
Hari itu pagi jam 8, setelah Anes menyelesaikan semua pekerjaan rumah, dari bersih bersih, cuci baju, Anes pun mengikuti Mama(bos perempuannya) untuk menjemput Papa(suami bosnya) di Rumah Sakit.
Anes masih belum tau seperti apa keadaan "Papa" yang sesungguhnya.
Apa masih sehat atau seperti apa.
Rasa sedikit Was was, takut takut kalau "Papa" ini genit. Atau hal hal aneh lainnya.
Mama ini ternyata berumur 72 tahun, tapi masih sangat sehat, bisa nyetir mobil sendiri, juga dia berprofesi sebagai guru dansa.
Jika kalian beranggapan dia adalah wanita yang setengah Tua, berbadan gemuk kalian sangat sangat salah. Mama ini mempunyai tubuh yang sangat sangat padat dan sexy, penampilan trendy mirip seperti wanita usia 30 tahunan.
Terhitung masih sangat Cantik di usia senja nya.
"Bener mama usia 72 tahun?" Tanya Anes heran.
"Nih KTP ku kalau ga percaya." katanya sambil memberikan Kartu identitasnya.
"Waahhh kirain masih umur 35 an Ma. heheheehe" Kata Anes.
"Akkhh yang 35 itu Cece (anak perempuannya) bukan aku." Katanya lagi.
.....
20 menit mobil merah kecil itu melaju membelah keramaian kota.
Tibalah di Veteran Hospital, seperti itulah tulisan yang tertera di gerbang masuk rumah sakit itu.
Memasuki koridor koridor rumah sakit dan tibalah di sebuah ruangan yang cukup luas dengan seorang perawat berbaju Pink.
Dia bukan perawat Rumah Sakit, namun perawat yang di bayar khusus untuk merawat orang 24 jam, artinya di bayar seperti kita merawat keluarga yang sedang sakit.
Seorang laki laki bertubuh tinggi besar, duduk di kursi roda tanpa expresi apapun.
Matanya tertutup dengan mulut sedikit terbuka.
Perawat berbaju pink itu pun bilang :
"Sudah siap di bawa pulang nyonya, silahkan... pasien sudah saya mandikan hari ini, semua perlengkapannya ada di dalam tas ini." Kata perawat tersebut menjelaskan dengan gamblang.
"Ya udah, terima kasih ya, gajimu sudah di transfer kan sama anak saya kemaren?" Tanya Mama.
"Sudah nyonya . Terima kasih."
"Oke. Apakah suami saya ada masalah ?" Tanya Mama lagi.
"Tidak ada nyonya. Dia baik baik saja." Jelasnya lagi.
"Yok, An kamu dorong papa ya, ke exit 1. Saya mau ambil mobil dulu di parkiran". Ucap Mama pada Anes.
"Ok oke Ma, saya tunggu di sana ya ?"
"iya. Tapi tunggu saja di dalem , diluar udara dingin, kasian Papa nanti , kaget kena udara luar, takutnya kalau flu. Ribet nanti kalau harus ke Rumah Sakit lagi." Jelas Mama lagi.
"Oke Ma, saya ngerti." Jawab Anes sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, aku ambil mobil dulu di bawah, oh ya kamu dorongnya ga usah buru buru An, Papa kan belum kenal ma kamu, takutnya Papa kaget, dan emosi."
__ADS_1
Jelas Mama sambil berlalu.
Berjalan dengan sangat seksi meskipun tidak sedang memakai sepatu hak tinggi, namun langkahnya sangatlah teratur seperti sedang mengikuti sebuah irama.
"Gila ni orang, di indonesia mana ada orang 72 tahun masih sexy begitu. Orang sini memang hebat hebat sih, awet muda terus, semangat hidupnya juga tinggi." Gumam Anes perlahan sambil mendorong kursi Roda menuju pintu Exit 1.
Mendorong kursi roda dengan orang sakit bukan pertama kali dilakukan Anes. Jadi baginya bukan hal yang susah untuknya.
"Mari mbak, Mbaknya indonesia ya?" Sapa Anes pada seorang wanita seumurannya dengan jaket tebal namun pakai celana de atas lutut, atau tepatnya di bawah bokong.
"Iya. Mbaknya baru ya?" Jawab Anak itu sambil tersenyum penuh ejekan.
"hehehee iya mbak, saya baru datang kemaren kok." Jawab Anes cengengesan.
"iya, keliatan banget kok kalau masih baru, rambutnya juga masih pendek". Sahut anak itu lagi.
"Tapi tenang aja, ntar kalau udah di sini 1 atau 2 bulan, pasti mulai terbiasa kok. Nanti juga mulai tau dunia luar jadi ga culun lagi". Lanjutnya dengan gaya senioritas.
"Hehehe iya mbak." Jawab Anes masih dengan cengengesan.
