
"Dari hatiku Rabb, kumeminta, lapangkanlah dadaku, maafkan aku yang melanggar aturan aturanMu,
Dari hatiku Rabb, kumemohon, jagakan keluargaku, mudahkanlah sehatnya ibuk.
Rabbku,, ikhlaskanlah hatiku menerima segala ujianMu, dan kuatkanlah aku menghadapinya .Aamiin "
Terlantun doa halus dari duduk malamnya Anes. Suaranya begitu pelan, takut membuat keributan buat penghuni rumah lainnya.
Diliriknya handphone yang tergeletak di atas ranjang , berkedip lampu hijau kecil itu tanda ada chat masuk.
????? Tanda tanya besar di benak Anes, makhluk apa yang mencarinya dini hari begini.
Setelah membuka kunci pattern, di scrol ke bawah layar ponsel kecil itu.
"Criiiiiiiiittttt ! Tidur ?"
Tulisan simple dan pendek itu terpampang di bawah sebuah nama yaitu Ariz Buriz.
"Kaninia.... ! (umpatan yang tak ada artinya) ngapain makhluk satu ini malem malem nyariin. Bodo' lah. Gua mau tidur lagi."
Dilemparkan kembali ponsel itu di ujung ranjang, tepat di sebelah bantal kepalanya.
Lalu di lanjutkannya membereskan perlengkapan tempurnya, di simpan rapi dalam tas bordir mungil warna hijau muda , warna ke sukaan Ghanes, selain warna merah tentunya.
Suara suara kehidupan di luar jendela masih saja terdengar di malam selarut ini. Inilah uniknya, negeri yang damai namun selalu berisik karena makhluk penghuninya banyak yang masih aktif hingga pagi menjelang.
.................................
...8.30 am...
Drrrrtttttt.....drrrrrtttt...ddrrttttrrrt
"klik". Anes memencet tombol telpon miring pada kotak headset bluetooth warna hitam nya itu.
"Wei.."
"Kuncrriiiiit !!!! Semalem kemana aih ? kok sampek sekarang chat ku ga kamu buka, padahal centang dua lo. Lu sengaja yak?"
Siapa lagi kalau bukan Buriz alias Ariz yang suaranya bisa sekenceng meain pesawat tempur. Ya cuma dia saja orangnya.
"Ohhh Busyettt,,, lu abis makan kaleng apa gimana, cempreng amat volume suara lu nyet." Tanya Anes sambil menjauhkan busa speaker dari telinganya.
"Hehehehehe maap maap kebiasaan kuncrit."
"Ada apa sih Riz ?"
"Aku mau curhat."
"What ?" Tanya Anes cuex.
"Mmmmm.... kalau seandainya gua kenal ma orang ,lalu di tembak gimana ?"
"Ya serah elu lah, kenapa nanya ma gua Riz, emang gua bapak lu? Ada ada aja."
Jawab Anea kwsal karena yang di tanyakan adalah hal yang pernah menyakitinya beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Yaelah, kok gitu jawabnya, menurut lu gimana? di terima atau ga?"
"Ya mana gua tau A....riiizzzzzz... Gua aja ga kenal siapa orangnya, kapan lu kenala, gimana karakternya, makanya gua jawab Serah Elu. Kalau lu suka tinggal jawanmb iya, kalau ga tinggal bilang Ga, gitu aja kok dibikin pusing. Dasar lebay." Jawab Anes menjelaskan , yang lebih tepat dibsebut menggerutu daripada memberi masukan.
"Siapa sih ?"Lanjut Anes lagi.
"Ada decchhh..." Jawab Ariz sambil senyum senyum sendiri.
"Wooo... dasar ******." Umpat Anes lagi.
Tuuuutt .(tanda panggilan dimatikan)
"Nes !... An.es !" Panggil Ariz memastikan .
"Lah .. di matiin ...." Gumam Ariz yang ketika melihat layar ponselnya memang sudah mati.
Ghanes pov :
"Gila tuh anak ya, ga bisa liat keadaan banget sih jadi orang, curhat yang tidak pada tempatnya, dasar brengsek. Punya temen satu, gitu amat yak."
Dengan nafas yang mulai tersenggal senggal menahan amarah, Anes melanjutkan rutinitasnya sesuai jadwal harian yang biasa di lakoninya. Alhasil barang barang yang di pegangnya lah yang jadi pelampiasan rasa kesalnya saat ini.
"Brengsek, ni otak lagi mendidih, lagi penuh, malah di jadiin tempat sampah buat yang ga penting begitu, akkhh shhiiitttt."
Brrrraaakkkkkk ...!!!!!!
Suara nya terdengar sangat keras hingga menimbulkan pertanyaan dari Mama.
"Apa An?"
"Ga ada ma, kakiku ke sandung kursi" Jawab Anes sambil meringis kesakitan.
"Sialan." Sambil menendangkan kakinya sekali lagi.
