
Sumringah campur lelah, itu yang terlihat dari raut muka Ghanes ketika menginjakkan kaki untuk yang ke sekian kalinya di negara ke dua nya ini.
Rasa sesak di dalam dada yang masih menyiksanya hingga sekarang. Sakit itu terasa kian menusuk tulang belulangnya. Darahnya terasa amat pahit mengalir di seluruh nadinya.
Pesawat mendarat dengan sempurna, dan seketika kaki Ghanes menjadi lemas lunglai, seakan tiada lagi tenaga untuk berjalan.
Udara kering negara ini yang mengikis lapisan kolagen dalam kulit cokelatnya, menarik-narik bulu halus di tangannya. Terasa sakit nyelekit yang tak bisa di tulis lagi dengan kata-kata.
Teringat jelas tatapan mata petugas imigrasi yang penuh tanda tanya ketika Ghanes mengajukan visa turis setelah keberadaannya di indonesia yang belum begitu lama. Tatap mata penuh kecurigaan. Meskipun Ghanes menunjukkan saldo rekening yang itu sebagai syarat mendapatkan visa turis sebagai jaminan kalau kita ga akan jadi gelandangan dan ilegal di negara orang, akan tetapi karena riwayat Ghanes yang telah menjadi TKI di sana, maka kecurigaan itu tetaplah ada. Kan memang begitu aparat negara kita bukan? Selalu memandang rendah kaum bawah.
Ghanes menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan keras. Dia memperhatikan para TKI yang baru saja datang, tentu saja mereka di giring menuju imigrasi terpisah untuk mendapatkan pengarahan tentang hidup di negara ini.
Sedangkan Ghanes hanya berdiri dari kejauhan memperhatikan mereka yang begitu nurut berjalan bersama-sama bagai semut yang sedang mencari makan.
Dari belakang ada seorang pria yang menyenggol pundaknya, "Mbak, ayo."
Ghanes menoleh karena di kagetkan dari pandangannya,
"Eh iya mas, makasih." Jawab Ghanes tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Ayo mbak, kamu pasti anak baru ya."
"Eh iya mas, mas silahkan duluan aja."
Kemudian pria itu berbicara kepada petugas imigrasi yang memakai rompi hijau .
"Itu masih ada satu, aku ajakin ga mau." Katanya sembari menunjuk tangannya ke arah Ghanes yang masih berdiri mematung di tempatnya semula.
Petugas itupun bingung dengan arah telunjuk pria tadi,
"Mana?"
__ADS_1
"Wanita itu."
"Bukan. Dia bukan seperti kalian."
Jawab petugas itu setelah sadar ke arah mana telunjuk pria tadi.
"Hah??? Serius bukan? Tapi dia bisa berbahasa indonesia kok."
"Iya. tapi dia bukan TKI seperti kalian. Jadi dia bukan tanggung jawab kantor kami."
Dengan muka sedikit merah padam pria tadi kemudian berlalu pergi masuk ke dalam ruangan yang telah di sediakan pihak imigrasi.
Ghanes menggelang-gelengkan kepalanya mengingat bagaimana dulu ia dua kali duduk di dalam ruangan tersebut ketika baru saja mendarat. Sama seperti mereka juga. Mendengarkan ceramah dari beberapa orang tentang sekelumit kehidupan di negara ini dan beberapa adat istiadat yang kadang sedikit aneh di telinga orang indonesia.
Ghanes teringat bagaimana ia kemudian harus beradaptasi di negara baru yang bahkan bahasa ia tak mengerti sama sekali meskipun ia sudah melewati masa pelatihan bahasa di PJTKI. Namun aksen yang paling susah untuk di ikuti.
Seringkali kita merasa tata bahasa kita sudah benar, namun karena aksen yang berbeda maka orang yang kita ajak bicara tak mengerti apa yang kita maksud.
Pandangan matanya mulai buram karena matanya telah basah dengan air mata yang tak dapat ia tahan.
Ghanes dengan pandangan mata buram berjalan perlahan menyeret koper 25 inch miliknya menuju ke kursi hitam yang berderet di depan dispenser bandara.
Ghanes terduduk pada bangku kemudian meletakkan koper tepat di depannya dan di gunakan untuk bantalan kepala.
Menunduk dengan bantalan koper putih miliknya, sejenak meletakkan isi kepalanya yang mulai liar. Meletakkan imaginasinya yang mulai mundur ke belakang kembali.
Tak ada yang mengenalnya di negara ini. Siapa pula yang akan mengenalinya yang bukan siapa-siapa.
Satu menit , dua menit, hingga menit ke 45, akhirnya Ghanes teringat bahwa ia harus cek in ke hotel yang telah di pesannya lewat aplikasi booking.com. Ghanes pun mulai berjalan mencari exit ke seberang bandara, yang akan membawanya ke stasiun MRT untuk menuju ke hotelnya.
Kenapa tidak memanfaatkan taxi saja ? Karena taxi mahal. Hahhahahaahaha. Harga taxi bisa sampai 5 atau 6x lipat kalau naik MRT. Dan bukankah kelebihan itu bisa di gunakan buat beli makanan?
__ADS_1
Author : Belajarlah menjadi orang yang perhitungan karena itu sangat menguntungkan. 😜
Ketika sedang duduk tenang di dalam MRT, tiba-tiba ada seorang cewek yang kasak kusuk menggosipkan dirinya,
"Ih kasian bener ya, baru cuti kok ga ada yang jemput, masak harus naik MRT sendirian? Agen atau majikannya ga ada yang jemput gitu ?"
"Iya juga sih, kalau akau dapat majikan dan agen kaya begitu ogah balik lagi lah, mending nyari majikan baru dan agen baru yang lebih enak. Mau maunya aja di begoin. Jadi Tki itu harus berani dan cerdas. Jangan hanya karena uang lalu nurut aja di kadalin."
Ghanes pura-pura budeg dengan suara-suara rese' di telinganya. Ia tak akan peduli dengan sampah-sampah yang begituan.
"Keg mereka kenal gua aja. Shhiiihhhh..."
Di dalam diamnya ia mulai merencanakan akan apa yang dilakukannya nanti selama 1.5 bulan di sini. Karena visa 2 bulan yang ia ajukan ternyata hanya di setujui 1.5 bulan saja. Mungkin karena duit dalam rekeningnya kurang banyak kali.
Author : Akhhh setelah sekian lama dan waktu akhirnya kubuka kembali draf ini. Lelah sangat ragaku ini. Bolak balik dokter yang harus memakan waktu biaya juga tenaga. Di tengah pekerjaan dan study yang harus aku selesaikan juga.
But,,, sudahlah .
Itulah hidup. Seringkali banyak hal yang terjadi di luar ekpektasi. Tapi di sinilah kemampuan manusia bertahan hidup di uji.Â
So... keep smile kawan. Hehehehehe
.
.
.
.
__ADS_1