
Kembali Ghanes merasakan suasana itu, yaitu dimana dia turun dari pesawat dan menghirup udara Indonesia yang panas namun lembab dengan kadar air dalam udara yang lumayan tinggi.
Ghanes sama sekali tidak menghubungi Danu untuk menjemputnya. Sedangkan Danu juga tak menghubungi Ghanes lewat ponselnya. Ya begitulah hubungan keduanya, yang tidak romantis, juga tidak lebay seperti kebanyakan pasangan lainnya yang harus berhubungan tiap menit. Namun Ghanes juga Danu menjalani hidupnya sejauh ini dengan sangat baik, dengan syarat menaruh kepercayaan penuh terhadap pasangan . Meskipun ya... selalu saja ada kerikil yang menyandungi perjalanan rumah tangga semua pasangan.
4 jam perjalanan darat telah di tempuh Ghanes dengan selamat menggunakan taxi andalan Ghanes yaitu Blue Bird.
Setelah melakukan pembayaran, Ghanes segera mengeluarkan kopernya dari bagasi dan segera menuju halaman rumahnya. Tepatnya rumah orang tuanya Danu.
"Assalamualaikum." Ucap Ghanes di depan pintu.
"Walaikum..... Loh! Dek! Kok ga bilang kalau mau pulang hari ini? Kan bisa aku jemput kan?!" Sahut Danu kaget campur bahagia ketika istrinya yang ternyata nongol di depan pintu rumah.
"Yuk masuk." Lanjut Danu sambil meraih koper hijau tua bawaan Ghanes dan mendorongnya ke dalam rumah.
"Bapak mana?" Tanya Ghanes setelah matanya tak mendapati ayah mertuanya yang biasanya duduk di teras menikmati kopi bersama kawan mancingnya.
"Oh bapak? Bapak lagi ke Surabaya ada panggilan dari Candra. Ga tau katanya mau dapat proyek baru gitu di Mojokerto atau mana, lupa aku." Jawab danu menjelaskan.
"Terus, kapan pulang?" Tanya Ghanes lagi.
"Wah,, ga tau aku. Paling cuma 2 atau 3 hari di sana. Kalau proyeknya deal ya paling pulang bentar lalu langsung menuju ke Mojokerto."
"Kamu ikut?" Tanya Ghanes lagi penasaran.
"Akh ga. Kalau aku ikut siapa yang ngurusin di sini. Biar yang sono di urusin bapak aja. Nanti kalau soal pekerjanya bisa di oper dengan yang di sini, atau nyari tambahan. Kan banyak juga yang butuh kerjaan. Gampang mah kalau urusan nyari orang kerja." Danu menjelaskan panjang lebar.
"Kenapa?" Tanya Danu mengerlingkan matanya nakal pada istrinya yang baru datang.
"Akhh,,, ya ga papa mas, cuma nanya doank kok, masa ga boleh, ga usah ke G ER an kamu ya. Shiiihhhhh."Jawab Ghanes malas.
"Hahahahaaha gitu aja sewot sek pesek, cepet sono mandi, kubuatin susu hangat seperti biasanya dech. Mau makan ga? Mau makan apa?"
"Hmmmmm aku laper sih, mungkin beli jagung rebus aja depan rumah sakit seperti biasa, sama wedang ronde depan Tk, aku mau yang anget-anget sebelum tidur." Jawab Ghanes sambil merain handuk yang disodorkan suaminya.
"Kalau mau yang anget-anget ga perlu wedang ronde kali dek, cukup aku aja. Heehehehee." Jawab Danu genit.
Ghanes mengerlingkan matanya malas, "Heleh,,,, mulai."
"Yee biarin. Daripada aku sama orang lain hayoo.."
"Ya sono sama orang lain kalau mau. Emang gua pikirin, pikirin juga engga." Jawab Ghanes menjulurkan lidahnya lalu menutup pintu kamar mandi tak peduli.
__ADS_1
Danu menarik nafas panjang dan tersenyum lebar melihat tingkah Istrinya, "Hmmmmmmm akhirnya Anesku sudah kembali." Guman Danu lega.
Tak sampai 30 menit, Ghanes sudah keluar dari kamar mandi dan dengan segera meneguk segelas susu vanila yang di sodorkan Danu suaminya.
"Gimana, rasanya masih nikmat kan susu suamimu?" Tanya Danu dengan raut muka berbinar binar karena bisa memberikan pelayanan yang baik pada istrinya itu.
"Emang kamu punya susu mas?" Tanya Ghanes tanpa mengalihkan pandangan matanya dari gelas.
Danu tersenyum smirk, "Mancing-mancing....."
"Loh, siapa yang mancing-mancing mas, kan aku nanya." Kata Ghanes menyerahkan kembali gelas susunya yang telah tandas hingga tetes terakhir.
