
Ceria yang Ghanes jalani setiap hari menjadi bumbu bumbu hatinya makin bermekaran.
Rindu yang makin bertambah seiring berputarnya jarum jam, makin menggerogoti jiwanya.
Sahabatnya yang lain , namanya Dyaz , dia adalah cewek temen lamanya Anes, yang menyusul Anes ke negara T karena tak di restui dengan pacarnya.
Sebenarnya Dyaz hampir setiap hari juga hubungi Anes via WA call, namun dengan durasi yang pendek, karena dia punya bos yang sedikit rese.
"Nes,,, akhirnya Nesss bahagianya aku Nes.." Katanya suatu ketika.
"Apaan sih Yaz? kayaknya bahagia bener lu."
"Hehehe.. jelas bahagia donk, yang kunanti nanti akhirnya datang juga .
Aku haid Nes. hahahahahah telat 4 hari gua. Haid mu udah selesai belum ? Kan biasanya duluan elu jarak tiga hari baru gua."
Deg ! deg ! deg ! deg ! deg !.....
"Eh, ? iya kah ? Kok gua baru sadar kalau gua belum haid ya ?" Kata Anes karena memang dia ga menghitung hari kali ini.
"Beneran lu belum haid Nes ? kok tumben ? Coba dech minum kunyit Asem atau apa kek biar lancar. Kalau telat sakit banget lo Nes, kaya lu ga tau aja sih." Kata Dyaz memberi saran.
"Iya juga ya... lupa gua. padahal di dapur ada lo kunyit asem, kan biasa q nyetok beberapa karton, kok lupa minum ya. Makasih lo di ingetin."
"Dimas terus yang lu pikirin. Dasar bucin Sampe lupa ma badan sendiri."
"Hahahahaaha apa gua sebucin itu ?"
"Emangnya enggak ??!! Cari kaca sono." Jawab Diyaz mengejek.
......................
19.45
"Yah, gua telat 1 minggu."
Kata Anes pada Didim. Dia mengatakan satu minggu karena menurut perhitungan jadwal haid nya yang biasanya lebih awal tiga atau empat hari dari Dyaz.
"Terus kenapa?"Tanya Didim cuex.
"Ya kalau aku kenapa napa gimana ? apa kamu siap ?"
"Halah... ga mungkin lah dek, orang waktu itu aku keluarin di luar kok."
"Yakin kalau di luar semua ? Padahal kemarin aja kamu juga bilang kan, masuk sedikit. Gimana sih ?" Tanya Anes mulai cemas.
"Ya kan cuma dikit dek."
"Nah kan berarti bener kan?" Sahut Anes mulai sedikit kesal.
"Udahlah tenang aja, ga usah dipikirin . Bukankah dulu kamu juga beberapa kali telat haid bahkan sampai 2 bulan?"
"Iya itu kan dulu Ayah, waktu SMP, pertama haid, Kalau sekarang mentok telat paling dua minggu , ketika aku sedang stress."
"Berarti masih ada waktu satu minggu lagi kan." Jawab Didim membenarkan dirinya sendiri.
"Oke oke, aku akan liat nanti Yah."
Tenang ? jelas tidak. Hati Anes mulai sedikit agak kacau dengan jawaban Didim yang meragukan di telinga.
Namun , Anes tetap saja tak mau berfikiran negatif terlalu banyak, karena ia tak mau terlalu stress juga. Berharap bahwa yang terjadi nanti bukan seperti yang di khawatirkannya. Anes sendiri tau bahwa ia adalah orang yang memang paranoid.
.......................
"Riz, gua telat." Kata Anes pada Ariz.
Ia sengaja mengatakan ini padanya karena mau minta pendapat. Secara Ariz sudah pernah menikah, dan memiliki seorang putra, setidaknya Ariz lebih berpengalaman soal ini.
"Haaaah !!! Serius lu Crit ?" Teriaknya kaget.
"Iya." Jawab Anes dengan mata mulai panas.
"Terus Dimas gimana? Udah tau ?"
"Aku udah ngomong, tapi Didim sepertinya ga yakin gitu."
"Ga yakin gimana?"
