
Cahaya di pagi hari menyilaukan mata. Ada kesegaran dari butiran butiran embun yang tentu saja sudah tidak ada. Ada sedikit semangat yang tak lagi tersembunyi.
Kelopak mata yang masih 1 Watt tak menghilangkan segaris senyuman dari hati yang mulai di tumbuhi harapan.
"Yah.... mati dech ponsel gua kehabisan baterai. Semalem ampe jam berapa ya ?" Gumamnya sendirian memandangi layar ponselnya yang menghitam karena tak mampu menyala.
Dia adalah Ghanes Anjani yang hatinya mulai berkembang lagi, melupakan segala sakit yang di deritanya selama ini.
Segala macam gundah seakan musnah sudah, dalam hatinya tak peduli akan cacian orang tentang kebodohannya. Yang ia tau sekarang adalah bahwa ia merasa lebih nyaman dan bahagia dengan pilihannya saat ini.
Lalu apakah membahagiakan diri sendiri itu lantas menjadi sebuah kesalahan ? Bukankah hidup kita adalah murni tanggung jawab pribadi kita.
Ia mantapkan hati bahwa manusia bisa berubah lebih baik kapan saja asalkan dia mau, maka Anes pun berusaha menjadi salah satu pemberi kesempatan kedua tersebut.
Selamat pagi mentari yang berseri, semoga hangatmu abadi menghangatkan makhluk makhluk di bumi.
Semangat menjalani hari ges.
Itu adalah bunyi caption status facebook yang baru saja di uploadnya.
Udah bangun ? √√
Itu adalah chat pertama kali yang masuk ketika Anes membuka ponsel nya setelah daya nya terisi penuh.
Senyum mengembang sempurna di bibirnya .
Hembusan nafas lega terdengar begitu menenangkan mengiringi senyum manisnya itu.
"Pagi mama..... " Sapa Anes dengan riangnya ketika berpapasan dengan Mama.
"Kamu dapet undian apa An kok bahagia bener pagi ini."
"Ga ada Ma, cuma merasa lebih sehat aja . hehehe" Jawab Anes sedikit malu malu.
"Akkhh ga mungkin, perasaan kamu sehat sehat aja, ga ada masalah lain selain yang kemarin itu." Sahut Mama ga percaya.
Namun Anes hanya menanggapinya dengan senyum ter sweet nya itu sambil melangkah pergi, karena ia tau Mama nya itu ratu kepo. Akan susah mengakhiri pembicaraan dengan Bos nya yang satu ini.
"Ditanya malahh pergi. Dasar." Gerutu mama sendirian.
Anes berdendang kecil melangkahkan kaki menuju garasi. Mencuci kuda besi maroon kesayangan milik mama.
"Mbak Anes... hai..." Sapa sebuah suara, tepatnya lebih ke teriakan kecil memanggil namanya ketika Anes membuka pintu garasi lebar lebar.
Tolah toleh kanan kiri ga ada manusia satupun di sekitarnya, atau paling tidak yang dapat di jangkau oleh matanya. Nihil.
"Heeehh.... siapa ya ?" Gumamnya lirih sendirian.
"Mbaakk... ooeee... di atas Mbak." Teriak orang itu lagi dan lebih keras.
__ADS_1
"Hahahahaha ternyata kamu Sus. Lagi ngapain?" Tanya Anes tertawa ketika melihat makhluk seumuran dirinya ada di balkon lantai 2 seberang rumahnya.
Dia adalah Susi. Anak yang baru datang seminggu yang lalu, menggantikan Wanda yang melarikan diri karena ga tahan bekerja di sana.
"Lagi masak Mbak, bikin sarapan." Jawab Susi sambil menutup mulutnya menahan tawa.
Ya Anes dan Susi sering mentertawakan Bos nya Susi yang rumahnya ga punya dapur, dan menggunakan balkon kecil sebagai tempat kompor untuk memasak.
Sebenarnya bukan tak punya dapur , tapi karena anggota keluarganya terlalu banyak, hingga ruangan yang semula dapur malah di jadikan kamar.
Bagi mereka berdua ini lucu sekali.
"Ntar siang turun ya Sus, aku ada es krim banyak di kulkas, sekalian cabe ku udah banyak juga. Buat kamu."
Kata Anes sambil meneruskan menyemprot kuda besinya dengan selang.
