē, Yǒu sījī zǎi nǐ." (kamu pergi ke mobil hitam itu, ada sopir yang mengantarkanmu) Perintahnya lagi ,,, lagi,, dan lagi.
Anes hanya menganggukkan kepalanya sambil AH OH aja.
"Mèimei, nǐ de xínglǐ xiāng dài lái, Wǒ bāng nî fâng." (Adek kecil, kopermu bawa sini, saya bantu taruh) Sapa sopir separuh baya itu sopan.
"Ternyata masih ada orang baik di negara ini. Fiiuuuhhh" Batin Anes sedikit lega Sambil menghembuskan nafas pelan.
"Xie xie lah Xien sheng" (Terima kasih pak)
Anes pun segera masuk ke dalam mobil hitam itu dengan santuy, meskipun dalam hati tetap berdoa semoga baik baik saja dan berjalan lancar tanpa ada kendala.
Mobil van hitam itu meluncur lancar di jalan raya yang masih sangat sepi dan gelap.
Semua jendela mobil di tutup, bukan karena ada AC , tapi justru ga pingin udara dingin dari luar masuk ke dalam mobil.
Anes hanya sendirian. Belum sarapan pula. Jangankan sarapan, minum air aja belum satu tetespun sejak bangun tidur dan cuci muka.
( Eiitt jangan dikira di negeri ini pagi pagi bebas mandi ya.. Yang rajin mandi pagi malah dikira orang aneh )
Author :
Udah ya pake bahasa indonesia aja , capek gua nulisnya ges. itu pinyin harus pake nada nulisnya. aiikkhhh aiikkhhh.
.
.
Kanjuuttt ! eh .. Lanjuutt 😁
"Indonesia ya dek?" Tanya bapak sopir pada Anes (Dengan bahasanya nya ya,,, ini langsung translate)
"Iya pak, eh kelihatan banget ya pak hehehehehe." Tanya Anes terkekeh geli.
"Ya kan ada di kertas yang Bapak pegang dek."
"Oh iya iya. heheheehe."
__ADS_1
Anes kembali diam menahan kantuknya.
Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil.
Tak terasa sudah satu jam lebih mobil van ini berjalan, entah sekarang dimana , ketika mobil semakin melambat dan berhenti perlahan .
Anes membuka matanya , ternyata berhenti di 7-11 .
Pak sopir pun turun tanpa banyak bicara, 7 menit kemudian kembali ke kursi sopir sambil memberikan sepotong roti serta segelas minuman panas pada Anes.
"Adek belum sarapan kan ?" Tanya nya pada Anes sambil menyodorkan makanan itu.
"Eh,, ! (Anes sedikit kaget) Belum pak."
Jawab Anes.
"Nih makan dulu. Sarapan sebentar, karena setelah ini kamu mungkin akan langsung kerja setelah sampai ke Agen."
"Biasa nya sih gitu pak." Jawab Anes sambil mengunyah rotinya.
"Oh iya Adek sudah pernah ke negara ini ya ?" Tanya bapak itu lagi.
"Sudah pak, tapi dulu saya di Distric Anping kota Tainan pak."
"Oh pantes saja, sudah ga takut takut. Biasanya anak yang baru pertama kesini itu masih takut takut dan kebanyakan belum bisa di ajak ngobrol. Karena belum paham bahasanya." Imbuh bapak itu.
"iya pak benar sekali. Kami di indonesia sebenarnya di ajari bahasa pak, namun logatnya ga terlalu mirip dengan di sini asli." Jawab Anes menjelaskan.
"Saya dulu bahasa di indonesia lancar pak, tapi ketika sampai di sini, di imigrasi bandara saya di tanyai sudah nikah apa belum aja , ga bisa jawab pak, karena ga ngerti. Di telinga terdengar aneh." Imbuh Anes lagi.
"Itu hal yang wajar Dek, karena tiap tiap negara kan punya logat bahasa sendiri sendiri."
"mmm.. ngomong ngomong masih jauh pak?" Tanya Anes.
"Ga . Paling 15 menit lagi. Kalau udah habis makan minumnya, bungkusnya buang di tempat sampah sebelah kursimu ya, lalu kita lanjut jalan." Terang pak Pir , (Pak sopir maksudnya.)
......
"Turun yuk. Biar bapak yang turunkan kopernya." Kata pak pir sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Makasih pak." Kata Anes sambil membungkukkan badannya tanda hormat.
"Your welcome." Sahut bapak itu.
"Eh,, bisa bahasa inggris pak." Tanya Anes.
"heheheheeh ga bisa, cuma sering denger dari anak anak filiphina yang sering bapak antar." Jawab Bapak itu merendah.
