
Suasana sepi dan bau harum bunga mawar serta bunga kamboja khas sebuah pemakaman menyambut langkah kaki Anes yang sedikit gemetaran bukan karena takut tapi karena rasa kehilangan yang amat sangat.
Pemakaman yang bersih dari rumput rumput liar nan asri tak bisa mengurangi kesedihan yang di rasakan Anes di dalam hatinya. Namun seperti kata Ayahnya bahwa masuk di dalam pemakaman itu jangan sampai meneteskan air mata , apalagi jika air mata itu adalah air mata kesedihan, karena hanya akan membebani sang mayit di dalam alam barzah. Air mata kita hanya akan menjadi beban perjalanan mereka di alam barzah, atau lebih tepatnya adalah memberatkan mereka untuk menuju tempat yang lebih baik.
Suara cuitan burung pleci yang ada di sekitaran makam pun ikut meramaikan suasana pagi yang di temani sisa sisa embun di pagi hari, juga sinar matahari yang mulai naik ke permukaan menyinarai tanah merah pemakaman yang setengah basah karena embun, juga membuat sisa sisa embun di permukaan daun mulai perlahan menguap ke atas.
Suasanya yang indah ini adalah salah satu contoh suasana yang sangat di dambakan oleh para photografer dan videografer. Namun berbeda dengan Ghanes dan Ayahnya yang malah menuju ke pemakaman untuk mengunjungi anggota keluarganya.
Setelah memakirkan motor di pinggir gapura masuk pemakaman, Anes pun mengekor langkah Pak Alan masuk ke dalam makam setelah sebelumnya mengucapkan doa masuk makam :
السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ
Assalâmu‘alaikum dâra qaumin mu’minîn wa atâkum mâ tû‘adûn ghadan mu’ajjalûn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn.
Artinya: Assalamu’alaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insya Allah akan menyusul kalian.
yang di lafadzkan secara perlahan. Ga harus di lafadzkan secara keras bukan? Karena ini bukan sedang adzan atau takbiran.
Lalu menjejakkan kaki kiri tiga kali sebagai penanda akan kedatangan kita (manusia) yang masih hidup mengunjungi saudara saudara kita yang berada di makam tersebut. Dan tak lupa melepas alas kakinya dan di letakkan diatas kursi panjang yang ada di saung samping pintu masuk yang juga di sebelahnya ada pancuran tempat mencuci tangan dan kaki atau bahkan berwudhu bagi yang menghendaki untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum masuk makam.
"Kamu masih ingat bukan, bahwa ke dua makam ini adalah makam eyang buyutmu dulu?" Tanya Pak Alan perlahan pada Anes ketika melewati dua makam yang berjejer tepat di pinggir jalan masuk di dekat pintu utama.
Makam ini sudah terlihat usang namun ukuran nisannya sedikit lebih besar dari nisan pada umumnya menandakan bahwa makam ini adalah makam yang sudah ada mungkin 50 tahunan lebih.
Akan tetapi memang kepala Desa kami adalah orang yang sangat baik adabnya bahkan kepada orang yang sudah meninggal sekalipun, karena makam Desa ini begitu sangat di jaga kebersihannya. Karena setiap 4 bulan sekali akan ada acar bersih desa yang menggerakkan warganya untuk kerja sama membersihkan jalan jalan desa termasuk makam. Mereka tidak di bayar, hanya di kasih konsumsi saja . Kata Pak Lurah ini untuk memupuk rasa saling memiliki dan bertanggung jawab pada aset aset desa serta rasa saling menghargai sesama manusia bahkan kepada mereka yang sudah meninggal dan keluarganya.
"Ingat kok pak." Jawab Anes pelan.
"Kita ke Masmu dulu, baru kita ke sini entar, sekalian sambil jalan pulang."
Anes tak menjawab apapun , hanya terus berjalan perlahan mengikuti langkah kaki Pak Alan yang sepertinya sudah sangat hapal dengan lokasi makam ini. Ya maklum juga sih, soalnya katanya Pak Alan hampir 1 minggu 1x atau 2 minggu 1x Pak Alan selalu rutin datang mengunjungi anaknya yaitu Susan.
Tak berapa lama kemudia Ayahnya berhenti di sebuah makam yang posisi nisannya agak condong ga lurus lurus berbaris rapi seperti nisan nisan yang lain.
"Baca tulisannya." Kata Pak alan lalu mencabut se buah pokok kecil rumput dengan jemarinya.
Di atas nisan tersebut tertulis :
Susandhatna bin Alan Sutoro
Wafat : 12 Juni 2012
"Pak, kenapa tanggal lahirnya ga ditulis pak?" Tanya Anes heran.
