
"Kuncriiitttt, lu kerja di mana sih crit ? gila lu jarang banget hubungin gua?" Teriak Ariz di video call grup mesenger.
"Diem lu njiirrr,,, telinga gua sakit tau. Itu suara apa ompreng ? kenceng banget teriaknya." Kata Anes gusar.
"Hei kalian congok. Tu mulut berisik amat sih njiir. Kalian perempuan cuma berdua saja , suaranya sudah menuhin negara." Kata Kohan
"Iya tuh bengek, dateng dateng suara kaya gempa bumi . kurang ajar. Eh itu sapa yang satu itu ? Didim yak ?" Tanya Huda.
"Iya." Jawab Anes singkat.
"Mereka pacaran tuh." Kata Ariz mengejek.
"iya kah ? sejak kapan?" Tanya Yandro yang sedari tadi diam.
"Tanya aja tuh sama manusia berdua itu. Ga seru amat, enak enak main malah ada yang pacaran ." Gerutu Ariz dengan wajah kesal.
"Emang kalau kita pacaran pengaruhnya apa ke kalian?" Tanya Didik membuka suara.
"Gua patah hati Njing." Kata Yandro kelepasan.
"Elo naksir ?" Kata Huda dan Kohan bebarengan.
"Ga lah. itu kan cuma perumpamaan. lagian kalau ada salah satu yang pacaran pasti ga seru lagi. Waktunya jadi kebagi bagi buat mojok. Ga seru ah." Jawab Yandro menyanggah.
"Akkhh buktinya gua masih sama aja kan. Ga berubah. Masih aktif juga di Nimboo. Di VC juga masih ngangkat kok Buktinya. Ya kan Riz ?" Jawab Anes menyangkal lalu balik bertanya pada Ariz.
"Bodo'. Gua ga ikutan." Jawab Ariz ga mau ikut campur.
"Awas aja lu Nyet kalau nyakitin temen gua Anes, gua mampusin lu Nyet." Kata Ariz mengancam .
"Siapa ? Gua?" Tanya Didim menunjuk dirinya sendiri.
"Ya elu lah, sapa lagi ? Masak Kim Jong Un." Jawab Ariz masih kesal.
"Eehhhh para Babi babi, diem ya Bab, jangan berisik, sama sama tolilnya aja masih berantem, ya Sudah lah ya kalau mereka Pacaran. Asalkan ga saling menyakiti saja." Kata Huda menengahi mereka.
"Ya elah kaya kalian ga tau gua aja , kalian kenal gua udah lama kan ? tau juga gua gimana." Kata Didim membela diri.
"Ya ya ya,,, serah elu dah Dim. Awas itu anak orang jangan di mainin. " Kata Yandro.
"Sepertinya elu khawatir amat sama Anes Yan.?" Tanya Didim penuh selidik.
__ADS_1
"Ya jelas iya gua khawatir, Anes temen gua" Jawab Yandro.
"Bukan karena elu naksir kan?" Tanya Didim.
"Sudah sudah, kok malah berdebat sih kalian. Dasar bocah ingusan semua." Kata Kohan mulai kesal karena pembicaraan ini malah mengarah ke perdebatan yang tak sehat.
"Fiiiuuuhhh resek. Dasar Babi." Kata Huda mengata ngatai entah siapa yang di katai.
"Eh btw di room Nimboo Bakbar rame tuh. Kalian cepet masuk." Kata Ariz kemudian.
"Gua boleh ikut ?" Tanya Didim.
"Udah ada aplikasinya ?" Tanya ariz.
"Belum. hehehehe" Jawab didim cengengesan.
"Dongo !!!!" Jawab mereka berlima serempak.
"Iya iya gua download dulu . Tunggulah bentar 5 menit, nanti gua nyusul masuk roomnya." Kata Didim lagi.
"Criitt itu crriittt Ahmed india itu, tu anak mesumnya tengah mati, kemaren private chat dg gua. Hajar aja gih" Kata Ariz menyemangati ketika ada nama Ahmed di room yang dia masuki dengan kawan kawannya.
"Eh tapi orang india keren keren lo, postur tubuhnya tegap tegap, pasti Anunya juga tegap. Hahahahahaha." Kata Kohan sambil menuliskan ketikan pada room mereka.
"Yoi mbeb." Jawab Ariz sambil tertawa.
"Eh Ayahmu ga masuk masuk?. Goblok amat sih download gituan aja lamanya minta ampun." Tanya Ariz sekaligus ngata ngatain.
"Diem lu nyet, masih nginstall nih." Sahut Didim dengan kepala masih nunduk memperhatikan Handphone yang satunya lagi.
"Dek, kamu kalau mainan ginian jangan lama lama dech." Kata Didim tiba tiba.
"Lah???." Kata Anes bingung ga tau dengan apa yang di maksud Didim barusan.
"Tuuu kan mulai rese sudah, gini nih kalau ada yang pacarn pasti bikin ribet dah asli." Sela Kohan.
"Akkhh biarin aja dia mah, cemburu tak berdasar itu." Jawab Anes menegaskan.
"Ga berdasar gimana,,, ni panggil panggil kamu cantik." Sahut Didim lagi.
"Pake kalkulator jangan hape !!!" Teriak Ariz dan Huda serentak.
__ADS_1
"Hahahahahahahahahahahahahahahahaha" Tawa Anes membahana seketika.
Seperti bintang yang bisa bernyanyi di terik matahari. Atau pelangi yang berdampingan dengan bulan.
Seindah itu kesinergian ini. Persahabatan, canda tawa, saling ejek, ataupun ada rasa terpendam yang lebih baik di kubur dalam daripada terbersit luka.
Hembusan nafas Anes terdengar sangat ringan, kerlingan matanya mensiratkan rasa syukur yang dalam.
Teh melati pada sebotol tumbler nya juga tercium oleh bulu bulu hidungnya sedikit lebih harum dari biasanya.
Mulai tercipta bayangan bayangan masa depan di selaput bola matanya. Tertulis daftar daftar rencana esok hari berderet rapi seperti kotak kotak dalam kolom excel.
..."Ibu... cepatlah membaik Bu, lihatlah Anak perempuanmu di sini, mulai menautkan hati Bu.. tidakkah ini bisa sedikit menghibur luka hatimu Bu?" teriak hati Anes. ...
Tanpa di sadari matanya berkaca kaca kemerahan. Tetiba terdiam dan TUUUTTT...
Anes out dari Vc mesenger dan Nimboo Room.
"Nyet, Anes kenapa wooy!?" Teriak Ariz pada Didim .
"Ga tau, bentar gua chat dulu, kalau pun di telpon gua yakin ga bakal di angkat." Kata Didim santuy.
"Masih mikirin Mas Susan ?" Tanya Ariz.
"Bukan. Tapi ibunya." Kata Didim.
"oohh Ya udah hibur sono. Kasian." Kata Ariz menimpali.
"Telponnya nanti aja, kalau udah tenang, sekarang biarin aja dulu, chat ku aja centang satu. Lu tau dia kan.. ?!" Tanya Didim balik.
"Iya sih. Ya udah biarin aja dulu." Kata Ariz lagi.
"*Akkkhhhh hatiku terlalu lemah, air mataku terlalu murah, perasaanku entah di antah berantah, Bahkan aku yakin otakku saat ini sudah ga lengkap lagi. Ohh Tuhan,,, berikanku kedamaian hati, berikanku ke ikhlasan, berikanku dada yang lapang."
"Ibu.... cepatlah sembuh*." .
.
.
.
__ADS_1
.
^^^@Ning_Wiesna ^^^