Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
CALON


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nathan sudah duduk di kursi panjang dalam ruang tamu rumah Pak Alan. Duduk berhadapan dengan Ghanes di temani secangkir kopi hitam panas yang baru saja di bawa Ghanes dari dapur.


Sedangkan Bu Santi duduk di teras memperhatikan emak-emak yang sedang mengelililngi tukang sayur kelililing untuk belanja harian mereka. Namun Bu Santi tak ikut berbelanja, karena kata Bu Santi belanja harian itu kalau di hitung secara lebih detail sebenarnya malah lebih boros daripda belanja bulanan atau belanja mingguan.


Jadi, Bu Santi lebih suka berbelanja seminggu 2 atau 1x saja dengan budget yang sudah di tentukan.


Bu Santi tersenyum-senyum melihat kehebohan para emak-emak muda itu dalam merayu abang sayur. Tentu saja untuk mendapatkan harga diskon. Apalagi selain itu. Ciri khas emak-emak bukan?!


"Cabe mahal amat bang? Masak dua rebu cuma dapat 10 biji?" Kata seorang wanita muda mengangkat cabe dalam plastik tipis warna bening.


"Elah mbak mbak, kalau nanam sendiri juga capek mbak, belum nanti kalau hujan harus bawa payung juga . Kalau ga punya payung , juga harus beli dulu kan? Mahalan mana coba?" Jawab abang sayur itu hiperbola tanpa sedikitpun melihat ekspresi si embaknya yang nyengir.


"Yah, mbandinginnya malah pake payung, dasar tukang sayur gesrek."


"Yeeee,,, daripada mbandinginnya pake sapi, lebih mahal lagi mbak.Hahahhaha."


Abang tukang sayur ini di lihat dari perawakannya masih relatif muda, paling sekitar umur 27 an tahun. Seingat Ghanes dia dulu adalah kakak kelas Ghanes beberapa tingkat di atasnya.


Salut buat dia yang rela menahan malu untuk mendapatkan rejeki.  Abang sayur ini dulu pernah berkata : "Penghasilan bersih jadi tukang sayur keliling itu lebh besar daripada gaji UMK pegawai negeri."


Tapi memang begitu adanya, jika di hitung-hitung margin menjadi tukang sayur kelililing itu sekitar 150 sd 400 ribu perhari. Kalau di hitung perbulan, bukankah itu sudah di atas gaji UMK ASN? Sedangkan jam kerja pedagang sayur juga hanya beberapa jam saja. Bukan sehari penuh seperti ASN. Masalahnya hanya satu yaitu rela nanggung malu di kerubutin emak-emak tiap pagi. Hehehhehehe.


Pedagang sayur juga ga mentereng dengan memakai dasi setiap hari , meskipun itu bisa saja dilakukan untuk menarik pembeli lebih banyak. Tapi memang kebanyakan manusia saat ini itu lebih mementingkan pengakuan dan gengsi daripada isi.


Lihat saja banyak manusia-manusia berdasi yang arogan dengan gaya donjuan padahal isi dompetnya penuh dengan kartu kredit yang angsurannya masih berlanjut hingga 5 tahun ke depan. Atau bahkan manusia-manusia yang bergaya dengan kendaraan mevvvaah yang sewanya jutaan perhari.


Apakah ini ga di perbolehkan? Tentu saja boleh donk, namun jika di pikir-pikir manusia-manusia tipe ini adalah manusia yang ga bisa menggunakan akal sehat dengan semestinya. Membuang-mbuang uang hanya untuk mendapatkan LIKE dan menharapkan pengakuan dari orang lain.


...............


"Nda, ntar kita pergi ke pantai K dulu ya sebelum ke rumahku." Kata Nathan tiba-tiba membuyarkan lamunan Ghanes yang masih memperhatikan orang-orang di depan rumahnya.


"Hah?? Apa ?"


Nathan mengulangi kata-katanya, "Kita ke pantai K bentar, barulah kita ke rumahku."