"Oh,, sebenarnya memang lebih baik begitu An, untuk menghindari hal hal yang tak di inginkan. Soalnya kamu tau kan terkadang ada beberapa orang pencari ilmu yang sering mencari kain kafan dari makam dari orang orang yang lahir di hari tertentu." Kata Pak Alan menjelaskan.
"oh, iya Pak, Anes lupa."
"Ya udah, kita baca doa dulu, lalu setelah itu baru taburkan bunganya dan siramkan airnya sebanyak 3x dari posisi letak kepala ke bagian bawah."
Pak Alan pun menengadahkan kedua tangannya ke atas dan Anes pun mengikutinya.
Pak Alan mengucap doa secara perlahan :
Pertama tama di ucapkanlah salam pada ahli kubur di lanjutkan dengan pembacaan istighfar lalu membaca surah alfatihah dan di lanjtkan dengan pembacaan surah al ikhlas , al- fallaq dan an-nas.
Lalu kemudian bacaan tahlil :
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ
“Laailaaha Illallah.”
Artinya:
"Tiada Tuhan selain Allah."
yang di baca 33x.
Dan yang terakhir membaca doa jenazah:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ
والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ
الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ
لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ
“Allahummaghfìrlahu war hamhu wa ‘aafìhìì wa’fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì’ madholahu, waghsìlhu bìl maa’ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì.”
Artinya:
"Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran."
"Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya."
"Aamiin." Pak Alan dan Anes serentak mengusapkan kedua telapak tangannya kemuka mereka masing masing tanda berdoa sudah selesai.
Kemudian mereka pun menaburkan bunga yang ada di keranjang mereka masing masing dan menyiramkan air sebagaimana yang sudah di contohkan Pak Alan di awal.
"Nes, sisakan sedikit buat makam kakekmu dan nenekmu serta makam buyutmu yang di depan tadi lo ya, jangan di habiskan, sekalian mumpung kita ke sini. Masih keburu kan belanjanya ."
"Oh oke pak, untung di kasih tau, kalau ga udah tak habiskan ini semua, lagian ga mungkin juga saya bawa pulang kan?"
__ADS_1
"Ya udah, geser posisi." Kata Pak Alan menyuruh anes menggeser posisi duduknya untuk sedikit berpindah ke sebelah.
Kalau makam yang ini Anes masih ingat, karena waktu pemakaman kakeknya Anes ikut nganterin, yang waktu itu Anes kelas 2 SMP.
Anes juga ingat betul bahwa makam kakeknya bersebelahan dengan makam neneknya yang meninggal ketika Anes masih PAUD.
Tak membutuhkan waktu lama Anes dan Pak Alan telah membasuh kaki dan tangannya di saung . Lalu Anes pun mulai menyalakan motornya untuk mengantarkan ayahnya pulang sebelum ia keluar kembali untuk berbelanja di pasar pagi sesuai dengan catatan yang ia cacat semalam bersama dengan Candra.
Sampai rumah, Anes langsung mandi keramas dan mengganti bajunya dengan yang masih bersih lalu segera ia mengambil dua karung bekas beras 25kg man dan dimasukkan ke dalam jok motor maroonnya itu.
"An,,,, hati hati..." Teriak bu Santi dari dalam rumah sebelum Anes meluncur pergi.
"Siap bos." Jawab Anes di esla bising suara motor yang sedang di naiki meskipun belum di masukkan gigi persnelengnya.
Dia masih duduk di atas motor kesayangannya yang ia beli beberapa tahun lalu dengan warna merah maroon.
Dengan memakai hem lengan panjang polkadot kecil warna tosca, jaket windproof warna krem, serta celana kain warna hitam. Di kepalanya bertenger pasmina warna tosca yang senada dengan warna hem yang ia pakai, serta ciput warna krem yang warnanya sedikit lebih doof dari jaket windproofnya.
Duduk di atas motor yang ia beli dengan keringatnya sendiri sambil memperhatikan notes kecil yang ia catat semalam bersama dengan Candra.
Anes ingat dimana dulu ketika ia sangat ingin punya motor seperti teman temannya, ia hanya bisa memilikinya lewat mimpi, jangankan memiliki motor yang harganya jutaan, membeli handphone baru yang harganya cuma 200 an ribu aja orang tuanya tak pernah mampu memberinya uang.
Dia sudah sangat bersyukur orang tuanya mampu menyekolahkan anak anaknya hingga lulus SLTA semuanya meskipun dibarengi dengan hutang sana sini dan hinaan orang kanan kiri.