Ya.. suara tadi bukan tanpa sengaja di lakukannya, Anes sengaja menendang kursi hingga kursi nya terguling. Hatinya sangat kesal , karena memang Anes tak bisa memperlihatkan suasana buruk hatinya pada orang lain, hingga orang lain menganggap Anes adalah orang yang sangat kuat, bermental baja.
Ariz sahabatnya yang paling dekat, meskipun dia tahu hal ini, namun seringkali anak ini tidak tahu tempat, anak ini seringkali tak bisa menempatkan diri, tak bisa membaca keadaan.
Dan hal ini lah yang juga seringkali membuat Anes merasa kesal dan melampiaskannya sendiri.
"Selamat pagi Tuhanku, apakah Kamu tak melihat hambaMu yang teraniaya ini Tuhan ? Beri aku jawaban Tuhan, mengapa Kau aturkan cerita ini untukku ? Apakah menurutMu aku memang sekuat itu ?"
Anes berbicara sendiri sambil teris menyodokkan kain pelnya pada lantai granit hijau yang ia pijak.
"Hhhaaiiissshhhh,,, aku lemah sekali." Gerutunya terus.
"Tuhan,, Tuhan,,, ijinkan Dimas bahagia dengan Taraya jika memang itu jalan terbaik yang Engkau berikan, Jadikan Aku bijaksana Tuhan, meskipun aku sadar, hatiku sangat lah sakit, dan belum hilang sakit ini. Namun apakah ada jalan lain selain ikhlas Tuhan ? "
Tiba tiba pandangan mata Anes makin lama makin kabur.
Dia pingsan ??
Jelas tidak, Anes hanyalah menggenangi matanya dengan mata air murni dari hati.
Jika saja jiwanya mampu berenang di sana, mungkin bisa saja sedikit menenangkan hatinya yang masih saja kacau.
__ADS_1
"Ibuk, cepatlah sembuh seperti sedia kala, anak perempuanmu ini capek buk. Ga kasian apa kalau aku cepet keriput buk ? Kasihanilah anakmu buk ibukkkk,,,,"
Ocehnya terus menerus sambil tangannya tak henti mengayunkan kain pel hingga menyeluruh ke seluruh ruangan yang sebenarnya tak begitu besar jika di bandingkan dengan tata ruang di Arab Saudi, namun beda cerita jika pembandingnya adalah indonesia. 😁
Teettt...teeeeettt....
Bunyi bel rumah tandanya ada yang memencet dari luar.
Anes membanting tongkat pelnya sambil bersungut sungut.
"******, apalagi sih... "
"Kama ??!! (Ngapain) Tanya Anes dengan nada menyentak.
"Song sin lah." ( Anter surat lahh ) Jawab orang itu tak sambil terus memperhatikan Anes yang terlihat begitu aneh.
Karena ternyata yang datang adalah petugas Pos mengantar surat tagihan rekening listrik.
"Ni yo seme shi ma?" (kamu ada masalah apa ?) Tanya petugas itu menanyai Anes, sedikit khawatit melihat gelagat Anes yang tiba tiba membentaknya tanpa alasan.
"Mei you". Jawab Anes singkat lalu kembali masuk ke dalam setelah membanting pintu.
Tetangga depan rumah berbisik bisik, apalagi kalau bukan ngata ngatain Anes, dan Anes tau itu sudah sejak hari ketiga dia datang, ada dua tetangga rumahnya yang resex, hobinya ghibah mirip emak emak komplek di indonesia.
"Ma, ada surat tagihan listrik." Kata Anes setelah menemui mama di depan layar komputernya.
"oh oke, buka, tolong liatin berapa jumlahnya, sekalian dech kalau kamu ga sibuk, tolong bayarin ya, bisa ke 7.11 atau ke bank seberang jalan. kalau bank ga ada adminnya, kalau 7.11 adminnya 20 dolar.Terserah kamu mau yang mana." Kata Mama halus namun memerintah.
"Oke ma, biar aku pergi sekarang aja."
"ya udah berapa itu ?"
"587 Dolar ma."
"Ini uangnya." Kata mama mengulurkan tangannnya memberikan uang pada Anes.
Lalu Anes ngeloyor keluar, niatnya mau ke 7.11 sekalian beli minum, namun...
"Lah... katanya tadi terserah mau di mana, lha ini ngasihnya uang pas,,, hadaawwwhhh hari ini kenapa semuanya bikin gua emosi ya,, ini sih sama aja dengan nyuruh gua pergi ke bank, lah dikira gua mau gitu nalangin duit buat fee, meskipun cuma 20 dolar, mayan itu buat beli teh manis dapet 1 botol njiirr."
"Tuhan..... kasihani hambaMu yang manis ini Tuhan..."
Masih saja bergumam sendirian seakan akan Tuhan adalah sahabat yang bisa dilihatnya secara kasat mata.
Berjalan menyeberangi jalan raya masih dengan mulut nya yang monyong bersungut sungut.
Lucu sekali.
.
.
.
.
__ADS_1
.
....@Ning_wiesna...