"Ya... dia bilang ga mungkinlah gua hamil, karena katanya di buang di luar, tapi.. waktu itu gua ngerasa ada yang di dalem meskipun dikit, dan Didim pun membenarkan sih."
"Lu pernah telat sebelumnya ?"
"Pernah. Kalau gua stress, kalau gua capek juga."
"Ya udah. Moga moga hanya telat biasa aja. Btw, kita tes bareng bareng tangan 31 minggu ini, sekalian gua kenalin ma temen gua Meysha, dia tau tempat tempat dokter kandungan."
"Emang harus langsung periksa dokter ya ?" Tanya Anes cengo.
"Astagaaa kuncriittt ! Emang lu ga tau harus ke dokter atau apa gitu ?"
"Ya kenapa mesti ke dokter sih ?"
"Ya buat mastiin positif atau ga."
"Kan bisa pake tespek."
"Emang lu punya tespek ? "
"Ga."Jawab Anes polos
"Tau belinya di mana?"
"Ga juga."
"Hahahahahaha Kuncriit Kuncrriitt umur lu berapa taon sih geblek amat?"
"Ya kan gua ga tau soal begituan Riz."
"Makanya aku ajak Meysha , nanti kalau ada apa apa dia yang lebih tau."
"Ohhh gitu, kirain harus langsung ke dokter." Jawab Anes tersenyum. Tertawa dengan ke tolilannya.
"Bukannya Dimas juga libur tanggal 31 mau liat konser nya Ratna Antika di kotamu ? Lu ga libur juga ?" Tanya Ariz merasa aneh.
"Kan kita dah libur tanggal 18 kemaren Riz. Masak aku libur lagi. Gua ga dapat uang lembur donk."
"Btw darimana lu tau kalau Didim mau libur di tanggal 31 ?" Tanya Anes baru ngeh.
"Dari Joko ! Jangan bilang lu curiga ke gua kalau gua tau dari Dimas ya."
Jawab Ariz sedikit berteriak karena gedeg.
"Hehehehehe ga juga sih, cuma kepo aja."
"Heleh, Busa lu." (sebutan BUSA, adalah perumpamaan ketika seseorang banyak bicara, banyak alasan, atau berbohong, artinya mulutnya penuh Busa sabun.)
"Pamit sono sama bosmu kalau mau keluar lagi tanggal 31. Harus bisa ya. ingat. Harus. Kalau ga gitu, kita belum tentu bisa ketemu. Takutnya kalau positif, malah kelamaan ambil keputusannya . Mengerti Kuncrit Anes ?
Ingat ! jangan pikirin duit ! " Kata Ariz dengan nada penuh perintah.
"Iya iya gua ngerti. Ntar kalau gua dah minta ijin gua kabari lagi ya."
"Nah.. gitu donk."
......................
"Ma, Anes mau minta ijin, hari minggu ini bisa ga kalau Anes libur lagi ? Ada urusan sangat mendesak Ma."
"Terus gajimu ?"
"Potong aja ma."
"Ga pa pa ?"
"Iya . Ga pa pa."
Mama manggut manggut,
"Oke, nanti aku telpon Mbakmu Yenji biar pulang malam minggu ini.
"Makasih Ma." Kata Anes dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Ada apa ?" tanya Mama penasaran.
"Akhh ga pa pa kok Ma, ya udah Ma, Anes naik dulu." Anes beranjak dari duduknya sembari tersenyum karena Anes tak mau menunggu di Rudal i pertanyaan.
................
Fix tgl 31 ok. ββ
^^^Yes. πββ^^^
Lalu Anes, merebahkan tubuhnya sebelum mandi, menerawang ke plafon yang catnya belum berubah jadi bunga bunga sejak ia datang.
"Akkhhh... sudahlah..." Gumamnya lalu beranjak mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
.......................
...31 Agustus...
Hari yang di janjikan pun tiba. dan menjadi kebiasaan Anes adalah ketika liburan selalu membuat masakan dari rumah untuk dimakan bersama. Bukan apa apa , hanya karena Anes suka saja melampiaskan stress nya pada Dapur.