Ghanes mengernyitkan dahinya keheranan, "Lo ga sedang sakit kan Than? Pantai K kan di ujung selatan, lalu rumah lo di utara timur, itu gimana ceritanya kok bisa ke pantai dulu baru ke rumah? Lo ga sedang sakit jiwa kan?!"


"Ga lah. Aku penasaran aja dengan pantai favoritmu itu, aku kan belum pernah kesana, yang sudah pernah ku datangi itu cuma pantai P yang sebelahnya itu lo... Sedangkan pantai K nya belum, penasaran aja sih, mumpung aku di sini kan, sekalian gitu."


"Ohh,,, ya udah kalau gitu, kirain otak lu udah ga waras, mau bolak balik ga jelas gitu, mau nyetrika aspal pa gimana."


"Akh,,, ga papa lah, kan ini masih pagi juga."


Anes kemudian menoleh pada Bu Santi yang masih asyik duduk di teras di tempatnya semula.


"Buuukk,,, mau ikan bakar ga buk?!" Tanya Ghanes dengan keras.


"Ikan bakar? Mana? Kamu mau beli tuna mentah itu?" Tanya Bu Santi menunjuk baby tuna sirip kuning yang di pegang abang sayur di halaman depan.


"Akh bukan, aku mau pergi ke pantai K dulu, kalau ada ikan bakar nanti aku bawain pulang, mampir bentar sebelum ke rumah Nathan. Ibuk mau?"


"Ya mau lah, apalagi kalau ikannya udah di bakar tinggal makan, jadi ga perlu repot-repot masak kan?! Candra juga pasti mau kok."


"Ya udah kalau gitu, aku pergi sekarang dech buk, nanti keburu ga ada perahu yang nyandar."


Tiba-tiba nyeletuk dari depan seorang wanita muda yang lumayan padat berisi sexy nyeletuk.


"An, aku juga mau An ikan bakarnya, sekalian bawain ya." Katanya sambil tersenyum-senyum gemoy.


"Bawain bawain, beli donk, ga gratis ya." JAwab Ghanes menggodanya.


"Mbak, jangan beli jauh-jauh mbak, beli yang ini aja mbak, lihat kan betapa masih segernya ikan ini, murah lagi." Kata abang sayur menimpali sambil memamerkan ikan baby tuna di tangannya.


Wanita muda itu seketika melengos dan cemberut ketika usahanya di cegah sang tukang sayur. "Diem lu ! Ga tau ada orang nyari gratisan apa yak, main nyelonong aja lu."


"Biarin ! kalau ga gitu ikan ku ga laku donk, hehehhee..."


"Dasar tukang obat !" Gerutu wanita itu lagi.


"Tukang sayur mbak.."


"Iya gua tau."


"Hahhahhahhahaha lucu amat mereka yak," Batin Ghanes lalu beranjak menuju kamarnya untuk mengambil tas slempang kecilnya.


Tak sampai 2 menit Ghanes sudah keluar kembali dengan tas slempang kecil warna Gucci cokelat . Tentu saja ini bukan merk asli, mana mau Ghanes membeli sebuah tas yang gunanya hanya untuk menaruh dompet dengan harga ratusan juta. Tas yang di belinya dengan harga 250.000 baginya sudah cukup bermanfaat sesuai kebutuhan hariannya. Ia tak peduli dengan pendapat orang yang bilang "Dari luar negeri kok barangnya gitu-gitu aja sih." Karena bagi Ghanes yang di beli itu adalah fungsinya bukan gaya nya.


Dari rumah ghanes menuju pantai jaraknya cukup di tempuh dengan waktu 20 menit saja. Bukan jarak yang jauh, apalagi jika menggunakan ukuran orang-orang pecinta touring, jarak 20 menitan itu terbilang jarak yang sangat dekat.


Liku-liku jalan khas perbukitan menjadi teman setia setiap deru motor yang terdengar di telinga . Hembusan angin yang cenderung dingin dan tentu saja masih sangat segar selalu bisa memberi rasa rindu kepada setiap orang yang pernah melewatinya.