"Oke Mbak, jam 2 nanti ya. Kalau aku mah asal grafis langsung masuk mbak. Hahahahaa. Ngarepin dari bos juga ga akan ada." Kata Susi meneruskan ghibahannya itu.
"Sabar Sus, sabar, ingat orang Sabar pantatnya lebar."
"Ini udah kelewat lebar mbak, mau selebar gapura apa ya ? ga muat pintu ntar xixixixixxi." Sahut Susi sambil terkikik geli membayangkan dirinya akan melebar terus menerus jika tersu terusan menjadi irang yang terlalu sabar menurut kategori yang Anes katakan.
"Hahahaha,,,, ntar ke taman ga Sus ?" Tanya Anes lagi.
"Pasti donk.. di rumah mau ngapain mbak, bosen. Apalagi kalau si bos terus terusan di rumah, kita ga bisa istirahat malahan. Ya ga sih?"
"Betul tuh, betul. Hoby lah keluar maka hidupmu akan mekar seperti mawar. hahahahaha."
"Mbak Anes ini ada ada aja . Hahahaha." Sahut Susi sambil membawa nampan berisi sarapan pagi masuk ke dalam rumah. Ia menunjuk dalam rumah dengan telunjuk tangannya, mengkode Anes bahwa ia akan masuk ke dalam.
Menyucikan kuda maroon ini ga lama, cukup 45 menit saja . Sudah kering mengkilat seperti di cuci salju. Ini adalah salah satu keahlian Anes yang jadi pertimbangan orang untuk memperkerjakannya.
Anes memang termasuk anak yang kadang sedikit nekat dalam mempelajari hal hal baru. Bahkan di rumahnya sendiri ia terbiasa mbenerin genteng yang bocor jika para laki laki ga ada di rumah. Dan itu baginya biasa saja. Cuex aja ketika banyak tetangga yang (dulu) ngata ngatain Anes ga normal.
Namun dalam hal Asmara Anes sedikit apes sepertinya. Dia beberapa kali mendapatkan laki laki yang main main saja. Padahal Anes tak pernah main main dalam hal menjalin hubungan.
Namun ada satu kali kisah cintanya yang berakhir dengan kematian.
Lain lainnya sampah semua.
"Hmmm...." Dehemnya sendirian sambil tersenyum lebar mengingat kisahnya yang baru saja terulang saat ini.
"Ntar aja dech , kalo gua dh ga sibuk. Lagian ntar kalo gua terlalu baik, dikira gua yang ngejar ngejar dia pulak. Gua kan ga tau dia dan Aya dah putus atau belum. Biarin aja dulu. Ntar paling juga nyariin lagi." Gumam Anes menahan diri untuk tak membalas chat dari Dimas yang belum dibukanya.
Tadi pagi hanya di lihat notifnya saja.
Clliinnnnggggg....
"Tuh kan bener nyariin lagi." Kata Anes tersenyum lebar.
Namun Nama Andra yang tertera dengan tulisan.
__ADS_1
Mbak Anes ku tercayank, ibuk dah bisa makan nasi lagi lo mbak,bahagia ga sih,, bahagia donk... √√
Anes kembali melebarkan senyumnya makin lebar ketika membaca tulisan itu.
^^^Alhamdulilah deh. √√ ^^^
Anes langsung mengetikkan balasan untuk kabar gembira yang satu ini.
"Terimakasih Tuhan.." Ucapnya dalam hati.
Tak lama kemudian..
Dddrrrtttttt.... ddrrrttttt....
"Ya ?"
"Dek, kok chat ku ga di buka ? sibuk banget ya ?" Sapa Suara di seberang kota yang tak lain adalah Dimas.
"Hmmmm iya sih, nih barusan mau selesai, belum istirahat juga."
"Bisa telponan seperti biasa ga ?"
"Bisa aja sih. Tapi mungkin rada berisik."
"Bukannya udah biasa dari dulu begitu ya? " Tanya Didim terkikik geli.
"Emang dulu juga berisik?" Tanya Anes malu.
"Kamu pikir ga gitu? Ya berisik lah... Cuma ya biasa aja sih, yang penting kan bisa ngobrol."
"Heleh. Kalau berisik kenapa ga ngomong ?" Tanya Anes sambil mencebikkan bibirnya.
"Kalau aku ngomong ntar kamh matiin telponnya. aku kan ga mau itu."
"Emang kamu ma Aya udah putus?"
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.