"Mbak udah lama di sini?" Tanya Anes.
"Udah lumayanlah, jalan 1 1/5 tahun." Jawab anak itu.
"Beeuuhhhh anjjrriitt kirain dah puluan tahun, dasar bengek." (Batin Anes)
"Eh, Aku jalan dulu ya mbak, mau pulang, takut di tungguin di depan. Btw makasih lo mbak."
Sapa Anes sambil terus berjalan terburu buru.
Bukan benar-benar takut di tungguin, tapi mulai males ngeladenin Senior.
Belum ada 5 menit, ada mobil merah maroon milik Mama berhenti perlahan di depan pintu masuk. Anes pun langsung berdiri mendorong kursi rodanya keluar ruangan.
"Udah lama nunggunya?" Tanya Mama.
"Belum kok ma, Belum ada 5 menit." Jawab Anes.
"Emang kamu kemana aja? kok baru nyampek?"
"Tadi ketemu anak indonesia ma, dan gobrol bentar." Jawab Anes jujur.
"Oh... ya udah, memang di sini tuh banyak anak indonesia nya juga . Vietnam dan filiphine juga banyak kok, tapi aku lebih suka indonesia sih." Jelas Mama panjang lebar.
"Emang kenapa Ma?" Tanya Anes heran.
"Anak indonesia lebih ramah dan penurut. Enak di ajak ngobrol."
"Ohh... " Sahut Anes ber Ooh ria.
"Ting ming cin ! Hei..!" Panggil Mama pada Papa sambil menepuk nepuk pipinya.
Anes menganggung angguk tanda mengerti , baru tau kalau Papa namanya adalah Tingmingcin.
Namun Papa hanya diam bingung memandangi istrinya seperti orang yang tidak pernah mengenal.
"Akkhhh sudahlah,, An ,, naikkan Papa ke atas mobil ya. Kamu bisa kan?" Perintah Mama sekaligus bertanya.
__ADS_1
"Bisa Ma, tenang aja ya." Jawab Anes yakin.
"Pa,,, naik ke mobil dulu ya pa.." Kata Anes pada Papa, namun sama seperti tadi, papa hanya diam tak mengatakan apapun.
Setelah Papa naik ke atas mobil Anes pun melipat kursi rodanya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil maroon itu.
Anes lalu masuk ke mobil di tempat duduk bagian belakang, sedangkan Mama duduk di belakang kemudi.
Tiba tiba...
"eeehhh.... ! eehhhh...! eehhhh....!" Teriak Papa dari samping Anes sambil nunjuk nunjuk kursi mobil di depannya.
"Tingmincin !" Panggil Mama pada Papa setelah melihat reaksi suaminya.
"Aku. ! E !" Jawab Papa singkat Sambil menunjukan jari telunjukknya mirip anak TK yang sedang di absen.
Anes pun menahan senyumnya melihat tingkah Papa yang rada rada lucu menurutnya.
"Papa itu tadi mengenaliku. Nah,, kenapa aku panggil namanya dari tadi, karena biar dia ga lupa dengan dirinya sendiri. Tau kan kalau orang kaya Papa itu otaknya harus bergerak terus. Biar penurunan kesehatannya ga terlalu cepat."
"Iya Ma saya tahu kok." Jawab Anes.
"Oh ya Papamu itu dulu Huabiji (emosi ga terkontrol) , tapi ga tau sekarang, karena setelah beberapa bulan di panti, dia jadi pendiam, dan seperti sekarang ga bisa bicara lagi. " Jelas Mama lagi.
"Iya Ma, biasanya kalau belum kenal, orang tua kan suka begitu." Jawab Anes.
"Iya , yang penting kamu jangan kaget aja. Jangan sampai sakit hati di buatnya ya. Dimaklumin aja kan orang sakit."
"Iya Ma, Anes usahakan yang terbaik." Jawab Anes meyakinkan.
"Ya sudah, nanti kalau sudah nyampek rumah kita bicarakan lagi. Dan mungkin tidurmu ga bisa di kamarmu, karena kamu harus tidur bareng Papa."
Deeegg..... deeggg....deeeegg....deeeggh....
(Tiba tiba Anes sedikit khawatir jika harus tidur bareng dengan aki aki )
Gimana mau tidur dengan Aki aki, lha Anes tidur dengan laki laki hanya ketika kecil dulu dengan Ayahnya dan dua saudaranya . Itupun sudah bertahun tahun yang lalu . Terakhir ketika Anes kelas 2 SD.
"Iya Ma, ga pa pa kok. Gimana baiknya saja."
Jawab Anes mengecoh hatinya sendiri.
Bbbrrrmmmm...bbbrrmmmmm.....bbrrmmmm
Suara mobil maroon itu membelah jalanan pinggiran kota. Menuju ke rumah.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.