Anes masih merasa bahwa Anes adalah orang yang sangat beruntung karena punya keluarga yang terbilang sangat bahagia meskipun dalam kondisi yang sangat pas pasan. Bahkan bisa di bilang sangat kekurangan.
Cita cita orangtuanya yang begitu tinggi, hingga mereka tak punya uang lebih untuk sekedar membangun rumah agar menjadi layak huni.
Btw, Anes ini bukanlah tipe cewe alay yang suka nongkrong jalan jalan sambil bawa matic, namun ia adalah anak yang memang sedikit tomboy dan malam menyukai motor yang ada gigi persnelengnya. Motor yang menurut Anes sendiri adalah tipe motor yang ramping, kuat, dan nebguasai segala medan. Jadi lebih tepatnya Anes ini memang menyukai segala sesuatu yang all in one. Jadi lebih bermanfaat dan juga lebih hemat, kan satu untuk semua. Hehehhe
Jalanan pagi yang masih lumayan sepi, hanya ada beberapa mobil angkutan umum yang lewat yang biasamya mengangkut anak anak sekolah, atau orang yang mau pergi ke pasar, juga beberapa motor yang melintas berlawanan yang di naiki oleh anak anak yang memakai seragam putih abu abu.
Di sepanjang jalan di temani oleh warna warna hijau dari dedauan yang di sinari mentari yang mulai menghangat mengingatkan Anes dengan keseruannya bersama dengan Susan dahulu ketika dia masih ada.
Meskipun Susan itu jahilnya bukan main , tapi malah hal itulah yang membuat Anes sering merindukannya ketika lama tidak bertemu.
Dia ingat bagaimana dulu Susan selalu mengajaknya muter muter aspal di pagi hari sehabis subuh atau sore setelah ashar. Ingat bagaimana dulu Susan selalu mengajarinya hal hal baru terutama tentang apa apa yang sering dilakukan anak laki laki. Maka dari itu Anes hingga saat ini lebih mudah bergaul dengan laki laki daripada perempuan, karena Anes merasa begitu mengenal karakter laki laki karena kebiasaannya dulu bersama Susan dan juga Candra ketika Candra sudah muali tumbuh dewasa.
Ghanes mengingat itu sambil senyum senyum sendiri di atas motor. Betapa indahnya hari itu.
"Ghaaanneesssss!!!!!!!!" Tiba tiba ada yang meneriakinya dari atas motor yang barusan berpapasan dengannya.
Namun Anes tidah hapal betul siapa dia.
"hhhhmmmmmggghh,,,,,,,,,,(sambil mengelus dadanya) Untung gua ga meleng." Ucap Anes bersyukur ketika menyadari bahwa ia baru saja melamun di atas motor.
"Nes, Ghanes jangan melamun dong bego ! oh my god !" Kata anes pada dirinya sendiri yang merasa goblok karena melamun di saat sedang nyetir. Meskipun itu bukan dengan kecepatan tinggi, tapi kalau tiba tiba nabrak pohon malah nyalahin setan, katanya di belokin kunti, di ganggu gendruwo atau alibi di masukin ke alam lain.
Di pasar Anes segera menuju tempat penjual daging yang paling utama, dan setelah ia mendapatkannya Anes segera pergi tempat beberapapenjual yang menjual segala keperluan yang tertulis di dalam cacatan yang ia bawa.
40 menit kemudian Anes sudah kembali sampai di rumah, dengan membawa dua karung belanjaan yang isinya adalah daging sapi, telor, tahu tempe, beberapa kilogram kentang serta beberapa macam printilan printilan lain mulai dari buncis bawang bawangan sampai pada 6 bungkus nasi thiwul lengkap dengan lauknya.
Dan karung satunya lagi di isi dengan 5 macam kue yang masing masing kue berjumlah 72 biji.
Dan ternyata juga, Bu Warni juga sudah berada di rumah ngobrol dengan ibu dan ayahnya.
"Maaf, ibuk nunggu lama ya bu?" Tanya Anes pada Bu Warni setelah turun dari motornya dan menurunkan semua belanjaannya.
"Belum kok Nes, baru aja 5 menit. Kamu gimana kabarnya? sehat kan nak?"
"Alhamdulilah sehat Buk, untuk hari ini mohon bantuannya ya buk, maaf ngomongnya mendadak."
"oh, tidak apa apa kok nak, lagian saya juga sedang tidak sibuk kok, jadi ya bisa ngerjainnya, kalau seandainya saya sedang sibuk ya pasti saya tolak kok."