Pantai K adalah pantai berpasir cokelat di pesisir pantai selatan pulau jawa. Dengan jejeran pohon kelapa yang tersebar di sepanjang pantai ini, juga rumput-rumput yang di biarkan tumbuh liar di bawah pohon, menambah ke naturalan pantai ini. Pantai ini berdampingan langsung dengan muara sungai dengan air coklatnya juga, apalagi jika setelah hujan, maka air di sungai nya akan berwarna sama persis seperti pasir.


Ada beberapa warung makan sederhana yang di bangun untuk beberapa nelayan , dan untuk pengunjung yang biasanya datang untuk mendapatkan ikan segar yang langsung turun dari perahu yang bersandar, Btw di sini ga ada TPI(Tempat Pelelangan Ikan) ya, jadi ikan-ikan hasil tangkapan langsung di jual begitu saja kepada para pengunjung yang datang.


Nah, bagi pecinta alam, suasana natural seperti inilah yang sangat  di dambakan untuk menjadi tempat refresing favorit. Masih alami dan jauh dari hiruk pikuk dunia atau pengunjung yang overload.


Namun untuk menuju ke pantai ini, kita harus melewati dua buah bukit kembar yang menurut mitos bukit kembar ini adalah bukit pemisah yang bisa memisahkan pasangan hidup (yang belum dalam ikatan pernikahan). Ada juga yang bercerita bahwa jika orang hamil melewati bukit kembar ini maka bayi yang di kandungnya akan keguguran.


Itulah sebabnya mengapa bukit ini dinamai Bukit Pegat(Bukit Cerai). Dinamakan bukit pegat mungkin juga karena posisinya yang tepat berada di kanan kiri jalan saling berhadap hadapan serta dengan bentuk yang sama persis.


Menurut cerita penduduk setempat, bukit ini adalah jelmaan dari pasangan muda mudi yang bunuh diri karena cintanya tak di restui oleh orang tuanya. Sang wanita adalah putri dari pemimpin wilayah ini, sedangkan laki-lakinya merupakan rakyat biasa.


Nah, pasangan muda mudi ini sebelum menemui ajalnya mereka bersumpah bahwa siapapun pasangan yang melewati tempat ini mereka pun akan mengalamani nasib yang sama dengan mereka, yaitu kisah cintanya tak akan berakhir bahagia.


Setelah mereka menjelma menjadi bukit kembar, kemudian kedua bukit ini di jadikan TPU(Tempat Pemakaman Umum) hingga sekarang.


Meskipun ada sedikit rasa was-was di dalam hatinya , namun Ghanes berusaha meyakinkan hatinya bahwa tiada yang lebih kuasa daripada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala dunia dan isinya.


20 menit pun mereka mulai memasuki kawasan pantai, bau angin asin yang membaur dengan amis pantai tercium sangat kuat dan menjadi ciri khas pantai yang masih alami. Tidak ada tiket masuk untuk kawasan pantai ini, karena sebenarnya pantai ini memang bukan pantai wisata melainkan pantai nelayan.





Sumber photo : Koleksi pribadi


Photo photo di dalam album sudah banyak yang rusak di makan usia, ingat ya album photo ini adalah kertas cetak, bukan album photo digital yang di simpan di google photo.


Ghanes segera mencari tempat duduk yang nyaman di sebuah balai-balai sederhana yang memang ada beberapa berjejer di pinggir pantai. Di temani matahari pagi yang mulai terik dan hembusan keras dari angin laut dengan partikel partikel garam yang lengket di kulit.


Ghanes memandang lautan dengan senyum lebarnya, mengingat ingat kembali dulu setiap kali ia sedang gelisah , maka ia akan pergi ke pantai ini walaupun sendirian, bahkan di malam hari dia bisa pergi ke tempat ini untuk menikmati angin laut dan pulang kerumah pernah hingga jam 11 malam.


