
Tepat setelah Adzan subuh Ghanes Anjani sudah bersiap di halaman kantor bersama dengan 10 orang lainnya. Namun hanya 1 orang yang bertujuan negara sama dengan Anes. Namanya Rika.
Rika ini terus terusan menangis tanpa henti. Entah apa yang membuatnya terus meneteskan air mata. Mungkin meninggalkan keluarganya, atau takut sendirian di negara orang Mungkin.
Berbeda dengan Anes yang cengangas cengenges ga peduli. Karena selama ini dia pergi selalu dengan pikiran positif. Anes berkeyakinan bahwa Pikiran positif itulah yang akan membawanya pada kebaikan.
Anes juga percaya Tuhan itu Maha Baik pada umatnya. Jadi Anes ga pernah khawatir tentang dirinya, tentang hidupnya. Sehingga Anes bisa menjadi orang yang sangat tenang menghadapi situasi.
"Eh kalian ngapaian sih kok pada nangis semua? Bukannya doain yang baik baik, temennya pergi kok malah di tangisi. Harusnya bahagia donk."
Tegur Anes setelah menengok kebelakang karena di dengarnya suara isak tangis.
Benar saja beberapa anak terisak isak. Entah karena apa.
"Mbak Anes,,, aku sama siapa belajarnya kalau mbak Anes ga ada?" Dan ternyata dia adalah Calista.
"Aku doakan semoga kamu cepet nyusul Lis, belajar yang rajin. Ga usah cengeng. Ingat nanti kamu di sana sendirian. Ga usah lebay begitu. Itu kontakku udah aku kasih ke kamu kan. Nanti kalau kamu udah nyampek, jangan lupa kabar kabar." Ucap Anes menenangkan temannya ini.
"Waktunya naik ! Saya absen berdasarkan nama ya . " Teriak pak sopir memanggil.
"Udah Lis. Asalamualaikum. Jaga diri baik baik ya. Ingat jangan cengeng." Ujar Anes melepas pelukan Lista.
"Iya mbak Hati hati ya." Jawab Lista mengusap air matanya.
"Ghanes Anjani" teriak pak sopir memanggil.
"Saya Pak" Jawab Anes mengangkat tanganya .
Lalu berjalan menuju pintu Bus yang akan membawanya ke bandara.
Setelah duduk di kursinya dekat jendela, Anea memanjatkan doa pada Sang Maha Tunggal, agar selamat sampai indonesia kembali nanti, semoga keluarganya di rumah di lindungi dan masih bisa berkumpul lagi nanti. Dan semoga apa yang di cita cita kannya di kabulkan Tuhan.
Bus mulai berjalan perlahan meninggalkan halaman bangunan PT itu. Hening. Tak ada satupun yang bersuara.
Masing masing berkecamuk drngan pikirannya sendiri sendiri.
Suasana pagi yang masih segar dan sejuk serta udaranya yang maish bersih belum tercemar dengan asap kendaraan, sedikit menyegarkan mata yang memandang, serta menyegarkan pikiran masing masing orang yang sedari tadi terdiam tak ada sepatah katapun yang keluar, meskipun sekedar bercanda atau apapun.
Pohon pohon pelindung jalan berjejer dengan hijaunya dan sedikit embun yang masih menempel pada ujung dedaunan.
Perjalanan terhitung sangat lancar, melihat dari jalanan kota yang masih sepi . Sekitar 45 menit lah Bus sudah memasuki area parkir bandara.
"akkhhh kenapa gua gugup ya?" Gumam seseorang dari kursi belakang.
Anes tersenyum simpul mendengarnya.
Ya..... semua orang memiliki permasalahan sendiri sendiri dalam hidupnya.
"Oke ya turun satu satu lalu tanda tangan, setelah itu mabil kopernya masing masing di bagasi. Setelah itu ngumpul sebentar di kursi tunggu itu, bira pak Andre masuk lebih dulu, nge cek jadwal kalian maisng maisng ya."
seru pak sopir Bus tadi.
Sedangkan pendamping Pak Sopir yang tak lain adalah Pak Andre telah lebih dulu masuk ke dalam bandara untuk mengambil tiket serta nge cek jadwal keberangkatan.
Biasaya Pak Andre juga ngecek kondisi pemeriksaan bagasi. Ada antrian yang panjang atau ga nya. Sehingga kita ga perlu menunggu terlalu lama di depan counter bagasi.
Selang beberapa saat, sekitar 15 menit, Pak Andre keluar dengan langkah panjangnya.
"Oke kalian boleh masuk. Yang 5 orang ini antri di konter bagasi 5, China Airlines ya. Yang 2 orang yang antri di konter 3 catay pasifik. Yang 3 orang lagi di pojok konter nomer 7 Garuda." Kata Pak Andre menjelaskan.
__ADS_1
Mereka satu persatu pun meraih kopernya masing masing lalu membawanya berjalan ke dalam bandara menuju Konter pemeriksaan bagasi.
Setelah semuanya selesai, lalu mereka pun kembali ke hadapan Pak Andre.
Pak Andre pun membagikan tiket beserta paspor masing masing orang dengan memanggil namanya serta tujuan negaranya satu persatu.
"Setelah ini silahkan kalian naik ke lantai 2, lalu cari gate kalian masing masing serta nomor pesawat dan jadwal keberangkatannya , sudah tertera lengkap di tiket yang kalian pegang itu. Saya hanya bisa menemani sampai di sini saja, selanjutnya hanya kalian yang bisa masuk, Saya ga punya akses untuk masuk ke sana. Jadi kalian hati hati jangan sampai ada barang yang ketinggalan, terutama tiket dan paspor kalian jangan sampai jatuh.