"Emang kamu punya susu?" Tanya Ghanes lagi.
"Ada, nih!" Jawab Danu sembari membuka kaos oblongnya memperlihatkan dadanya yang ga six pack sama sekali.
"Hahahhahaahahaa,,,,,,," Ghanes tertawa ngakak sambil menarik salah satu ****** di dada Danu.
Danu berteriak kesakitan, "Hei!!!! Sakit tau. Awas nanti malam, kuhabisi kamu." Timpal Danu menepis tangan jahilnya Ghanes.
Ghanes mencebik, "Hhahhahaahaha lihat aja kalau berani."
"Dasar pesek resex." Gerutu Danu geleng-geleng kepala dengan kelakuan istrinya. Meskipun di dalam hatinya bahagia berbunga bunga karena istri nakalnya telah kembali.
.....................................................
Layaknya orang pacaran yang baru saja jadian, mereka berdua berboncengan di atas motor membelah jalanan yang masih ramai lalu lalang manusia. Kantong kresek isi jagung panas dan wedang ronde nyantol di tangan Ghanes , karena motornya Danu bukan motor bebek atau matic yang punya cantolan di bagian depan.
"Mas, kita mau kemana sih? Bukannya pulang ya?" Tanya Ghanes agak berteriak pada Danu yang sedang nyetir motornya.
"Ada dech...." Jawab Danu penuh misteri.
"Hah?!!!! Jangan-jangan kamu mau menculikku ya mas?"
"Heleh ga perlu di culik pun udah ngintil gitu kok."Jawab Danu ngece.
Bbbrrrrmmmmm.... bbbrrmrmmmm bbbrmmmmmm...... Suara motor memasuki sebuah rumah dengan halaman yang lumayan luas.
"Malem Pak." Sapa seorang satpam membukakan pintu.
"Malem Pak Dik." Jawab Danu melajukan kembali motornya perlahan memasuki halaman rumah dan memarkirkannya di samping rumah. Karena belum ada garasi yang di bangun. Entah nanti perlu di kasih garasi atau tidak.
__ADS_1
Rumah ini memiliki arsitektur yang simple, sederhana, lebih ke gaya modern simple. Tak banyak ornamen-ornamen berbentuk ukiran seperti kebanyakan rumah mevah lainnya. Rumah yang temboknya di cat abu-abu terang kombinasi abu-abu gelap dan putih di beberapa titik.
"Rumah siapa mas?" Tanya Ghanes.
"Masuk yuk."
"Jawab dulu, rumah siapa ini?"
"Hahahhaa tenang, ini rumah kita kok, bukan rumah istri keduaku. Yuk masuk. Ayookkk." Jawab Danu tertawa sembari meraih tangan Ghanes yang masih terlihat ragu-ragu masuk ke dalam rumah.
Ruang tamu sederhana dengan sofa simple gaya modern. Tak banyak pernak pernik, hanya ada beberapa hiasan dinding yang di pasang rapi pada tembok. Terlihat ada beberapa tumpukan barang dan kardus yang belum di tata dan di bongkar di sudut ruangan.
Ghanes meletakkan makananya di atas meja, dan melangkahkan kaki menuju beberapa ruangan hingga ke lantai 2.
"Mas, ini beneran rumah kita kah?" Tanya Ghanes masih penasaran.
"Iya, rumah kita. Kenapa? Apanya yang kurang?"
"Ga ada. Hanya saja ,, kalau kita pindah ke sini gimana bapak? Bapak di rumah sama siapa mas?"
"Ya sama istrinya lah." Jawab Danu enteng.
"Maksudnya?"
"Ibuk tak suruh pulang, paling 2 mingguan lagi nyampek rumah."
"Beneran?" Tanya Ghanes ga percaya.
"Iya. Tapi kita pindah ke sini ga nunggu Ibuk pulang, tapi lusa." Kata danu lagi menjelaskan.
"Kenapa buru-buru?"
"Ya,,,, aku udah tanya sama Ayah(mu) nanya hari baiknya kapan. Dan katanya lusa. Aku juga udah ngomong sama bapak(ayahnya Danu).
"Terus bapak setuju?"
"Ya... kenapa enggak."
"Ya udah, yuk cepet makan makananmu , nanti dingin. Habis itu kita pulang dulu ke rumah bapak, kita ga tidur di sini." Kata danu menjelaskan.
"Lah kenapa?"
__ADS_1
"Ya... nunggu resmi pindahan dulu baru ditiduri. Gitu peseeexxx sayang. Ngerti ga? Udah ngerti belum?" Kata Danu memencet hidung Ghanes karena gemes dengan rentetan pertanyaannya.
"Oke. Oke paham." Jawab Ghanes menikmati tiap gigitan jagung rebusnya yang sudah mulai dingin.