Yah, nanti kira kira nyampek sini jam berapa ?ββ
^^^Entahlah,,,^^^
^^^jadwal bus nya^^^
^^^berangkat dari sini jam 9.00ββ^^^
Ga bisa pagian dikit ya?ββ
^^^Ga bisa lah, kan aku ikut rombongan.ββ^^^
Ya udah, Anes tungguββ
^^^Ada apaan sih ?ββ^^^
Kan aku minta temenin ββ
^^^Ya mana bisa Nes... ββ^^^
Ya udah, aku tetep tungguinββ
^^^Serahββ^^^
Tess. Tess.. Dengan segera Anes mengusap air matanya yang mulai menetes perlahan.
Hatinya seketika kacau. Namun dengan sabar ia menunggu di sebelah panggung tempat konser yang mulai ramai di padati penonton.
Satu jam , Dua jam, Tiga jam telah berlalu, namun tanda kedatangan Dimas sedikitpun belum ada.
Triinng... triinngg... tringg.
Ponsel Anes bergetar di dalam saku.
"Apa Riz ?"
"Jam berapa kamu naik woee. Lama bener sih ?"
"Gua nungguin Dimas Bentar."
"3 jam lu bilang bentar. Udah ! lu temuin dia ketika pulang entar, cepetan naik, keburu siang."
" H.....okelah. Gua naik."
Naik yang di maksud adalah perjalanan dari arah selatan ke utara, karena dalam peta posisi utara ada di bagian atas.
Anes dengan lesu melangkahkan kaki meninggalkan tempat konser. Menunduk sepanjang jalan berusaha menahan air matanya agar tak menetes.
Anes tak ingin lagi menunggu Dimas, karena ponsel Dimas tak lagi bisa di hubungi. Chat WA nya pun hanya centang satu.
Bisik bisik orang yang lewat pun Anes pura pura budeg.
"pppssstt, kasian ya dia, kok mukanya merah padam begitu, seperti menahan tangis, sendirian pulak."
Kasak kusuk di sekitarnya Anes tak ada waktu untuk menggubrisnya.
Dia tetap berjalan melewati terowongan di bawah stasiun tersebut.
Namun, yang di panggil tak merespon ,mungkin tak mendengar karena manusia terlalu berdesak desakan, dan Anes pun tak bisa balik arah.
"Akkhhh,,,,... " Jeritnya dalam hati sambil menghembuskan nafas kasar dan panjang.
Setengah jam kemudian Anes telah tiba di Stasiun kota P, Di pintu exit W3 Ariz dengan seorang temannya menyambutnya dengan Senyum namun yang keluar adalah makian.
"Dasar Kuncritt goblok. Ngapain lu nungguin Dimas, lu ga mikir apa kalau Dimas tuh lebih berat ke temen temennya daripada elu, sadar ga sih Crit."
Anes tertunduk diam tak menjawab, matanya kembali terasa panas.Nqmun ia masih bisa menahan air dari sudut matanya untuk tak keluar.
"Sudahlah, kita makan dulu aja yuk, kasian tih masakan kalau ga di makan, setelah makan, baru gua anterin nyari tespek." Kata Temannya Ariz yang tak lain adalah Meysha.
Anes mendongakkan kepalanya menatap Ariz tanda minta jawaban atas pertanyaan yang tak dilontarkannya.
"Iya, maaf crit gua dah cerita semalem ma Meysha, gua pikir ga mungkin kan dia ga tau lebih dulu kalau minta bantuan ma dia." Jawab Ariz seakan mengerti dengan arti tatapan Anes padanya.
"Oohh, ya udah." Sahut Anes singkat.
Bahkan Anes tak ingat kalau dia belum kenalan dengan Meysha.
Mereka bertiga menuju Food Court di lantai 2. Sebuah pusat kuliner di atas lantai stasiun terbesar di negara itu. Lebih tepatnya Stasiun di ibukota negara itu.
Tak sampai 30 menit mereka menyantap makanannya, hanya Anes yang duduk diam sambil memegang sekaleng Bir.
Anes dan Meysha saling tatap lalu menggeleng gelengkan kepala bersama sama.
"Ya udah kita turun , beli tespek, langsung di test aja di toilet bawah." Kata Meysha sambil membereskan meja mereka yang berantakan.