"Baik pak." Jawab kami serempak.
Anes dan kawan kawanpun naik eskalator untuk naik ke lantai 2, dan mencari gate pesawatnya masing masing.
Setelah mendapatkan tempat duduk di ruang tunggu, tak lupa mereka membuka bekal sarapan yang mereka bawa dari PT. Tak ada menu spesial hanya sepotong roti dan biskuit sebagai pengganjal perut. Mengingat pesawat mereka masih 1 jam lagi.
Anes beranjak dari duduknya ,
"Pit, lu mau kuambilin minum ga?" tanya Anes pada seorang teman namanya Pipit yang sedari diam saja.
"Emang ada mbak, tadi saya bawa dari rumah, cuma kan di suruh buang waktu pemeriksaan tadi." Jawab Fitri.
"Ada dispenser di sana kok. Kan kalau dari luar emang ga boleh bawa cairan lebih dari 10ml Pit, kemarin kemarin kan udah di briefing di PT kan. Aku ambilin ya sekalian aku juga haus." Kata Anes lagi.
" ya mbak Makasih ya." jawab Fitri senang.
"No big deal lah." Jawab Anes sok inggris.
"Apa artinya mbak?" Tanya Fitri.
"Tahu goreng." Jawab Anes sambil tersenyum lalu ngeloyor pergi.
"Emang bener ya kalau mbak Anes itu ngeselin. Meskipun baik juga orangnya. Tapi ya.. sudahlah.. " Gumam Fitri dalam hati.
"Nih... " Sodornya pada Fitri.
"Makasih mbak."
"Oke oke, kasih kembali" Jawab Naes cuex.
"Eh Pit, gua masih ngantuk. Gua tidur bentar ya. 30 menit aja. oke? Biasanya jarak 30 menit sebelum take of harus sudah masuk pesawat tuh. Ini jam udah gua setel 30 menit. Tapi nanti kalau gua blm bangun, bangunin aku ya. 30 menit dari sekarang. Lu boleh lah telpon telpon keluarga lu bentar sebelum flight kalau lu ada pulsa. Kalau ga ada , pake hape gua. Ga pa pa kok. Gua ga pake soalnya."
Ucap Anes panjang lebar.
"Emang boleh mbak telpon?" Tanya Fitri.
"Ya boleh lah, asal ga ketika pesawat take of aja."
"Ohh... gitu ya."
"nihhh pake hape gua."
"Ga akhh mbak, punyaku masih banyak pulsanya." Tolat Fitri.
"Ya udah. Gua tidur dulu. Lu ga usah tegang santai aja." Sahut Anes dengan mata yang sudah terpejam.
Drrrttt ddrrtttt drrtttttt
Getaran hape Anes membangunkan Anes .
Anespun dengan mudahnya membuka matanya.
__ADS_1
Dia menoleh ke kanan ke kiri ternyata pintu gate sudah di buka.
Anes ambil Hape lalu mematikan layarnya dan di hadapkan pada mukanya sendiri, buat apalagi kalau bukan Ngaca.
"Mbak, udah boleh masuk ya?"Tanya Fitri.
"iya udah, btw tadi ada panggilan kan, kok aku ga denger ya?"Tanya Anes lagi.
"iya mbak tadi ada, barusan kok. Terus ga lama Mbak Anes dah bangun. Jadi niatku mau bangunin ga jadi dech." Kata Fitri lagi.
"Oh ya udah, eh muka ku normal kan , ga gimana gimana kan?" Tanya nya pada Fitri.
"Ga kok mbak. Aman." Jawab Fitri sambil mengacungkan ibu jari tanda oke dan baik baik saja.
Mereka berdua pun bergegas masuk ke dalam barisan antrian.
Setelah menyerahkan tiket, mereka berjalan menyusuri koridor menuju pintu pesawat.
Anes dengan hati yang bahagia, Fitri dengan hati yang kacau karena baru pertama kali keluar negeri.
"Eh Pit, btw kursi kita ga berjejer lo Pit, Lu ga pa pa kan. Santai aja." Kata Anes.
"Eh masak iya mbak. Waduh nanti gimana donk." Fitri mulai panic.
"Ahhh biasa aja Pit, latihan . Ntar turus pesawat kita juga pisah kan. Agen kita beda."
Kata Anes lagi.
"Langsung pusah gitu mbak?" Tanya Fitri lagi.
"biasanya sih iya."Jelas Anes.
"Ya udah mbak. Pasrah aku mbak."
Jawab Fitri pasrah.
Mereka segera mencari tempat duduk masing masing dan mengikuti instruksi dari pramugari.
Setelah 20 menitan, pesawat mulai menghidupkan mesin buat take of.
Perlahann... memutar perlahan buat mencari landasan pacu.
Anes menegakkan kursi duduknya dan mengencangkan sit beltnya agar terhindar dari mabok akibat turbulensi ketika take of.
Cuaca diperkirakan sangat cerah, Anes pun lebih tenang.
Dengan mengucap Bismilah , anes memejamkan mata sebentar ketika pesawat mulai take of dengan mulus.
Terbang semakin tinggi seperti cita cita dan harapannya . Menuju hari dan hati yang lebih baik.
.
.
.
.
.
__ADS_1