"Makasih Buk."
"Iya, ga usah sungkan, siniin belanjaan kamu, oh ya kamu juga keluarkan keperluan lain kaya blender mangkok mangkok besar beserta panci panci yang agak besar. Biar cepet. Nanti semua bumbunya di blender aja ya, soalnya kalau harus di ulek ga cukup waktunya kasian kamu juga nantinya. " Kata Bu Warni selanjutnya.
"Oh ya Buk, saya panggil Mbak Sri ya Buk, biar ada yang bantuin ibuk. Gimana?" Tanya Anes pada Bu Warni menawarkan bala bantuan.
"Oke aja sih Nes asalkan ga mengganggu waktunya Sri ya, tanya dulu dia sibuk atau ngga, kalau sibuk ya ga usah ga pa pa kok, ga enak juga kalau ngerepotin orang. Tapi kalau dia ga sibuk ya saya malah yang sangat bahagia di bantuin."
"Hehehee siap Buk, setelah peralatan saya keluarkan, saya panggil Mbak Sri dech dengan segera."
Tanpa banyak mulut lagi anes pun segera mengeluarkan segala peralatan dan kebutuhan yang sekiranya di perlukan nanti. Biar ga panik jika tiba tiba butuh, atau biar ga perlu nyari nyari lagi.
Tak lama kemudian Anes pun telah kembali berjalan masuk ke dalam rumah bersama dengan Mbak Sri, yang tak lain dan tak bukan adalah tetangga depan rumahnya Anes yang selama ini ngebantuin keluarga Pak Alan ketika sedang dalam kesusahan.
"Asalamualaikum Bu Warni, apa kabar?"
Sapaan ala emak emak sambil cipika cipiki ga jelas. Selanjutnya palagi kalau bukan ghibah.
Dan saat ini yang di gibahin pun sedang berada di hadapan mereka . Yang tak lain adalah Anes sendiri.
"Lha iya lo Buk, Anes pulang jam berapa saya pun ga tau lo buk, padahal rumah kami berhadapan. Emang Anes itu dari dulu kalau pulang merantau tak pernah kabar kabar gembar gembor kaya orang orang biasanya lo."
Kata Mbak Si heboh sambil ngupasin bawang satu nampan bersama dengan Anes.
"Mbak,, mbak, kamu itu aneh, masah nggibahin orang langsung di depan orangnya ,,, hahahhahahaa untung yang aku pegang sekarang bukan ulekan sama cabe ."
Kata Anes menjawan gibahan Mbak Sri tentang dirinya sendiri.
"Kalau ulekan sama cabe kenapa emang? Aku bahagia malah, tinggal gorengin ayam tambah nasi panas, dunia milik saya sudah, ga ada orang lain lagi."
__ADS_1
Jawab Mbak Sri sambil senyum senyum mengejek.
"Huuuuu dasar Sri gila." Ejekan balik Anes pada tetangganya ini.
Pada dasarnya Anes sama Mbak Sri memang akrab sejak Mbak Sri menikah dengan Mas Yudi tetangganya Anes lalu membangun rumah tepat di seberang jalan depan rumahnya Anes. Dan kebetulannya lagi, Mbak Sri ini adalah kaka kelasnya Anes dulu waktu di SMP. Jadi memang umur mereka tak terpaut jauh. Hanya 2 tahun saja.
jadi maklum saja jika Anes dan Mbak Sri soal bercandaan nyambung nyambung saja.
Mereka bertiga sibuk di tempat masing masing , sedangakan Bu Santi duduk sembari memperhatikan mereka dan memang Anes tak mengijinkan Bu SAnti untuk ikut ikutan sok sibuk ngebantuin mereka. Bagi Anes mengatasi 60 orang bukanlah hal yang sulit. Karena Anes sendiri sudah terbiasa melakukannya.
Bahkan dulu ketika masih di luar negeri Anes pernah seorang diri setiap hari masak buat 35 orang dengan berbagai macam menu masakan yang setiap jam makam di batasi minimal harus ada 8 macam menu masakan untuk ber 30 kepala manusia. Dan itu di kerjakannya sendirian tanpa ada satupun yang ngebantuin.
Jadi kalau sekarang ada 60 orang dan di kerjakan bertiga dan menu masakannya hanya ada beberapa, palingan juga empat , 5 dengan nasinya, bukanlah merupakan hal yang sulit.
Mereka juga bercakap cakap saling menanyakan sesuatu atau sekedar berbalas ejekan antara Anes dan Mbak Sri tentunya. Sedangkan Bu Warni hanya senyum senyum saja mendengarkan ocehan mereka, sesekali ia tertawa ketika mereka berdua bercandanya sedikit berlebihan yang bisa di katakan lebih mirip dengan anak kecil.