Anes tak menjawab , namun berdiri dari tempat duduknya , lalu berjalan mengekori ke dua temannya itu.
,,,,,,,
Tespek ada di tangan, Anes masuk ke deretan toilet wanita, namun baru saja buka pintu, Anes muntah muntah, mengeluarkan seluruh isi perutnya , yang isinya hanyalah air dengan sedikit busa mirip Balita yang sedang Gumoh.
Anes merasa aneh, karena biasanya kalau muntah, mulutnya pasti pait, tapi yang ini tidak sama sekali.
Setelah selesai muntah dan meneteskan air kencingnya di lubang stick tespek itu, Anes berdiam sebentar menunggu.
Satu , Dua ,Tiga.... Tak ada apapun.
Dari luar..
"Dook..dookk..dook."
"Kuncrit lu ga apa apa kan?" Tanya sebuah suara yang tak lain adalah Ariz.
"Iya. ga pa pa. cuma mual mual aja kok." Jawab Anes dari dalam.
"Oh ya udah. Udah selesai belum ?"
"Udah. Tapi...."
"Tapi apa Crit ?" Tanya Ariz dari balik pintu makin penasaran.
Ceklek. ! Suara Kunci pintu toilet di buka.
"Sini Riz." Anes menarik tangan Ariz ke dalam toilet.
"Ini maksudnya apa?" Tanya Anes memperlihatkan tespek yang Bergaris Satu, namun ada samar samar garus satu lagi di atas.
Garis itu sangat samar, hampir tak terlihat.
"Heh ?? kok gini ? Gua juga ga tau kalau begini. Gua ga pernah nemu pengalaman yang kaya gini. Ya udah , tungguin gua bentar. "
Ariz melongokkan kepala keluar pintu toilet.
"Mey, lu telpon dokter yang lu bilang kemaren dech, buka jam berapa ?"
"Siap, tapi dia buka tyap hari kok, hanya istirahat dari jam 12 sampai jam 2 siang aja."
"Wooee,, jendul, ini hari minggu, jadwalnya sama tyap hari?" Teriak Aris setengah emosi.
"Uppsss iya ding gua lupa. Sory. Waduuhhhh,,, klo minggu cuma buka pagi ampde jam 11, setelah itu buka lagi malem jam 7 ampe jam 10." Kata Meysha dengan penuh rasa berdosa.
__ADS_1
"Astaga.... terus ini gimana?"
"Gimana apanya ?"
"Liat nih." Kata Aruz menunjukkan hasil tespek ke Meysha.
"Mm... kemungkinan besarnya kalau ini positif, tapi lebih baik cek langsung ke dokter aja dech buat memastikan."
"Gua kalau malem ga bisa." Kata Anes pasrah.
"Ya udah, gini, di dekat rumahmu ada dokter kandungan ga ? Kamu cepetan pulang aja, lalu periksa di sana."
"Eh, bentar..., Ada. Minggu malam dia juga buka tapi cuma sampe jam 9 doank." Kata Aris sedikit menemukan jalan terang.
"Oke, kalau begitu, lu cepet turun pulang, sebelumnya temui Dimas lebih dulu, dan bilang sama dia. " Saran Ariz pada sahabatnya itu.
"oke oke. Makasih ya.." Anes sutuju dengan saran dari Ariz tersebut.
Hatinya makin kacau tak karuan. Berjalan kembali menuju platform kereta api .
Yah, aku turun, tungguin aku dulu sebelum pulang. ββ
...17 menit kemudian ...
^^^oke.Aku di sebelah kiri panggung, depan pintu terowonganββ ^^^
,,,,,,,,,,
Celingak celinguk Anes mencari sosok Dimas, Setelah di dapatkannya, Dada Anes malah terasa sangat sesak, seperti susah untuk mengeluarkan kata kata, seakan lupa apa yang hendak di katakannya.
"Liat ini yah." Kata Anes sambil membuka sedikit resleting tas slempangnya.
Menunjukkan hasil tespeck nya.
"Enggak gitu kok." Kata Didim cepat.