Pantai ini aman, tak akan ada preman atau apapun yang membahayakan , karena isinya adalah orang-orang lokal. Apalagi di malam hari biasanya malah sedikit ramai dengan para nelayan yang mulai pergi melaut mencari ikan.


Segelas besar es kelapa ada di hadapannya, ia nikmati perlahan lahan sambil memperhatikan orang-orang menarik jaring. Di pantai ini nelayan memang tak selalu pergi tengah malam untuk menangkap ikan, namun juga di siang hari, tergantung cuaca, melaut di siang hari biasanya di lakukan ketika bulan bulan purnama, karena ketika purnama tiba, maka ikan ga ada yang mau keluar, mereka akan menghindari cahaya bulan. Selain itu biasanya saat purnama tiba ombak laut cenderung lebih besar. Jadi melaut di siang hari adalah solusinya karena lebih aman.

__ADS_1


Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya jaring pun telah semuanya di tarik ke pinggir dengan hasil yang lumanyan melimpah. Kemudian hasil tangkapan mulai di bagi-bagikan kepada semua anak kapal, termasuk kepada siapapun yang ikut berpartisipasi penarikan jaring.


Ghanes duduk menunggu semua kegiatan itu selesai,baru kemudian dia beranjak berdiri dan mendekati pedagang ikan bakar yang baru saja mendapatkan pasokan ikan dari hasil jaring yang tentu saja langsung di jual di tempat.


Ikan yang baru saja turun dari laut masih sangatlah segar, tidak perlu di cuci untuk di konsumsi. Karena jika di cuci dengan air tawar, maka rasa ikan akan jauh berbeda dengan yang tanpa di cuci dan masih terbungkus dengan sisa air laut yang asin.


Proses pembakaran pun tidak memerlukan banyak bumbu, cukup dengan bumbu sederhana pun rasanya sudah sangatlah  nikmat.


Di pantai ini kamu bisa membeli ikan layur 5 ribu dapat 10 biji ikan sedang. Sangat murah bukan? Daripada harus beli di pedagang yang tentunya harganya sudah sangat jauh berbeda dengan tingkat kesegaran yang juga sudah jauh berkurang.


..............................


Tepat sebelum waktu dhuhur Ghanes dan Nathan sudah kembali sampai di rumah Pak Alan, mampir sebentar untuk mengantarkan ian bakar kepada Bu Santi. Lalu tak sampai 10 menit mereka sudah kembali lagi menyusuri aspal hitam dengan matahari menyengat di atas kepala. Meskipun matahari sangat terik, namun jika perjalanan masih dalam wilayah pegunungan maka panas itu sama sekali tak terasa.


Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang hidup di pegunungan akan cenderung memiliki kulit yang jauh lebih gelap, karena mereka tak takut dengan matahari. Lebih tepatnya panas matahari tak terasa di kulit mereka, meskipun efek yang di timbulkan dari sinar matahari ya tetap saja. Kwaaaxx.


60 kilometer sudah mereka tempuh, hingga pada akhirnya mereka kembali berhenti di warung kopi milik Anggi. Tempat para bikers melepas penat. Namun kali ini mereka berdua mau silaturahmi dulu, sekaligus menegaskan bahwa mereka nanti malam sehabis melihat kembang api, mereka akan menginap di sini. Lalu ke esokan harinya mereka akan bersama sama berangkat touring kecil-kecilan ke wilayah P.


"Cie,,, kalian bener serius nih?" Tanya seseorang pada Nathan dengan senyum menggoda.


Nathan tersenyum bangga,"Minta doanya aja dach bro, gua serius nih, kalau ga serius mana mungkin mau gua kenalin sama bapak gua."


"Mbak, nanti kalau kamu jadi menantu di rumah Nathan, jangan lupa gratisan Tempe nya ya."


Ghanes menatap Nathan tanda tak mengerti dengan apa yang di maksud dengan temannya Nathan ini.