"Ya udah, Masuk, Saya antar sambil menyerahkan dokumenmu ini."
Anes berjalan di belakang pak pir itu sambil menyeret kopernya.
Kantor sepi.
Hanya ada satpam dan satu orang resepsionis perempuan.
Resepsionis itu diam tanpa berkata apapun dan pak pir menyerahkan map berisi dokumen Anes ke resepsionis perempuan itu.
"Oke, kamu naik ke lantai 2 ruangan pertama, buka pintunya dan masuk, bawa dokumen ini." Kata resepsionis itu pada Anes.
"Koper tinggalin aja di sini." Ucapnya lagi.
Anes pun melenggang naik tangga lalu menuju ruangan yang di tunjukkan tadi.
Tanpa mengetuk pintu, karena pintunya sudah terbuka.
Dudimuk seorang laki laki berambut separo uban. Tapi dari gurat wajahnya Beliau belumlah terlalu tua seperti rambutnya itu.
"Duduk." Perintahnya singkat.
Sambil mengulurkan tangannya meminta dokumen dari tangan Anes.
__ADS_1
Dokumen itu di buka perlahan, lalu di siapkan tinta merah, dan menyuruh Anes Cap jempol dengan tinta merah(Bukan Biru) .
"Sudah sarapan?" Tanyanya pada Anes yang masih melakukan Cap jempol di berlembar lembar dokumen itu.
"Sudak Pak." Jawan Anes.
"Oke."
"Setelah ini kamu langsung saya antar ke rumah Bos kamu. Di sana kamu harus patuh. Kerja yang rajin. " Ucapnya pada Anes terkesan memberi peringatan.
"Iya pak." Jawab Anes singkat.
"Ya udah, tunggu saya di bawah, saya ambil mobil dulu."
Anes pun berjalan menuruni tangga dan mengambik kopernya lagi lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Sudah ?" Tanya pak Satpam pada Anes.
"Sudah pak."
"Baik baik kerja ya, semoga bosmu orang yang baik." Kata pak Satpam itu lagi.
"Terima kasih pak." Sahut Anes membungkukkan badannya.
Tak berselang lama, Mobil Van putih metalik berhenti di depan pintu masuk.
"Masuk." Perintah bapak bapak yang di lantai dua tadi memerintah.
"isshhh lagi lagi perintah perintah. Orang orang sini banyak yang bossy . Payah." Sungut Anes dalam hati.
Anes bersantai santai dalam mobil, yang dikira perjalanan akan memakan waktu yang lama, ternyata hanya 15 menit sudah sampai.
Berhenti di sebuah rumah setengah tua. kecil dari depan yang ternyata memanjang ke belakang dan berlantai tiga.
Seorang wanita paruh baya keluar, sambil tersenyum lebar.
"Eehh sudah datang, ayo masuk dulu, aku barusan dari pasar membeli daging sapi khusus karena kamu datang. Karena saya tau kamu ga makan daging babi kan?" Tanya wanita itu.
"Terima kasih lo Bu." Jawab Anes sedikut bingung dan ga percaya . Apa iya ini bos barunya. Kok baik bener.
"Masuk masuk dulu. Taruh kopermu di lantai atas, lalu kamu turun lagi ya, tanda tanganmu belum selesai. Harus ada kertas yang di tanda tangani bersama sama." Kata Ibu itu yang ternyata benar dia adalah bos barunya Anes.
"Siap nyonya."
Anespun beranjak ke lantai atas lalu sesegera mungkin turun lgi ke bawah menyelesaikan dokumen2 nya. .
Setelah semua selesai si Agen pun pergi dan Anes di tinggal sendirian di rumah itu.
Anes masih saja bingung, dia mau di suruh kerja apa di rumah ini. Sedangkan di PK (kontrak kerja) nta Anes menjaga orang lumpuh separo dan pikun. Tapi ga ada tanda tanda ada orang lumpuh di rumah ini.
"Kamu hari ini ga kerja, kan habis perjalanan jauh, istirahat aja dulu di kamarmu di lantai dua. Besok baru kita sama sama pergi ke Rumah Sakit menjemput Papa." Kata nya.
Sesuai kesepakatan tadi yang dibuat, nyonya ini ga mau di panggil nyonya atau bos. Tapi meminta di panggil mama dan papa untuk suaminya .
Yang ternyata yang sakit adalah suami dari nyonya ini.
Anes pergi ke kamar yg telah di sediakan, dan mulai membongkar isi kopernya lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
Sambil menerawang jauh...
Apa benar ada orang sebaik ini ???
.
.
.
.
.
__ADS_1
.