"Tapi yang atas itu ada garisnya walaupun samar samar." Kata Anes lagi.
"Tenang aja, enggak enggak, percaya deh ma aku." Kata Didim berusaha menenangkan.
Namun belum selesai mereka bicara , teman teman Dimas memanggil Dimas.
"Bentar aku ke sana dulu ya, ga enak aku ma temen temenku. " Katanya pada Anes sambil mengusap kepalanya lembut.
"Ya udah, tapi ntar kalau mau pulang pamit dulu ya , aku tunggu di sini." Kata Anes sendu.
"Iya , aku pasti pamit kok. Ga mungkin ga pamit." jawabnya sambil tersenyum.
Anes duduk sendirian di pojokan pagar. Ia sengaja mrnyendiri, karena tak ingin mengobrol dengan siapapun. Hingga tak terasa sudah hampir maghrib.
Dimas tiba tiba sudah duduk di sampingnya, memeluknya ..
"Aku pulang sekarang ya, kamu hati hati."
Anes hanya menganggukkan kepala nya dengan mata telah basah dengan air mata kesedihan.
Anes bingung.
"Ya udah, jangan terlalu dipikirin, pasti ga ada apa apa kok. percaya sama aku."
Anes tak menjawab, dia menatap kepergian Dimas dengan tatapan mata kosong.
Tiba tiba dari belakang.
"Wooee... ketemu lagi kita Neng, dugem dulu yuk." Kata temen ceweknya menepuk pundak Anes.
"Ga akh Mi, aku mau pulang aja." Kata Anes.
"Eh bentar, kamu... sini... sinii.... " Membawa Anes semakin menjauhi kerumunan.
"Kamu habis Kiret (Aborsi) ?" Tanya temennya ini yang Anes memanggilnya Mami.
"Ga Mi, kenapa emang?"
"Mukamu, pias wajahmu keliatan. Lu hamil ?"
"Entahlah Mi, aku masih mau periksa dokter." Jawab Anes perlahan.
"Udah di tes ?"
"Udah . Tapi gini." Jawab Anes sambil memperlihatkan stick tespecknya.
"Ya udah, karena hasilnya meragukan begini, maka, kita kedokter ,gua anterin."
"Serius Mi?" Tanya Anes sedikit bahagia.
"iya. sekarang aja Yuk."
"Ya udah Ayok."
Mereka berdua adalah teman ketika pergi ke taman membawa pasien jalan jalan, rumah mereka berdua jaraknya ga terlalu jauh. Setiap hari biasanya ketemu di taman, sambil berbagi makanan indonesia.
...............
Dokter yang di datangi Anes adalah dokter yang sama ia datangi ketika ia mengalami infeksi yang dulu.
Harap harap cemas, setelah menceritakan keluhannya, Anes langsung di USG.
"Belum ada." Kata Dokter tersebut.
"Maksudnya di sini belum terlihat." Jelasnya kembali.
"Namun, untuk lebih memastikan, kamu pergi ke suster untuk lakukan tes urine ya."
Anes tak menjawab namun melangkah menuruti perintah dokter.
Tak berapa lama Anes kembali ke ruangan.
"Iya , kamu positif." Kata Dokter tersebut.
"Seminggu lagi kamu ke sini lagi, untuk lakukan USG ulang melihat posisi janinnya. Untuk sementara ini kamu hanya perlu asupan gizi dari makanan, perbanyak makan sayur dan buah."
Dengan kepala masih menunduk, Anes di iringi Mami berjalan keluar dari klinik.
"Setelah ini lu tau apa yang harus lu lakukan ?" Tanya Mami pada Anes.
"Tau Mi." Jawab Anes pasti .
"Apa ?" Tanya Mami menoleh pada Anes dan menatapnya lekat lekat.
"Aborsi." Jawab Anes serak karena air matanya ikut turun bersama dengan suara yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa kok ini yang jadi pilhanmu?"
Tanya Mami ga habis pikir.
"Karena........ ".
.
.
.
.
.
.
.
.*Author :
episode ini lumayan panjang yak, hehehehehehe... karena cerita Di bagian ini susah untuk di penggal.
****** besok.π*
.
.
__ADS_1
.