Lalu temannya ini kembali melanjutkan, "Loh, mbak belum tau ya kalau keluarganya Nathan itu pengusaha tempe?" Tanya nya menatap Anes lekat.


"Mmmmmmm,,,,,, belum tau mas, kan saya belum pernah ke rumahnya Nathan, dan saya juga belum nanya-nanya sejauh itu kok, harap di maklumi ya." Jawab Ghanes dengan senyum manis andalannya yang seringkali di gilai banyak kaum adam.


"Awas lu, jangan liatin dia lama-lama. Kepincut awas lu." Tiba-tiba Nathan menimpali dengan nada setengah mengancam.


"Ya,, elah nyet nyet, masak ngobrol aja ga boleh nyet ? Lagian kalian belum tunangan bukan? Jadi masih boleh lah, apalagi kalau cuma sekedar mengobrol. Protective amat lu." Kata pria itu dengan sedikit mengejek atas keprotective an Nathan.


Kemudian ia melanjutkan, "Biasanya yang berlebihan kaya elu itu ada sesuatu." Katanya sambil menatap Nathan penuh selidik.


"Sesuatu apa maksud lu?" Tanya Nathan tak terima.


"Hei,,,,, !!!!!! sudah !!!!! sudah !!!!! Apaan sih ? Kalian ini keg bayi , masak sama saudara sendiri gitu aja udah tersinggung sih ? Mana semboyan kebanggaan kalian itu ?" Teriak Baskoro melerai mereka berdua yang mulai memanas hanya karena masalah kecil.


Sedangkan Ghanes hanya diam memperhatikan mereka sambil memegang botol air putih yang sudah di minumnya beberapa teguk.


Ghanes memang sebenarnya tak terlalu peduli dengan perdebatan itu, karena dari sana ia sedikit banyak bisa menilai karakter seseorang. Dilihat darimana ia menghadapai dan memecahkan sebuah masalah , apalagi masalah yang di dapatkan secara spontan.


Nathan menghenyakkan pantatnya tepat di sebelah Ghanes dan sepertinya menahan sedikit amarah yang masih tersimpan di kepalanya atas perlakuan temannya tadi padanya.


Dia menoleh ke arah Ghanes dan menatapnya tajam, "Nda, kok kamu tadi ga ngebelain aku sih nda?" Tanya nya kesal.


"What????? Gua???????? apa yang harus gua bela ? Lagian menurut gua Mas nya itu ga melakukan salah apapun kok, itu kan hanya persoalan kecil. Gua ga mungkin menyalahkan orang yang memang menurut gua ga melakukan kesalahan apapun." Jawab Ghanes setengah berbisik agar pembicaraan mereka tak terdengar oleh orang lain.


"Akh,, ya sudahlah,ga usah di perpanjang. Biarin aja." Kata Nathan kemudian juga dengan suara yang sangat halus agar tak di dengar oleh orang lain.


"jiiiiiihhhh apaan sih, norak, keg anak balita aja." Batin Ghanes menggerutu kesal.


Mereka beristirahat di sana tidak terlalu lama, karena masih harus melanjutkan perjalanan ke rumah Nathan yang dari rumah Baskoro memakan waktu 30 menitan dengan laju motor rata-rata/normal.


Mereka pun kembali menaiki CB 100 mereka melewati jalan-jalan di area persawahan yang mulai menguning. Ini tak lagi melewati jalan raya utama, tapi melewati jalan-jalan desa di sepanjang perbatasan kota.


Rumah Ghanes dan Nathan ini di pisahkan oleh  satu kabupaten, jadi antara rumah Ghanes dan Nathan ini di tengahnya masih ada satu kabupaten lagi sebagai pemisah, yaitu rumahnya Anggi Baskoro dan juga rumah terakhirnya Rahma Damasya.Sedangkan Ghanes berada di kabupaten sebelah di sebelah selatan, dan Nathan tinggal di kabupaten lain di sebelah utara.