..........................................................
17:38
Semua urusan dapur sudah selesai dengan sempurna.
Daging sapi yang dimasak bumbu rujak, masakn ini mirip bumbu bali namun sedikit pucat karena tidak sepedas bumbu bali dan menggunakan kencur yang lumayan banyak.
Ada lagi telor balado di peruntukkan bagi orang orang yang tidak mengkonsumsi daging merah. Tumis buncis dengan wortel. Orek tempe. Serta sambal goreng tahu kentang.
Semuanya sudah siap tinggal membagainya ke dalam kardus kardus dan menatanya di atas piring. Namun pekerjaan yang satu ini akan di lakukan ketika jamaah tahlil sudah datang, jadi makanan yang akan di makan masih dalam kondisi hangat.
Sedangkan untuk minumannya, Anes telah menyediakan teh botol untuk mereka semua. Candra yang membelikannya tadi sehabis pulang kerja.
Mereka bertiga istirahat sebentar untuk mandi membersihkan diri sebelum perang kembali dengan isi dapur.
"Akhirnyaaaa,,,,,,,,,, punggung bisa lurus juga, hehehehehe..." Kata Anes menjulurkan kakinya di bangku panjang . ndelosoor di sebelah Mbak Sri dan BU Warni yang sudah duduk di sana terlebih dahulu.
"Istirahat bentar, mandi giliran ya, setelah itu lanjut lagi masuk masukkan kue ke dalam kardus dan makanan ini yang akan di bawa pulang para jemaah nantinya." Perintah BU Warni.
"hehehehe,,,, oke Bu,, siap."
"Mbak, Mbak Sri mandi aja di sini mbak, ga usah pulang." Kata Anes pada Mbak Sri.
"Pulang lah, orang rumah tinggal kedip aja nyampek kok. Ada ada aja lu Nes. Kalau Bu Warni pasti mandi di sini, ya kan BU?!"
"Iya saya mandi di sini kok. Kalau mau pulang dulu kelamaan. Kasian kalian nanti kerepotan."
Kata Bu Warni menjelaskan.
....................................
Adzan maghrib sudah terdengar 15 menit yang lalu.
Para jamaah tahlil sudah mulai berdatangan ke rumah Pak Alan.
Sedangkan Anes, Bu Santi, Mbak Sri dan Bu Warni tentu saja di dapur.
Anes dan Mbak Sri mengangkat satu wajan besar daging sapi bumbu rujak ke atas tungku yang di bawahya ada arang sisa sisa pembakaran tadi, gunanya agar masakan ini tetap hangat ketika di hidangkan dan tak membuat masakan jadi gosong. Tips ini dilakukan sejak jaman nenek moyang manusia di jamn prasejarah. Sedangkan saat ini sudah di gantikan dengan tekhnologi listrik yang membutuhkan biaya lebih besar tentunya. Dan yang membedakan lagi adalah tak akan ada smooky smookynya.
.........................
21.30
"akkkhhhhhh capek......" Kata Anes setelah rumahnya kembali sepi karena para jamaah tahlil sudah pulang semuanya. Juga Mbak Sri dan Bu Warni sudah pulang sedari tadi.
"Besok aja di lanjutin bersih bersih, sekarang istirahat aja dulu, yang penting sisa sisa makanan yang di dapur itu bawa ke depan semuanya, kalau ga habis tuh di makan kucing." Kata Bu Santi pada Anes yang merebahkan tubuhnya pada gelaran tikar di depan televisi.
Sedangkan Candra sibuk menumpuki piring bekas kue dan menyatukan sisa sisanya ke dalam sebauh wadah yang lebih besar dan aman dari amukan mikey mouse.
"emang kucing masih bisa masuk buk?" Tanya Anes .
"Bisa lah, jangan kira kucing ga bisa masuk ya, makanan itu kalu ga kamu bawa ke depan, besok pagi kamu hanya akan di sisain tempatnya doank sama dia."
Kata Pak Alan menjawab pertanyaan Anes.
memang begitu kondisinya, rumah jadul yang masih banyak sekali lubang lubang yang bisa di masukin kucing dari luar. Makhluk satu ini yang memang terkenal memiliki 9 nyawa juga karena tubuhnya yang sangat lentur. Dia bisa masuk lewat lubang apapun asalkan kepalanya muat, maka tubuhnya segemuk apapun pun tetap akan bisa masuk.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.