Pusying ya??????😜😁


Dilihat dari suasana desanya, desa ini penduduknya merupakan penganut agama yang kental, sedikit berbeda dari masyarakat di lingkungan Ghanes yang lebih moderasi.


Ada sedikit rasa khawatir namun juga harapan yang tinggi terhadap kehidupan baru yang akan di arunginya kelak. Siapa tahu hal ini membawa perubahan yang lebih baik di kehidupannya.


Ghanes dengan sikap duduk santun sempurna, tersenyum se mempesona mungkin di hadapan kedua orang tua Nathan, bukan maksud untuk terlihat baik, namun karena Ghanes masih sangat awam berada di lingkungan baru yang ia belum tau tentang adat istiadat setempat. Jadi lebih baik cari aman saja, daripada nanti menimbulkan ketersinggungan yang bahkan seringkali manusia melakukannya dengan tidak sengaja.


Tiba-tiba,,,,


"Namamu siapa?"


"Eh, Ghanes pak." Jawab Ghanes sedikit terkejut.


Bapak-bapak yang di hadapannya ini masih sangat muda, dengan wajahnya yang terlihat sangat bijaksana. Anehnya menurut pandangan mata Anes, Bapak ini wajahnya jauh lebih muda dari Nathan, atau lebih tepatnya Lebih berkarisma.


"Upss,,, stop Nes, beliau ini calon Bapakmu, jadi ga usah berfikiran yang aneh-aneh, ada-ada aja lu."


Ghanes memperingati otaknya yang mulai liar, karena terus memperhatikan wajah calon ayah mertuanya ini yang memang sama sekali tidak mirip dengan Nathan.


Muda, Gagah dan Berkarisma. Setelah sekian lama Ghanes tak melihat keindahan, baru kali ini ia melihatnya, sayang sekali beliau adalah calon ayah mertuanya.


"Saya Ayahnya Nathan nak, semoga kalian berdua segera serius ya, ga usah main-main terlalu lama." Katanya menasehati.


"Than, kalian pacaran ya?" Tanya nya pada Nathan.


"Ga kok Pak, sampai saat ini kami masih temenan aja kok, ga mikir sampai sejauh itu. Lagian dia juga ga mau pacaran katanya." Nathan menjelaskan dan menjawab pertanyaan ayahnya.


"Baguslah kalau begitu, terus kapan kita bisa bertemu orang tuamu nak?"


Tanya nya balik pada Ghanes yang tentu saja gelagapan di tanya hal ini dengan sangat mendadak.


"Hah? Mohon maaf pak, saya belum tau, silahkan Bapak yang menentukan waktunya, sekalian Nathan bilang ke ayah saya kalau kami serius."


"Loohhh,,,, Nathan belum ijin ke ayahmu?"


"Belum kok pak." Jawab Ghanes singkat.


Beliau melotot menatap Nathan dengan tajam, "Loh kamu gimana sih Than? Kirain kamu sudah ijin sama ayahnya terus kalian ke mari, ternyata belum toh?"


"Ya kan bisa sekalian aja kita ke sana bareng-bareng pak, biar ga wara wiri, rumahnya jauh lo pak."


Jawab Nathan ngeles.


"Ya sudah kalau begitu, bagaimana kalau 2 minggu lagi aku dan ibumu pergi ke rumah kamu?" Tanya beliau kembali pada Ghanes denga tersenyum.


"Iya Pak, boleh, nanti saya ngomong ke bapak kalau anda mau berkunjung ke rumah kami, tapi mohon maaf pak sebelumnya bahwa kami bukan orang kaya lo pak, kami hanya orang yang tinggal di pegunungan."


Jawab Ghanes dengan nada yang mulai tenang.


"Itu ga apa-apa kok, kami sekeluarga juga bukan orang kaya, jadi sama sekali tak pernah menilai orang dari harta yang di milikinya, yang penting hatinya bersih dan ibadahnya baik."Jawabnya menjelaskan.


"Nanti malam kalian jadi ke ke kota buat lihat kembang api? Terus pulangnya jam berapa? Tidur di mana?" Tanya nya beruntun.


Nathan menjawab pertanyaan beruntun ayahnya dengan cepat,


"Ya jadilah pak, pulangnya ya  kalau acaranya sudah selesai, langsung aku anterin ke rumah, lalu setelahnya aku mau menginap di rumahnya Baskoro."


"Ga capek?"

__ADS_1


"akh,, biasa aja tuh, kalau aku ya enggak, kalau bapak ga tau ya." Jawab nathan masih berkutat dengan pertanyaan ayahnya.


Mereka masih duduk di ruang tamu itu dengan perbincangan-perbincangan template lainnya, tak ada canda gurau di sana, ayahnya yang bertanya penuh selidik dan Ghanes yang membenci birokrasi tentu saja dalam hati Ghanes merasa lelah dan jengah jika terus terusan di beri pertanyaan-pertanyaan monoton seperti seorang terdakwa yang duduk di sebuah kursi di depan para hakim.


"Than, gua laper, makan di luar aja, aku ga nyaman kalau harus makan di rumah elu."√√


Cling....!!!! Nathan membuka ponselnya untuk membaca pesan yang Anes kirimkan melalui pesan WA.


Dia tersenyum.


Kemudian,,,,


"Nda,,, makan di luar aja yuk, sekalian puter-puter kota, kan kamu belum pernah ke kota ini bukan?"


Ghanes dengan pura-pura bingung menatap Nathan,


"Sekarang?"


"Ya sekarang lah, mumpung masih ada matahari, kan enak sore-sore muter-muter, ntar kalau malem dikit udah ga bisa jalan biasanya, karena jalanan akan padat dengan kendaraan."


"Okelah, aku ngikut aja Than."


"Kalian ga makan di rumah saja? Belum masak sih, ini masih mau masak." Kata ibunya Nathan yang sedari tadi menonton televisi serial drama sore menjelang maghrib.


"Ga buk, makasih, Nathan ngajakin keluar." Jawab Ghanes dengan nada sangat lebih halus dari biasanya yang pecicilan.


"Ya sudah kalau begitu, oh ya kapan kita mau ke sana pak? Tanggal berapa jadinya?" Tanya ibu nya Nathan pada suaminya.


"2 minggu lagi, berarti sekitar tanggal 23, nanti biar Nathan aja yang ngomong kalau sudah positif hari dan tanggalnya."


"Oh ya sudah."


..........................


Kembali di boncengan motor , Ghanes dengan hati yang sedikit bersungut sungut karena sekian lama berada di dalam ruang sidang, yang bahkan Nathan seakan akan bangga ketika ayahnya bertanya bagai jaksa pada Ghanes yang baru pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya.


Entah apa yang ada dalam otak Nathan, mungkin dia benar-benar tidak tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti jaksa itu sebenarnya sangatlah menyiksa, bukan menambah keakraban tapi malah menambah ketakutan saja. Ketakutan akan aturan-aturan dalam berumah tangga yang nanti menjadi wajib di patuhi mirip seperti abdi dalem di sebuah kerajaan yang harus patuh pada rajanya.


Rumah tangga itu bukan antara Raja dan Abdi dalemnya bukan? Bukan juga antara majikan dan pembantunya kan?


Bukankah rumah tangga itu partner yang harus saling bekerja sama dalam menjaga bahteranya agar bisa melewati ombak lautan bersama sama?


Sambil mengelus dada , Ghanes membatin dan bersyukur,


"Akkhhh,,, untung saja gua udah keluar dari neraka itu, kalau ga bisa pingsan gua." "HHmmpppgghhhhhggg." Lalu ia melepaskan nafas panjangnya dengan keras.


"Kenapa Nda?" Tanya Nathan sambil menatap wajah Ghanes yang ada di spion motornya.


"Ga ada, gua laper." Jawab Ghanes singkat.


"Ya udah, mau makan apa kita? Soto ya? Atau rawon?" Tanya Nathan menanyakan dua plihan yang sama sekali Ghanes tidak terlalu menyukainya.


Ya Ghanes memang bukan penggemar makanan berkuah terkecuali soup tanpa nasi, namun tidak untuk soto dan rawon, yang rata-rata penyajiannya nasi di campur jadi satu dengan kuah.


Sedangkan Nathan sangat menyukai kedua makanan ini, anehnya Nathan meskipun bertanya pingin makan apa, namun masih memberi pilihan yaitu soto atau rawon. Aneh bukan?


Mungkin bisa di bilang ini yang namanya pingin di mengerti tapi tak mau berusaha mengerti orang lain.


Ghanes lalu menjawab, "Rawon aja dech."


"Ya sudah, oke ya, tak kasih tau tempat rawon yang enak langgananku, murah banget lagi." Lanjutnya dengan promosi.


Meskipun pada kenyataannya Ghanes tak pernah tertarik dengan segala iklan tentang perawonan dan persotoan.


Namun Ghanes masih berusaha terus mencoba untuk sesuatu yang baru dan mengerti tentang kesukaan orang lain. Tujuannya hanyalah satu, yaitu memperbaiki dirinya untuk menjadi manusia yang lebih toleransi terhadap sekitarnya. Siapa tau memang sebenarnya hanya dirinyalah yang terlalu keras kepala terhadap apa-apa yang di sukai dan tak di sukainya.


Jalan-jalan kota yang semarak dengan berbagai lampu kelap-kelip menyambut datangnya malam tahun baru, indah,,, seperti suasana perkotaan kecil pada umumnya. Karena di kota ini akan jarang di temui gedung-gedung bertingkat yang tinggi. Namun demikian setiap kota pasti memiliki daya eksotisnya mereka masing-masing.


.............................


Di dalam sebuah warung rawon yang lumayan ramai dengan pengunjung, Ghanes duduk di pojokan biar ga terganggu dengan pengunjung warung yang lain, sambil menunggu rawonnya, dia membuka akun facebooknya yang setelah sekian minggu ia tak membukanya karena terlalu sibuk dengan aktivitasnya di rumah.


Tanpa sengaja ia melihat postingan dari seseorang yang membuatnya luka, siapa lagi kalau bukan Dimas Dimitri.


Dia mengupload sebuah gambar lokasi dan sedang berada di kota serta tempat yang sama, dengan caption :


Menunggu kembang api.


Ghanes mengernyitkan dahinya sebentar lalu memperlihatkan photo itu pada Nathan.


"Ini di mana Than?"


"Di alun-alun tengah kota. Kamu belum tau kalau dia cuti pulang ke indonesia?"


"Ga sama sekali. Gua ga tau kenapa tiba-tiba status dia bakal muncul di berandaku, padahal seingatku dulu, akunnya dia udah gua restric."


"Ga di blokir?" Tanya Nathan penuh selidik.


"Kan engga, dia yang mblokir, bukan gua."


"Ya mungkin blokirannya udah di buka kali, sengaja pen nunjukin ke kamu keberadaannya dia sekarang, mungkin lo ya." Kata Nathan kemudian.


"Begitu ya?"


"Mungkin. Kenapa? Kamu takut ketemu dia?"


"Ga, bukan takut cuma males aja. Gua ga mau terus-terusan teringat masa lalu."


"Ya udah kalau ga takut, kenapa mesti gelisah, btw nanti kalau misal kamu ketemu dia terus sedang bersamaku, kamu ga papa kan?!"


"Ga. Ga papa kok."


Nathan tersenyum bangga dengan jawaban Anes. Sedangkan Anes hanya diam dengan isi otak kosong, tidak sedang memikirkan apapun namun juga tidak tau apapun dan mau melakukan apapun.


Kosong...... seperti balon hitam yang di isi angin. Kelihatan berwibawa tapi ga ada isinya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2